RAPAT KERJA NASIONAL KEMENAG

Hari ini, Senin 29 Pebruari 2016, kementerian agama RI mengadakan rakernas di Jakarta, yang akan dihadiri oleh seluruh pejabat eselon satu dan dua kementerian pusat, para rektor dan ketua PTKN, serta kepala kantor wilayah kementerian agaqma seluruh Indonesia.  Sudah barang tentu dalam raker tersebut akan dilakukan evaluasi menyeluruh atas kinerja tahun sebelumnya, termasuk capaiankinerja serta serapan anggaran.  Demikian juga akan disampaikan berbagai hal yang terkait dengan peran kementeraian, baik dari kementerian keuangan, BPK, KPK dan lainnya.

Yang terpenting  dari raker tersebut  ialah bagaimana kita akan melaksanakan program pada tahun ini serta begaimana cara agar pencapaian kinerja lebih agus serta berupaya untuk mendapatkan penilaian yang lebih bagus ketiumbang tahu sebelumnya.  Sudah arang tentu berbagai informsi penting juga akan disampaikan untuk akselerasi beberapa program yang dianggap sulit untuk dilaksanakan tepat ada waktunya.

Biasanya dalam raker seperti itu, pihak terbanyak dalam menyampaikan  evaluasi dan proyeki program ialah  sekretaris jenderal dan sifatnya hanya informasi dan himbauan,  Namun ada yang biasanya  ramai didiskusikan, yakni  peranninspektorat jenderal dalam melakukan pengawasan dan  mengaudit kinerja serta laporan keuangan di satker.  Hal tersebut disebabkan masih diperdebatkannya posisi inspektorat jenderal sendiri, yakni apakah sebagai pengawas dan pemeriksa  internal ataukan eksternal.

Secara formal dan kasat mata, inspektorat jenderal merupakan  pengawas dan pemeriksa internal kementerian, sehingga sifatnya harus membina dan melakukan pendampingan, sehingga semua satker akan mampu melakukan yang terbaik untuk kepentingan kementerian secara umum. Dengan begitukedatangannya ke satker ingin mengetahui  apakah satker sudah menjalankan peran dan gfungsi dengan  baik atau sebaliknya, kurang baik bahkan tidak baik.

Nah, setelah mengetahui kondisi yang sebenarnya, maka peran inspektorat ialah bagimana satker tersebut dapat memperbaikinya dan melakukannya seuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku, agar pada saat nanti diperiksa oleh  pemeriksa dari luar, semacam BPK ataupun BPKP, akan mendapatkan penilaian yang bagus.  Karena itu inspektorat narus memberikan solusi yang membangun dan  memberikan  arahan bagaimana agar menjadi lebih baik.

Memang pihak inspektorat juga  diperbolehkan untuk memberikan sanksi bilamana  ditemukan sesuatu yang menyimpang dan ada kesengajaan  untuk melakukan penyimpangan, dan susah untuk diperbaiki.  Hanya  tidak sebagaimana yang saat ini terjadi, dimana inspektorat berindak seolah pihak luar yang kedatangannya sudah dengan target untuk menemukan sesuatu dan memberikan sanksi, meskipun kesalahannya tersebut sangat ringan dan sangat mudah untuk dibetulkan.

Semangat untuk memberikan sanksi itulah yang seharusnya dihilangkan dan diganti dengan semangat untuk pembinaan dan kebersamaan diantara seluruh warga kementerian agama.  Bahkan yang sangat disayangkan lagi ialah  ketika inspektoraat mencari cari kesalahan, sehingga ada hal kecil yang seharusnya cukup diberikan himbauan agar menjadi lebi bagus, tetapi harus dipaksakan menjadi temuan  dan sanksi.

Kita tahu bahwa  terkadang kita menemukan sebuah kondisi dimana bukan  semata mata kesalahan satker, melainkan juga kelalaian kementerian agama, tetapi yang harus menanggung akibatnya ialah satker.  Nah, hal hal yang demikian seharusnya  justru diberikan semangat untuk segra dilakukan perbaikan di tingkat kementerian, bukannya tetap menyalahkan satker dan memberikan sanksi, termasuk sanksi pemecatan bagi mereka yang dianggap telah melampaui ketentuan yang diperlukan.

Raakernas  kementerian kali ini rasanya akan menjadi penting dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya, karena  banyak hal yang sedang dihadapi oleh kementerian dan satkernya.  Sebagaimana kita tahu bahwa kementerian agama merupakan kementerian yang paling banyak satkernya, sehingga membutuhkan  komitmen yang tinggi dari semua pimpinan satker untuk melakukan  sesuatu yang terbaik, apalagi pada saat ini  anggaran kementerian harus dikurangi demi efisiensi negara.

Karena itu dalam  rakernas kali ini harus ada keberanian dari keenterian untuk melakukan tindakan, termasuk menghentikan berbagai program yang diperkirakan tidak akan ada  anggarannya.  Sudah barang pasti tentang sertiikasi guru sudah berakhir karena  tidak mungkin lagi diteruskan, mengingat kepada undang undangnya, dan yang ter[enting sudah tidak mungkin diprogramkan karena angaran yang tidak memungknkan.  Bahkan untuk beberapa sergur pun sampai saat ini ada belum dibayarkan tunjangannya.

Kita juga menyadari bahwa  anggaran yang 54 T, tidak mencukupi untuk operasional  kementerian, khususnya  dalam bidang pendidikan.  Secara nasional, kalau kita mengacu kepada UUD, maka  untuk pendidikan di kementerian agama belum dilaksanakan, karena  penganggarannya  masih  konvensional mengikuti anggaran kementerian yang juga melaksanakan fungsi lainnya, sperti agama dan haji dan umroh.

Dengan demikian anggaran pendidikan, termasuk pendidikan tinggi menjadi  sangat tidak ideal, bahakn sanat jaun dari keidealan.  Lantas bagaimana kita dapat menyahuti amanah UUD kita yang mengamanatkan  bahwa mencerdasakan kehidupan bangsa itu menjadi tanggung jawab kita semua.  Ketimpangan dan perbedaan yang sangat mencolok diantara berbagai  lembaga pendidikan yang ada, khususnya  perbedaan antara pendidikan tinggi yang ada di kementerian ristekdikti dengan kementerian agama.

Namun disisi lain tuntutan untuk  meningkatkan  kualitas dan juga menaaikkan APK  adalah sama.  Lantas bagaimana mungkin dapat sama kalau dasar pengangarannya saja  1:8.  Sungguh terasa tidak adil pendidikan  di negara kita tersebut.   Kita menjadi  dibuat  bingung dengan anggaran yang sangat minim tersebut, karena secara praktis kita  akan sulit untuk mendapatkan hasil karya peneltian yang berkualitas.  Bagaimana mungkin sebagai perbandingan bahwa  penelitian yang hanya dibiayai  dengan 10 juta rupiah, dengan  penelitian yang dibiayai  sampai ratusa jita rupiah, bahkan  sampai dengan trilyunan?.

Tentu masih banyak persoalan lainnya yang  tidak kalah pentingnya untuk diselesaikan di rakernas kali ini, menyangkuit persoalan komunikasi diantara  kementerian lainnya.  Artinya harus ada perubagah sikap dai kementerian kita dalam hal hubungan dan komunikasi dengan pihak lain, sepertyi mitra di parlemen, yani komisi VIII, dengan kementerian keuangan, dengan kementerian PMK, dengan kementerian PAN RB dan juga dengan kemneterian riset, teknologi dan pendidikan tinggi.

Selama ini kita merasakan bahwa  hubungan yang kurang bagus dengan berbagai pihak lain, menjadikan kta semakin tenggelam dalam berbagai hal dan  terkadang menemukan kesulitan yang sangat ketika  sedang berhubungan dengan pihak lain tersebut.  Bahkan untuk menyelesaikan RPP pendidikan  keagamaan saja  tidak dapat diselesaikan dalam  beberapa tahun.  Sesunggunya kalau komunikasi terjalin dengan bagus, maka segala sesuatunya dapat dibicarakan dengan baik dan akan segera mendapatkan jalan keluarnya.

Menurut saya  dalam rakernas kali ini harus difokuskan untuk memperbaiki kondisi kementerian, khususnya   dalam hubungannya dengan pihak lain di luar kementerian agama.  Kita dapat memulainya dengan cara  silaturrahmi antara pejabat untuk membicarakan hal hal teringan terlebih dahulu, mungkin  dapat dilaksanakan dalam suasana non formal.  Demikian uga peran inspektoral jenderal kementerain agama agar  menjadikan  suasana seluruh satker  menjadi kondusif, sehingga  mereka akan dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan maksimal.

Satu hal lagi yang seharusnya dipikirkan leh kementeriaqn agama bahwa waktu rapat kerja nasional seperti iniseharusnya bukan di bulan Pebruari akhir, melainkan di awal tahun atau bahkan diujung tahun sebelumnya, sehingga start melaksanakan program akan lebih bagus.  Kalau dimaksudkan untuk menyusun  program tahun berikutnya pun akan lebih longgar.  Mungkin ke depannya  perlu dipikirkan tentan hal tersebut.

Barangkai  hal terpenting lainya yang sering dilupakan ialah  bagaimana kementerian agama memberikan apresiasi kepada siapaun satker yang berprestasi dalam berbagai bidang, termasuk dalam hal kinerja.  Kondisi  yang menyejukkan dan memberikan rangsangan untuk  selalu meningkatkan prestasi sperti itu harus diupayakan semua pihak, sehingga ada kompetisi  ke arah kebaikan dan bukannya malah semakin terasa melemah,  bersamaan dengan melemahnya semua komponen yang seharusnya memberikan support.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.