MELANGKAH BARENG UNTUK TUJUAN YANG SAMA

Tidak mudah memang menyatukan langkah untuk mencapai sebuah cita cita, karena masing masing orang pasti mempunyai kepentingan yang berbeda.  Namun dalam mengelola sebuah institusi pendidikan tinggi memang diperlukan sebuah kesamaan persepsi  dan kesamaan dalam melangkah, karena tanpa kebersamaan dan  kesamaan  langkah, maka tujuan yang mulia sekalipun akan dapat berantakan.

Beruntunglah pada saat ini ada  Statuta universitas yang memungkinkan untuk  disatukannya langkah tersebut, sehingga irama seluruh pimpinan menjadi  senada.  Kita tidak dapat membayangkan bagaimana sebuah cita cita akan dapat diraih, jika masing masing pimpinan yang ada  berjalan sendiri sendiri, bahkan mungkin malahan berusaha untuk “menjegal” karena ada kepentingan yang lain.

Dalam kacamata tersebut, saya kemudian dapat memahami secara pasti  apa yang dimaksud oleh menteri tentang  PMA  baru tentang  pengangkatan dan pemberhentian rektor, yang saat ini dipersoalakan oleh sebagian orang.  Memang kalau tidak dipahami  mengenai letar belakang dan  tujuannya,  dapat saja, orang kemudian menuduh bahwa PMA tersebut mematikan  demokrasi di kampus dan sejenisnya, namun jika latar belakangnya dipahami secara cermat, maka sesungguhnya itulah langkah yang memang harus diambil untuk menyelamatkan kampus dari ajang perpolitikan yang tidak sehat.

Persoalan demokrasi tentunya tidak akan pernah mati, karena demokrasi itu tidak identik dengan voting untuk sebuah pemilihan pimpinan atau sejenisnya.  Demokrasi tersebut dapat dimaknai  santat luas, bahwa untuk mengelola  institusi memang diperlukan sebuah  diskusi dan perdebatan mengenai apa dan bagaimana visi dan misi,  serta juga bagaimana mencapai dan merealisasikannya.  Termauk juga  apa saja program yang harus dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan lainnya.

Pada dsarnya rektor itu lebih banyak menangani persoalan administratif, meskipun tidak boleh dilepaskana  persoalan akademis yang memang menjadi  fokus dalam dunia pendidikan.  Nah, kalau  posisi seorang rektor ialah bertanggung jawab kepada menteri dalam men=laksanakan program kerja dan  konrak yang dilakukan dengan menteri, maka tidak salah jika kewenangan mengangkat dan  memberhentikannya ialah juga menteri.

Sementara itu proses yang  sebelumnya  dilaksanakan melalui pertimbangan senat, terkadang malah menimbulkan sebuah dilema  yang berkepenjangan, seperti ketika yang diangkat jusru  orang yang mendapatkan  suara terbanyak  bukan nomor satu, padahal semuanya itu secara teori memungkinkan, karena  nama yang dikirimkan kepada menteri ialah 3 nama dan  setela itu terserah kepada menteri untuk mengangkatnya.

Kalau  selama ini menteri “selalu” mengangkat nama yang mendapatkan pertimbangan suara terbanyak dari senat, maka  kewenangan yang dimilikioleh menteri  menjadi hilang dan  berganti  dan beralih kepada senat, sedangkan menteri hanya  menyetempel saja.  Kalau prosesnya demikian tentunya secara teoritis, rektor itu harusnya  bertanggung jawab kepada senat, dan bukan kepada menteri.

Disamping itu pemilihan oleh senat yang selama ini berjalan  pada  suatu ketika justru menimbulkan persoalan serius di kampus, seperi terjadinya persaingan tidak sehat diantara para kandidat dan pengusungnya, politisasi yang demikian kental dan membahayakan kampus  itu sendiri, bahkan  terkadang terjadi “permusuhan” yang tidak kunjung reda setelah beberapa tahun dan lainnya.  Tentu semua itu sangat memperihatinkan, sehingga kemudian dicari formula yang   dianggap lebih baik dan menghindarkan  dari emungkinan politisasi kampus yang lebih buruk.

Pandangan tersebut mungkin juga masih ada yang tidak sepakat, karena dilihat dari sudut lainnya, namun karena PMA tersebut sudah  diluncurkan, sebaiknya memang kita jalankan saja sambil dievaluasi perjalanannya.  Artinya setelah berjalan beberapa tahun, kemudian akan dapat dilihat, apakah dengan sistem baru tersebut justru akan lebih bagus, atau sebaliknya jusru semakin memperburuk kondisi kampus.  Semuanya  masih harus dilihat dalam kenyataannya.

Kita sepakat bahwa PMA nomor 68 tahun 2015 tersebut bukan sesuatu yang sempurna, dan tidak dapat diubah, melainkan semuanya masih mungkin untuk dilakukan revisi.  Hanya saja kita memang harus  mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan revisi tersebut, semisal setelah diberlakukan, ernyata semakin memperburuk kampus dan lainnya.  Nah, sebelum semuanya  berjalan,  sikap terbaik kita ialah menjalankannya dengan knsistensi yang  tinggi serta berupaya untuk tetap menjaga kondusifitas kampus, sebagai lembaga  pendidikan tinggi.

Kita  memang harus memaksimalkan seluruh potensi yang ada untuk  menigkatkan kualitas perguruan tinggi kita, aar  dapat berprestasitidak saja ditingkat nasional, melainkan juga ditingkat internasional.  Bagi perguruan tinggi yang belum mantap dengan visinya, masi dapat merusmuskannya sedemikian rupa berdsama dengan seluruh komponen yang ada, kemudian diputuskan  dan  dilasanakan bersama.

Sementara itu bagi yang sudah mantap dengan visi dan telah menetapkannya, termasuk tahapan untuk mencapainya, sebaiknya seluruh kekuatan dikerahkan untuk meraihnya secara bersama.  Kta harus dapat memahamkan bahwa visi tersebut bukan milik rektor atau  pmpinan semata,  melainkan milik seluruh warga  kampus yang mereka berkewajiban untuk mewujudkannya. Tahapan yang dilalui memang harus jelas, sehingg siapapun yang memimpn, akan dapat menjalankannya dengan terarah dan kepastian.

Untuk tujuan tersebut, diperlukan adanya pengertian bersama seluruh pimpinan dan pejabat, sehingga irama dan langgamnya  selaras dan  secara bersama sama  dapat saling menopang untuk percepatan terwujudnya  semua cita ciata yang sudah dituangkan dalam sebuah keputusan bersama.  Ketika  dilihat ada gejala sebagian  pimpinan dan pejabat yang membelok,  harus dilakukan  pelurusan segera, agar tidak semakin membelok dan merugikan institusi.

Kalaupun misalnya sudah mendekati pergantian kepemimpinan, maka tidak lagi diperlukan usaha untuk  mengumpulkan suara dati mereka yang mempunyai hak suara, karena  semuanya  berada di pusat dan semua kandidat harus mengikuti seleksi yang fair.  Dengan begitu semuaq warga kampus tidak disibukkan dengan urusan pergantian  pimpinan yang biasanya menyita banyak perhatian dan  sebagiannya malah  meningalkan kewajibannya sebagai pimpinan atau pejabat.

Kita  sangat menyadari bahwa kampus bukanlah tempat untuk perebutan jabatan, melqinkan untuk pengabdian dan sekaligus untuk peningkatan kualitas pendidikan anak bangsa.  Karena itulah akan sangat mulia semua usaha yang  menuju kepada tujuan mulia tersebut dan sekaligus usaha untuk menjauhkan kampus dari praktek politisasi yang  justru dapat merugikan banyak pihak, terutama masyarakat.

Saat ini haruslah kita  membalikkan semua pikiran  dari praktek yang  dapat merugikan tersebut menuju pemikiran yang sehat untuk bersama memajukan dan meningkatkan kualitas kampus. Sudah barang tentu semua harus  fokus dengan tugas dan tanggung jawab masing masing.  Sebagai dosen, kita  harus berusaha meningkatkan kualitas penelitian,  untuk menemukan  teori baru dan berguna untuk peningkatan ilmu maupun untuk kepentingan praktis peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Masing masing harus  berusaha untuk menjalankan fungsinya untuk meraih prestasi terbaik, sehingga dengan begitu institusi kita akan semakin  baik dan  mendapatkan apresiasi dari pihak lain.  Akreditasi program studi yang menjadi  indikasi kualitas, juga harus terus diusahakan untuk ditingkatkan.  Saat ini masih ada prodi yang  belum mencapai nilai maksimal, karena itu  secepatnya harus diupayakan untuk peningkatannya.

Kita memang tidak boleh berhenti dan berpuas diri, meskipun  institusi kita sudah masuk dalam rangking bagus menurut webomatrix, sebab masih ada banyak tantangan yang  akan dapat  menjegal kita.  Lihat saja  setiap saat rangking tersebut akan terus berubah, karena itu perubahan tersebut jangan sampai melorot, melainkan perubahan yang menujukkan perbaikan.

Dengan kebersamaan, kita akan mampu melakukan semua hal yang baik, dan dengan kebersamaan itu pula, kita akan mampu mewujudkan  cita cita luhur  menjadikan institusi kita sebagai universitas Islam riset terdepan, berbasis kesatuan ilmu  pengetahuan untuk  peradaban dan kemanusiaan pada tahun 2038 nanti, semoga

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.