LIMA BUDAYA KERJA KEMENAG

Sejak tahun yang lalu kementerian agama telah  mencanangkan 5 budaya kerja di lingkungan kementerian agama.  Harapannya seluruh aparatur sipil Negara  kementerian agama akan  selalu mempraktekkannya dalam  sehari harinya.  Namun demikian rupanya  lima budaya kerja tersebut memang belum menyentuh keseluruhan  ASn kementerian ini,  sebab  dengan jelas kita akan dapat melihatnya bahwa sebagian besarnya justru malah belum  mengetahuinya.

Ini tentu saja  tampak ironis, karena  para pimpinan, baik di pusat maupun di daerah sudah sedemikian gencar dalam mensosialisasikannya kepada sleuruh  aparat kementerian ini.  Barangkali memang  ada yang belum mendapatkan informasi tentang budaya kerja tersebut, sehingga memang  dapat dimaklumi.  Akan  tetapi untuk tahun ini sudah seharusnya seluruh pimpinan satker di sleuruh Indonesia harus mau dan mampu mensosialisasikan  5 budaya kerja tersebut kepada seluruh  ASN yang ada.

Jika kemudian ternyata setelah disampaikan kepada  seluruh ASN, ternyata belum dapat diamalkan secara menyeluruh, maka itu merupakan sesuatu tantangan yang harus diselesaikan dan dicarikan solusinya.,  namun satu hal sudah dilakukan, yakni sosialisasi.  Dengan telah dilakukannya sosialisasi etrsebut dapat disimpulkan sleuruh ASN kementerian agama sudah mengetahui 5 budaya kerja tersebut. Cuma persoalannya ialah realisasinya.

Pada setiap acara yang dilaksanakan oleh kemeneterian pusat, selalu saja ducapkan 5 budaya kerja tersebut, dengan maiksud tidak ada satupun diantara yang hadir, tidak mengetahui dan melupakannya.  Lima budaya kerja tersebut sungguh sangat bagus jika dilaksanakan dengan konsisten, dan kita semua menjadi yakin bahwa kementerian ini akan menjadi semakin bagus dan menghasilkan  sesuatu yang bagus pula jika seluruh ASN nya melaksanakan 5 budaya kerja tersebut.

Sebagaimana kita tahu lima budaya kerja kementerian agama tersebut meliputi integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan.  Kelimanya tidak boleh dipilih pilih, melainkan harus dijalani secara keseluruhan.  Artinya  seluruh budaya kerja yang sudah ditetapkan tersebut memang harus dijalankan untuk mencapai target yang telah dicanangkan.  Tentu kita menyadari tidak akan dapat tercapai sekaligus, melainkan  secara bertahap namun pasti.

Budaya kerja yang pertama, yakni integritas, sungguh  merupakan  sifat yang snagat terpuji dan menjadi dasar bagi semua orang untuk dapat menjalankan amanah dengan baik.  Integritas tersebut akan menjadikan seseorang dapat dipercaya, tidak saja  oleh kawannya sendiri, melainkan oleh semua pihak, sehingga apapun yang berada di tangannya akan aman dan selamat.  Sifat integritas tersebut tenta akan  sekaligus menjauhkan pemiliknya dari sifat curang,  dusta,  tamak, dan semua sifat negative lainnya.

Jadi  dengan menerapkan  sifat integritas tersebut orang akan menjadi aman, tidak saja dari lisannya, tetapi juga dari seluruh perbuatannya.  Alangkah indahnya kementerian agama jika sel;uruh aparatur sipil negaranya mempunyai dan menjalankan sifat integritas tersebut, maka  penyakit yang selama ini ada di masyarakat, sperti korupsi, suap, malas kerja dan lainnya tidak akan  terjadi di lingkungan kementerian ini.

Budaya kerja kedua ialah profesionalitas, yang berarti bahwa semua pekerjaan harus dilaksanakan atas dasar profesionalitas, bukan lainnya.  Makna professional dapat  berkembang luas, seperti  pekerjaan itu harus dilaksanakan oleh mereka yang memang ahli dalam bidangnya, sehingga akan dapat diselesaikan dan  targetkan  dengan tepat.  Profesional juga dapat diartikan bahwa  seseroang akan melakn=sanakan pekerjaan sebagaimana tanggung jawab yang telah ditetapkan baginya, tanpa harus menyisakan pekrjaan dengan berbagai alasan.

Seorang yang professional dalam pekerjaannya, tentu akan dapat  memperkirakan  waktu yang dipergunakan untuk menyelesaikan pekrjaannya, dan dapat meraih target sebagaimana diperkirakannya.  Dengan  begitu jika ASN kementerioan agama berlaku professional, tentu tidak aka nada pekerjaan yang terbengkelai dan  semua pihak akan menjadi amanah dalam  bidangnya masing masing, tanpa harus mengganggu  yang lainnya.

Budaya kerja ketiga ialah tanggung jawab, yang berarti setiap apapunyang dilakukan oleh aparatur sip[il Negara kementerian agama harus dapat dipertanggung jawabkan, baik secara  aturan main peraturran perundangan undangan maup[un secara agama.  Tanggung jawab merupakan sikap yang memang harus dimiliki dan sekaligus dipraktekkan oleh semua orang muslim, sehingga  seluruh keluarga besar kementerian yang membidangi urusan agama ini  mutlak harus mempunyai sikap tanggung jawab tersebut. 

Tanggung jawab  sebagaimana dimaksudkan tersebut ialah  apapun yang dikerjakan harus dapat dipertanggung jawabkan secara benar, baik menurut aturan perundangan maupun  secara syariat agama yang kita anut.  Dengan tanggung jawab terswebut diharapkan apapun yang dilaksanakan oleh ASN kementerian ini  akan berakibat baik, karena  tidak akan terjadi penyalah gunaan apapun yang berakibat merugikan pihak lain, alias tidak dapat dipertanggung jawabkan.  Budaya ini sungguh sangat menyentuh hakekat kerja kementerian, karena dengan  posisi tanggung jawab tersebut sesungguhnya sudah mencakup banyak aspek yang harus dijalankannya.

Budaya terakhir ialah keteladanan, yang berarti semua ASN, baik pimpinan maupun staff yang paling bawah sekalipun harus mempunyai  sikap agar menjadi teladan bagi  selain mwereka, uitamanya amsyarakat secara umum.  Kita menyadari bahwa kemenetrian kita  merupakan kementerian yang membidangi agama, sehingga  sorotan akan dating dari segala penjuru, dan jika ada sedikit saja penyelewengan ataupun kesalahan, pasti akan muncl komentar yang snagat menyakitkan.  Karena itu keteladanan memang sudah harus menjadi jiwa seluruh ASN kita.

Keteladanan sendiri sesungguhnya sudah dipraktekkan oleh panutan kita nabi Muhammad saw, yang bahkan secara tegas disampaikan oleh Tuhan dalam kitab suci, bahwa dalam diri nabi Muhammad saw itu ada teladan yang sangat baik.  Nah, sebagai umatnya tentu kita juga harus dapat meniru segala hal yang baik, agar dapat diteladani oleh sesame dan oleh masuyarakat secara umum.  Sikap keteladanan tersebut harus disadari oelh semua ASN, karena dengan menyadarinya, maka  semua tindakannya akan  tetap berada dalam koridor aturan yang ada dan tidka akan berani untuk bermain main dengan  aturan.

Itulah lima budaya kerja yang oleh kementerian kita sudah dicanangkan sejak tahun lalu, meskipun hingga tahun  ini  masih ada yang belum tersentuh.  Tentu sebagai  salah satu ASN kementerian agama kita menjadi bangga, mempunyai 5 budaya kerja yang sangat bagus, dan insyaallah akan mampu mengantarkan kita menjadi  orang yang baik, dalam segala speknya.  Pada awal tahun ini kita harus berkomitmen untuk menjalankan 5 budaya kerja tersebut dengan konsisten agar tahu ini kita akan dapat jalani dengan sangat mulus.

Karena itu sejak awal ini kita memang harus secara terus menerus mensosialisasikannya kepada seluruh aparatur  kementerian agaa, termasuk mereka yang masih dalam kategori tenaga tetap bukan PNS.  Kita akan sangat ringan dalam mencapai tujuan dan  tagrget jika sleuruh keluarga besar kita mampu mengaplikasikan 5 budaay kerja tersebut dalam keseharian mereka, yakni dalam menjalankan pekerjaan yang dibebankan kepada mereka.

Kita harus berprinsip pada  kepentingan  keseluruhan, dan bukan  kepentingan diri sendiri.  Artinya kalaupun masih ada ASn kementerian agama di lain satuan kerja yang belum memaksimalkan pelaksanaan 5 budaya kerja terseburt, namun kita harus  yakin bahwa  kita harus mampu mengaplikasikannya  secara konsisten pada tahun ini.  Biarlah orang lain tidak melakukannya, tetapi jika kita melakukannya, pasti kita akan merasa nyaman dan  akan diapresiasi.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.