DUA PARTAI POLITIK YANG SEGERA MELAKUKAN ISLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa  ada dua partai politik di tanah air yang saat ini masih berseteru dan pecah menjadi dua bagian.  Berbagai upaya telah ditempuh, termasuk melaui  jalur hokum, namun rupanya tidak ada titik yang jelas, walaupun sudah ada keputusan pengadilan, karena memang partai politik  lain dengan hokum, sehingga perselisihan partai politik akan sangat sulit didamaikan dengan pendekatan hokum.  Itulah kenyataannya, sehingga  kedua partai politik tersebut  akhirnya menempuh jalan  islah melalui munas atau konggres atau apapun namanya.

Untuk partai Golkar rupanya sudah bulat untuk menyelenggarakan  munas luar biasa pada bulan april ataupun Mei tahun ini, dan smeua sudah sepakat, tanpa ada satu pihak pun dari yang bertikai masih mempermasalahkan.  Cuma tinggal penyususnan panitia sajalah yang mungkin masih  ada sedikit ganjalan, tetapi sesungguhnya juga sudah terjadi kesepakatan bahwa panitia tersebut harus dihuni oleh kedua kelompok yang sedang berselisih, sehingga kemungkinannya akan mulus.

Bahkan  sekarang ada suara yang sedikit menggembirakan, meskipun masih harus dibuktikan, yakni adanya  dorongan agar  praktik politik uang dihilangkan.  Sudah banyak himbauan dari para tokoh partai, termasuk mereka yang akan maju sebagai salah seorang kandidat ketua umum.  Seruannya ialah agar semua pihak menahan diri dan tidak melakukan money politic dalam pemilihan ketua umum partai Golkar.  Sungguh sebuah suara yang  tampak menyejukkan, karena  kita  saat ini sangat merindukan adanya pimpinan yang murni karena  kemampuannya, bukan karena  kekuatan uangnya.

Hanya saja kita masih tetap menunggu, bahkan  tidak sedikit yang masih meragukan himbauan tersebut, karena  dalam jejak rekam partai Golkar, hamper tidak pernah sepi dari politik uang tersebut.  Bahkan semua partia politik, seolah tidak mampu  menghindari politik uang dalam setiap ada even yang memerlukan pemilihan, termasuk pemilihan calon ketua partai, dan juga pemilihan anggota legislative dan lainnya.

Lain lagi ceritanya dengan partai yang  saat ini masih konflik, yakni partai persatuan pembangunan, dimana pihak yang menyelenggarakan muktamar di Jakarta, merasa sudah memenangkan  senghketa melalui pengadilan, namun pemerintah, dalam hal ini menteri Hukum dan hak asasi manusia belum mengeluarkan  SK kepengurusan tersebut, dan bahkan saat ini  pemerintah telah memperpanjang keberlakuan muktamar bandung tahun 2011 hingga 6 bulan ke depan.

Bahkan saat ini PPP muktamar Jakarta telah mempersiapkan gugatan kepada pemerintah atas dikeluarkannya masa perpanjangan kepengurusan  muktamar Bandung tersebut.  Itu artinya dalam tubuh PPP belum ada kesepahaman mengenai muktamar islah yang diserukan dan  juga diimbau oleh pemerintah.  Dengan kondisi seperti itu,  dapat dipastikan bahwa kalaupun nanti muktamar islah digelar, dfimana salah satu pihaknya tidak terlibat dalam muktamar tersebut, pastinya konflik tidak akan pernah selesai.

Ujung ujungnya sangat mungkin akan berdiri partai politik baru, pecahan dari PPP.  Sangat disayangkan memang bahwa partai yang mengatas namakan sebagai rumah bear umat Islam tersebut ternyata tidak dapat mengamalkan nilai nilai Islami yang diusungnya sendiri.  Untuk sekdar “mengalah” untuk  kemaslahatan  yang lebih besar saja tidak  ada kemauan, lantas apa yang akan diperjuangkan dalam partai politik.  Bukankah mereka berkeinginan agar  negara menjadi semakin baik, dan masyarakat akan semakin tenang?.

Omong kosong belaka, kalau kemudian partai yang di dalam tubuhnya sendiri tidak mampu menyelesaikan konflik, kemudian mengklaim akan mampu   memimpin umat dan mensejahterakan  masyarakat.  Kita masih menunggu sikap masing masing piohak agar  jalan damai dan islah yang sudah terbuka tersebut dapat dijalankan dengan penuh kesungguhan, sehingga semuanya akan mampu untuk merencanakan masa depan yang lebih baik.

Kita tahu bahwa  dua partai politik tersebut sebelumnya memang tergabung  dalam koalisi Merah Putih atau KMP yang saat ini secara substansial sudah bubar, dan saat ini sudah ada pernyataan dari kedua parpol ini untuk mendukung pemerintah, meskipun bukan bergabung dengan pemerintah, dalam arti  dalam cabinet.  Memang sebagaimana kita tahu  salah satu dari pihak yang berkonflik sesungguhnya sudah mendukung pemrintah sejak awal, yakni kubunya  Agung Laksosno di partai Golkar dan kubunya Romahurmuzi dalam partai PPP.

Dengan  pernyataan dari kubu lainnya, yakni kubu Abu Rizal bakri  di partai Golkar dan kubu jan Farid di kubu PPP, sesungguhnya smeuanya sudah  menjadi satu, yakni mendukung pemerintahan Jokowi Jusuf kalla.  Nah, karena itu seharusnya  mereka kemudian menyadari bahwa kepentingan bangsa itu jauh lebih penting ketimbang kepentingan  kelompok mereka.  Dengan begitu mereka kemudian dapat legowo untuk melakukan islah melalui munas atau muktamar yang ghelar secara bersama.

Bahkan  di partai Golkar amat manis, karena kedua tokoh yang  menjadi pimpinan  masing masing pihak, sudah menyatakan tidak akan maju lagi dalam bursa pemilihan calon ketua umum dan mereka memilih menjadi  orang tua saja serta membiarkan anak anak muda yang akan memimpin partai ke depan.  Lantas bagaimana dengan PPP yang keduanya masih menginginkan  menjadi ketua umum.  Sesungguhnya tidak menjadi masalah, asalkan dalam muktamar yang akan digelar tersebut dijalankan secara fair.

Kepanitiaan juga dilaksanakan secara bersama antara kedua kubu dan  keduanya  berkomitmen bahwa siapapun yang nantyinya dipilih oleh peserta uktamar yang sah, harus dihormati dan didukung.  Juga bagi  yang terpilih agar tidak meninggalkan atau tidak mendepak mereka yang kalah, tetapi justru  mereka itu direkrut untuk memperkuat barisan kepengurusan yang  ada.  Semangat kebersamaan harus tetap dikobarkan demi  cita cita besar bersama.

Bukankah PPP mengklaim bahwa PPP adalah rumah besar umat islam? Lantas umat islam mana yang akan mau masuk ke rumah tersebut kalau didalamnya gerah dan selalu rebut. Kan lain ceritanya  kalau rumah tersebut seperti surge yang tenang, tenteram dan menyejukkan serta program nya jjelas dalam upaya mensejahterakan umat.  Menurut saya masih belum  terlambat bagi siapapun untuk  segera melakukan islah yang pintunya sudah terbuka tersebut.

Persoalan utama yang selalu dihadapi oleh umat manusia ialah bagaimana  mengendalikan nafsu yang tentu akan terus menggerus seseorang untuk tidak berbuat kebajikan. Nafsu tersebut memang menjadi musuh  terberat umat manusia, karena itu tidak heran  bilamana kita mengetahui bahwa Rasulullah Muhammad saw, pada saat s elesai menjalani perang badar, sebagai sebuah peperangan yang besar dan dahsyat, beliau justru menyatakan bahwa kita baru saja  pulang  dan selesai melakukan perang kecil dan segera akan menghadapi peperangan yang lebih besar.

Tentu saja para sahabat  terkejut dengan eprnyataan Nabi tersebut, karena mereka sungguh telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk peranag  yang baru saja selesai, dimana mereka manganggap itulah perang yang terbesar, tetapi nabi justru mengatakan itu merupakan perang kecil.  Lantas penasaran mereka  diwujudkan dalam pertanyaan kepada Nabi, lantas peperangan  apalagi yang besar tersebut ya rasul?.

Nabi dengan tenangnya menjawab rasa penasaran para sahabatmnya yang sangat luar biasa tersebut dengan jawaban, bahwa  peperangan yang segara akan dijalaninya ialahn perang melawan hawa nafsu.  Memag terkadang kita tidak  mengira bahwa perang melawan nafsu itu justru jauh lebih berat, ketimbang peperangan mengankat senjata.  Karena itu berbaghagialah mereka yang selalu ingat dan mengobarkan  perlawanan dan perang melawan nafsu, kapanpun dan dimanapun.  Semoga kita dapat melakukannya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.