MERENUNGKAN PERAN KARTINI

Kemarin kaum perempuan di seluruh Indonesia, merayakan hari Kartini yang beberapa waktu yang lalu, tepatnya setelah reformasi, dilupakan orang.  Beruntung uforia reformasi yang demikian gegap gempita, hingga melupakan sejarah yang sangat penting, segera berlalu dan masyarakat teringat kembali berbagai peristiwa  penting yang sangat berpengaruh bagai bangsa.  Salah satunya ialah peringatan hari Kartini yang tentu sangat urgen untuk terus diperingati demi keberlangsungan cita cita Kartini.

Barangkali generasi saat ini yang  tidak membaca sejarah, dan dermikian juga masyarakat tidak memperintainya, maka  dalam sepuluh tahun ke depan kita sangat yakin, banyak generasi tidak mengenal Kartini  dan apa pula perannya dalam memajukan bangsa ini.  Dengan  memperingati  hari Kartini, walaupun bukan dengan cara sebagaimana yang lalu, yakni memakai  baju nasional atau kebaya dan juga  dilengkapi dengan sanggulnya, tetapi yang terpenting ialah bagaimana kta megenalkan Kartini sebagai sosok yang memeprjuangkan kebebasan kaum perempuan dari kungkungan.

Berkat  usahanya tersebut, saat ini bangsa ini sudah sedemikian  menghargai peran perempuan dalam kehidupan apa saja, termasuk  dalam ranah publik.  Tentu kita tidak dapat membayangkan kalau perempuan  Indonesia masih sama  seprti zaman dahulu yang hanya berperan dalam arena  domestik atau rumah tanga semata.  Saat ini perempuan Indeonsia   bisa menjadi apa saja, termasuk menjadi pemimpin tertingga di negeri ini.

Meskipun demikian kita masih harus terus berjuang untuk memberikan  pemahaman  yang lebih kepada pihak pihak tertentu yang hingga saat ini masih memermasalahkan peran perempuan di luar rumah atau dalam ranah publik.  Bahkan mereka  membawa bawa ajaran agama untuk  mendukung pendapat mereka.  Tentu saja pemahaman yang demikian harus dijelaskan  lebih  jauh, karena secara substansial sesungguhnya agama tidak  akan pernah menghalangi peran perempuan dalam  hal apapun.

Memang ada kalanya kita harus memberikan penjelasan yang lebi komprehensif bahwa  diantara perepuan dan pria harus bekerja sama dalam membangun apapun, termasuk dapam membangun rumah tangga.  Selama mereka dapat bekerja sama   dengan harmonis untuk menggapai cita cita   rumah tangga yang damai, sejahtera, sakinah, mawaddah dan rahmah,  insyaallah  akan lebih cepat tercapai dan memuaskan semua pihak.

Dengan kerjasaama  yang demikian diharapkan  keduanya  akan saling berbagi tugas, sehingga  tidak ada  pihak yang merasa lebih hebat, sementara yang lainnya hanya sekedar menumpang. Anak anak pun juga akan merasa  sangat nyaman, jika kedua orang tuanya saling mengerti dan harmonis dalam hubungannya dengan  seluruh  keluarga.  Mereka  akan menjadi tumbuh secara wajar dan terdukung oleh suasana rumah yang harmonis.

Tentu akan sanbat berbedaa  jika rumah tangga dibangun dengan hanya mengandalkan  salah satu piahak, apalagi kalau pihak yang  menjadi gantungan tersebut sama sekali tidak mau menghargai dan  mengerti pihaklain, maka akan sangat rawan untuk bubar dan terjadi konflik yang  tanpa berkesudahan.  Artinya  kalaupun misalnya yang mencari naflah dalam keluarga ialah salah satu piak, semisal suami, tetapi suami tersebut sanagt memahami peran perempuan, atau isterinya yang begitu sangat luar biasa, maka hubungan pun akan tetap menjadi sangat bagus.

Kondisi harmonis dalam sebuah rumah tangga pastinya akan mempengaruhi  perkembangan anak, dan juga akan mendukung kemajuan nya dalam bidang pembentukan karakter dan dalam pendidikannya secara umum.  Jadi secara ringkas sesuguhny  peran perempuan kemajua bangsa ini sangat jelas dan  harus dihargai.  Bagaimana mungkin kita mengesampingkan peran  kaum perempan,  kelau dalam kenyataannya merekalahnyang pertama kali memberikan pendidikan kepada  anak generasi yang nanti akan menggantikan generasi saat ini.

Bahkan kita harus  memunculkan sebuah pernyatan bahwa  meskipun kaum perempan berada di rumah, namun peran mereka sungguh luar biasa, baik dalam mendidik  anak, dalam menjaga kehormatan rumah tanga, dalam memberikan kesejukan dan menciptakan surga  di dala rumah.  Bahkan kalau misalnya kita  para kaum pria  bergantian peran dengan para wanita dalam mengurus rumah tangga, pastilah kita akan tidak mampu melakukannya untuk beberapa hari saja.

Karena itu sungguh sangat bijak kalau kita memberikan apresiasi kepada kaum perempuan yang dengan tekunnya  mau mendidik  dan menyayangi anak dengan sepnuh hati.  Sementara kita para kaum pria yang bertangung jawab untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah mereka, seperti  sandang, pangan, papan, kesehartaqn, dan lainnya.  Yang terpenting ialah saling mengerti peran masing masing serta saling menghargai, bukan saling meremehkan atau menghina.

Ibu kita Kartini dahulu memang hidup dalam zamannya, yang begitu suram bagi kaum perempuan, sehingga kalau dalam usia muda beliau sudah berani  melaan arus untuk mengentaskan peran kaum wanita  serta untuk  emndapatkan emansipasi, sungguh  sebuah keberanian dan kepedulian yang sangat luar biasa.  Gugatan Kartini  untuk memajukan  kaumnya, teruitama dalam hal mengenyam pendidikan, berperan dalam ranah yang lebih luas dan  pengharga kaum pria kepada kaumnya.

Kau perempuan yang hidup pada zaman ini, mungkin tidak akan dapat merasakan betapa sakitnya kaum perempuan  saat itu yang hanya  sekdar untuk sekolah saja, mereka tidak akan mungkin dapat kesempatan, apalagi berperan dalam kehidupan yang lebi luas, seperti menjadi pimpina  sebuah lembaga, bahkan hingga menjadi presiden.  Namun Kartini dahulu tetaplah menjadi seorang perempuan seutuhnya dalam arti mereka juga secara naluriah membutuhkan kasih sayang, perlindungan dan juga melayani suami.

Kartini tentu akan sedih juga  tatkala menyaksikan perempuan yang sudah mendapatkan hak hak kebebasannya, namun  kemudian justru malah tidak menghargai martabatnya sendiri yang saat ini  banyak dipraktekkan oleh kaum perempuan nakal, walaupun dengan dalil masalah ekonomi dan lainnya.  Namun yang jelas seandainya Kartini ada pada saat ini, tentu  beliau akan bangga dengan keberadaan kaum perempuan yang saat ini telah dianggap sejajar dan mempunyai hak yang relatif sama dengan kaum pria.

Hanya saja  kita juga memerkirakan jikalau beliau  hidup  pada zaman ini dan meyaksikan banyaknya kaum  perempuan yang justru mencederai  kaumnya sendiri,  tentu  beliau akan menangis karena  cia citanya untuk mengentaskan kaum perempuan dari  tidasan kaum pria, justru malah dikotori oleh  beberapakaum perempuan yang sama sekali tidak menghargai keberadaannya sebagai hamba ciptaan Tuhan yang harus  memertahankan mertabat dan kedudukannya yang mulia.

Barangkali yang dibutuhkan saat ini ialah disamping mengenang jasa dan cita cita ibu Kartini, juga sekaligus  generasi muda, khususnya kaum perempuannya, untuk mau membaca sejarah beliau dan  membaca pula surat surat yang pernah ditulis beliau sebagai sebuah spirit untuk menggugah kaum perempuan agar berjuang untuk maju.

Beliau sendiri tidak pernah menyaksikan kaumnya saat ini yang sudah sejajar dengan kaum priam, namun  beliau tentu sangat bangga dan real karena telah mampu membukan jalan untuk kesetaraan peempuan dengan kaum laki laki.  Beliau pernah mengatakan bahwa kalaupun saya tidak akan samapi di ujung jalan itu, dan kalaupun saja munju kesana  mungkin akan jatuh di tengah jalan sebelum mencapai tujuan akhir, namun saya bangga, karena telah mambukakan jalan tersebut untuk dilalui oleh kaum perempuan  Indonesia.

Sunguh mulia hati beliau dan meskipun sangat singkat usaha yang beliau lakukan, karena usianya yang terlalu muda dan harus  wafat, namun  catatan sedikit tersebut  telah menjadi amunisi yang  dahsyat untuk membuka jalan menuju kondisi yang benar benar diinginkannya, walaupun saat ini sekali lagi masih ada ganjalan yang jusru dilakukan oleh kaum perempuan sendiri.  Semoga  kita akan mampu merenungkan  cita cita Kartini dan kemudian kita berusah untuk mewujudkannya dengan lebih bagus.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.