KETIKA HARUS MEMILIH

Hidup itu ternyata adalah pilihan, artinya  setiap langkah yang akan  kita tempuh pastinya harus ada pilihan, dan semuanya terpulang kepada masing masing, sesuai dengan nurani.  Namun banyak orang juga  dalam memilih tersebut bukan didasarkan apa yang terbaik bagi diri dan masa depannya, melainkan semata mata  disebabkan adanya  tujuan jengka pendek yang terkadang sangat menggoda.  Karena itu sungguh sangat beruntung bagi mereka yang dalam memilih selalu mempertimbangkannya dengan akal sehat, sehingga apa yang dipilih ialah yang terbaik.

Sejak manusia keluar dari rumah untuk melakukan usaha atau bekerja, dia harus sudah memilih, bahkan  sebelum berangkat dan keluar rumah saja  dia harus memilih, apakah akan sarapan di rumah ataukah di jalan atau kantor.  Lalu  untuk sampai ke kantor apakah akan mengendarai kendaraan sendirui ataukah ikut kendaraan umum, bahkan pakaian yang dikenakannya juga harus dipilih sendiri, termasuk warna dan jenisnya.  Jadi secara  umum  semua harus dipilih, walaupun  cara memilih tersebut terkadang  ada yang mudah tanpa berpikir, tetapi terkadang harus mengerahkan pikiran bartu dapat memilih.

Barangkali untuk kegiatan keseharian  dan rutin, meskipun  harus memilih, biasanya  orang akan dengan mudah menentukan pilihannya, tentu akan lain halnya jika  sesuatu tersebut merupakan hal yang tidak biasa, tentu dalam memilih harus  mempertimbangkan dengan seksama, agar tidak mengecewakan, baik bagi dirinya sendiri maupun pihak lain yang terkait.

Ketika ada peluang untuk mengembangkan usaha atau untuk meraih  kedudukan yanglebih tinggi, biasanya  seseorang akan berusaha  melakukan sesuatu dalam upaya meraih hal tersebut.  Namun biasanya ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum dia memilih mengerjakan atau tidak. Sudah barang tentu dia harus mengukur dari sisi  kemampuannya, apakah memungkinkan dapat meraihnya ataukah akan mengalami kegagalan.  Tentu resikonya pasti ada, hanya saja tingkatannya bermacam macam.

Demikian juga ketika seseoang akan  membangun rumah tangga dengan seseorang yang diharapkan akan mampu bersama  dalam merajut rumah tangga yang ideal dan sejahtera, tentu banyak hal yang harus dipertimbangkan, sebelum akhirnya memilih, baik calon pendampingnya, tempat tinggalnya, dan juga berapa anak yang  direncanakan dan seterusnya.  Dalam kondisi seperti itu biasanya  dia akan membutuhkan  sumbangan pikiran dari pihak lain yang dianggap lebih bijak dan berpengalaman.

Jadi untuk sekedar memilih diantara beberapa pilihan yang tersedia saja, biasanya manusia akan  kesulitan, apalagi kalau keinginanya terlalu ideal dan tidak mau menerima sesuatu yang kurang.  Karena itu sesulit apapun pilihan yang ada, manusia harus tetap memantapkan dirinya untuk memilih diantara yang tersedia dengan mempertimbangkan  untung dan ruginya serta resiko yang bakal dilaluinya.  Kemantapan diri dan hatinya itulah yang akan  membawanya kepada sebuah pilihan yang cukup ideal dan diharapkan akan  membawanya kepada  kepuasan.

Memang ada  tipe orang yang  sangat sulit untuk menentukan pilihannya, meskipun sudah cukup banyak pertimbangan dan akhirnya  justru tidak mampu untuk memilih.  Kalaupun kemudian harus memilih juga,  biasanya malah hanya didasarkan kepada sesuatu yang lahir semata, sehingga  kemudian akan menyesalinya.  Artinya  ketika seseorang  sulit menentukan pilihannya, dan kemudian menyerah serta tidak berusaha untuk menemukan p[ilihan yang tepat, lalu dipaksa untuk tetap memilih,  maka pilihannya tersebut biasanya malah terleps dari eprtimbangan matang.

Nah itulah kerugian yang besar bagi manusia itu sendiri.  Seharusnya  setiap manusia harus mampu melakukan pilihan dengan bijak, dengan mempertimbangkan sesuatu dari aspek baik dan buruknya serta resiko yang mungkin terjadi dan dialami.  Dengan begitu seseorang akan  mantap menentukan pilihannya tanpa harus terombang ambingkan oleh pikiran dirinya sendiri.  Biasanya orang yang demikian akan semakin mantap dengan pilihannya dan berharap akan memberinya manfaat yang besar.

Ketika  pilihan yang harus ditentukan tersebut ialah pasangan hidup dalam rumah tangga, maka seseorang yang sudah mantap dengan pilihannya, akan terus berusaha mempertahankannya sedemikian rupa, sehingga ketika ada badai yang dahsyat menyerangnya, dia akan dapat bertahan dan selamat.  Namun bagi yang sulit menentukan pilihannya atau  pilihannya tersebuit semata mata hanya didasarkan kepada sesuatu yanglahir saja, biasanya tidak akan  mampu menghadapi rintangan yang sedikit berat.

Kan lain lagi halnya jika pilihan yang  akan ditentukan tersebut ialah  calon pimpinan wilayah atau daerah, seeprti gubernur dana tau  bupati/walikota, tentu  akan ada pertimbangan lain, walaupun pastinya ada yang mengkaitkan dengan persoalan akidah pemilih.  Artinya persoalan pilihan tersebut bukan saja  terkait dengan bagaimana  calon tersebut mampu melakukan tugasnya sebagai kepala daerah dengan baik, bertindak adil dan transparan dalam  semua hal, dan juga ketegasan dalam memimpin, melainkan juga dikaitkan dengan  agamanya.

Kita sangat paham dengan  masalah yang selalu dimunculkan oleh pihak pihak tertentu dengan menyeret ayat dan dalil lainnya yang menjustifkasi bahwa sebagai orang muslim hukumnya haram memilih pemimpin  dari selain muslim.  Dengan begitu pintu pilihan dari sisi keberagaman agama sudah tertutup.  Dengan begitu kemungkinannya akan muncul masalah, yakni jika diantara  calon yang seagama tersebut ternyata tidak ada yang lebih bagus daan masih meragukan dalam kepmimpinannya.

Apakah pilihannya akan tertuju kepada  calon pemimpin yang tidak kapabel dan diragukan kemampuannya,  asalkan dia seorang muslim, ataukah menyeberang yakni dalam hal kepemimpina   untuk mengurus negara, yang terpenting ialah keamanahan pemimpin dan kemampuannya untuk mensejahterakan  rakyat, serta ketegasan dan keadilannya, bukan  didasarkan kepada agamanya.  Nah, pilihan semacam itulah yang saat ini  harus dilakukan oleh sebagiana maaysrakat kita, terutama dalam menghadapi pilkada nanti.

Lebih khusus lagi kalau kita tengok kondisi di DKI jakarta dimana ada calon incumben yang  rekam jejaknya sudah diketahui dan secara umum dapat diharapkan akan  mampu memimpin jakarta dan memperbaiki kondisinya, tetapi bukan muslim.  Sedangkan  rivalnya  belum ditentukan atau setidaknya belum muncul dan mungkin juga belum diketahui kapasitasnya dalam memimpin.  Yang pasti saat ini Gubernur yang masih aktif basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sudah  menyatakan akan maju lagi dalam pilgub DKI.

Nah, dalam kondisi seeprti itu  manakah yang harus ditentukan pilihannya?.  Tentu yang paling bijak ialah menunggu  sampai seluruh calon definitif diumumkan, sehingga akan dapat dinilai seberapa mampukah para calon tersebut akan dapat  memimpin Jakarta?  Tentu harus dilihat rekam jejaknya dalam memimpin, apakah dalam wilayah tertentu apakah dalam sebuah instansi tertentu, dan lainnya, tetapi  dapat diketahui bahwa kemampuannya  tidak diragukan.

Jika nanti banyak pilihannya dan semua menunjukkan kemampuan mereka, maka  pilihan untuk  orang nomor satu di DKI akan lebih mudah, karena semuanya  kapabel secara riil dalam memimpin, namun jika nanti para calon yang ada tidak imbang dalam hal kemampuan menejerial serta  rekam jejaknya, maka pilihan akan lebih sulit, terkecuali bagi merka yang sudah mampu menghilangkan aspek agama  dalam memilih kepala daerah.

Jadi hidup ini memang pilihan dan kita memang harus memlih, sesulit apapun, karena tanpa pilihan, berarti kita  mandek dan sperti mati.  Selama kita masih bergerak dan  mempunyai keinginan, maka memilih itu  emnjadi sebuah keniscayaan.  Hanya saja pilihan kita tersebut akan sangat  bijak jika dilakukan dengan mempertimbangkan baiik buruk dan resiko yang bakal dialami.  Semoga kita dapat menentukan pilihan dengan bijak dan manfaat, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.