MENTARI SELALU SETIA TERBIT DARI UFUK TIMUR

Kehidupan  umat manusia itu memang seperti roda pedati, terkadang berada di atas dan terkadang berada di bawah.  Artinya pasang surut  “nasib” manusia itu merupakan sebuah hal yang lumrah terjadi dan hal tersebut tidak akan mengejutkan, terkecuali bagi mereka yang sama sekali tidaka menyadari kehidupan dan takdir Tuhan.  Manusia yang berusaha  terkadang mendapatkan keuntungan yang besar, dan jadila dia pengusaha sukses,  namun  kita juga harus menyadari suatu ketika dia  menjadi jatuh bangrut.

Meskipun tidak semua orang akan mengalmi hal demikian, karena ada pula yang terus bertahan dalam kesuksesannya dalam waktu yang lama.  Hanya saja  pastinya ada keterbatasan, yakni pada saat dia sudah mengendor, menjadi tua dan lainnya.  Memang benar bahwa  ada kalanya orang sadar diri dan kemudian melakukan pengkaderan, sehingga usaha yang dilakukannya akan terus maju, tetapi yang jelas  usia manusia itu tidak dapat disembunyikan.

Pada saatnya  manusia yang sukses itupun harus undur diri dan diganikan oleh generasi berikutnya.  Nah, itulah yang dinamakan siklus kehidupan manusia, adakalanya sukses, dan pada saatnya harus surut, walaupun tidak menjadi bangrut.  Sudah barang tentu bagi mereka yang dapat mempertahankan kesuksesannya tersebut memerlukan syarat tertentu, dan pasti atas kehendak Tuhan juga.  Artinya ketika manusia  selalu berusaha dan menyadari atas semua kemungkinan,  lantas dia bersiap untuk menghadapi kemungkinan kemungkinan tersebut,  dia akan dapat bertahan.

Itu secara lahir dan hukum alam, namun  dibalik itu semua kita juga harus meyakini bahwa  meskipun hukum alam itu berlaku, tetapi ada  kekuatan yang melebihi semua itu, yakni kuasa Tuhan yang tidak ada  satupun kekuatan yang dapat membendungnya.  Jika Allah swt sudah berkehendak, pastilah semua akan  terjadi.  Kesuksesan  seseorang itu juga atas  ijin Tuhan, dan ketika bangrut pun juga atas ijin dan kehendak Tuhan.  Jadi kepasrahan total kepada  Tuhan menjadi mutlak agar kita dapat menerima apapun keputusan-Nya.

Usaha dan usaha harus terus dilakukan seiring dengan  keinginan masing masing orang, namun kepasrahan kepada Tuhan atau dalam bahasa lain tawakkal, juga harus terus digelorakan dalam  jiwa kita.  Semua itu untuk memberikan keyakinan yang lebih  bahwa  apapun yang kita inginkan dan usaakan pada dasarnya hanyalah sarana yang keputusan akhirnya berada di tangan Tuhan.

Hanya saja kita juga harus mempunyai keyakinan bahwa Tuhan pastinya tidak akan membiarkan usaha yang kita lakukan untuk mencapai sesuatu.  Artinya jika kita seirus dan bersungguh sungguh dalam  mengusahakan sesuatu melalui proses yang lazim, Tuhan  akan memberikan sesuatu tersebut, sebab Tuhan pastilah tidak akan  membiarkan hamba-Nya yang tulus berusaha dan memsrahkannya kepada-Nya, kemudian dibiarka begitu saja.

Keyakinan tersebut menjadi sangat urgen bagi kita, karena bagaimanapun sebagai seorang hamba, kita harus berusaha sebagai sarana, karena  Tuhan  tidak mungkin akan memberikan sesuatu kepada kita  dengan begitu saja.  Keyakinan  kita mengenai  hal tersebut, yakni jika kita terus berusaha dan memoho kepada-Nya, pastilah Tuhan akan  mengabulkan permintaan kita tersebut.  Kita harus mempunyai keyakinan  itu sebagaimana kita yakin bahwa matahari akan senantiasa  terbit dari ufuk Timur setiap harinya.

Memang setiap manusia itu mempunyai garis kehidupannya masing masing.  Ada yang  sudah digariskan  akan menjadi sukses dalam kehidupannya, dan ada pula yang  kurang sukses.  Hal tersebut kemudian tercermin dalam sikap dan  perilaku masing masing manusia.  Artinya bagi mereka yang  digariskan  akan menjadi  sukses,  maka sikap dan perilakuknya pastilah bagus dan  semangat untuk meraih kesuksesan sungguh luar biasa.

Sedangkan bagi yang digariskan tidak  atau kurang sukses, maka  sikapnya pasti juga  kurang bersemangat dalam meraih kesuksesan tersebut, bahkan semenjak  mereka  berada di bangku sekolah.  Saat inipun kita sudah dapat melihat dan menyaksikan betapa banyak orang dan anak muda yang berbeda dalam sikpa dan usaha yang dilakukan.  Sebagiannya sangat rajin dan penuh semangat dalam belajar dan menyongsong masa depan, namun sebagiannya masih tenang tenang saja, seolah tidak pernah melihat masa depannya.

Demikian juga kalau hal tersebut diterapkan dalam  menuntut ilmu, maka kita harus yakin bahwa secerdas apapun kalau kita tidak serius dalam belajar, pastilah akan menuai kegagalan, dan sebaliknya  kalaupun  otak seseorang itu bebal, namun dia  terus dan terus belajar, pada saatnya dia juga akan  mendapatkan apa yang diinginkan.  Ibarat  pisau kalau tumpul, maka jika terus diasah, maka lama  lama juga akan menjadi  tajam juga.

Memang ada sebagian orang yang diberikan otak sangat encer dan cerdas, sehingga ketika memahami sesuatu  dapat dilakukannya dengan cepat, melebihi  kawan yang lainnya.  Dengan begitu kalaupun dia hanya belajar beberapa saat saja, sudah akan dapat mengimbangi kepandaian kawannya yang tekun belajar berjam jam.  Mungkin benar ada orang yang sangat cerdas seperti itu, dan alangkah bagusnya jika dia kemudian juga mau berusaha belajar dengan sungguh sungguh, sehingga akan mendapatkan ilmu yang banyak.

Namun jika  orang yang cerdas tersebut  enggan untuk berusaha, maka sesungguhnya Tuhan itu Maha  Adil dan Bijaksana.  Artinya dalam menunut ilmu itu bukan sekedar mengejar nilai raport misalnya, atau sekeedar lulus dalam ujian dan mendapatkan ijazah, melainkan ada sisi yang lain  yang terkadang luput dari perhatian kita, yakni tentang keberkahan dan kemanfaatan ilmu tersebut.  Kita  banyak menyaksikan betapa ada  orang yang pada saat sekolah sangat pintar, meskipun belajarnya asal asalan,  dan ada pula  anak yang  biasa biasa saja, tetapi santat tekun dalam berusaha.

Pada akhirnya mereka sama sama lulus dalam ujian dan kemudian mereka terjun di masyarakat.  Nah,  apa yang kemudian membedakan mereka, ialah tentang keberkahan ilmu dan kemanfaatannya.  Ternyata  anak yang pandai, tetapi malas dalam belajar tersebut kurang atau bahkan tidak sukses dalam kehidupannya, sedaangkan anak yang serius dan bersungguh sungguh  saat mencari ilmu tersebut, ternyata sukses dalam kehidupannya di masyarakat.

Jadi keadilan Allah swt tersebut berupan siapapun yang berusaha  dan sungguh sungguh dalam  berusaha,  akan diberikan  sesuatu yang baik, sedangkan bagi siapapun yang malas, meskipun diberikan akal yang cerdas, maka  kecerdasannya tersebut kurang memberikan manfaat baginya.  Karena itu seharusnya  siapapun yang diberikan anugerah oleh Allah swt, berupa apapun, semisal  berupa otak yang cerdas, kelengkapan indera, kemampuan finansial orang tua, dan lainnya, seharusnya bukan menjadikan orang tersebut malas, melainkan harus lebih bersyukur dengan  selalu mendekat kepada Allah swt dan juga terus berusaha  mencari ilmu.

Kiranya sangat  tepat juka  kita  memunculkan  sebuah pernyataan yang sudah  sangat dikenal oleh masyarakat, yakni “ siapapun yang bersungguh sungguh, maka dia  akan menemukan atau mendapatkan”.  Allah swt pasti tidak akan membiarkan dan menyia nyiakan hamba yang serius dalam berusaha.  Tetapi sangat mungkin  untuk mereka itu tidak langsung diberikan sesuatu, karena  pertimbangan untuk kebajikannya sendiri, melainkan  akan diberikan dalam bentuk lannya atau ditunda waktunya.

Semua  harus yakin bahwa Tuhan itu sangat adil, sehingga kita tidak perlu ragu tentang hal tersebut, sebagaimana kita juga yakin bahwa setiap hari mentari akan senantiasa  muncul dari ufuk Timur dan menyinari alam semesta seharian penuh.  Semoga kita  tetap dalam keyakinan  tentang Kemaha adilan Tuhan sehingga kita akan tetap semangat dalam berusaha dala bidang apapun.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.