GURU YANG SARAT MASALAH

Posisi seorang guru seharusnya  sangat mulia dan ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat, bukan saja oleh para muridnya, melainkan juga oleh masyarakat secara umum. Bayangkan jika tidak ada guru, lantas bagaimana orang tua akan mampu mendidik anak anaknya secara mandiri?.  Pastinya kita tidak akan mampu membayangkannya.  Padahal pada tingkat awal, guru begitu berat dalam mendidik  anak anak yang pada usia  suka nakal dan  rewel.

Dalam situasi seperti itu guru dengan sabar dan  jiwa mendidiknya, melakukan hal yang terbaik untuk masa depan anak anak tersebut, bahkan  para guru telah menganggap seluruh muridnya seperti anaknya sendiri.  Tentu mereka tidak akan mungkin merelakan  ada salah satu diantara sekian banyak muridnya yang tidak  mampu untuk membaca dan menulis yang akan menjadi bekal utama dalam hidupnya  nanti, dan mereka juga tidak akan rela jika ada salah satu muridnya yang membandel dan  tidak taat kepada aturan.

Peran guru yang demikian seharusnya tidak dinilai dengan materi, namun harus dinilai sebagai sebuah profesi yang sangat mulia, sehingga  masyarakat cukuplah memberikan apresiasi dan mendukung mereka, bukan dengan memberikan materi, melainkan dengan  memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka dalam mendidik anak anak tersebut.

Namun  akhir akhir ini alangkah sedihnya kita sebagai masyarakat yang  memahami tugas dan tanggung jawab guru tersebut, disebabkan  adanya sikap sebagaian masyarakat yang bukan saja tidak memberikan apresiasi kepada para guru, melainkan juga melupakan jasa mereka dalam mendidik  anak anak mereka.  Artinya  sebagaian masyarakat tersebut  sama sekali tidak mendukung tugas para guru yang mendidik  tersebut, yakni dengan  memberikan ancaman yang serius pada profesinya.

Sesungguhnya pendidikan itu merupakan sebuah proses yang  didalamnya memerlukan  arahan, keteladanan, dan juga pemberian sanksi secara tegas, tetapi tetap  dalam koridor kasih sayang.  Nah, jika ada sebagian  anak atau murid yang melakukan pelanggaran terhadap aturan atau terhadap disiplin tertentu, maka menjadi tugas pendidik untuk mengarahkannya kepada yang terbaik, bahkan jika diperlukan untuk dapat  menjadikan anak taat btersebut harus diperlukan sebuah sanksi, maka diberikanlah sanksi tersebut.

Untuk persoalan ini para orang tua dan masyarakat, seharusnya memahami peran tersebut, karena hal tersebut akan  dapat menjadikan anak anak menjadi lebih bagus dan mentaati aturan yang ada, bukan malah mempersoalkan  proses mendidik tersebut, sehingga para guru menjadi  serba salah.  Artinya jika para guru tersebut membiarkan anak didiknya melakukan pelanggaran, maka  secara profesional, dia akan merasa bersalah karena tidak melakukan fungsi mendidik, tetapi jika melakukan proses mendidik, semacam memberikian sedikit sanksi, maka justru akan menjadi korban, karena harus berurusan dengan pihak kepolisianmisalnya.

Kita tahu bahwa posisi  dannkondisi guru secara umum, sudah sangat sulit.  Bagimana tidak sulit, ketika mereka itu sebagai guru yang hanya diberikan honor tidal layak, lalu masa depannya juga sangat digantung oleh kondisi , sehingga janji untuk diberikan kesejahteraaan yang lebih layak tidak kunjung datang.  Mungkin memang tidak harus menjadi pegawai negeri, namun perbaikan honor yang harus ditanggung  bersama  antara masyarakat dan negara,  selayaknya segera diwujudkan.

Artinya  kita menyadari bahwa masyarakat di tempat tertentu memang tidak mungkin akan memberikan sumbangan yang layak bagi penyelenggara pendidikan, karena untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya saja  sudah susah, apalagi kalau harus mengeluarkan uang untuk pendidikan anak anaknya.  Nah, dalam kondisi seperi itu negra memang harus hadir untuk menyelematkan generasi  tersebut, khususnya dalam hal pembekalan  pendidikan.

Itulah mengapa undang undang dasar kita memerintahkan kepada  penguasa untuk menyediakan paling sedikit 20% dari APBN harus diperuntukkan  bagi pendidikan.  Angkan 20 % tersebut memang tidak sedikit, dan  jika  alokasinya tepat sasaran dan lebih memihak kepada mereka yang memang tidak mampu, maka beberapa masalah pendidikan, khususnya yang terkait dengan guru akan sedikit teratasi.  Namun rupanya ada  beberapa alokasi anggaran pendidikan tersebut yang tidak tepat sasaran, sehingga masih banyak yang tidak tersentuh.

Sementara disektor lainnya, tampak sangat  berhamburan uang negara yang  tidak termanfaatkan dengan baik.  Jadi saat ini persoalannya ialah persoalan penempatan  anaggaran tersebut untuk meenuhi kebutuhan primer pendidikan kita.  Sudah barang tentu yang harus dilakukan  mendesak saat ini ialah bagaimana kita dapat memetakan kondisi pendidikan kita dengan tepat sehingga pengalokasiaan  anggaranpendidikan tersebut akan tepat sasaran dan bermanfaat  besar bagi anak anak Indonesia.

Kebutuhan  guru untuk sekedar  memperbaiki kesejahteraan juga   harus segera tercover dengan baik, sehingga mereka tidak akan lagi menuntut dangkat sebagai PNS.  Jika mereka  mendapatkan honor yang layak, tentu mereka akan dengan tenang dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai  seorang pendidik dengan nyaman dan sekaligus aman.  Memang diperlukan sebuah evaluasimenyeluruh terhadap pendidikan tersebut, termasuk epada para guru, karena terus terang kita juga menyadari bahwa ada sebagaian diantara guru yang memang tidak layak disebut sebagai pendidik, baik karena pengetahuannya tentang  pendidikan, maupun dalam hal akhlak dan perilakunya.

Untuk itu menurut saya  pada saat kita sedang dan masih dalam suasana  memeringati hari guru  ini, kita memang harus melakukan  usaha keras untuk  memajukan pendidikan kita, melalui berbagai sektor. Diantara sektor yang  harus segera dibenahi ialah tentang  sarana prasarana lembaga pendidikan, seperti ruang kelas yang  layak, perpustakaan dan laboratorium.  Trus terang saja kita  tidak bisa menutup mata bahwa masih sangat banyak diantara sekolah kita yang  masih tidak mempunyai sarana tersebut.

Masih terasa njomplang diantara beberapa daerah dengan  lainnya. Sebagaiannya sudah sangat maju  namun sebagaian lainnya masih sangat tertinggal. Nah, kewajiban pemerintah saat ini ialah  berusaha untuk mendekatkan jurang yang sangat dalama tersebut, agar  anak anak kita  dapat mengenyam pendidikan setidaknya  standar minimalnya terpenuhi.  Keaqjiban tersebut jangan sampai terus dibiarkan sehingga tidak ada perubahan sama sekali.

Para bupati dan walikota seharusnya  memperhartikan persoalan ini selama  kepemimpinannya.  Jika ini dilakukan oleh seluruh  kepala daerah, kita sangat yakin pada  saatnya seluruh  lembaga pendidikan yang dimiliki oleh  bangsa Indonesia  akan  leih maju dan  dapat mengantarkan   anak anaknya menjadi lebih baik dan bahkan dapat ebrsaing dengan anak anak luar negeri dalam berbagai bidang yang ditekuni oleh mereka.

Namun demikian bukan hanya sekedar  persoalan sarpras semata yang harus diperhatikan, melainkan juga SDM guru yang saat ini juga masih bermasalah.  Sebagaimana disebutkan di atas bahwa  masih terlalu banyak persoalan yang terkait dengan guru tersebut yang segera harus ditangani.  Kalau pemda  nersungguh sungguh dengan program pendidikan tersebut, pasti akan dapat diatasi, setidaknya dalam  lima tahun pemerintahannya.

Memang secara langsung program perbaikan pendidikan tersebut tidak akan  memberikan efek baginyi, namun  mereka harus percaya bahwa pada saatnya  masyarakat pasti akan memberikan apresiasi yang besar bagi mereka yang benar benar memikirkan dan membenahi pendidikan tersebut  melalui program anggaran yang ada.

Semoga kita semua menyadari masalah ini dan  sekaligus  berupaya secara nyata memperbaiki kondisi.  Jika semua kepala darah  berkomitmen untuk memperbaki masalah pendidikan ini,  termasuk usaha mensejahteraakan para gurunya, insyaallah  kita akan menyaksikan  kemajuan bangsa ini di masa mendatang

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.