JANGAN PERNAH MEREMEHKAN AMAL

Mungkin bagi sebagian orang, amalan itu harus banyak dan bagus, karena  kalau hanya sekedarnya dan tidak bagus tidak akan diterima oleh Tuhan.  Bahkan mereka menganggap kalau hanya amalan remeh, sebaiknya malah tidak usah beramal saja.  Anggapan sebagian orang tersebut tentu tidak dapat dibenarkan karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah membedakan antara amalan yang tampak remeh danamalan yang banyak dan besar.  Justru menue=rut Tuhan, smeua amal itu akan dilihat dari sisi  niat dan ketulusannya.

Jika orang beramal banyak dan sangat mencolok, tetapi ada niat yang tidak bagus semisal agar dinilai sebagai oarng yang dermawan, apalagi kalau ekmudian ada embel embelnya lagi  yakni pada saatnya nanti agar dipilih dalam kontestasi pemilihan jabatan tertentu, maka amalan tersebut tidak akan diperhitungkan sebagai amalan baik oleh Tuhan.  Sebaliknya, meskipun hanya tampak amalan remeh, mungkin hanya sekdar  memberikan prtolongan menyeberangkan jalan kepada orang tua yang ketajutan menyeberang swendiri, tetapi  didasari oleh niat ikhlas, insyaallah akan dimasukkan ke dalam  perbuatan baik.

Jadi intinya kita tidak boleh menilai amalan itu dari sisi sedikit dan banyaknya amal yang dapat kita lihat secara kasat mata.  Mungkin orang hanya mampu memberikan  nasi bungkus dengan lauk tahu dan tempe, tetapi kalau itu dilakukannya kepada mereka yang benar benar kelaparan dan  pemberiannya juga tulus karena Tuhan, pasti  hal tersebut akan bernilai besar.  Dan sebaliknya jika ada orang memberikan  ratusan nasi kotak dengan lauk daging atau ayam, tetapi  dengan naiatan tertentu, tentu akan menjadi sangat remeh di mata Tuhan.

Boleh jadi kita hanya  memberikan seyuman kepada sesame dengan  tulus, tetapi siapa tahu justru senyuman tersebutlah yang akan menjadikan kita beruntung di akhirat nanti.  Boleh jadi kita hanya memberiikan tumpangan kepada orang tua yang keleahan  dan tidak mampu membayar angkot, tetapi siapa sangka  itulah yang nantinya akan memberika kelapangan rizki kita.  Boleh jadi kita hanya menolong seekor semut yang  terjatuh ke dalam air, namun siapa tahu hal itulah yang menyebabkan  dosa dosa kita diampuni oleh Tuhan, dan begitu seterusnya.

Kita juga menyaksikan betapa nabi Muhammad saw telah memberikan bagian bagian dari wujud iaman kepada Tuhan sebagaimana yang beliau sampaikan melalui beberapa riwayat hadis, yang diantaranya ialah  mau dengan sadar menyingkirkan  batu atau benda l;ainnya yang diperkirakan akan dapat mengganggu orang yang lewat di jalan tersebut, selalu berlaku bersih, menolong tetangganya, menolong orang yang mempunyai hajat danmasih banyak lagi.

Semuanya itu sudah barang tentu akan diperhitungkan sebagai amalan terbaik yang dapat kita lakukan.  Namun demikian amalan lain yang secara kasat mata tampak jelas juga  tetap kita lakukan seperti menolong orang kesusahan, berdekah kepada siapapun yang membutuhkannya, berinfaq kepada pembangunan sarana peribadatan atau pendidikan ataupun sarana kepentingan umum dan lainnya, akan tetapi semuanya harus dilaksanakan dengan niat tulus dan hanya semata mata kareena Tuhan.

Hanya saja  ketika kita mampu melakukan amalan yang besar seperti itu, jangan sekali kali kemudian kita menganggap remeh perbuatan baik yang tampak kecil sebegaimana diutarakan di atas, karena  di mata Tuhan  sesunguhnya tidak ada  perbuatan baik yang remeh.  Semua kebajikan itu baik dan siapapun harus melakukannya.  Itulah ajaran inti islam yang selalu dipraktekkan oleh Raulullah saw dan diharapkan juga akan dipraktekkan oleh p[ara umatnya sepanjang masa.

Kita juga  belum tahu Persis amalan seperti apakah yang akan diterima oleh Tuhan dan memberikan keuntungan bagi pelakunya di akhirat, walaupun secara teori kita sudah mengetahuinya, yakni mereka yang mau beramal baik, akan dibalsa dengan kabaikan, bahkan janji Tuhan di dalam alQuran bahwa siapapun yang beramal baik satu saja, akan diberikan balasan sepuluh kali lipatnya.  Namun itu  secara umumnya, tetapi secara detailnya kita belum akan tahu.

Kalaupun secara teori kita akan mengerti bahwa amalan baik  dan ketika melakukannya disertai dengan niat lillahi taala, tentu itulah yang akan diterima oleh Tuhan, namun kita tidak tahu persis, karena persoalan niat itu hanya Tuhan dan yang bersngkutan sajalah yang mengetahuinya.  Sebabjkalaulah ada orang menyatakan dengan lantangnya bahwa apa yang dilakukannya ialah lillahi taali, ikhlas tanpa mengharapkan apapun, tetapi dalam kenyataanya terkadang justru sebaliknya, yakni ada niatan terselubung di dalamnya.

Untuk itu sebaiknya memang kita harus menilai diri sendiri, termasuk amal yang kita lakukan, bukan dengan menilia pihak lain.  Biarlah pihak lain melakukan amalnya masing masing, dan kita menjalaninya  sebagiamana yang kita mampu lakukan.  Ahal terpenting yang harus kita perhatikan ialah bagaimana kita fokuskan  seluruh amal kita hanya semata mata karena Tuhan, bukan Karena yang lain.  Latihan untuk focus tersebut memang cukup berat, terutama bagi pemula yang belum terbiasa melakukan focus tersebut.

Pada intinya dalam pandangan Tuhan segala amal itu tidak dipandang  kecil dan besarnya atau sedikit dan banyaknya, melainkan  akan lebih dilihat dalam hal niat dan ketulusannya, meskipun tentu banyak dan sedikitnya itu juga  diprhitungkan jika persoalan niatnya  sudah beres.  Artinya  agama kita juga akan menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan amal yang terbaik dan banyak, tetapi penekanan utamanya ialah dalam hal niat  dan ketulusannya, baru kemudian persoalan banyak dan seikitnya.

Tentu akan sangat tidak disukai jika kita mampu dalam sisi ekonomi, lalu hanya beramal sekdarnya, atau bahkan dengan sesuatu yang menurut ukurannya sangat remeh. Sedekah atau berinfaq itu sebaiknya  yang denagn harta kita yang terbaik.  Bahkan  dalam  al-Quran disebutkan bahwa seseorang itu tidak akan  meraih  kebajikan hingga dia menginfakkan hartanya yang terbaik dan yang paling dicintainya.  Dengan demikian ukuran banyak dan sedikit dalam hal bersedekah itu juga menjadi pertimbangan setelah ukuran keikhlasan.

Hanya saja ketika kita mampu melakukan amal  banyak, jangan pernah kita menyepelekan orang lain yang beramal sedikit.  Boleh jadi mereka melakukannya sudah dengan kemampuan maksimal, karena kondisinya memang tidak mampu dan tidka berkecukupan, dan meskipun  kita sedikit lebih banyak, tetapi  itu hanya sedikit saja dari harta yang kita punya.  Karena itu sekali lagi kita memang tidak boleh meemehkan atau menganggap remeh amal yang sedikit tersebut.

Bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa  rasulullah saw pernha mengatakan bahwa amalan yang sedikit itu dapat menjadi sangat besar dan berarti disebabkan oleh niatnya, dan begitu pula sebaliknya amalan yang besar atau banyak dapat menjadi kecil disebabkan oleh niatnya juga.  Karena itu persoalan niat tersebut memang harus diperhatikan, karena  itulah yang akan menentukan, bahkan akan menjadi tolak ukur  diterima atau tidaknya sebuah amalan.

Pendeknya sebagai orang mukmin, kita  harus  secara rutin dan terus menerus melakukan amalan yang terbaik, baik dalam bentuk  peribadatan yang mahdlah maupun yang ghairu mahdlah.  Artinya baik  dalam persoalan  shalat, puasa ataupun zakat kita maupun  dalam hal berbuat baik dengan melakukan sedekah, infak, dan juga menolong orang lain.  Insyaallah ketika kita  melakukan hal tersbeut, hidup kita akan semakin menyenagkan dan  kemudahan demi kemudahan akan dibukakan oleh Allah swt. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.