MENUTUP AURAT

Mungkin ada yang berprasangka bahwa judul tersebut agak terlalu kuno dan kolot, namun jangan  terburu untuk menilai dahulu sebelum  mengetahui yang sesungguhnya.  Menutup aurat itu persoalan penting yang tidak hanya sekedar memakai pakaian semata, melainkan juga  menutup segala aib yang mungkin ada dalam diri kita.  Jadi persoalan aurta itu bukan sekedar  apa yang  melekat dalam tubuh kita melainkan juga  semua hal yang terkait dengan diri kita, baik berupa badan, maupun kelakuan.

Semua orang seharusnya  dapat menutup rapat rapat auratnya, dan tidak mudah untuk menampakkannya kepada pihak lain.  Secara mudah dan harfiyah hal tersebut dapat diartikan bahwa  manusia itu harus mempunyai malu manakala harus menampakkan  sebagian tubunya yang  seharusnya ditutup.  Barangkali  ada orang yang  bertanya bagaimana dengan kebiasaan yang sudah membudaya, seperti orang Barat yang sudah terbiasa menampakkan sleuruh tubuhnya kepada khlayak ramai?.

Manusia yang berbudaya tentu akan mempunyai standar nilai yang digunakan, yakni kepantasan orang berpakaian di tempt umum.  Islam mengajarkan kepada kita bahwa aurat itu merupakan hal tabu  yang haruis ditutup di hadapan pihak lain.  Kalau diterapkan pada diri kita tentu bagaimana kita  memakai pakaian hingga rapi dan menutup seluruh tubuh yang tidak terbiasa kelihatan.  Bagi laki laki memang cukuplah menutup anggota tubuh antara  lutut  dan pusat, sedangkan untuk perempuan adalah seluruh tubuhnya  terkecuali tapak tangan dan wajah.

Memang kemudian ada penafsiran lain, karena  aurat tersebut berlaku pada saat menjalankan ibadah shalat dan sesamanya, seperti thawaf misalnya, sedangkan pada saat di luar shalat, ukiurannya ialah kepatutan.  Deengan demikian bagi perempuan muslimah  dapat memakai pakaian yang menutup tubuhnya semisal  untuk tangan sampai pergelangan tangan, dan untuk kaki sampai di mata kaki dan tidak harus menutup keseluruhan, karena pasti akan merepotkan beraktifitas  sehari hari.

Bahkan bagi seorang laki laki juga belum cukup hanya menutup bagian antara luut dan pusat, karena bagian perut dan dada juga  tidak patut untuk dipertontonkan kepada pihak lain.  Itulah aurat yang biasa kita perbincangkan, karena memang maksud pembicaraan aurat biasnya  hanya seputar itu.  Hanya saja kita  sesungguhnya memaksudkan aurat tersebut lebi hanya sedekad persoalan menutup anggota tubuh,melainkan juga menutup aib yang ada.

Bagi mereka yang suda beruma tangga tentu  tidak patut sekiranya  persoalan pribadi antara suami isteri kemudian dibuka dan diceritakan kepada  pihak lain, karena hal tersebut anya akan membuat  suasana tidak nyaman, dan  itu sama dengan membuka auratnya sendiri.  Bagiaman mungkin  orang yang baik  mau menceritakan hal hal yang bersifat pribadi kepada orang lain?  Terkecuali oarng tersebut sudah tida nyaman  berada dalam keluarga tersebut.

Ingat bahwa  Tuhan telah  memberikan pernyataan yang sangat dalam  mengenai hal ini, yakni pada saat kita  menjalin hubngan  sebagai suami isteri, maka posisi kita   digambarkan seperti pakian.  Suami  sebegai pakaian bagi isterinya dan demikian juga isteri adalah pakaian bagi suaminya.  Banyak orang tidak mau menafsirkan dan tidk mau tahu tentang penggambaran Tuhan tersebut dan dibiarkan  berlalu begitu saja, padahal sangat banyak mengandung  hikmah yang sangat bagus.

Pakaian itu fungsinya untuk menutup aurat disamping untuk  perhiasan, jadi kalau kita diibaratkan sebagai pakaian,  tentunya kkita harus dapat menutup segala kekurangan pasangan kita masing masing, dan sekaligus dapat menjadi kebanggan  bagi pasangan.  Kenapa demikian, karena tujuan pernikahan sebagimana diungkapkan oleh Tuhan ialah untuk mendapakan rasa tenang dan kasih sayang.  Lantas bagaimana mungkin ketanangan dan ketenteraman serta kasih sayang tersebut dapat kita dapatkan jika  masing masing saling membeber aib?

Dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan isteri harus dapat menjaga rahasia diatara mereka kepada pihaklain, dan juga  harus dapat menyimpan rapat rapat aib dan mungkin kekurangan yang ada pada  masing masing.  Dengan begitu rumah tangga tersebut aka tetap utuh dan kokph meskipun ada angin ribut di luar.

Sebaliknya jika suami atau isteri mudah saja menyampaikan  hal hal yang sifatnya pribadi, apalagi kekurangan pasangannya kepada phak lain, pastilah akan terjadi ketidak harmonisan  dan  sangat mungkin akan berakhir dengan perpecahan.  Jadi fungsi  mereka sebagai pakaian atas yang lain itu harus ebnar benar diwujudkan dalam  praktek keseharian, sehingga  apa yang terjadi di kamar tidur misalnya,atu pihak pun yang  dapat dan boleh mengetahuinya.

Nah, praktek dala berkeluarga zaman ini sangat berbeda karena justru  diantara mereka malah  menggelar konferensi pers untuk mengungkapkan aib pasangannya dan untuk menyebarkan keurangan diantara mereka.  Sudah barang pasti tujuan  pernikahan sebagaimana  disebutkan di atas tidak akan pernah tercapai.  Bahkan  dalam konferensi pers tersebut masing masing seolah menyerang dan sangat bengga dengan pernyataannya yang menyudutkan pihak lain.

Bahkan seharusnya masing masing pihak dapat menjaga perasaan dan tidak akan menyampaika apapun yang terkait dengan rumah tangga mereka.  Karena isi rumah tangga tersebut merupakan   rahasia yang harus ditutup. Mem,ang ada kalanya   persoalan ruma tangga yang perlu disampaikan kepada pihak lain, manakala hal tersebut justru akan lebih bagus dan dimaksudkan untuk diteladani oleh pihak lain, seperti bagaimana mereka  bersikap baik kepada masing  masing pasangan, juga dengan anak anak dan lainnya.

Adakalanya juga auraat tersebut bukan  dalam  hal rumah tangga melainkan juga dalam hal institusi, karena  sudah barang pasti di sana  ada hal hal yang termasuk rahasia yang tidak boleh dibocorka kepada pihak lain.  Rahasia tersbeut bukan  hal yang aib dan melangar aturan, melainkan memang  hal yang sifatnya  tidak untuk konsumsi publik.  Jadi semua pihak, utamanya para pejabat dalam institusi tersebut   sama sekali tidak diperbolehkan untuk mengungkapkan rahasia tersebut.

Hal tersebut sesuai pula dengan sumpah pada saat para pejabat diangkat, yakni tidak akan membuka rahasia yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan.  Namu sekali lagi rahasia tersbeut bukan merupakan aib  karena menyimpang dari ketentuan.  Sebab jika  hal tersebut merupakan aib dari penyimpangan terhadap aturan, maka  justru maah wajib hukumnya untuk disampaikan  dan dilakukan pembinaan  terhadap siapapun yang berbuat penyimpangan serta  sanksi yan setimpal.

Persoalan aurat sebagiaman disebutkan diatas memang belum lazim dipahami oleh banyak orang, karena kalau kita berbicara mengenai aurat, biasanya  konotansnya  ke anggoa tubuh semata.  Itupun untuk saat ini sudah   meloonggar.  Artinya batas batas aurat anggota tubuh sudah sedemikian rupa bergeser dari yang patut dan sopan kepada sesuatu yang  vulgar dan  memamerkan sebagian anggota tubuh kepada khalayak.

Pakain yang  dianggap negtrend juga sudah bergeser dari  gaya yang menutup  sebagian besar tubuh, menjadi pakaian minim yang hanya menutup sebagian kecil tubuh, khsusunya untuk perempuan.  Barangkali itu memang kesengajaan dari perancang yang  mengetahui keinginan  sebagian  besar laki laki yang  senang memandang tubuh perempuan, sehingga itulah yang kemudian diikuti, tanpa  memikirkan dampak yang  akan ditimbulkannya.

Salah satu akibat dan dampak yang ditimbulkan dengan pakaian minim ialah  bagaimana kita banyak menaksikan  perempan yang menjadi korban perkosaan atau bahkan malahan  dengan keterpaksaan mereka menjadi  perampuan yang menjajakan dirinya untuk dinikmati oleh laki laki.  Sungguh sebuah pemandangan yang sangat tidak  beradap yang ternyata saat ini masih reus berlangsung  dengan mengatas namakan  kemoderanan. Naudzubillahi min dzalik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.