PEMIMPIN SEPERTI APA YANG DIBUTUHKAN OLEH RAKYAT?

Setiap menjelang pemilihan kepala daerah, termasuk presiden, selalu saja banyak  isyu dimunculkan, dan terkadang malahan bercampur dengan fitnah.  Artinya sedikit saja kesalahan atau bahkan hanya kesan terhadap salah satu calon, saja, kemudian harus dimunculkan, demi untuk mempengaruhi  publik agar calon pemimpin tersebut tidak dipilih dalam pemilu.  Dan sebagaimana biasa, sebagiannya ada yang percaya dan sebagian yang lain, malah semakin bersimpati kepada calon yang disudutkan tersebut.

Tentu saja hal tersebut terjadi jika  calon tersebut memang tidak terbukti melakukan sesuatu yang tercela sebagaimana yang dituduhkan.  Namun jika  calon tersebut memang benar benar  berkelakuan buruk atau pernah melakukan  kejahatan, tentunya masyarakat akan menjauh dan tidak akan memilihnya.  Hanya saja  kebiasaan untuk menyudutkan  para calon oleh para rival atau atau para pengikutnya tersebut menjadi kebiasaan sangat buruk di negeri ini.

Akibatnya setelah nanti ada  pemimpin yang terpilih, kondisinya juga tidak akan cepat pulih dan  tenteram sehingga pemangaunan akan dapat dijalankan dengan bagus.  Sebagai bangsa bermartabat seharusnya kebiasaan buruk tersebut  harus segera ditinggalkan dan kemudian beralih kepada  penciptaan kondisi yang  baik sehingga siapapun yang memang dipilih oleh rakyat, itulah pemimpin  yang paling dianggap  baik dan didukung untuk melaksakana program programnya.

Kita juga sering miris ketika pada saat berkampanye  atau sebelumnya,  ada sebagian diantara kita yang mengusung isu sara, dan bukan bagaimana  memberikan pengertian kepada  rakyat agar  mereka dapat mempertimbangkan calon pemimpin yang bagus, yang mempunyai treck record bagus dan berkomitmen untuk membangun dan memperbaiki kondisi yang ada.  Isu sara, utamanya yang terkait dengan agama seorang calon pemimpin selalu saja  menjadi salah satu peluru yang dianggap sebagai hal yang  ces pleng, namun  biasanya juga  akan tidak mempan.

 Saat ini, dimana  mayoritas masyarakat sudah sangat  paham dengan kondisi negeri ini yang penuh dengan kejahatan, utamanya yang dilakukan oleh para pimpinannya, yakni  korupsi yang masih selalu saja marak, seharusnya isu utama yang harus dikemukakan pada saat berkampanye ialah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa pimpinan yang sedang mencalonkan diri  memang benar benar bersih dan akan memperjuangkan kesejahteraan  masyarakat, dan bukian lagi soal isu sara.

Bangsa ini  sudah sangat  muak dengan segala macam jualan yang  didasarkan atas sara, sebaliknya mereka  bahkan hampir saja  bersikap masa bodoh dengan segala macam pemilu kada atau pemilu presiden sekalipun, karena toh nasib mereka akan tetap sama saja, siapapun yang akan menjadi pemimpin.  Bahkan kemudian  kita juga sangat miris pada saat  banyak masyarakat yang  bersikap pragmatis.  Artinya  ketika mereka berpikir tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari pemilu, maka mereka  kemudian  mencari jalan pintas, akan  meminta calon untuk membayarnya, siapa yang berani membayar banyakitulah yang akan dipilih.

Sudah barang tentu  kondisi tersebut sangat memperihatinkan, karena sudah pasti moral mereka akan menjadi rusak dan kondisi bangsa ini akan semakin sulit untuk diperbaiki.  Secara teoritis, merekayang pada saat mencalonkan diri sebagai calon pemimpin, harus menghabiskan banyak dana, pastilah pada saat sudaha menduduki jabatan yang diiginkannya, maka mereka pastinya akan berushaa  mengembalikan modal dan kemudian mengeruk keuntungan dari jabatan tersebut.

Runyamlah harapan untuk  menyaksikan Indonesia yang semakin membaik dan  korupsi akan semakin menghilang.  Ini  sesungguhnya juga merupakan andil dari para tokoh dan pemimpin yang  sama sekali tidak berpikir panjang, melainkan hanay mengejar kepentingan pribadi saja.  Karena itu seharusnya  ada revolusi mendasar  oleh seluruh bangsa ini agar  sistem pemilihan pemimpin  di neger ini menjadi sedemikian transparan dan  tanpa harus mengeluarkan  dana  sedikitpun.

Harapannya mereka yang terpilih memag benar benar pilihan dalam segala sikapnya, komitmennya,  integritasnya dan kepemimpinanya yang  mumpuni.  Jikia seluruh tahapan pemilu dibiayai oleh negara dan  mereka yang berkompetisi tidak dibenarkan mengeluarkan dana, terkecuali iuran bersama  yang dikumpulkan oleh sebiah panitia yang dibentuk oleh negara, ditambah lagi bahwa persyaratan untuk menjadi calon, tidak diperlukan diusung oleh partai politik,  maka kemungkinan mendapatkan pemimpin yang benar benar baik, akan bisa didapatkan.

Namun rupanya  hal sepertiitu masih  sangat jauh dari harapan, karena aturan mainnya sampai saat ini masih seperti itu, yakni untuk menjadi calon harus diusung oleh partai pllitik, atau jalur independen yang syaratnya sangat berat.  Jadilah mereka yang bermodal besar dengan mudah membeli partai politik untuk mengusungnya dan selanjutnya  mereka juga akan  bertaruh dengan seluruh hartanya demi mendapatkan jabatan dan keududukan tersebut.

Nah, parahnya tidak ada sesuatu di dunia ini yang gratis, melainkan semuanya harus diperhitungkan.  Jadi kalau pada saat proses menuju sebuah jabatan, seseorang harus mengeluarkan modal besar, maka  yang dipikirkan pertama ialah bagaimana  dapat mengembalikan modal tersebut dan kemudian mengeruk kekayaan.  Sedangkan  untuk memikirkan  bagaimana mensejahterakan rakyat, sama sekali tidak pernah terpikirkan.  Lntas apa yang dpaat dipertahankan dengan sistem dan pemilu kita yang demikian?.

Namun demikian idealitas sebagaimana yang  kita pikirkan tersebut tidak akan mungkin dapat diwujudkan dalam waktu dekat, karena itu kita harus memikirkan bagaimana negeri ini, dan juga daerah daerah dapat dipimpin oleh orang orang yang pantas dan mempunyai tujuan mulia, yakni mensejahterakan rakyat.  Salah satunya ialah mengkampanyekan kepada masyarakat agar mereka  tidak bersikap prgamatis dan semakin menjahkan  negeri ini dari sejahtera.

Artinya mereka harus  dapat memulai memikirkan bagaimana menolak dan memberantas segala macam politik uang yang biasanya disodorkan oleh para calon melalui  para gapitnya.  Mereka harus diberikan keyakinan bahwa hanya melalui masyarakat menoilak politik uang sajalah yang dapat memperbaiki kondisi.  Masyarakat juga harus diyakinkan bahwa untuk memilih pemimpin yang baik,  harus dilihat rekam jejaknya dan sekaligus komitmennya untuk membangun bangsa dan daerah, dan bukan semata mata dilihat dari  agamanya.

Biarlah banyak pihak  selalu megait kaitkan agama dengan seuah kepmimpinan, tetapi untuk apa kalau  mereka sesgama, tetapi justru malah memperpuruk kondisi dan merugikan masyarakat serta   negara.  Memang bolehlah dipertimbangkan jika memang ada  calon yang seagama dan berintegritas serta  berkomitmen untuk mensejahterakan rakyat.  Namun  untuk agama atau kepercayaan tersebut, bukan merupakan pertimbangan utamanya, melainkan syarat berikutnya.

Dan ketika kita tidak menjumpai mereka yang seagama yang bagus, sementara yang  dapat diandalkan dari aspek kepemimpinan serta  kemampuannya untuk memimpin serta  beekerja keras untuk kesejahteraan rakyat, ternyata mereka yang  tidaka seiman,  maka  kita  tetap akan mendahulukan mereka yang cakap untuk memimpin dan ada harapan  perbaikan di masa depan.  Dalam persoalan pilihan pemimpin tersebut,  harus diutamakan mereka yang memang kapabel dan memikirkan kesejahteraan rakyat.

Jadi satu sayarat utama  untuk dipilih menjadi pemimpin ialah kemampuan nya untuk menjadi pemimpin yang harus  bersikap adil, tegas dan tidak takut dengan berbagai ancaman, karena menjalankan kebanaran.    Semangatnya untuk memberantas segala maca penyimpangan dan korupsi juga harus dipertimbangkan serta bagaimana dia  terus bekerja keras untuk  mensejahterakan rakyatnya. 

Itulah seharusnya yang  dipertimbangkan dalam memilih pemimpin, dan sekali lagi bukan persoalan sara, karena kalau itu yang menjadi pertimbangan utamanya,  sangat mungkin justru akan merugikan banyak pihak.  Namun kalau ternyata ada calon yang  ideal dan seagama, maka itu  akan lebih bagus, namun sekali lagi ini bukan  persoalan saran melainkan persoalan bagaimana memimpin  sebuah negara atau daerah menuju  kesejahteraan yang sejati.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.