TENTANG LGBT, HARUS BAGAIMANA?

Terkadang kita juga merasa jenggkel atas ulah bberapa orang yang tidak sesuai dengan keinginan kita, apalagi  bertentangan dengan adat dan kesopanan serta agama, namun sebagai orang Timur yang bermoral dan tahu tentang  banyak hal, tentunya kita tidak boleh marah, apalagi kemudian melakukan hal hal yang  dapat merugikan dan menyakiti pihak lain.  Artinya kita harus mampu mencari solusi atas persoalan yang ada tersebut dengan penuh kebijaksanaan serta kasih sayang.

Kita dapat mencontoh betapa  para tokoh terpilih di dunia ini, utamanya yang terkait dengan figure  anutan, seperti nabi.  Nabi Muhammad saw misalnya, betapa telah mendapatkan banyak rintangan yang sangat berat, tetapi toh beliau sangat sabat dan santun dalam menghadapi semua itu, tanpa harus marah, jengkel, atau bahkan dendam.  Merasa terusik saja tidak, sehingga beliau dapat berpikir dan mencari solusi terbaik.  Pada akhirnya kita dapat menyaksikan sendiri betapa  hasil yang didapatkan sangat gemilang.

Demikian juga kita dapat melihat sepak terjang para dai di tanah jawa pada saat itu, yakni para walisongo yang demikian telaten dan sama sekqli tidak pernah  marah saat melihat kemungkran berad di depan mereka.  Bahkan mereka  malahan ikut nimbrung dalam  kebiasaan yang sudah terbiasa masyarakat lakukan.  Hanya saja dengan pelan dan pasti, mereka kemudian dapat menyampaikan misi dengan damai serta masyarakat dengan keiskhlasan mereka  meu mengiktui dakwah para wali tersebut.

Tentu tidak bnijak jika  kita  melakukan sesuatu yang mungkin dianggap benar oleh dalil, tetapi tidak tepat untuk berdakwah, semisal saat kita menyaksikan adanya  sesuatu yang dilihat bertentangan dengan ajaran agama, lalu dikatakan dan dihukumi haram dilakukan dan harus dijauhi.  Memang tidak salah, karena  sesuatu yang maksiat itu haram dan harus dijauhi, namun untuk kepentingan mereka tang  belu mengetahui secara lebih detail, tentu kita harus pelan pelan dan tidak langsung mengharamkannya dan mengancam mereka dengan neraka.

Kita juga dapat melihat apa yang dicontohka oleh nabi kita Muhammad saw, saat beliau menemukan orang kafir yang kemudian  mau masuk islam, lantas apa yang dipesankan oleh Nabi, apakah Nabi langsung mewajibkan seluruh kewajiban kepadanya  dan  mengharamklan semua yang haram kepadanya?,  ternyata tidak, karena Nabi justru hanya berpesan kepadan orang yang baru masuk islam tersebut dengan “janganlah kau berbohong”.

Saat ini kita sedanag dihadapkan kepada persoalan yang tentu  sangat rumit, yakni apa yang dikenal dengan LGBT atau singkatan dari lesbian, gay, biseksual dan transgender.  Kita pagin pagi sudah  mendengar informasi  bahwa MUI telah memberikan fatwanya tentang keharaman LGBT tersebut.  Memang tidak salah, karena memang itulah ketentuan yang ada dalam  berbagai letratur Islam, dan itulah yang biasa dilakukan oleh MUI, karena itu biarlah tetap begitu.

Hanya saja  kita sebagai masyarakat seharusnya dapat melakukan hal terbaik, bukan dengan memusuhi mereka yang tergabung dalam LGBT dengan mengats namakan agama dan menjalankan fatwa MUI, melainkan kita harus dapat mendekati mereka untuk membawa misi menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang normal, tetapi dengan cara yang bijak, santun dan sama sekali tidak menyakiti mereka.  Justru kita harus kasihan kepada mereka, bukannya malah memusihi atau memperlakukan mereka  dengan perlakuan yang tidak simpatik.

Secara hubungan  sebagai warga negara, mereka juga  merupakan warga negara yang  harus dilindungi  dan tidak boleh diperlakukan secara tidak adil dan disakiti.  Cuma karena mereka berperilaku menyimpang dari kebiasaan dan kesopanan serta ajaran agama, tentunya kita  harus menyelamatkan mereka dengan memberikan pencerahan, tentu melalui cara yang terbaik, bukan cara yang memaksakan serta mengancam.

Kita semua orang yang  berpikir dan berperilaku normal tentu sama sekali tidak setuju dengan LGBT tersebut, karena disamping bertentangan dengan ajaran agama, juga tidak sejalan dengan adat ketimuran serta kesopanan, hanya saja kita  harus mencari jalan keluar yang terbaik, bukan dengan memberhangus mereka atau memvonuis mereka sebagai penghuni neraka dan cap lainnya yang semakin menjauhkan mereka dari kesadaran dan kembali kepada kenormalan.

Sudah banyak pihak yang membicarakan persoalan LGBT tersebut, termasuk menereka yang langsung mengutuk perbuatan tersebut, tetapi sangat jarang mereka yang berusaha mendekati mereka untuk mengetahui keinginan mereka dan kemudian sedikit demi sedikit dimasukkan  misi untuk penyadaran kepada mereka.

Kita memang sangat tidak sepakat dengan tindakan mereka yang berpropaganda  dengan massif seolah mereka itu  harus dihargai dan diperlakukan dengan baik serta dihormati, dengan alasan HAM.  Inilah yang harus disadarkan dari mereka, karena kita juga banyak  mengetahui  ada pihak yang menjadikan HAM sebagai tameng untuk mengegolkan agenda  tidak baik di negeri ini.  Artinya HAM dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang secara substansial salah.

Ada  pihak misalnya, yang  menempati lahan milik pihak lain, kemudian ketika yang berhak  dan pemilik lahan tersebut ingin menggunakannya, kemudian pihak yang  tidak berhak tersebut enggan meninggalkan lahan yang bukan m iliknya tersebut, lalu justru malah melaporkan kepada komisi HAM untuk mendapatkan pembelaan.  Celakanya, terkadang para penghamba HAM tersebut juga tidak dapat melihat dengan  benar tyentang persoalan yang sesungguhnya, dan kemudian dengan lantang  membela yang salah tersebut.

Untungnya saat ini  HAM sudah dihuni oleh para tokoh yang  relative obyektif dalam melihat persoalan, sehingga meskipun masih saja banyak pihak berlindung  dengan HAM, tetapi kalau memang salah, ya harus dianggap salah, karena HAM itu bukan milik satu pihak, melainkan juga pihak lain, yang tentu juga harus dipertimbangkan.

Tentang LGBT tersebut, kita memang harus melihatnya scara jeli, yakni ketika  ada sebagian masyarakat kita yang memang  mempunyai perilaku  seperti itu, jusr=tru kita harus tergugah untuk menyelamatkannya, dan sekali lagi bukan  malah memusuhinya.  Namun kalau LGBT tersebut sudah dijadikan sebagai sebuah  agenda propaganda untuk  menarik minat anak anak muda dengan berbagai iming iming, dan mereka merasa benar dengan mengatas namakan HAM, maka kita harus segera melakukan aksi untuk menghentikan hal tersebut.

Namun sekali lagi caranya harus tidak malah menimbulkan kontra produktif.  Artinya, semua pihak, termasuk pemerintah harus segera turun tangan untuk melakukan hal hal yang diperlukan agar propaganda LGBT tersebut tidak terus  menerus dilakukan untuk mempengaruhi anak anak muda kita.  Tentu  ada cara yang dapat dilakukan dan ditempuh untuk menanggulangi hal tersebut yang dirasakan sebagai bentuk penyadaran, dan bukan permusuhan.

Pendeknya secara substansial, kita memang tidak setuju dengan LGBT tersebut, karena memang bertentangan secara substansial dengan nilai nilai ketimuran dan agama, hanya saja kita tidak boleh gegabah dalam menangani mereka.  Kita harus mencari cara yang terbaik, tanpa harus menyakiti siapapun, tetapi berhasil untuk menyadarkan  mereka bahwa apa yang mereka lakukan tersebut merupakan sebuah penyimpangan.

Untuk para pegiat propraganda terhadap LGBT tersebut diharapkan akan menyadari pula tentang kemungkinan rusaknya  generasi muda atas ulah mereka, sehingga kesadara itulah yang kita tuju, dan bukan penghentian secara paksa.  Semua  pihak harus memahami  persoalan ini, dan tidak mudah menyalahkan atau menghakimi sesuatu hanya didasarkan semata mata kepada pengetahuannya sendiri. Semoga keresahan yang saat ini sudah menjalar ke masyarakat tentang LGBT tersebut, akan egera berakhir. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.