SHAHABAT SEJATI

Kata sahabat itu biasanya menunjukkan seoranag kawan yang sudah begitu dekat sehingga seolah tidak ada batas tertentu dalam urusan keduniaan.  Bahkan terkadang seorang sahabat itu lebih dekat ketimbang saudara kandung sendiri.  Itulah mengapa dahulu nabi Muhammad saw pernah mengandalkan para sahabat beliau dalam urusan  agama. Beliau  mengatakan bahwa para sahabtaku itu bagaikan bintang di langit, sehingga ketika kalian mengikutinya, maka kalian akan mendapatkan petunjuk.

Para sahabat  beliau yang begitu dekat  sangat dikenal sebagai orang orang hebat yang sama sekali tidak  memikirkan tentang diri dan bahkan keluarga  mereka, karena mereka akan lebih mendahulukan kepentingan yang terkait dengan Nabi ketimbang lainnya.  Kita mengenal para sahabat beliau  yang sanggup untuk mewakafkan hak miliknya, bahkan satu satunya dan snagat menguntungkan, tanpa harus berpikir  untuk dirinya sendiri  di dunia.

Ketika ada panggilan jihad yang membnutuhkan  harta yang banyak, para sahabat beliau dengan ketulusan yang luar biasa berebut untuk menyumbang harta mereka.  Bahkan ketika ada himbauan oleh Nabi agar ada yang mau memberikan sebagian harta atau tanahnya untuk kepentingan masyarakat, mereka dengan senang hati berlomba untuk memberikan tanah mereka yang terbaik untuk kepentingan umat tersebut.  Itulah hakekat sahabat pada saat itu.

Seharusnya  hakekat sahabat itu  akan tetap hingga kapanpun, karena kalau   sahabat etrsebut  benar benar  sejati, maka dia seprti darah  dagingnya sendiri, sehingga uantuk kepentgingan duniawi sudah tidak mikir lagi.  Sayangnya saat ini memang kemudian muncul sahabat yang palsu alias tidak sejati, yang kemudian banyak menimbulkan persoalan.   Sahabat palsu tersebut  sanggup untuk menipu  sahabatnya sendiri, bahkan akan sanggup menelikung pada saat saat tertentu, untuk kepentingannya sendiri.

Karena itu kalau saat ini ada persahabatan yang baru seumur jagung, sebaiknya tetap berhati hati dan waspada, karena siapa tahu persabhabatan etrsebut belum menyentuh relung hati yang terdalam, sehingga masih  sangat mudah tergerus oleh kepentingan duniawi, dengan merusak persahabatan yang sejati.  Bisa saja karena  kekuarng matangan persahabatan etrsebut, segalanya masih dapat ebrubah dan kemudian merusak  arti sahabat sejati.

Persahabtaan yang  digambarkan oleh para sahabat Nabi itulah yang perlu dicontoh, yakni sebuah persahabatan yang didasari oleh saling cinta dan percaya, sehingga tidak akan mudah diputuskan oleh apapun.  Sudah barang pasti sebuah persahabatan sejati itu akan banyak rintangan yang siap menggagalkan dan memutuskan tali yang  sudah di ikrarkan tersebut.  Semuanya tergantung oleh kekuatan dasar masing masing pihak.  Kalau modal dasar kepercayaan dan kecintaan tersebut sangat kuat, maka  akan sulit untuk diputuskan, bahkan kekuatannya akan melebihi apapun.

Persahabatan yang demikian akan mampu membangkitkan seseorang untuk dengan  ketulusan yang optimal membantu kesulitan pihak lainnya, demikian juga akan mampu untuk menembus tembok  sekokoh apapun, karena pada dasarnya persahabatan yang demikian bukan hanya sekedar hubungan lahir, melainkan juga ada hubungan batin yang tidak terukur kekuatannya.  Bayangkan saja jika persahabatan yang benar akan mampu menggerakkan seluruh elemen manusia  ke arah yang mungkin tidak  dapat dinalar, seperti seolah tidak ada batas hak milik.

Meskipun demikian dalam hal hal prinsip, tetaplah harus dibedakan antara sesuatu yang boleh dan yang tidak, seperti hubungan  kepada isteri,pastinya tidak akan mungkin  diberikan kepada seorang sahabat sejati, karena kalau hal tersebut etrjadi, bukannya persahabatan lagi, melainkan sudah menjadi sebuah  kekonyolan yang hanya  dilakukan oleh mereka yang tidak bermoral.

Demikian juga hubungan kepersahabatan tersebut tidak boleh merusak hubungan yang diatur secara strik oleh aturan agama.  Karena apapun hubungan yang dciptakan sendiri  atas dasar kemauan masing masing tidak seharusnya bertentangan dengan sesuatu yang sudah diatur oleh syariat. Hal tersebut tentu tidak hanya terbatas dalam hal persahabatan semata, melainkan juga dalam hal lainnya.

Sebagaimana kita tahu bahwa dengan mengikatkan diri  dengan pesahabatan  seseorang  akan  mnyediakan diri untuk ikut dalam apapun yang dirasakan oleh sahabatnyan tersebut, baik perasanaan senang maupun  perasaan susah.  Jika  sahabatnya tersebut sedang mendapatkan kebahagiaan, tentu  dia akan  ikut merasakan kebahagiaan tersebut, dan sebaliknya jika  sahabatnya tersebut sedang tertimpa kemalangan, pastinya  dia akan ikut merasakan penderitaannya.

Memang pada  galibnya orang selalu mengaitkan persahabaan dengan perkawanan yang biasanya hanya didasarkan atas kesukanan sementara saja.  Artinya  setiap orang pasti  suatu ketika akan  merasakan senang berhubungan dengan  satu pihak, tetapi  masih sangat rentan untuk terusik oleh kenyataan yang baru datang atau sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan sebuah kondisi persekutuan diatara dua pihak  atau lebih. Tetapi pada saat yang lain  juga sangat mudah untuk tidak menyukai kepada pihak lainnya.  Dengan demikian hubungan  yang demikian bukanlah  inti darui sebuah persahabatan.

Lihatlah pada kondisi riil persahabatan yang terjadi pada zaman Rasul, yakni antara  Nabi dan para sahabatnya atau antara  para sahabat beliau dengan sahabat lainnya, yang begitu luar biasa.  Hubungan yang dijaolinnya  sama sekali tidak ada tendensi apapun terkecuali hanya semata mata karena Allah swt.  Apalagi tujuan yang bersifat bendawi, sama sekali tidak terlintas dalam hati dan pikiran mereka.

Mungkin untuk saat ini akan sangat sulit dicari padanannya, karena kebanyakan manusia  sudah menginginkan harta dan bukan lagi Tuhan.  Walaupun dmeikian bukan berarti tidak ada, melainkan hanya sulit dicari.  Tetapi sesungguhnya persahabatan tersebut  juga dapat dilakukan diantara  umat yang mempunyai visi dan tujuan yang sama, wlaupun kadar kekuatan hubungannya  tidak sekuat persahabatan pada zaman Rasul dahulu.  Pada saat ini yang terpenting dalam pershabatan ialah saling mempercayai dan tidak ada khianat diantara mereka.

Kalaupun kemudian muncul sebuah persahabatan yang kuat atas dasar ideologi atau ikatan tertentu lainnya, maka itu harus  terus dipupuk dan hormati agar semakin banyak persahabtan yang akan emmbuat dunia ini damai.  Hanya saja  memang harus diakui bahwa terkadang persahabatan tersebut tidak murni, melainkan karena ada sesuatu harapan tertentu yang hanya diketahui oleh masing masing orang tersebut.

Kita memang tidak memungkiri bahwa  untuk saat ini  masih ditemukan manusia yang sungguh tulus dalama memaknai persahaban tersebut, yakni mereka yang memang tidak ada kepentingan lain terkecuali Allah semata. Dengan demikian  semua yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan ridlo dari Tuhan dana memperkuat tali persaudaraan diatara orang orang beriman dan  demi kemanusiaan.

Bagi manusia sperti itu, kita memang harus memberian apresiasi dan sekaligus  mendukungnya, karena semakin banyak orang yang tulus berbuat karena Tuhan, maka dunia ini akan semakin damai dan terjauhkan dari berbagai persoalan yang melilit serta  mengganggu proses alami yang seharusnya terjadi.  Kiranya bagi orang beriman harus terus berusaha untuk mewujudkan kondisi persahabatan sperti itu, agar orang awam akan  merujuk dan meneladaninya.

Sahabat sejati memang sulit didapatkan, tetapi sekali lagi, kita tetap dapat menemukannya, jika kita memang  ada keinginan untuk itu dan  semuanya didasarkan  atas kepentingan  ukhuwah islamiyah dan basyariah.  Semoga kita mampu mewujudkannya dan juga mengajak semua orang untuk mengusahakannya. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.