PAHALA MEMBANTU ORANG YANG KESUSAHAN

Mungkin secara terori sudah banyak orang yang tahu bahwa menolong orang yang sangat membutuhkan itu pahalanya  sangat besar, bahkan lebih besar  dari sekedar menunaikan ibadah haji.  Hanya saja  pengetahuah tersebut tidak pernah terefleksi dalam diri secara mendalam, sehingga kalaupun ada pilihan antara memberikan bantuan kepada orang yang sangat membutuhkan dengan berangkat haji, kebanyakan orang masih tetap memilih  berangkat ibadah haji, padahal belum pasi ibadah hajinya  diterima ataupun tidak, mabrur atau tidak.

Kita tahu bahwa ibadah haji tersebut merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim, dengan syarat  yang bersangkutan mampu menjalaninya, baik karena ongkos yang sudah tersedia, keamanan dalam perjalanan dan selama di kota suci hingga pulang kembali ke rumahnya, terjamin, maupun  kuota memungkinkannya berangkat.  Dengan begitu sesungguhnya ibadah haji merupakan ibadah bersyarat yang tidak semua umat muslim harus menjalninya.

Tetu akan lain halnya dengan ibadah lainnya seperti shalat yang harus dijalankan  oleh seluruh umat muslim lima kali dalam sehari semalamnya, lain pulan dengan ibadah puasa Ramadalan selama satu bulan yang juga harus dialani oleh setiap orang muslim.  Tentu itupun ada  pengecualainnya, yakni jika yang bersangkutan tidak mampu lagi melakukannya, seperti dalam kondisi sakit yang tidak memungkinkan menjalani kewajiban tersebut.

Artinya kalau kewajiban tersebut shalat maka sekalipun  semua rang muslim harus menjalani shalat dalam kondisi  apapun, namun jika  seseorang tersebut sakit gila  sehingga akalnya tidak sehat dan tidak mampu berpikir secara  normal, maka kewajiban tersebut akan gugur.  Demikian juga dengan kewajiban berpuasa yang meskipun  orang yang tidak mampu, seperti sakit atau sedang beeprgian, boleh tidak menjalaninya  pada waktu yang ditentukan, namun masih tetap berkewajiban menggantinya di hari lain pada saat dia sudah mampu melakukannya.

Sementara itu kewajiban zakat sesungguhnya hampir mirip dengan  kewajiban haji, yakni dipersyaratkan tertentu, seeprti kemampannya untuk berzakat, yakni jika dia mempunyai harta yang sudah sampai  pada ukuran tertentu yang ditetapkan.  Jadi selama dia sendiri tidak mampu untuk menhidupi dirinya sendiri, maka  kewajiban zakat tersebut dengan sendirinya menjadi gugur, bahkan  dialah yang berhak mendapatkan bagian dari zakat pihak lain yang mampu.

Nah,  tulisan ini dimaksudkan  untuk memberikan pilihan kepada  setiap orang untuk dapat menentukan pilihannya, apakah akan lebih memilih untuk pergi haji ataukah  lebih mementingkan menolong orang yang sangat mendesak memerlukannya.  Tentu kondisinya ialah ketika sesroang tersebut mempunyai cukup harta, setidaknya untuk berangkat dan ongkos  pergi haji. Pilihan tersebut sungguh sangat realistis, karena  sungguh banyak orang pergi haji untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah swt, tetapi ada tetangganya yang diketahui sangat membutuhkan  bantuannya.

Tulisan ini sekaligus juga untuk memberikan inspirasi dan  motivasi kepada setiap orang agar dapat memilih sesuatu yang sudah jelas dan  tidak berspekulasi.  Artinya jika seseorang dihadapkan kepada sebuah pilihan yang sama sama berat, dimana  harta yang dipunyai hanyalah ongkos untuk pergi haji, sedanhgkan  di lain pihak ada saudaranya dan tetanganya yang kelaparan  dan membutuhkan uluran tangannya.  Haruskah dia membatalkan kepergiannya untuk berhaji ataukah dia membatalkanya, demi membantu tetanganya yang kelaparan?.

Tentu persoalannya tidak hitam putih seperti itu, karena untuk saat ini persoalan  pergi haji memerlukan tahapan panjang yang mungkin juga melelahkan, khususnya dalam menunggu giliran.  Apa yang disampaikan di sini tersebut ialah  sekedar penggambaran untuk memudahkan pemahaman dalam memilih sesuatu dan menentukannya secara  bijak. Bahkan kalau dibahasakan lebih sedrhana dan mudah lagi ialah dengan kata  lebih memilih mana antara harta yang dipunyai untuk kepentingan diri sendiri atau untuk menolong pihaklain yang sangat membutuhkan?

Kita sangat yakin bahwa mayoritas diantara umat muslim di dunia ini akan lebih memilih menggunakan harta tersebut untuk kepentingan diri lebih dahulu, dan  urusan membantu pihak lain itu menjadi urusan banyak orang, sehingga kalau ada kelebiaan saja maka bantuan tersebut baru dapat diberikan.  Itulah sikap realistis yang diukur dengan kepentingan diri, bukan kepentingan  sosial.

Padahal kita semua tahu bahwa menolong orang yang sangat membutuhkan itu sungguh sangat mulia dan pahalanya sungguh sangat besar sebagaimana disebutkan di atas.  Ada sebuah kisah pada zaman dahulu, dimana  Abdullah Ibn al-Mubarak mengalami sebuah kenyataan yang mebuatnya menjadi sungguh sangat ternyuh dan memberikannya inspirasi untuk kemudian lebih mendahulukan kepentingan pihaklain ketimbanga kepentingannya sendiri.   Kisah tersebut secara singkat dapat diceritakan sebagai berikut:

Suatu saat Abdullan ibn al-Mubarak menunaikan haji dan setelah selesai melakukan  thawaf dan sa’i, beliau  beristirahat disudut masjid dan kemudian tertidur.  Dalam d=tidurnya tersebut  beliau bermimp seolah ada dua orang malaikat yang sedang turun dan  saling berdialog, satunya bertanya, untuk tahun ini ada berapa orang yang menjalankan ibadah haji?, malaikat satunya kagi menjawab ada 700 ribu orang.  Lantas malaikat yang bertanya tersebut melanjutkan pertanyaannya, lah diantara  sebanyak itu ada berapa yang  hajinya diterima?.  Malaikat  kawannya tersebut menjawab tidak ada yang diterima.

Begitu mendengar pembicaraan dua malaikat tersebut dalam mimpinya, beliau menangis karena  betapa ruginya   umat muslim yang menjalankan ibadah haji tersebut dengan  menembus lembah, jurang, gurun dan negera, tetapi sia sia hajinya.  Lantas beliau mendengar lagi pembicaraan lanjutan dua malaikat tersebut yakni: tetapi ada satu orang yang hajinya diterima, meskipun dia tidak datang ke Makkah. Siapa orangbtersebut,  tanya malaikat  yang tadi bertanya,  dan dijawab  dialah Said ibn Mahafah.   Dan berkat dialah kemudian haji umat yang banyak tersebut akhirnya diterima oleh Allah swt.

Lantas siapakah Said ibn Mahafah tersebut,  Ibn Mubarak mendengar pembicaraan malaiakat tersebut dan setelah mendengar bahwa  Said ibn Muhafah tersebut ternyata seorang tukang sol sepatu yang ada di Damaskus, maka  beliau terjaga dan sungguh sangat penasaran dengan orang yang disebut oleh Malaikat dalam mimpinya tersebut.

Karena itu selepas menunaikan seluruh ranhkaian ibadah hajinya, beliau tidak langsung pulang, melainkan  langsung menuju Damsyiq atau Damaskus untuk bertemu dengan Said tersebut.  Singkat cerita sampailah  beliau di Damaskus dan  mencari dengan cara bertanya kepada semua tukang sol yang ada, dan pada akhirnya beliau bertemu juga dengan Said tersebut.  Setelah memberikan salam dan bertanya apakah benar yang ditemuinya adalah Said ibn  Muhafah, dan memperkenalkan dirinya, maka  tukang sol tersebut bertanya  ada apa gerangan sampena yang ulama besar dan dikenal kok datang menjumpai dirinya yang hanya seorang tukang sol sepatu.

Ibnu Mubarakpun bercerita mengenai mimpinya tersebut dan kemudian beliau menanyakan apa yang sudah diperbuatnya sehingga malaikat pun sampai mengatakan demikian.  Singkat cerita akhirnya  Said menceritakan bahwa  sejak mudah dia sudah berkinginan untuk pergi haji dan setiap mendengan  lantuna talbiayh dia harus menangis untuk karena rindu dapat  ke baitullah.  Karena itu dia  selalu menabung dari penghasilannya sebagai tukang sol, dan akhirnyaterkumpullan  uang untuk menunaikan haji.

Namun sampai pada saatnya untuk pergi haji, isterinya sedang hamil dan nyidam serta suatu saat memintanya untuk mendatangi bau makanan yang sangat  lezat agar dia dimintakan.  Said pun mendatang dari arah bau tersebut tercium, dan akhirnya sampailah ke  sebuah rumah reyot dengan penghuni seorang nenek tua serta para cucunya.  Langsung saja Said menyampaikan niatnya, tetapi nenek tersebut tidak memenuhinya, sampai Said  akan membeli berapapun harganya, tetap saja nenek tersebut tidak mengabulkan.

Akhirnya nenek tersebut bercerita bahwa  selama beberapa hari mereka tidak bisa makan, dan kemudian ada seekor keledai mati dan kami mengambil  sedikit dagingnya untuk kami masak dan makan, karena itu daging ini halal bagi kami tetapi haram bagi engkau.  Lantas  setelah mendengar hal tersebut Saidpun pulang dan menceritakan hal tersebut kepada isterinya.  Akhirnya uang yang sedianya untuk berhaji tersebut dibelikan daging untuk dimasak isterinya dan dikirimkan ke rumah janda tersebut serta uang yang masih ada terwbut diberiannya semua ke janda tersebut untuk djadikan modal agar tidak kesulitan lagi.

Rupanya hajinya tersebut diterima Tuhan meskipun tidak sampai ke Makkah, dan bahkan dapat menolong mereka yang melaksanakan haji untuk diterima oleg Tuhan.  Sungguh se=buah cerita yang seharusnya memberikan penyadaran kepada kita bahwa  kepentingan pihaklain  yang sungguh sangat mendesak itu jauh lebih penting ketimbang kepentingan diri sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.