TEGAS VS KERAS

Secara sepintas banyak orang tidak mampu membedakan antara sikap tegas dengan sikap keras, padahal keduanya snagat berbeda secara substantif.  Kalau dimisalkan  seseorang  memperlakukan  bawahannya dengan tegas itu artinya  dia  menegakkan aturan main yang ada dengan konsisten, meskipun  cara yang digunakan mungkin bisa dengan kasih sayang dan dapat dengan sedikit mekaksa.  Namun ujung dan tujuannya ialah agar bawahannya tersebut disiplin dan  mentaai aturan main yang berlaku.

Sementara keras itu identik dengan perbuatan yang dapat  menyakitkan fisik maupun psikis.  Artinya juika hal tersebut dimisalkan perlakuan  seseorang kepada  bawahannya, maka sikap keras tersebut dapat berupa pemukulan atau   mengatai ngatai bawahannya tersebut dengan kata kata yang keji dan sangat menyakitkan serta menyinggung perasaan.  Dengan dmeikian kekerasan  sekaligus juga dapat bersamaa dengan ketegasan, namun  secara substantif keduanya  sangat ebrbeda.

Sikap tegas harus dimiliki oleh seorang yang  berwibawa, sehingg apapun yang dianjurkan kepada orang lain akan dapat dipatuhi, dan biasanya sikpa tersebut akan dibarengi dengan  konsistensi diri dalam menjalankan ketentuan yang dianjuran kepada pihak lan tersbeut.  Dengan kata lain ketegasan tersebut harus disertai dengan  konsisten diri untuk menjadi teladan bagi semua orang.  Jadi  tidak akan dapat diprtahankan sikap tegas tersebut jika kita sendiri tidak mapu menjadikan diri kita sebagai panutan bagi pihak lain.

Bahkan sikap tegas tersebut selayaknya dimiliki oleh setiap orang agar dirinya menjadi tetap baik sepanjang hidupnya, yakni dengan terus berusaha untuk menegakkan aturan yang ada serta  disiplin tinggi.  Orang tua harus bersikap tegas terhadap anak anaknya, tetapi bukan berarti harus bersikap keras kepada mereka.  Tegas tersebut  dapat dibarengkan dengan sikap kasinh sayang, karena ketegasan di sini hanya untuk menujukkan konsistensinya dalam menegakkan kebenaran saja dan bukan untuk menakuti atau mengancam.

Orang tua dapat saja bersifat lemah lembut kepada seluruh keluarganya, tetapi dia juga tetap tegas dalam menegakkan aturan main yang ada, sehingga  meskipun berlaku kasih sayang, orang tua juga harus dapat memberikan sanksi kepada anak anaknya jika mereka melakukan pelanggaran.  Sudah barang tentu sanksi yang diberikan tersebut bukan sanksi nyang menyakitkan, melainkan sanksi yang akan memberikan kesadaran anak untuk tidak melanggar aturan lagi.

Demikian juga seluruh aparat penegak hukum sperti polisi juga arus tegas dalam melaksanakan tuasnya, bukan  hanya keras, bahkan akan jauh lebih bagus jika polisi dalam menjalakan tuasnya tidak melakukan kekerasan, melainkan jcukup dengan ke=asih sayang dan ketegasan saja.  Dengan sikap yang dmeikian diharapkan  masyarakat akan benar ebnar mendapakan perlindungan dan pengayoman yang memang menjadi tugas pokok polisi.

Bahkan jika polisi hanya mengembangkan sikap keras saja, mungkin  dia  dapat menegakkan disiplin kepada orang lain, tetapi pastinya akan  ada cvelah untuk mengkritiknya, karena justru polisintersebut sama sewkali tidak konsisten dengan aturan yang diberlakukan tersebut.  Mungkin pada suatu ketika  dia akan dapat memaksa orang lain untuk  mengakui kesalahan dalam mentaati aturan main, tetapi seringkali kemudian dia sendiri malah melanggarnya.

Kekrasan bisa saja diterapkan kepada merekayang memang membandel dalam menjalankan aturan main, karena  dengankebandelan tersebut, dikhawatirkan akan   diikuti oleh pihak lain, sehingga diperlukan kekerasan, sepetri menindak dengan sedikit memaksa dan  bentakan, anmun yang harusnetrus dipertahankan ialah sikap  tegasnya, yakni tidak mau diajak damai dengan  pungli atau semacamnya.

Ketegasan tersebut akan tercermin dalam perilaku sehari hari, jika disertai dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukan tersebut memang enar dan  akan membawa kemaslahatan lebih banyak.  Seroang polisi yang tegas tentu akan  tetap memberikan sanksi kepada pelanggar aturan main, dan tidka mungkin akan mau diajak damai dengan  jas uang atau lainnya.  Dia akan  menjadi marah dan berlaku keras jika disinggung harga dirinya, seperti disogok  atau diperlakukan dengan tidak semstinya.

Orang tua juga perlu tagas dalam mendidik  anak anaknya, karena sekali tidak tegas, yakni selalu memberikan toleransi kepada pekanggaran yang dilakukan oleh anak anaknya, pastilha  dia akan diremehkan oleh anak anaknya tersebut.  Memang sesakali  orang tua  harus tegas juga dalam pemberian tleransi aats pelangaran yang menurut penilaiannya dilakukan ukan dengan kesengajaan, melainkan  karena ketidak tahuan.  Nah, sikap tegas tersebut harus juga di empan papankan, sehingga  mereka yang  berada  di sekekliling kita akan tetap  nyaman.

Jika  orang tua  bersikap tegas kepada anak anaknya,bukan berarti  dia itu tega, melainkan justru itlah sikap yang harus dipertahankan, karena dengan ketegasan itulah anak ana, akan menjadi  disiplin dan  melakukan kewajibannya dengan baik.  Mungkin pada awalnya merka akan meras terpaksa dengan  ketegasan orang tua tersebut, namun pada saatnya mereka akan menyadari juga tentang baiknya sikap tegas tersebut dan bahkanmereka akhirnya akan mengucapka terima kasihnya kepada orang tua, kaena telah mendidik dengan sangat bagus.

Lain halnya jika  orang tua bersikap keras kepada anak anaknya, karena dengn sikap tersebut anak menjadi takut dan tidak bebeas untuk mengembangkan kreatifitasnya sehingga mereka justru akan  terpaku  dan stagnan dan sama sekali tidak akan mampu mengembangkan diri mereka secara normal.  Anak yang selalau berada dala kondisi ketakutan,pasinya perkembangannya tidak akan  bagus, kaena selalu dihantui ras takut untuk mendapatkan  sanksi dan kekerasan dari oarng tuanya.

Sikap  tegas tersebut juga harus dimiliki oleh mereka yang menjadi pimpinan dalam segala levelnya, karena dengan ketegasan tersebut dia akan diperlakukan secara hirmat serta ditaati oleh mereka yang menjadi  tanggung jawabnya dalam kepemimpinan.  Sebagaimana  disebutkan di atas bahwa ketagasan tersebut sangat identik dengan kekonsitenan dalam menjalankan  atuarn main dan ketentuan yang berlaku.  Jadi pemimpin yang konsisten dalam emnjalankan aturan serta  dapat menjadikan dirinya sebagai teladan dalam menjalankan aturan tersebut, pasilah akan dihormati oleh siapapun.

Sama halnya jika seorang pemimpin tersbeut hanya mengembangkan sikkap keras saja, tanpa  ketegasan, pastilah akan  menimbulkan  ketidak stabilan dan pada akhirnya  akan menmbulkan kekacauan.  Artinya jika seorang pemimpin hanya keras  kepada bawahannya dalam memerintah dan menjatuhkan saksi,  maka  pada saatnya dia juga melakukan kesalahan dan pelanggaran disiplin,  maka  anak buah apsti akan menuntut keoada pemimpnnya tersebut.

Jadi kesimpulannya ialah bahwa kedua sikap tersebut meskipun dapat diberlakukan secara bersamaa, tetapi  secara substansial keduanya memang sangat ebrbeda.  Artinya kalaupun keduanya diberlakukan secara bersamaan itu pun dalam sebuah kasus tertentu dan tidak dapat diterpkan pada smeua hal.  Jika  ada pelanggaran terhadap sebuah ketentuan dan kedisiplinan yang dilakukan oleh mereka  yang khilaf dan tidak ada  kesengajaan, maka sikap keras sama sekali tidak tepat untuk diterapan.

Sikap keras tersebut hanya akan  tepat jika diterapkan kepada mereka yang sudah berulang kai melakukan pelanggaran terhadap ketentaun yang berlalu, sehingga memang diperlukan sebuah sanksi tegas dan juga keras dengan harapan akan dapat menghentikan perilaku menyimpang tersebut.  Dengan demikian setia kita memang harus tegas tetapi  sesekali juga diperluakn keras. Semoga kita  dapat menjalaninya dengan  bijak. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.