SIKAP KITA SAAT NATAL

Saat ini banyak bermunculan pendapat dari kalangan tokoh tentang  hukum ikutan megucapkan selamat hari natal kepada  saudara kita umat katolik dan kristen yang memperingati hari natal.  Namun  pendapat pendat tersebut tentu masih saling bertentangan, karena pendekatan dan dasar yang digunakannya juga berbeda.  Sebagiannya  ada yang mengharamkan dan sebagiannya ada yang memperbolehkan.

Dalam kesempatan ini saya tidak berpreetensi untuk menarik kesimpulan dari dua kutub berbeda tersebut, melainkan sekedar  mencari alternatif lain tanpa menyinggung  pendapat yang ada.  Lalu pertanyaannya ialah apa mungkin dilakukan pendapat lain  yang berbeda dengan dua kutub tersebut.  Alasannya ialah karena untuk hukum terhadap hal tersebut hanya  tersisa dua saja, yakni haram dan tidak haram alias boleh.

Ketika kita mempertentangkan  hukumnya, maka kita akan terjebak dalam polarisasi pendapat yang saling bertentangan, oleh karena itu saya tidak bermaksud menelanjangi atau membahas kedua pendapat hukum tersebut, melainkan hanya sekedar  mencarikan jalan keluar dari pertentangan dua  pihak tersebut.  Sudah barang tentu  solusi yang  akan saya tawarkan tersebut bukan pendapat hukum, melainkan  sekedar pendapat semata yang boleh diikuti dan  boleh tidak diikuti.

Sebagaimana kita tahu bahwa di  negara kita Indonesia telah hidup  beberapa agama yang dipeluk oleh masyarakat kita sendiri dan  juga telah dilegalkan oleh negara.  Selanjutnya pemerintah juga sudah menetapkan hari hari  peringatan keagamaan masing masing agama, dan telah disepakati pula bahwa  masing masing dipesilahkan untuk memperingatinya dan tidak boleh  ada satu pihakpun yang megganggu  perinagtaan tersebut.

Artinya sebagai bangsa, kita harus mampu mengendalikan diri  untuk menahan  diri dari uapaya untuk melakukan sesuatu yang justru akan mengganggu pihak lain, walaupun mungkin kita dapat berargumentasi bahwa apa yang kita lakukan adalah sebagai bentuk menjalankan perintah agama itu sendiri.  Karena itu sikap toleran harus terus dipertahankan oleh semua pihak, agar  pada saat ada pihak lain yang  menjalankan  ajaran agamanya,  semua  pihak dapat menghargai dan memahaminya, tanpa harus mengganggunya.

Bahkan  manakala ada pihak lain yang turut serta dalam  peringatan keagamaan terwsebut juga dipersilahkan saja, sebatas agamanya tidaka melarang keikut sertaannya dalam  peringatan tersebut, seperti turut menjaga  ketanangan  dan kedamaian.  Hanya saja jika justru dengan peran sertanya tersebut bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri, maka sebaiknya dijauhi, karena hal tersbejut akan berpotensi menimbulkan gejolak yang tidak diinginkan.

Jika seseorang atau sekelompok orang yang taat beragama, lalu pada saat  ada peringatan keagamaan dari  umat lain, lalu dia  membantu dalam aspek yang berada di luar peribadatan, tentu secara akal pikiran kita, akan dapat diterima, bahkan itu akan menunjukkan secara riil bagaimana kita mampu  menjaga kebersamaan, namun bagi mereka yang  menganggap hal tersebut tetaptidak diperbolehkan,  tidak perlu melakukan aksi dan memperolok pihak yang  melakukannya.

Kita tahu bahwa wilayah perbedaan pendapat yang selama ini terjadi itu sudaha merupakan sebuah keniscayaan, karena banyak orang tentu akan banyak pendapat. Alagi ketika yang diperbedakan tersebut hanya masalah yang berada d luar aspek krusial dalam sebuah agama, seperti ibadah dan lainnya.  Bahkan kita meyakini  persoalan tersebut akan selalu ada hingga  datangnya hari akhir nanti.

Nah, ketikan persoalan atribut yang dapat menunjukkan  keberpihakan kepada  pihak lain, dan juga  akan mengesankan dakwah atau syiar bagai  agama lain, seprti memakai  salib dalam kalung atau lainnya, atau memakai topi Sinterklas atau bentuk lainnya, tentu hal tersebut harus disikapi dengan snagat hati hati, karena ada berbaai pertimbangan yang dapat memicu perbedaan tajam, bahkan  berpotensi terjadi perbedaan yang dapat menyulut gesekan yang tajam.

Sikap yang terbaik ialah bagaimana kita dapat mengndari perbedaan tersebut, termasuk mereka yang tidak mempersoalkan hal tersebut, akan lebih bagus jika menghindarinya . Wilayah sensitif seperti itu akan sangat berpotensi menimbulkan disharmoni dalam kebersamaan dan  diantara seluruh umat beragama, bahkan  juga diantara umat dalam internal agama.  Jadi meskipun ada pihak yang tidak mempermaslahkannya, sebaiknya ada sedikit penghormatan  kepada mereka yang berpendapat lain.

Jangan sampai hanya karena sesuatu yang tidak prinsip, kemudian kita sendiri justru yang akan  bersitegang dan akhirnya   akan menciptakan  perpecahan dan sejenisnya.  Untuk itu semua pihak harus dapat menahan diri agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.  Saat  muncul pertentangan   yang terpolarisasi menjadi dua kubu, maka kita tidak perlu menceburkan diri dalam salah satunya, melainkan  kita justru  harus mengimbau untuk tidak saling ngotot, melainkan sebaiaknya diambil yang paling mudah dan tidak akan menimbulkan masalah baru.

Namun harus dicatat bahwa  kehendak tersebut bukan berarti memenangkan salah satu pihak dan mengalahkan pihak lain, melainkan hanya  sekedar kita menghindari masalah yang berpotensi memecah belah kesauan umat yang sudah demikian kokoh.  Dengan sikap seperti itu sesungguhnya kita sudah mempraktekkan usaha  menciptakan kebersamaan dan  mewujudkan kehidupan yang damai, penuh dengan pengertian dan toleransi serta jauh dari pemaksaan kehendak.

Sebentar lagi  sebagaian umat beragam di negera kita, yakni umat katolik dan kristen akan merayakan  peringatan natal dan kita sebagai umat pemeluk agama lain,  sudah seharusnya tidak melakukan  kegiatan yang dapat mengganggu mereka.  Kalaupun saatnya kebetulan bersamaan dengan agenda keagamaan kita, sebaiknya dilakukan  dengan bijak, yang terpenting tidak akan terjadi bentrok waktu dan tempat, sehingga akan  sangat membahayakan  semua pihak.

Biarlah masing masing menjalani kegiatan keagamaannya dan  kalau tidak ada kebersamaan dalam menjalankan kegiatan keagamaan, sebaiknya kita tidak perlu melakukan aksi tertentu yang  akan  dapat dianggap melakukan gangguan dan lainnya.  Tentu  umat yang sedang merayakan kegiatan keagamaannya tersebut juga tidak perlu melakukannya sedeemikian rupa sehingga dapat mengganggu masyarakat dan umat lainnya.

Saling pengertian diantara seluruh elemen masyarakat dalam berbagai hal, tentu  sangat diperlukan, karena itulah yang akan dapat menjamin  keberlanjutna pembangunan dan kebersamaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.  Silahkan bagi umat kristen untuk merayakan  natalnya, dan silahkan juga umat lainnya untuk  menyaksikan saja tanpa harus ikur campur di dalamnya, karena itulah yang paling mungkin untuk tetap menjaga kebersamaan dalam membangun negara kita yang tercinta.

Demikian juga untuk menghindari persoalan berikutnya, sebaiknya umat muslim juga tidak melakukan  kegiatan yang dapat menimbulkan salah paham diantara umat muslim sendiri, seperti melakukan kegiatan yang  dapat diduga  termasuk peringatan natal.  Termasuk juga tidak memakai atribut natal dan sejenisnya.  Semua itu dimaksudkan  untuk tetap menjaga kesolidan  semua pihak tanpa harus  menyinggung pihak lainnya.

Bagi mereka yang  menganggap  bahwa kalau sekedar mengucapkan selamat kepada mereka yang memperingati natal itu tidak  mengapa, sebaiknya juga tidak dilakukan secara terbuka, karena psti akan  daat menimbulkan persoalan, karena ada pihak yang menganggapnya haram.  Prinsipnya  kita harus menghormati siapapun dengan tidak melakukan seuatu, kalau sesuatu tersebut tidak akan berpengaruh prisipil dalam kehidupan kita.

Kita sangat yakin kalau saudara kita yang sedang merayakan natl tidak kita ucapin selamat, juga tidak akan tersinggung, karena mereka pastinya mengerti dan memahami prinsip yang yang ada daqlam agama kita yang meskipun hanya diyakini oleh sebagian umat saja.  Dengan begitu kita akan dapat melewati peringatan natal kaum nasrani dengan tenang  tanpa menimbulkan  gejolak, baik diantara umat nasrani dengan umat lainnya, maupun diantara  sesaa umat sendiri. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.