CARA BERDAKWAH HSRUS BERUBAH

Mungkin dinatara kita masih  ada yang mengira bahwa cara berdakwah ialah dengan  rapat akbar, yakni pidato atau ceramah untuk menyampaikan syariat Tuhan, yang terkadang diselingi dengan guyonan agar tidak membosankan.  Memang benar  hal tersebut merupakan salah satu cara berdakwah, namun  untuk kondisi saat ini dakwah demikian kurang  berhasil, bilamana dilihat dari sisi pengetahuan yang ingin disampaikan kepada para pndengar, karena biasanya dalamcemaramah seperti itu yang hanya  dari  jalur, yakni da’inya, maka biasanya  sama sekali tidak berhasil.

Kita mengakui sudah banyak beredar cara berdakwah  yang diangap  sesuai dengan kondisi masing masing wilayah dan daerah, sebagainnya  ada yang  menggunakan  cara berdialog, yakni  seorang pendakwah memulainya dengan sedikit memberikan rangsangan agar para pendengar tertarik untuk bertanya, lalu setelah  pendengar bertanya, pendakwah tersebut menjawabnya, sehingga materi yang disampaikan akan lebih dapat dipahami dan masuk dalam pemikiran  pendengar.  Sebagainnya ada yang melakukan dakwah dengan cara yang hampir sama, tetapi lebih  menitikkan pada  pertanyaan pendakwah kepada pendengarnya.

Artinya  dai tersebut pertama kali bertanya tentang sesuatu materi yang akan disampaikan, semisal tentang bagaimana  cara menjalankan shalat yang benar, lalu pendengar tersebut tentu akan menjawab, namun pastinya masih ada yang perlu diperbaiki. Nah,  disitulah dai masuk dan menjelaskan mengenai kekurangan yang ada sehingga pendengar akan semakin dapat mengerti dan akhirnya memperbaiki shalatnya.  Namun masih ada juga yang menjadikan ceramah sebagai andalannya, walaupun para pendengarnya  belum pasti paham.

Nah, cara berdakwah sperti itu memang masih dibutuhkan oleh  umat kita, namun sesungguhnya  ada bentuk dan cara berdakwah yang menurut saya sangat penting, tetapi tidak banyak dilakukan oleh  pada dai kita, yakni berdakwah dengan memberikan contoh kongkrit, dan tidak memakai cara berceramah atau berpidato. Artinya  bagaimana  seorang dai menunjukkan praktek apa yang seharusnya dilakuka oleh seorang muslim dalam kesehariannya.  Sesekali memang harus  melakukan dakwahnya dengan  berceramah atau sekedar menasehati, namun justru yang lebih banyak ialah dilakukan dengan melakukan sesuatu agar  masyarakat menyaksikan dan bahkan merasakannya secara langsung.

Tentu kita sangat menyayangkan jika ada seorang dai yang  dalam kebanyakan waktunya dihabiska untuk berceramah agama, namun dalam kehidupan  kesehariannya justru bertentangan dengan apa yang selalu diucapkannya.  Artinya kalau biasnaya  dia mengajak orang untuk  bersedekah dan begaul dengan sesama, tanpa mebedakan  status sosial dan lainnya, tetapi dalam kenyataannya, dia justru melakukan sesuatu yang  bertentangan dengan apa yang diucapkannya tersebut.

Dalam kebiasannya, justru dia selalu menutup diri  dari para tetangganya dan sulit untuk bergaul dengan mereka, bahkan jika diundang untuk sekedar hajatan, juga tidak pernah datang,  dan kalaupun datang pasti terlambat dan harus dihormati sedemikian rupa.  Bagaimana mungkin umat akan dapat mempercayai ceramahnya, kalau dia  sendiri tidak pernah bergaul dan  berkomunikasi dengan umatnya, terkecuali hanya pada saat ceramah saja.

Demikian juga ketika ada pebangunan yang membutuhkan sumbangan dari masyarakat, maka dia justru yang paling sulit ditemui, alias tidak pernah menyumbang.  Kalaupun kemudian terpaksa harus menyumbag, maka sumabngannya tersebut tidak seberapa dan terkadang juga harus diumumkan dan lainnya. Semua itu justru akan menjadi pangkal kegagalan dakwahnya, meskipun  masih banyak orang yang tetap megundangnya sebagai dai, karena  dia sangat pntar dalam berpidato dan tentu saja lucu, dan banyak banyolannya.

Berdakwah itu memang  banyak macamnya, namun yang harus diperhatikan ialah bagaimana  dampak dari dakwah tersebut bagi masyarakat yang didakwahi, apakah mereka kemudian menjadi berubah lebih bagus ataukah masih tetap sama saja atau bahkan malah sebaliknya lebih parah dalahal kemaksiatannya.  Dakwah ialah mengajak kepada masyarakat agar  mereka menjadi lebi bagus, yakni dengan mengikuti jalan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Tuhan dan Rasul-Nya, dan sekaligus menjauhi seluruh larangan-Nya.

Namun cara yang mesti digunakan  seyogyanya disesuaikan dengan kondisi masyarakat tersebut.  Jika kita berada di lingkungan masyarakat yang sangat lemah dan mereka membutuhkan ulurang tangan dalam hal ekonomi, maka  seharusnya kita  daat melakukan  dan membantu mereka mencarikan jalan keluar untuk masalah mereka.  Akan sia sia belaka jika kita ceramahi mereka dengan muluk muluk, apalagimengajak mereka untuk bersedekah, sementara mereka sendiri adalah pihak yang  berhak menerima sedekah tersebut.

Kalau mislanya kita  sedikit berlebih dalam  soal harta, sebaiknya kita memang terus berbagi dengan mereka, sapa mereka dalam setiap kesempatan dan berikan  dorongan dan motivasi agar tetap bersemangat untuk  hidup dan mencari rizki.  Namun  hal yang lebih  pokok untuk  kita lakukan ialah bagaimana kita  memberikan contoh yang bagus untuk mereka, khususnya dalam hal cara hidup dan bagaimana sikap kita dalam  bergaul dengan mereka.

Tentu kita  harus  sedikit memberikan  kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk iktu merasakan  sesuatu yang kuita rasakan, seperti jika kita mempunyai kelebihan rizki, sesakali mereka kita undang untuk sekedar makan bersama atau  diundang untuk melakukan sesuatu yang mudah agi mereka, seperti  tahlilan dan kemudian kita berikan sekedar rizki untuk dinikamti bersama dan juga keluarga mereka.  Hal seperti itu mungki dianggap sama sekali biasa, namun dampaknya akan  sangat luar baisa.

Kalau kita membiasakan diri untuk berbagi dengan mereka sesuai dengan kondisi kita, pastilah ketika kita mengajak mereka untuk berbuat kebajikan dan memberikan advis, mereka akan  mendengarnya dan kemudian  melaksanakannya.  Haltersebut secara psikologis memang  dapat dimengerti, kaena  masyarakat tentu akan merasa segan dengan kebaikan kita  dalam  kehidupa bermasyarakat yang sudah mereka rasakan sendiri.

Tentu akan berbeda jiak kita misalnya sama sekali tidak pernah menyapa mereka, tidak  biasa bergaul dengan mereka. Dan bahkan  mereka hanya dapat menyaksikan kita yang hidup enak tanpa  mereka  pernah merasakan apapun dai sesuatu yang kita miliki.  Artinya jika kondisi  kita seperti itu, maka akan sulit rasanya ita mengajak mereka untuk berbuat baik.  Abahkan mungkin merwka akan mencibirkannya begitu saja.  Kalaupun kita megajak  berjamaah ke masjid atau mushalla, mereka juga  kalau datang dengan ogah ogahan, dan  pada saat sedikit capek, mereka pstinya tidak akan datang  untuk berjamaah.

Lain halnya jika kita  sering berbuat baik kepada mereka dan  bahkan  kita tidak pernah absen pada saat mereka  mempunyai kebutuhan atau hajatan, pastilah mereka akan dengan  senang hati memenuhi ajakan baik kita tersebut.  Bahkan kemungkinan mereka akan mempertimbangkan persoalan ketidak enakan mereka jika mereka tidak  mengikuti ajakan kita.  Itulah yang saya maksud dengan cara berdakwah yang tidak hanya  mengandalkan ceramah, melainkan justru lebih banyak kepada  berbuat kebajikan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang menjadi tujuan dakwah kita.

Karena itu sudah saatnya kita meikikan cara terbaik untuk dakwah kita, utamanya juga  secara akdemik, apakah cara yang selama ini digunakan oleh kebanyakan para dai kita sudah sesuai dengan tujuan dakwa itu sendiri ataukah masih diperlukan pembenahan.  Tentu akan lebih  bagus, jika dilakukan  penelitianterhadap berbagai cara yang ada, sehingga dapat disimpulkan dengan baik dan kemudian ada rekomendasi yang harus ditindak lanjuti sebagai  penyempurnaan.

Kita berharap bahwa  dakwah yang sudah kita laksanakan selama ini bahkan sejal dahulu, akan berdampak bagus dan menjadi sebuah  anadlaan kita untuk menyelamatkan umat dari  kemungkinan mereka terseret kepada kekufuran dan perbuatan yang tidak meyelamtkan mereka di dunia dan lebih lebih di akhirat. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.