GADUH

Barangkali itulah kata yang tepat untuk menggambarkan  suasana  di lingkungan kita yang selalu lebih mementingkan  kepentingan diri sendiri ketimbang  menghormati pihak lain.  Lebih lebih jika yang melakukan hal tersebut adalah seseorang yang mempunyai posisi strategis dan seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat lainnya.  Namun dalam kenyataannya banyak sekali kejadian yang dapat kita saksikan maupun ikuti lewat media bahwa  keributan terjadi hanya  sekedar kurang sabar atau tidak mau mengerti posisi pihak lain.

Seringkali kita mndapati  seorang anggota dewan yang terhormat, yang posisinya sebagai wakil rakayat, namun seringkali bertindak tidak seemestinya, semacam berlaku sok berkuasa dan mengharuskan ihaklain mengerti dan menghormatinya sedemikian rupa, sehingga ada pihak lainnya lagi yang justru akan terabaikan.  Bahkan ketika diperlakukan sama dengan  orang lain, dia harus mencak mencak karena tidak diperlakukan berbeda.

Ini sungguh sangat lucu dan berbalik dengan sesungguhnya, karena  seoranag pejabat, seharusnya memberikan contoh yang baik, bukannya minta dilayani secara khusus.  Sebagai wakil rakyat seharusnya dia justru akan memberikan apresiasi kepada siapapun yang telah bekerja sesuai dengan baik, dan bahkan dia harus mengingatkan siapapun yang tidak bekerja dengan baik atau tidak adil dalam pelayanannya.

Kita juga masih sering menyaksikan bentrok antara aparat, tetapi beda  kesatuan, seperti bentrok antara  TNI dan Polri, meskipun itu urusan oknum tertentu, tetapi terkadang mereka keliru dalam memaknai  kebersamaan, karena kemudian   justru dapat menimbulkan kegaduhan yang lebih besar, yakni  bentrok  dengan mengat6as namakan institusi.  Ini juga  sangat memalukan, karena mereka seharusnya  lebih mementingkan kedamaian di  dalam masyarakat, bukannya  malah membuat kekhawatiran kepada mereka.

Di beberapa daerah  kita juga masih menemukan  seringnya terjadi tawuran antara kampung yang hanya disebabkan oleh persoalan kecil dan sepele.  Mungkin ada  kesalah pahaman diantara  anggota sebuah kampung, lalu dia menyebarkan kabar yang tidak benar untuk mendapatkan pembelaan dari warga kampung,  dan celakanya, warga kampung tersebut tidak mau mencerna informasi tersebut dan langsung  mendahulukan emosi sehingga terjadilah bentrok tersebut.

Beberapa waktu yang lalu di mataram NTB  telah terjadi juga bentrok antara kampung sehingga menewaskan  salah seorang warganya.  Persoalan yang memicunya ialah hanya ada salaha seorang warga yang menyenggol bak sampah sehingga bak sampah tersebut rusak, dan kemudian  dengan  informasi yang ditambah tambah, akhirnya menjadi bentrok antara kampung tersebut.  Sungguh sangat disesalkan kejadian tersebut, karena  masyarakat yang tidak mampu menyaring berita atau informasi tentang kebenarannya.

Belum lagi kita  juga dikejutkan dengan gaduhnya kabinet pimpinan presiden Jokowi dimana diantara para menteri ada debat dan perbedaan terbuka, sehingga diketahui oleh masyarakat secara luas.  Tentu hal tersebut sangat disesalkan, karen pastinya akan dapat mengganggu kinerja kabinet yang diharapkan  oleh presiden sendiri untuk bekerja dan bekerja.  Masyarakat kecilpun  sesungguhnya tahu bahwa perbedaan itu pastilah  akan muncul, namun kalau itu diantarab para anggota kabinet, seharusnya dapat direm dan lokalisir sehingga tidak akan muncul ke publik.

Bahkan beberapa waktu yang lalu ada seorang menetri yang mengajak berdebat secara terbuka  dengan wakil presiden.  Sungguh sangat tidak masuk di akal kita kalau ada  menteri yang meskipun bisa jadi benar, tetapi apa tidak bisa ketika menyampaikan kritk atas kebijakan atau atas ketetapan yang salah oleh  menteri lain atau bahkan oleh atasannya, lalu disampaikan secara tertutup atau  secara pribadi, sehingga tidak akan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.  Tentu disampaing akan mempermalukan  menteri lainnya atau bahkan kepada  atasannya.

Bahkan saat ini juga baru saja terjadi debart terbuka diantara anggota kabinet kerja, yang diawali dengan debat melalui sosial media, dan kemudian terus berlangsung sehingga sangat mengkhawatirkan masyarakat.  Bukan disebabkan oleh perdebatan tersebut, melainkan akibat darinya, yakni tidak maksimalnya kinerja mereka atau  layanan terhadap masyarakat menjadi terbengkelai.

Tentu masih banyak contoh lainnya yang menggambarkan  kegaduhan tersebut,  apalagi kalau kita kembangkan di beberapa institusi dan lembaga yang skalanya lebih kecil, pastilah di sana sangat banyak konflik yang mengarah kepada kegaduhan.  Itulah barangkali yang membuat suasana di negeri kita  selalu ada kegaduhan, dan tidak ada sebuah kedamaian yang  dapat  dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Kita sesungguhnya tidak tahu mengapa rakyat kita  suka lupa dan menyadaroi betapa pentingnya sebuah amanah yang dibebankan kepada mereka, bahkan mereka seolah hanya ingin berkuasa dan  dihormati dalam posisinya sebagai apapun dalam segala level.  Ini  sungguh merupakan sebuah penyakit yang cukup kronis yang harus segera dicarikan obatnya.  Lantas apa obatnya?  Tentu kita  masing masing mempunyai pendapat, namun yang jelas kalau semua orang taat dalam menjalankan  ajaran amanya secara konsekwen, insyaallah semua itu akan semaikin menipis dan pada saatnya akan tidak tersisa sedikitpun.

Akar persoalan mengenai kegaduhan tersebut ialah karena hampir semua orang ingin  pujian dan posisi.  Nah keinginan tersebutlah yang kemudian memudahkannya untuk melalukan segala cara untuk mendapatkannya, termasuk posisi dan jabatan.  Mereka seolahlupa bahwa jabatan tersebut sesunggunya merupakan sebuah amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan atau disampaikan dengan baikm, bukan sebaliknya dijadikan sebagai  cara untuk mendapatkan keinginan pribadinya, seperti  dihormati, dan sejenisnya.

Akibatnya tentu kita semua akan  memahami, yakni mereka pastinya akan  melakukan amanah tersebut  untuk kepentingan dirinya atau setidaknya  lebih mengutamakan diri sendiri, keluarga dan  mengalahkan kepentingan masyarakat secara umum.  Padahal kita semua tahu  bahwa  siapapun yang menyalah gunakan posisi atau jabatan, dan bukan untuk usaha menuju kesejahteraan rakyat,  pastilah mereka tidak akan dibimbing oleh Tuhan, melainkan justru oleh setan.

Itulah mengapa kemudian saat ini banyak terjadi penyelewengan dan korrupsi serta juga kegaduhan di hampir setiap komunitas, apalagi institusi yang di dalamnya banyak menggunakan  anggaran.   Kondisi seperti itu akan terus berlangsung  secara turun temurun kepada para pengganti mereka, karena pastilah para penganti tersebut  dalam memperoleh posisi dan jabatannya pun  melalui cara yang relatif sama dengan  yang diganti, yakni dengan melakukan kecurangan, termasuk harus menggunakan modala banyak.

Kita  hanya ingin bahwa  kalaupun kegaduhan  tersebut masih ada, tetapi bukan dilevel tertinggi di negeri ini, khususnya dipemerintahan atau tepatnya di kabinet yang sedang  menahkodai negeri ini, dan juga tidak terjadi di parlemen serta kementerian.  Menurut saya  untuk melakukan hal tersebut lebih mudah ketimbang mengubah mental seluruh pmpinan di semua level.  Ketegasan dan  komitmen seluruh menteri dalam menjalankan tugasnya adalah sebuah keb=niscayaan yang harus segera ditunjukkan buktinya.

Sementara kegaduhan atau konflik terbuka yang selaa ini terjadi, harus  segera diakhiri tanmpa sayarat.  Barangkali presiden mempunyai kewenangan dan kuasa untuk mempraktekkan hal tersebut.  Artinya kalau presiden turun tangan dan memberikan sanksi keras kepada siapapun dalam kabinet yang tidak mau  saling menopang atau setidaknya tidak saling mengusik satu sama lainnya.  Presiden harus segera menegur siapapun diantara para menterinya yang berdebat  secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat.

Semoga ke depannya negeri ini akan semakin membaik,  bersmaan  komitmen yang tinggi para pengelola negeari ini.  Kita doakan agar  mereka selalu dibimbing oleh Tuhan untuk memikirkaan rakyat secara umum, dan tidak sebaliknya selalu ingin menunjukkan dirinya yang benar melalui debat dengan sesama pimpinan yang ditunjukkan kepada masyarakat.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.