KENANGAN MANIS DI TANAH DATAR

Mungkin  masih banyak orang  Indonesia yang belum pernah datang ke Sumatera Barat,  meskipun  sudah cukup lama mengenalnya  melalui  berbagai informasi, termasuk melalui  cerita rakyat yang sangat tenar di masyarakat kita semacam cerita  tentang Siti Nurbaya dan datuk Maringgih, cerita tentang malin Kundang, maupun melalui lagu terkenal pada zamannya teluk bayur dan lainnya.  Cerita tentang  Minangkabau ternyata sudah begitu melekat dihati rakyat, sehingga meskipun mereka sama sekali belum pernah berkunjung ke tanah Minang, tetapi seolah sudah sangat akrab.

Itu baru sebagian  cerita tentang ranah Minang, padahal masih sangat banyak sekali cerita tentang Sumatera Barat tersebut.  Sebut saja jam gadang yang sangat terkenal,kemudian juga ada  istana Pagaruyung dan  tentu masih banyak lagi.  Sekali  orang pergi ke  Sumatera Barat yang wailayahnya meliputi banyak kabupaten dan kota tersebut, orang akan dibuat berminat untuk  mengenangnya, utamanya  ketika orang tersebut mau menelusuri  berbagai kawasan  bersejarah yang hingga kini masih tetap  dipertahankan.

Saya pernah ke Bukit Tinggi untuk menyaksikan betapa indahnya  danau yang dapat dipandang dari ketinggian tertentu, melalui jalan naik dan berliku.  Asyik memag, tetapi harus ekstra waspada, jangan sampai mengalami kecelakaan da tergelincir, karena hal tersebut  pastinya akan merupakan petaka yang tidak dapat ditoleransi.  Mungkin kalau sampai terjadi,  maka hanya tinggal nama sajalah yang masih tersisa.  Tetapi dengan kewaqspadaan dan kehati hatian semuanya dapat dihindari.

Terkadang orang hanya mementingkan aspek kenyamanan dan keindahan semata, tanpa menghiraukan aspek keselamatan, sehingga ketika sudah   dapat menikmati keindahan alam yang begitu mempesona, orang terkadang lupa bahwa dirinya sedang dalam  posisi yang berpotensi untyuk dapat celaka dan seterusnya.  Untuk itu di manapun kita berada seharusnya selalu mengingat aspek keselamatan tersebut.

Pada saat saya  mengunjungi kabpaten Tanah Datar, yakni Batu Sangkar untuk menghadiri peresmian  alih status dari STAIN menjadi IAIN Batu Sangkar, saya sempatkan  menengok istana Pagaruyung yang meskipun sudah  merupakan replika yang kedua setelah  dua kali mengalami kebakaran, namun  masih seperti aslinya.  Tentu saja saya juga tidak melewatkan untuk menjajal  pakaian sultan yang  disitu ditawarkan untuk disewa sambil dapat diabadikan dalam foto.

Rupanya kita memang harus cermat dalam merawat peninggalan zaman dahulu, agar tidak pernah terputus sejarah masa silam dengan generasi masa kini yang yang akan datang.  Sejarah itu merupakan aspek penting dalam perjalanan  sebuah bangsa, karena  dengan mengenang dan mengetahui sejarah, orang pasti  paling tidak akan dapat mengerti bahwa  dahulu opernah ada kisah nyata dalam perjalanan  bangsanya.  Dengan pengertian tersebut diharapkan semua pihak akan dapat menghargai dan kemudian  tertantang untuk menyelesaikan cita cita pendahulu yang belum sempat terlaksana.

Tentu harus disesuaikan dengan kondisi zaman, tetapi prinsip keinginan untuk  mensejahterakan seluruh  rakyat yang sudah direncanakan seajak dahulu, harus terus ditancapkan dalam dada setiap insan Indonesia.  Itulah salah satu pentingnya  mengenal sejarah, bukan dari sisi negatifnya yang  akan dikenang, karena bagaimanapun setiap kejadian itu pasti dapat dinilai  secara positif maupun negatifnya, namun kita tent5u ingin  sesuatu yang diwarisi oleh generasi  berikutnya ialah sisi positifnya.

Khusus tentang istana Pagaruyung yang  saat ini masih tampak kokoh dengan sebuah surau yang cantik di sebelah kanannya, sungguh merupakan sebuah pemandangan yang indah  mempesona bagi siapapun yang  dapat merasakannya.  Aspek ibadah yang masih dipertahankan, yakni dengan membangun tempat ibadah, yang di  Jawa biasa disebut dengan mushalla atau langgar.  Tentu harus dipahamkan kepada generasi muda kita bahwa meskipun  sudah berada dalam  zaman kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi aspek peribadatan tersebut tidak bleh dilupakan.

Sebagaimana yang kita paham bahwa  di Sumatera Barat dikenal dengan  rumah adatnya yang khas, dan hal tersebut masih dipertahankan oleh masyarakat, meskipun  sudah ada sebagiannya yang  sudah meninggalkannya, seperti pada saat  membangun rumah yang ternyata sudah tidak lagi menampilkan ciri khas rumah adat, melainkan sudah meniru gaya modern dari eropa dan lainnya.

Sudah barang tentu kita mengapresiasi kepada masyarakat minang yang meskipun  tinggal danhidup di kota lainnya, baik di Jawa maupun di luar jawa yang tetap mempertahankan ciri khas rumah adatnya, yakni pada saat mereka memangun rumah makan sebagai mata pencahariannya, mereka tetap  menampilkan  rumah khasnya sehingga orang pun dengan mudah akan mengenal bahwa  restoran atau warung makan tersebut   menyediakan masakan ala Padang.

Kembali kepada  kenangan pada saat orang   menginjakkan kakinya di Sumatera Barat, kita juga sangat terkesan dengan jalan berliku di bukit dengan pemandangan yang begitu indah.  Apalagfi di waktu pagi atau sore hari ketika langit sangat cerah, kita akan dapat menikmati pemandangan gunung dengan segala  pernik perniknya.  Sebagai contoh saat di kabupaten Tanah Datar, kita dapat menikmati pemandangan gunung Marapi yang hingga saat ini masih aktif sebagai gunung  berapi, sungguh indah menawan.

Mungkin kita juga  teringat dengann gunung di Jawa Tengah, yakni gunung Merapi yang juga   aktif sebagai gunung berapi, tetapi kita tidak sedang membicarakan mengenai  keaktifannya sebagai gunung berapi, melainkan  tentang keindahannya saat dipandang.  Keka sawah membentang dengan  kehijauan yang  menawan, hati kita terasa  nyaman dan damai.  Alangkah indahnya jika semua hati bangsa ini dapat merasakan keindahan tersebut, tentu persoalan demi persoalan akan sangat mudah diatasi.

Belum lagi ketika kita berada di batu Sangkar tersebut bahwa  saat saat sperti ini sedang musim durian, sehingga bagi mereka yang menyukainya tentu akan sangat nikmat. Bahkan  saya sendiri yang kurang begitu menuakinya, khususnya saat ini karena pertimbangan kesehatan,aat  berada di bbatu Sangkar, ternyata saya tidak mampu  untuk tidak merasakannya.  Memang rasanya sungguh sangat  lezat seeprti durian petruk di Jepara atau durian  montong ala Thailand.

Kuliner di Sumatera Barat memang dapat ditebak dengan bumbu khasnya yang penuh dengan santan.  Namun keta orang minang bahwa santan yang mereka buat tidak sebagaimana santan lainnya yang dapat membahayakan kesehatan alias penuh dengan kolesterol, melainkan justru akan menetralkannya.  Saya sendiri  tidak mempedulikan masalah tersebut, karena biasanya  yang terenting ialah bagaimana lidah dapat bergoyang menikmati rasa yang sedap dan lezat.

Pendeknya pada saat  saya megunjungi kabupaten Tanah datar, saya  sungguh dapat merasakan etapa  indanya hidup ini, khususnya  pada saat sedang menikmati keindahan alamnya  yang begitu memukau. Kenangan manis selam dua hari tersebut tentu sangat berarti bagi saya, khususnya di akhir tahun seperti ini, karena akan dapat sedikit mengurangi stress yang biasanya  terjadi dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilembur dan selesaikan.

Barangkali inilah salah satu cara untuk mengurangi ketegangan yang  kalau tidak diimbangi dengan santai dan refressing, akan dapat menjadi penyakit yang pasti akan mengganggu kinerja kita.  Cukuplah pengalaman di tahun yang lalu, di akhir tahun saya harus  mendekam di rumah sakit hingga satu minggu lamanya karena  kecapean yang luar biasa.  Semoga pegalaman pemngalaman tersebut aka dapat membantu untuk lebih baik dan sehat sehingga semua pekerjaan akan dapat selesai dengan  baik tanpa ekses yang berarti. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.