KEMAJUAN PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

Selama ini belum pernah ada raker pendidikan tinggi Islam, dan baru kali ini diselenggarakan, sehingga langkah ini perlu diapresiasi dan didukung, walaupun terlambat, bahkan sangat terlambat.  Bahkan sampai saat ini  PTKIN juga belum mempunyai grand design yang seharusnya menjadi arah dalam pengembangan PTKIN  kedepan.  Untuki itu inisiasi dilakukannya raker diktis tersebut merupakan kemauan baik, jika hal tersebut memang dilandasi  oleh sebuah kesadaran bahwa diktis memang perlu melakukan perbenahan secara menyeluruh.

Cuma disarankan agar pelaksanaannya disesuaikan dan tidak pada bulan seperti saat ini. Artinya kalau kementerian agama juga melaksanakan rakernas, maka diktis perlu melakukan raker setelah selesai rakernas kementerian tersebut, sehingga fungsinya  seperti menjebarkan  kebijakan  dan hasil rakernas.  Nah,  raker yang biasa dilaksanakan oleh PTKIN akan dilaksanakan setelah raker diktis, sehingga fungsinya juga jelas dalam upaya  menerjemahkan raker diktis disamping pengembangan PTKIN itu sendiri yang tidak tercaver dalam  program diktis.

Saat ini sebagaimana diketahui, bahwa seluruh PTKIN sudah melaksanakan raker, karena  penyusunan program kegiatan sudah  dikirim ke pusat untuk tahun 2017.  Bahkan seharusnya rakernas kementerian agama  seyogyanya dilaksanakan sebelum tahun berakhir, yakni sekitar bulan Nopember, sehingga  raker diktis dan PTKIN juga dapat dilaksanakan sebelum akhir tahun.

Dengan diselenggarakannya raker diktis ini diharapkan ada keinginan dari diktis untuk mengarahkan kepada seluruh PTKIN agar dapat berkembang sessuai dengan arah kebijakan yang telah dirumuskan.  Demikian juga dalam penyusunan  dan merencanakan program dilakukan  dengan sistem yang baku, sehingga akan dapat mudah dilakukan evaluasi dan monitoring  dalam proses pelaksanaan programnya.

Tentu hal tersebut mengharuskan diktis  menyusun dan mempunyai sistem yang dapat diandalkan yang dapat diacu oleh seluruh PTKIN.  Selama ini  sama sekali belum pernah ada guide lane yang dapat dipegangi oleh PTKIN, sehingga bagi PTKIN yang kreatif, pastinya akan mencarinya sendiri, sedangkan bagi PTKIN yang tidak aktif, akhirnya akan terus tertinggal dan selalu mendapatkan kesulitan pada setiap ada pemeriksaan dari eksternal.

Kita sangat berharap bahwa  keinginan diktis seperti yang kita saksikan saat ini tidak berhenti hanya sekali saja, melainkan akan terus dilestarikan sambil terus mencari format dan sistem yang bagus untuk diterapkan di semua PTKIN.  Setidaknya ada cita cita yang  harus dicapai oleh PTKIN  dala proses perjalananya.  Demikian juga dengan  adanya  guide yang jelas dalam segala aspek, termasuk dalam hal administrasi dan pengendaliannya, maka diharapkan  pengelolaaan PTKIN akan menjadi lebih baik.

Hal penting yang juga  harus dibahas dan ditentukan ialah  adanya koordinasi diantara seluruh pimpinan, sehingga  akan mudah mengontrolnya.  Contoh yang sangat mudah ialah bagaimana seluruh komunikasi  yang terkait secara kelembagaan harus diketahui oleh rektor, dalam arti jangan sampai ada pejabat, termasuk para  wakil rektor yang pergi, tetapi rektor tidak mengetahuinya, sehingga ketika dibutuhkan tidak ada.

Keberadaan forum yang sangat banyak, seperti  forum para wakil rektor 1, 2, 3, dan juga biro sesungguhnya dapat dilakukan efesiensi dengan mengkoordinasikannya  pada pimpinan secara umum.  Artinya tidak diperlukan forum seperti itu, karena pada dasarnya semua itu berada dalam wilayah  [pimpinan, sehingga ada kalanya  cukup satu pertemuan yang melibatkan pihak terkait, sehingga akan lebi efektif dan efisien.

Bahkan  saat ini dalam kenyataannya  pertemuan yang diselenggarakan oleh forum tertentu justru lebih sering ketimbang pertemuan di tingkat rektor atau pimpinan sendiri.  Bahkan ada kesan juga  pertemuan semacam itu hanya untuk kepentingan yang tidak substantif.  Karena itu memang harus ada pengaturan lebih lanjut tentang persoalan tersebut, sehingga tidak akan berlarut larut dan tugas pokok menjadi terabaikan.

Sementara itu untuk kepentingan perencanaan PTKIN yang selama ini juga belum maksimal melalui proses yang melibatkan keseluruhan  pihak terkait, diharapkan akan lebih  dapat dilakukan lebih awal dengan melibatkan banyak pihak, sehingga seluruh kepentingan yang terkaqit dengan  PTKIN akan dapat  tercover dan kalaupun  harus ditentukan skala prioritas, akan ditentukan bersama.  Banyak kelemahan yang selama ini dirasakan, karena  tidak dibiasakannya atau dibudayakannya perencanaan yang bagus.

Seharusnya untuk menyusun perencanaan bukan  dalam waktru singkat, yakni jika  deat line sudah hampir  selesai, dan kementerian biasanya juga hanya  memberikan waktu yang sangat singkat, tanpa memberikan alternatif dan juga tidak memberikan  guide bagaiman seharusnya rencana program tersebut disusun.  Biasanya  kementerian hanya meminta sesuatu yang sudah jadi, akibatnya PTKIN yang tidak terbiasa melakukan penyusunan dalam  proses panjang, hanya mengupdate program yang lalu dan ditambah dengan  10% anggarannya.

Kalau raker diktis ini  ditindak lanjuti dengan  kegiatan pertemuan untuk perencanaan yang lebih bagus, tentunya akan semakin membuat PTKIN  lebih siap dan tentu hasilnya akan lebih bagus.  Artinya  sepanjang tahun itu, disamping dilaksanakan kegiatan sebagaimana yang sudah dirumuskan dalam program anggaran,  sekaligus juga digunakan untuk melakukan evaluasi  dalam proses, dan sekaligus juga proses merencanakan program kegiatan pada tahun tahun berikutnya, dan begitu seterusnya.

Dengan begitu sesungguhnya masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh direktorat  pendidikan tingi Islam, dan semua pejebat serta stafnya akan  terus bekerja dan tidak ada istilah tidak ada pekerjaaan.  Kondisi saat ini  nampak sangat lain, karena  para pejabatnya  yang meskipun sangat terbatas, tetapi masih dapat pergi kemana mana, karena seolah tidak ada pekerjaan di kantor atau di diktis.

Kita semua para pimpinan PTKIN sangat menyambut baik kesadaran ini dan  tentu akan  mendukungnya secara penuh.  Kita juga berkepentingan untuk memajukan PTKIN secara keseluruhan, sehingga akan mampu bersaing dengan PT yang lain, baik negeri maupun yang swasta.  Tetnu persaingan tersebut bukan dalam hal yang negatif dan saling mencari kepemahan pihaklain, melainkan justru bagaimana kita berlomba untuk menjadi yang terbaik, dengan pelayanan yang prima, dan  jaminan mutu dalam semua aspek.

Sesungguhnya bagi PTKIN sudah cukup lama menunggu kesadaran seperti ini, dan bahkan sudah sering mengusulkan agar segera disusun grand design PTKIN sehingga seluruh PTKIN  akan dapat  mengacunya dan mempunyai  tujuan yang jelas, namun  sampai  saat ini  makhluk yang bernama grand design tersebut belum pernah lahir sehingga PTKIN seolah tidak mempunyai tujuan yang jelas.  Untunglah sebagaiannya sudah mencari sendiri dan tentu tidak akan sama  diantara yang mencari tersebut.

Namun yang jelas seluruh pimpinan PTKIN berkomitmen untuk memajukan PTKIN sehingga akan  mampu bersaing dengan  yang lain, terutama dalam hal mutu.  Untuk itu dengan kondisi  diktis saat ini yang sudah menyadari betapa pentingnya dilakukan koordinasi dalam hal perencanaan program, proses pelaksanaannya serta evaluasi akhirnya, maka sudah barang pasti hal tersebut sangat sesuai dengan keinginan para pimpinan PTKIN selama ini.

Mudah mudahan ini adalah awal yang  bagus dan akan terus dilakukan perbaikan  dalam pengelolaaan institusi sehingga pada saatnya nanti seluruh PTKIN akan  mempunyai  daya saing yang tinggi dan menjadi  rujukan utama  masyarakat dalam pendidikan.  Sudah barang tentu ini semua harus menjadi  komitmen  bersama antara  diktis dan kementerian agama secara umum dan para pimpinan PTKIN,  semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.