SESEKALI PERLU RILEKS

Kekuatan manusia itu ada batasnya,  termasuk fisik yang meskip[un tampak bugar, tetapi harus dan perlu istirahat untuk mengembalikan kebugaran.  Mungkin ada sebagian orang yang merasa sangat kuat untuk melakukan sebuah pekerjaan, sehingga dia merasa sangat sayang jika harus  berhenti untuk sekedar istirahat, toh dia merasa bahwa fisiknya masih kuat untuk melanjutkan pekerjaannya tersebut.  Namun pada saatnya  dapat dipastikan bahwa fisiknya tersebut tidak akan tahan untuk terus menerus bekerja tanpa mengenal istirahat.

Banyak kasus  yang sudah terjadi  dan hal tersebut  dapat dijadikan sebagai pelajaran sangat berharga bagi kita, yakni  ada  orang yang memaksakan diri untuk terus bekerja menyelesaikan sesuatu tanpa harus beristirahat,  dan kondisi sperti itu nampaknya  selalu dilakukannya, sehingga pada saat tertentu fisik sudah  tidak kuat lagi, maka jatuh sakitlah dia dan sakitnya ternyata tidak main main.  Sdebagainnya  beruntung karena masih dapat diselamatkan dan sebagiannya lagi harus mengalami nasib yang sangat buruk yakni meninggal dalam usia muda.

Memang kita yakin bahwa soal mati dan juga kelahrian itu persoalan takdir Tuhan, tetapi sesungguhnya kita tidak boleh menyerah dan mempercayai takdir, manakala takdir tersebut belum terjadi.  Artinya untuk takdirt kematian kita, tuidak boleh kita menyerahakannya kepada Tuhan begitu saja tanpa berusaha, karena seyogyanya kita berprasangka baik kepada Tuhan bahwa usia kita itu sangat panjang, dan karena itu kita harus tetap menjaga kesehatan dan tidak memaksakan diri untuk sebuah pekerjaan.

Dengan kata lain sekuat apapun fisik manusia, tetapi dia tetap memerlukan istirahat atau refressing untuk sekedar memberikan kesempatan  kepada anggota tubuh kita beristirahat sehingga kebugaran akan kembali didapat.  Kalaupun kesibukan seseorang  sedemikian rupa sehingga  dia harus melakukan perjalanan jauh dan melakukan kegiatan berhari hari, tetapi dia harus mengelola waktunya dengan sangtat bagus, sehingga di sela sela kegiatan yang padat tersebut, dia masih dapat melakukan  istirahat.

Berolah raga ringan dengan jalan kaki misalnya, menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi kepenatan fisik dan sekaligus juga dapat melihat pemandangan yang hal tersebut dibutuhkan oleh kita untuk  merilekskan keadaan dan tidak selalu tegang dan konsentrasi penuh  terhadap pekerjaan.  Pada pagi hari selepas menunaikan kewajiban sebagai hamba Tuhan, kita masih dapat melakukan refressing  dan sekaligus juga  berdzikir kepada Tuhan, yakni melalui jakan kaki dan melepaskan  seluruh pikiran kita untuk menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Mungkin bagi mereka yang belum terbiasa, hal tersebut akan berat dilakukan, tetapi kalau sudah dibiasakan, tentunya akan menjadi santat menarik, dan bahkan mungkin menjadi sebuah kebutuhan.  Awalnya  memang harus sedikit dipaksakan, karena kalu kita menuruti keinginan, pastinya kita akan lebih memilih tidur lagi setelah menjalankan  kewajibankita di pagi hari, apalagi kalau kegiatan yang dijalaninya  sampai larut malam.

Siapapun pastinya  tidak ada yang  mempunyai kekuatan super yang tidak bisa capek, meskipun kadar kekuatan fisik seseorang itu berbeda beda, termasuk karena perbedaan usia yang ada.  Namun yang pasti semua fisik pasti ada batas kekuatannya, sehingga yang diperlukan bagi fisik atau tubuh kita ialah asupan kelori yang cukup dan memenuhi kebutuhan, dan sekaligus ada istirahat fisik untuk memberikan kesempatan rileks dan tidak terfokus dalam sebuah kegiatan dan dipaksakan.

Sebagaimana kita tahu bahwa  pepatah yang sesungguhnya sumbernya dari riwayat hadis, menyatakan bahwa sebaik baik segala sesuatu adalah yang  tengah tengah. Artinya bukan sama sekali  bersikap apatis dan pasif, tetapi sekaligus juga tidak terlalu berlebihan dalam keaktifan.  Kalau kita pasif dan tidak mau peduli dengan segala hal, termasuk tidak peduli terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sekalipun, maka disamping kita berdosa dengan keberadaan kita, otak kita akan  terbiasa tidak beripikir dan akhirnya akan jumud dan tumpul.

Namun kalau kita terlalu aktif dalam  semua urusan, maka  fisik kita pastinya tidak akan kuat dan akhirnya jatuh sakit yangn itu semua sangat merugikan diri kita.  Jadi sebaik baiknya ialah jika kita dapat  memenej waktu dan pekerjaan dengan sangat bagus, yakni  tetap semangat dan aktif dalam menjalankan aktifitas sehingga  dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal, tetapi juga ingat kemampuan, sehingga tidak akan memaksakan sesuatu yang pada dasarnya  ialah dhalim terhadap sesuatu tersebut.

Sesuatu yang dipaksakan itu memang tidak baik dan juga tidak bijak, karena  itu sama dengan sikap dhalim, termasuk meksakan diri untuk sesuatu yang menjadi kewenangan kita sekalipun.  Ketika kita  sedang makan dan makanan tersebut sangat lezat, kemudian kita memaksakan untuk terus makan, maka itu juga dhalim terhadap diri karena  kekuatan diri dibatasi oleh kekuatan yang sudah ditentukan oleh Tuhan, atau sebaliknya jika kita menginginkan badan yang kurus, kemudian kita memaksakan diri untuk tidak makan, atau makan sangat sedikit, sehingga asupan gizi menjadi berkuirang, itu juga dhalim  kepada diri.

Tentu  hal tersebut berbeda dengan ajaran berpuasa, karena justru berpuasa tersebut untuk memberikan peluang kepada badan  dan perut kita  beristirahat, namun pada saatnya juga hartus berbuka sehingga  kebutuahn fisik kita dapat terpenuhi.  Dengan begitu puasa yang menerus atau dalam istilah  lain disebut dengan “ngebleng” sampai beberapa hari tidak makan dan minum, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan itu juga termasuk kategori dhalim kepada diri sendiri.

Demikian juga kalau kita  sudah mengetahui bahwa  tubuh kita tidak boleh atau akan berbahaya jika mengkonsumsi sesuatu  makanan tertentu, maka jika kita paksakan hal tersebut, sesungguhnya kita sudah berbuat dhalim, karena dapat membahayakan diri, bahkan mungkin dapat fatal akibatnya.  Itulah mengapa kita harus  pandai pandai berbuat yang terbaik untuk diri kita dan juga untuk semua pihak, dan khusus untuk diri, kita juga  perlu memperhatikan aspek kekuatan sehingga kita akan memberikan ruang untuk rileks dan refressing bagi diri kita.

Jika  keberadaan kita  sering bedara di rumah, kita juga memerlukan kondisi rrileks agar tidak terjadi kebosanan, baik keberadaan kita dalam rumah maupun kebiasaan rutin kita.  Sesekali perlu  rileks dengan makan di lua bersama dengan keluarga dan sesakali pula  perlu rekreasi dengan sekedar menikmatai pemandangan alam yang indah.  Kita sesungguhnya tahu bahwa kebutuhan kita bukan sekedar asupan  gizi yang cukup, melainkan juga kondisi rileks dan terbebas dari segala urusan rutin dan berat.

Namun yang harus diingat ialah jangan sampai justru kita juga  berlama lama rileks sehingga lupa dengan kewajiban yang harus diemban dan amanah yang harus ditunaikan.  Karena itu saya katakan sesekali dan bukan selalu, karena  kalau kelamaan  kita tidak  beraktifitas, tentu akan ada kondisi malas dan pada akhirnya justru akan menyeret kita kepada keadaan yang sangat tidak menguntungkan.

Kalau kita mampu melakukan menejemen waktu dan diri dalam menjalani haidup di dunia ini, tentu semua akan terasa menyenangkan dan indah.  Mungkin kita akan terhindar dari sakit yang sangat memberatkan dan juga persoalan hidupyang sulit dipecahkan.  Karena itu sekali lagi mari kita usahakan  mengatur dan mengelola waktu serta diri dengan bagus menuju sebuah kondisi ideal yang dapat kita bayangkan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.