HUBUNGAN ANTARA HUJAN DENGAN IMLEK

Walaupun secara keilmuan mungkin tidak dapat direlasikan  hubungan antara pergantian tahun baru China atau Imlek dengan hujan, namun dalam kenyataannya selalu saja pada saat  imlek, hujan senantiasa turun, bahkan seharian penuh, terkadang malahan sampai malam.  Konon ceritanya kalau para perayaan Imlek, tidak turun hujan, itu pertnada bahwa  akan ada kesulitan luar biasa bagi mereka yang meyakininya.  Rizki akan seret dan  karena itu mereka akan menangisi kondisi tersebut.

Terlepas benar atau salah hal tersebut seolah memang sudah menjadi  sebuah  keiscayaan, khususnya bagi  masyarakat keturunan China. Sebaliknya jika pada asaat Imlek, hujan turun dengan derasnya  dan lama, maka mereka akan sangat bahagia karena itu pertanda rizki mereka akan melimpah dan mudah.  Pada kenyataannya selama ini hujan akan selalu turun pada saat  Imlek tersebut.

Mungkin pernah terjadi pada siang hari Imlek, langit sangat cerah, dan hujanpun tidak turun, tetapi  kemudian pada malamnya atau sore hari, hujan juga turun, sehingga kalaupun kebanyakan  diantara warga keturunan China sudah kadung menangis  sedih karena kondisi terang benderang tersebut, kemduian mereka berubah menjadi sangat gembira, begitu menyaksikan hujan urun dengan derasnya.

Hujan memang dapat dikatakan sebagai lambang rezeki, karena dengan hujan tersebut tanah menjadi subur dan dapat menumbuhkan berbagai tanamannyang berbuah untuk dimanfaatkan oleh manusia.  Karena itu  meyakini bahwa hujan sebagai pertanda murah rezeki, kiranya tidak terlalu salah dalam  perkiraan manusia.  Hanya saja itu  hanya sebatas dalam perkiraan saja, dan tidak  sampai kepada sebuah keyakinan yang mendalam.

Artinya  kita sebagai umat beriman, kiranya tidak boleh meyakini sesuatu yang tidak  ada  dalilnya secara langsung dan rasional.  Namun kalau hanya sekedar  sebagai kebiasaan semata, dan sebagai labang, maka  hal tersebut tidak menjadi masalah.  Biarlah umat lain myakini seratus persen  terhadap hal tersebut, tetapi kita  tetap harus  meyakini bahwa semua itu menjadi urusan Allah swt semata.  Dan jika Allah memutuskan sesuatu, maka itulah yang akan terjadi.

Jadi kalaupun kemudian  benar benar tidak ada hujan pada saat Imlek, kita harus tetap berbaik sangka bahwa kita akan tetap dapat menghasilkan rizki dengan baik, bukan kemudian mengutuk alam yang seolah enggan memberikan rizki kepada kita.  Urusan rizki,  beruntung atau rugi itu semua  menjadi  keputusan Tuhan, asedangkan wilayah kita ialah bagaiamana kita terus berushaa untuk mendapatkan rizki dan karunia tersebut.

Secara kasat mata dan perkiraan manusia, kita memang dapat menerima  kalau  ada hubungan antara hujan dengan  rizki, karena sebagaimana kita tahu bahwa dengan turunnya hujan tersebut akan memunginkan ita menanam tetumbuhan yang menghasilkan rizki buat kita.  Sedangkan ketika huja tidak turun, maka tanah akan menjadi tandus dan slit untuk ditanami tetumbuhan, sehingga rizki akan jauh dari kita.

Namun rizki saat ini tidak semata mata tergantung kepada turunnya air hujan dari langit, melainkan dapat didesain melalui berbagai usaha yang memungkinkan. Usaha yang dihasilkan dari pabrikmisalnya, tentu tidak semata marta mengandalkan turunnya hujan, melainkan bagaimana mengolak barang menjadi sebuah produk yang dapat dipasarkan kepada masyarakart secara luas, dan itu pastinya emnghasilkan rizki.

Bahkan  dalam dunia pertanian sekalipun, saat ini tidak hanya mengandalkan turunnya hujan, melainkan dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga swah dapat terairi melalui saluran yang dibuat untuk itu.  Bahkan  untuk sawah yang sifatnya tadah hujan, saat ini sudah sangat langka dan  produksinya pun juga tidak dapat diandalkan.  Namun untuk masyarakat jaman dahulu, hujan memang perlambang kesejahteraan, karena  dengan itu pastinya  masyarakat akan dapat menanam untuk keperluan manusia.

Meskipun demikian kita memang masih membutuhkan hujan, karena kesuburan tanah secara rata rata akan  dapat dilihat jika hujan turun dan membasahi seluruh permukaan bumi.  Bangsa Indonesia secara umum juga masih membutuhkan hujan tersebut, sebab  pada saat kemarau panjang, biasanya  ada masalah serius terkait dengan  air yang dibutuhkan oleh masyarakat, baik untuk keperluan diri mereka maupun utnuk ternak mereka.

Bahkan kita sering mengetahui bahwa  betapa sulitnya mendapatkan air di beberapa daerah, khususnya pada saat kemarau panjang terjadi.  Kita juga sering  mendapatkan  masyarakat yang harus melakukan shalat istisqa’ atau shalat memohon hujan kepada Tuhan. Semua itu menjadi bukti bahwa masyarakat kita memang membuthkan hujan, meskipin terkadang  hujan tersebut juga dapat membawa malapetaka bagi kita, yakni terjadinya banjir yang mengakibatkan  rumah kita terendam.

Namun persoalan bajir tersebut sesungguhnya merupakan  kondisi yang dapat direkayasa.  Artinya kita dapat  menghindarinya dengan cara mempersiapkan diri secara baik dalam menghadapi musim penghuan, yakni membersihakn saluran air, sehingga tidak tersendat, dan tidak membuang sampah di sembarang tempat atau bahkan di sungai yang semuanya itulah yang mengakibatkan meluapnya sungai karena tidak mampu lagi menampung air hujan, disebabkan banyaknya sampah yang dibuang di sana.

Toh bagai masyarakat yang sudah sadar dengan kondis tersebut dan  kemudian  secara  kesadaran tinggi memelihara kebersihan dan  menjaga lingkungan dengan baik, ternyata pada saat musim hujan tidak terkena banjir.  Itu berarti persoalan banjir tersebut dapat dihindari,  sedngkan persoalan hujan yang turun itu memang mutlak dibutuhkan oleh manusia.  Bahkan kalau manusia mampu menampung air hujan tersebut dalam  tampungan, semacam bendungan, maka manfaatnya akan  lebih besar untuk mengatasi kelangkaan air pada saat musim kemarau.

Jadi secara  umum memang ada hubungan antara hujan dengan rezki, meskipun tidak mutlak, karena  semjua urusan itu menjadi wilayah Tuhan.  Denan begitu kita  dapat memahami dan mengerti kalau pada saat Imlek, mereka yang merayakannya meyakini bahwa  kalau hujan turun, berarti  harapan mereka untuk mendapatkan rezki sangat bagus dan judah, sedangkan jika hujan tidak turun, amak mereka menganggap rizi akan sangat sulit didapatkan.

Hanya saja  kita tetaplah harus meyakini bahwa  baik turun huan maupun tidak, urusan rizki itu urusan Tuhan, sedangkan urusan kita ialah bagaimana kita berusaha mendapatkannya dan ekmudian memasrahkannya secara  penuh kepada Tuhan.  Artinya harus ada usaha terlebih dahulu baru kemudian menyerahkannya kepada Tuhan, bukan  sebaliknya pasrah total kepada Tuhan tanpa  mau berusaha, karena  kalau demikian, itu namanya sebuah kemalasan yang harus  kita perangi bersama.

Secara kebetulan pada saat Imlek memang selalu saja berbarengan dengan turunnya hujan, dan itu menjaid harapan besar bagi saudara kita yang keturunan China, karena itu kita juga berharap bahwa mereka nantinya  dapat  ikut memikirkan  kemajuan bangsa ini melalui rizki yang mereka dapatkan, yakni  melalui  sumbangan kepada  berbagai kepentingan umum dan tentu saja membayar pajak sesuai dengan peraturan yang ada.

Kita memang selalu berharaop bahwa seluruh  warga bangsa ini dapat  memperoleh kesejahteraan melalui usaha yang mereka lalukan.  Namun  dalam kenyataannya masih ada sebagia  saudara kita yang  bernasib kurang bagus, yakni miskin, karena itu kita  berharap juga bahwa mereka yang beruntung  dan kaya, untuk membantu mereka yang miskin, bukan melalui pemberian secara terus menerus, melainkan melalui bentuk lain yang memungkina mereka  dapat berusaha dan mendapatkan penghasilannya sendiri.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.