SELAMAT UNTUK KEMENAG

Hari ini seleuruh  aparatur kementerian Agama  di seluruh tanah air sedang merayakan hari amal bhakti kementerian Agama, setidanya melalui upacara bendera.  Tentu di samping beberapa acara lainnya, seperti perlombaan, berbagai bazar dan lainnya.  Banyak juga yang menyelenggarakan pertandingan olah raga  antar unit dalam sebuah instansi, semata mata untuk menyemaakkan  HAB Kemenag tersebut.

Pada saat peringatan HAB kali ini memang ada yang berbeda, karena kementerian  ternyata sedang kebanjiran pernghargaan dari berbagai pihak, termasuk dari predsiden tentang prestasi dalam banyak hal.  Sudah barang tentu prenghargaan tersebut harus disyukuri dan  harus pula ada komitmen untuk mempertahankan kebaikan tersebut, bahkan  kalau mampu ditingkatkan.  Sebagai  bagian dari kementerian agama, tentu kita semua harus merasa bangga dan bersyukur bahwa kementerian kita bukan saja dapat bertahan dalam memberikan layanan kepada masyarakat dengan baik, tetapi juga sekaligus berprestasi sangat baik.

Memang setiap tahun kita memperingati HAB kementerian tersebut, namun rupanya  bukan dengan sebuah harapanyang menancap dalam dada bahwa kita  harus menunjukkan kinerja yang lebih baik dan pengabdian yang lebih tulus, melainkan hanya sekedar peringatan biasa saja, padahal kita semua tahun bahwa  ada lambang di kementerian agama yang menyatakan  ikhlas beramal, tetapi daam kenyataannya masih banyak diantara aparaturnya yang tidak meresapi dan mengamalkannya.

Nah, saat inilah kita perlu menyadari betapa pentingnya meresapi pernyataan ikhlas beramal tersebut diterapkan dalam diri kita masing masing, sehingga kinerja kita  akan meningkat dengan tajam.  Dengan ikhlas beramal tersebut, kiranya kita tidak memerlukan lagi aspek penilaian dari pihak lain, terkecuali hanya mengharapkan  keridlaan dari Allah swt.  Sudah pasti jika hal ini diterapkan dengan konsisten, ketika ada penilaian dari siapapun, dapat dipastikan akan mencapai nilai terbaik.

Kalaupun saat ini kementerian kita  mendapatkan banyak penghargaan dari banya pihak, namun ita masih melihat banyaknya  kekurangan dalam banyak hal.  Kita masih sangat berharap para pengambil keputusan di kementerian ini akan lebih melihat kepada fungsi masing maisng organ d dalamnya, utamanya  perguruan tinggi, karena  kita masih melihat perguruan tinggi ini belum mendapatkan perhatian yang utuh dan menyeluruh.

Memang sudah ada sebagiannnya yang diperhatikan, sehingga mendapatkan asupan dana cukup lumayan, tetapi di pihak lain, masih ada  perguruan tinggi yang justru seolah didorong untuk mati.  Kenapa saya katakan demikian, karena menurut saya sama sekali tidak rasional sebuah perguruan tinggi  negeri dibiarkan tidak mendapatkan prioritas penambahan tenaga untuk mensupport  perjalanan perguruaqn tinggi tersebut.  Belum lagi mengenai sarpras, dan juga anggaran untuk menhgembangkannya.

Kita dapat membayangkan apa yang dapat dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi negeri yang hanya diberikan anggaran 18 Milyar untuk satu tahun, temasuk membayar gaji, tunjangan  dan operasional perguruan tinggi.  Sementara kita juga menyaksikan betapa bergesehnya penganggaran tersebut, karena di sebuah kasi saja di pusat yang mendapatkan asupan dana saqmpai ratusan milyar rupiah, dan penggunaannya juga terkesan dihambur hamburrkan, seperti perjalanan dinas keluar negri dan lainnya.

Padahal semua orang juga tahu bahwa kepergian  keluarnnegeri tersbeut juga tidak terlalu penting, bahkan terkesan hanya  kelencer semata.  Mungkin ada sedikit gunanya yang dilakukan oleh para pimpinan, namun ketika para staff juga  ikut, bahkan terkadang hingga lima orang, maka itu sama dengan pemborosan  uang negara. Disamping itu kita juga masih menyaksikan betapa  uanga dipa  yang dikembalikan ke kas negera hingga mencapai trilyunan rupiah.

Dalam kasus tahun 2016 saja  ada lebi dari 4,6 T uang  keenterian kita yang harus dikembalikan kepada negara karena tidak dapat terserap.  Sementara  masih banyak perguruan tinggai yang menjerit tidak ada uang untuk pengembangan, sarpras dan lainnya.  Mungkin persoalannyaq ialah tentang perencanaan, namun kalau itu sudah diketahui bersama, mengapa masih mempertahankan cara  perencanaan yang konvensional dan  dengan pejabat yang itu itu saja.

Kenapa kita tidak berusaha untuk mendapatkan  tenaga yang cocok dan profesional dalam hal perencanaan, sehingga kemungkinan keterserapan anggaran akan lebih bagus lagi, dan juga  semua unit  dan satker di  kementerian  agama akan mendapatkan  anggaran yang proporsional.  Barangkali saat ini kita dapat mengevaluasinya dengan baik, khususnya dalam mengenalng HAB kementerian saat ini.  Harapannya tidak akan mengulang hal hal yang sama sekali tidak masuk di akal dan merugikan kementerian itu sendiri.

Menurut saya   kementerian sudah saatnya berbanah diri dengan menghadirkan banyak tenaga potensial yang tidak mempunyai beban sejarah masa lalu, sehigga akan mamp bekerja dengan sangat baik.  Arahan menteri agama  kepada inspektorat jenderal juga sudah sangat bagus, yakni untuk mengawasi internal dan membenahinya, dan bukan lagi merobohkan  tiang tiangnya, sehingga kemeng tidak akan runtuh dbuatnya.

Kita juga melihat masih banyaknya ketimpangan di kementerian pusat, teruama  masih banyanya  pekerjaan yang tersiakan dan  rupanya memang senagja tidak dikerjakan.   Usul pembukaan program studi mislanya, ada yang sudah beberapa tahun yang  tidak muncul kabarnya. Lalu usulan mengenai statuta  bagi perguruan tinggi yang alih status juga  belum klir hingga saat ini, padahal sudah berlangsung  dua tahun.

Lantas apa kerjanya kementerian pusat? Malahan beberapa waktu yang lalu pada saat rakenas, saya mengusulkan agar  para pejaat setingkat eselon 3  agar tidfak diperbolehkan  kunjungan ke d daerah, tetapi nyatanya malah sepetri dianjurkan,hampirr setiap hari mereka mendatangi daerah, dan  pekerjaannya sendiri terbengkelai.  Jika orang daerah mencarinya,  dikatakan  pena=jabatnya lagi ke daerah dan begitu seterusnya.

Dalam masalah ini keenterian harus serius agar tidak ada kagi pekerjaan yang tertunda haingga  berbulan bulan, bahkan betahun tahun, padahal jika dikerjakan dengan  sungguh sungguh, tidak akan memakan waktu satu minggu.  Mari berbanah diri secara internal sebelum hal hal yang krusial tersebut mencuat ke permukaan dan  akan merugikan kementerian sendiri.  Saat ini sesungguhnya sudah dapat dilihat gejala munculnya ketidak puasan tersebut, hanya saja para aparatur kita amsih ckup bersabar dan masih menunggu waktu yangbtepat.

Atas dasar itu semua kita sangat berharap bahwa para pengambil keputusan dpusat agar segera mengubah cara  dan kebijakannya untuk menyelamatkan kementerian kita dari kemungkinan buruk yang bakal  muncul.  Bayaknya persoalan di internal kemenag ternyata  ada sebagiannya yang belum disadari oleh para pembuat kebijakan, dan sebagiannya sudah dusadari, tetapi belum ditindak lanjuti dengan cepat.

Contoh kasus yang paling memperihatinkan ialah tentang statuta.  Bagaimana mungkin sebuah perguruan tinggi  dapat beroperasi tanpa statuta?  Jika hal ityu kemudian dipertanyakan oleh masyarakat, lalu apa jawabannya?  Para rektor saat ini sudah sangat gelisah dengan kondisi tersebut dan sudah banyak pihak yang menanykannya.  Lalu  kalau dalam waktu dekat ini tidak juga muncul, saya sangat kahwatir pada tahun 2017 ini akan muncul  persoalan besar yang menimpa PTKIN kita.

Momentum peringatan HAB kemenag kali ini kita harapkan akan menjadi  ajang kesadaran kita bersama untuk menyelesaikan  tunggakan perkara yang masih tersisa, agar  kita smeua menjadi snagat nyaman dalam melangkahkan  kaki untuk mengejar mimpi.  Semoga Tuhan  memberikan jalan terbak bagi kita untuk mengabdi di kementerian agama tercinta ini, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.