TINGKATAN IKHLAS

Barangkali memang tidak ada keterangan yang jelas mengenai tingkatan ikhlas tersebut, karena sekali ikhlas ya ikhlas daan tidak ada klasifikasinya.  Namun dalam kenyataannya untuk mendapatkan  substansi ikhlas itu sendiri menjadi sangat sulit.  Mungkin hanya diri dan Tuhan sajalah yang dapat menilai keikhlasan tersebut.  Orang lain sudah pasti akan sangat susah untuk menyimpulkan sebuah perbuatan itu ikhlas ataupun bukan, karena ikhlas tersebut  berada di dalam hati, bukan sesuatu yang dapat dilihat.

Meskipun demikian dari tanda lahir  dari sebuah perbuatan, kita memang dapat menduga, sekali lagi hanya menduga bahwa sesuatu itu memang dilakukan dengan ikhlas, sementara  subsatansinya wallahu a’lam.  Artinya kita dapat saja mengira bahwa  sesuatu itu dilakukan oleh seseorang dengan ikhlas atau tidak dengan ikhlas, dengan hanya melihat sesuatu yang nampak semata.  Namun sekali lagi  perkiraan tersebut  dapat salah dan karena itu tidak boleh dinyatakana  dalam pernyataan, melankan hanya sebuah perkiraaan semata.

Jika ada seseorang disuruh untuk melakukan sesuatu dan kemudian dilakukan dengan malas malasan   rasa berat, maka secara lahir kita dapat mengira bahwa  seseorang tersebut tidak ikhlas dalam menjalani pekerjaaan tersebut, atau  kalau ada seseorang memberikan sumbangan dihadapan banyak orang dan meminta agar sumbangannya tersebut disebutkan, maka  mungkin banyak orang mengira bahwa orang tersebut tidak ikhlas dalam menyumbang, dan masih banyak lagi conoth yang dapat dikemukakan.

Namun sesungunya apa ang terlihat secara lahir tersebut tidak pasti mencerminkan yang sesungguhnya, karena persoalan ikhlas tersebut  sekali lagi  ada di dalam hati, sehingga tidak ada yang dapat memastikan, terkecuali diri seseorang tersebut dan juga Tuhan.  Boleh jadi seseorang yang menjalankan tugas dengan malas malasan dan terasa berat tersebut, bukan tidak ikhlas, meoainkan pada saat itu dia sedang sakit atau sedang tidak ada mood, namun walaupun dengan malas malasan dan berat, tetapi dia tetap menjalaninya dengan penuh keikhlasan.

Demikian juga  pada diri orang yang memberikan sumbangan dan  diumumkan kepada khalayak, bukan berati dia  riya dan tidak ikhlas, melainkan sangat mungkin dia  berniat agar orang lain meniru dirinya yang mudah memberikan sumbangan, dan selebuhnya semuanya diserahkan sepenuhnya kepad Tuhan sehingga keikhlasannya tetap  dijaga.  Namun dapat juga  penampakan alhir tersebut juga  merupakan copyan dari apa yang ada dalam hati.

Semua apa yang  disebutkan di atas, yakni  belum pasti bahwa penampakan yang lahir tersebut dapat disimpulkan sebagaimana lahirnya, dimaksudkan agar kita tidak mudah memberikan penilaian kepada pihak lain, sebab  penilaian semacam itu justru terkadang akan dapat menjerat kepada diri sendiri, dan terjebak dalam perilaku fitnah yang seharusnya dijauhi.  Dengan kata lain, kita tidak boleh berprasangkan atau bersuudzdzan kep[ada siapapun, wlaupun  mungkin kita melihat tanda yang tidak baik dalam diri seseorang secara lahir.

Atas dasar hal tersebut, barangkali kita  dapat memberikan klasifikasi  dan tingkatan mengenai ikhlas tersebut.  Ada sebagiannya yang dalam tingkatan dasar, dan sebagiannya  berada dalam tingkatan lanjut.  Untuk mendapatkan tingkatan lanjut tersebut seseorang harus mengalami latihan yang terus menerus dan tidak  mudah menyerah.  Pastinya pada tahap awal seseorang tersebut harus melewati ikhlas dalam tingkatan dasar terlebih dahulu, karena memang tidak mungkin  tiba tiba seseorang berada dalam tingkatan lanjut.

Biasanya ikhlas  dalam tahapan dasar memerlukan alat untuk meneguhkannya dan  perangkat yang menyertainya, sehingga akan memungkinkan seseorang dapat meraih ikhlas tersebut.  Sebagai contohnya ialah bagaimana Nabi Muhammad saw  mengajarkan kepada umatnya agar  dalam bersedekah atau memberikan sesuatu dilakukan dengan penuh perhitungan caranya, yakni  pemberian tersebuit dilakukan oleh tangan kanan, tetapi jangan sampai tangan kiri mengetahuinya.

Tentu  pernyataan tersebut hanyalah ibarat semata, karena tangan tidak mempunyai mata, sehingga tidak akan mengetahui apa yang dilakukan oleh selainnya.  Tamsil trersebut hanya untuk menekankan bahwa agar pemberian sedekah tersebut  ikhlas, maka  harus disembunyikan dari mata orang lain, bahkan  pihak yang terdekat sekalipun. Nah, dengan  demikian perbuatan sedekah yang dilakukan dengan tidak diketahui pihak lain tersebut akan mebantu seseorang untuk mencapai ikhlas.

Kita tahu biasanya orang suka perbuatan baiknya diketahui oleh pihaklain, dan biasanya yang menyertainya ialah sikap riya atau pamer dan kemudian  mengarah kepada ketidak ikhlasan.  Nah, kalau dalam berbuat baik tersebut secara sembunyi, dan tidak ad apihak lain pun yang mengetahuinya, tentu selain Tuhan, maka  akan menuntun seseorang tersebut jauh dari sikap pamer dan  pada saatnya akan mengantarkannya kepada kondisi ikhlas tersebut.

Nah, inilah yang disebut dengan ikhlas dalam tahapan  dasar atau pertama, sebab kalau tidak dilakukan dengan cara tertentu, sudah pasti upaya menuju ikhlas akan terganggu dan bahkan gagal.  Lantas bagaimana dengan ikhlas dala tingkatan lanjut?.  Asudah barang tentu  posisinya lebih hebat, yakni dilakukan dengan hati yang terpenuhi oleh ingatan kepada Tuhan, walaupun secara lahir dalam  dan sedang berkomunikasi dengan orang lain misalnya.

Kondisi tersebut harus dicapai denga latihan yang berat dan terus menerus serta  didukung oleh pengettahuan yang  kuat dalam  berkomunikasi dengan Tuhan.  Seolah  dia tidak pernah lupa  berdzikir kepada Tuhan dalam seiap kesempatan apapun.  Latihan  yang dilakukan tentu terkait dengan apa yang dilaklukan secara rutin.  Sebagai contoh untuk menuju kondisi ihlas dalam bersedekah, dia  pastinya   akan membiasakan diri dalam bersedekah, yang awalnya pada tahap dasar, dan terus dilakukan, sehingga dia  lupa dengan apa yang disedekahkan.

Ketika hatinya suda dipenhi oleh kebutuhan tentang Tuhan, maka  di ruang hatinya sama sekali tidak tersedia sedikitpun ruang untuk selain Tuhan.  Nah, kalau seseorang sudah demikian keadaannya, pastilah dia  sudah berada di tingkatan lanjur dalam ihlas tersebut.  Sehingga kalaupun dia kemudian bersedekah dihadapan orang banyak dan juga mungkin diumumkan oeh panitia, dia sama sekali tidak mempedulikannya, karna  yang terpenting dia sudah melakukan sesuatu karena Allah swt.

Bahkan sangat mungkin juga orang seperti itu justru meminta agar sumbangannya diketahui oleh piak lain, dengan tujuan agar tidak terjadi fitnah dan  semakin banyak didorong agar  ikut menyumbang atau bersedekah untuk kesejahteraan umat secara umum.  Kita harus ingat bahwa diantara hamba hamaba Tuhan di dunia ini, cukup banyak yang berperilaku  eneh, tetapi bukan menyimpang dari ajaran Tuhan, melainkan sebagai “laku” tertentu yang dimaksudkan untuk mengelabuhi  mata mat secara umum.

Tentu kita masih ingat banyak cerita auliya yang dengan  berbagai versi, sebagaiannya ada yang  seperti orang gila, berjalan  sepanjang jalan, tetapi justru dia sunguh sanat  salih di mata Tuhan.  Sebagiannya ada yang menampakkan diri sebagai seorang pekerja kasar, semacam sebagai tukang sepatu atau tukang tambal ban, dan sejenisnya, tetapi sungguh sangat luar biasa amalnya, karena dengan pekerjaaa tersebut ternyata dia   dapat bersedekah setiap harinya, meskipun  nilainya tidak terlalu banyak, bila dinisbatkan kepada  orang yang hartnay banyak.

Kesimpulanya ialah bahwa  semua amalan yang kita lakukan harus tetap diikuti dengan rasa ikhlas. Nah,  selanjutnya tergantung kepada masing masing kita untuk menrrapkan ikhlas tersebut, apakah dengan cara tertentu  sebagaimana tersebut, karena kita masih merasa keikhlasan kita masih dalam tahapan awal dan dasar ataukah kita sudah menarah kepada tingkatan  lanjut?   Semuanya terpulang kepada kondisi kita masing masing.

Hanya saja yang terpenting janganlah kita cepat memberikan kesimpulan atas apa yang kita lihat secara lahir, karena  bisa jadi hal tersebut akan  dapat mengantarkan kepada  suudzdzan dan   fitnah, yang pada  saatnya justru akan merugikan diri kita sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.