MENCARI PASANGAN HIDUP

Terkadang masih ada orang yang kesulitan untuk mendpatkan atau menentukan pasangan hidupnya.  Boleh jadi karena terlalu banyak kriteria yang ditentukan atau terkadang memang  tidak terlalu berminat untuk mendapatkannya atau karena alasan lainnya. Bahkan seringkali orang salah paham dengan apa yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw tentang bagaimana memilih jodoh untuk kawan hidup dan membentuk rumah tangga yang  bahagia dunia hingga akhirat.

Kesalah pahaman tersebut karena dipicu oleh kurangnya kecermatan pada saat  membaca hadis yang diriwayatkan dari Nabi.  Bahkan tidak kurang  kiai dan  para muballigh pun salah dalam mengartikan riwayat tersebut, karena memang  sejak zaman dahulu dipahami seperti itu oleh guru guru mereka.  Namun kalau kmudian kita cermat dalam membacanya dan sekaligus juga dikaiitkan dengan peran Nabi yang memang memberikan contoh yang bagus, maka pemahaman yang salah tersebut harus diluruskan.

Jangan lagi ada pemahaman bahwa  syarat memilih jodoh itu sebagiaman pemahaman kuno yang jsru akan  memberkan kesan negatif kepada Nabi selaku sumber riwayat tersebut.  Pemahaman yang menyatakan bahwa memilih jodoh itu yang pertama harus cantik, kaya, keturunan orang terhormat, dan beragama.  Keempatnya harus  ada dalam diri seorang calon yang akan dinikahinya.  Hal tersebut tentu akan mengesaankan bahwa Nabi itu tidak konsisten, karena pada awalnya para pengikutnya ialah orang miskin dan budah hitam dan lainnya.

Namun setelah sukses kenapa  untuk kriteria memilih jodoh justru malah mereka  ditinggalkan?  Kenapa tidak memberikan pesan agar mereka yang miskin dan  mempunyai warna kulit serta wajah yang tidak cantik diberikan kesempatan untu dinikahi oleh umatnya?.  Sungguh sebuah pemahaman yang  mungkin bahkan dapat membuat dosa kepada pemahamnya.

Kita sangat tahu bahwa riwayat tersebut sesungguhnya hanya  memberitahukan bahwa pada  umumnya orang di Arab sana itu kalau memilih jodoh ada yang berpikiran asal cantik atau tampan saja, meskipun miskin atau lainnya.  Sementara itu di lain pihak ada juga diantara mereka yang mempunyai prinsip bahwa calon jodoh tersebut harus kaya, tidak peduli cantik atau tampan atau bukan, karena yang dipentingkan ialah kekayaannya.

Ada pula yang menitik beratkan kepada faktor keturunan, karena memang yang dicari ialah  dari keturunan bangsawan.   Adan yang terakhir  ada diantara mereka yang lebih mengutamakan agama atau akhlaknya, meskipun tidak cantik, tidak kaya, tidak keturunan ningrat dan lainnya.  Itulah kenyataan di Arab yang sudah membudaya.  Nah,  dengan menyaksikan hal yang demikian, kemudian nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul, beliau kemudian menganjurkan kepada umatnya untuk  memilih calon yang beragama dan berakhlak mulia.

Namun jika kemudian disamping beragama dan akhlaknya bagus, sekaligus juga cantik, kenapa tidak, atau  juga kaya, kenapa tidak atau keturunan bangsawan, kenapa tidak.  Pokoknya yang terpenting ialah calon tersebut harus beragama, yakni beragama Islam dan berakhlak mulia.  Rupanya perintah Nabi tersebut saat ini sudah mulai dilipakan atau sengaja ditinggalkan, karena lebih memilih kekayaan dan kemapanan dalam pekerjaan dan usaha, ketimbang keimanan dan akhlak mulia.

Sesungguhnya tidak ada larangan  untuk  membuat kriteria sendiri, karena yanag terpenting itu tidak disandarkan kepada nabi, seolah Nabi  memerintahkan untuk mencari jodoh yang cantik dan kaya saja, padahal dalam kenyataannya perintah dan anjuran Nabi tersebut hanyalah kepada yang beragama Islam dan berakhlak karimah, selebihnya tergantung kepada masing masing orang. Jadi kalau kemudian umat Nabi  memberikan kriteria cantik itu tidak salah tetapi itu kriterianya sendiri dan yang terpenting sudah memenuhi kriteria Nabi yakni beragama tersebut.

Mungkin diantara umat Islam ada yang lebih menekankan kriteria pendidikan ketimbang lainnya, karena dengan dasar pendidikan yang baik dan mencukupi,  keluarga akan menjadi sejahtera, karena pendidikan anak anaknya akan menjadi terurus dengan bagus, apalagi kalau ekmudian  kriteria daro nabi tersebut didapatkan, maka anak anaknya akan terdidik dengan akhlak yang baik dan diperkenalkan dengan agama dan kepada Tuhan.

Tujuan berluarga ialah dalam upaya membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah dalam keseluruhan hidupnya hingga akhirat nanti, jadi  semuanya harus direncanakan dengan matang  sehingga nantinya tidak akan kecewa dan  mendapatkan kesulitan tersendiri dalam upaya mewujudkan  cita coita membentuk  keluarga yang sejahtera lahir dan batin.

Menurut alquran, justru ketika seseroang membangun rumah tangga ialah agar hidupnya tenang, dipenuhi kasaihn dan sayang sehingga keluarganya menjadi sangat harmonis.  Itulah batangkali yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad saw  baiti jannati, rumahku adalah surgaku.  Cita cita baik tersebut akan tercapai jika  pasangan  tersebut memang serasi dan saling mengerti satu dengan lainnya, saling dapat memaafkan kesalahan, dan terbuka  diantara keduanya.

Mencarui jodoh memang terkadang menjadi gampang gampang susah, karena  urusan jodoh itu memang   ditentukan oleh Allah swt.  Kita harus percaya bahwa urusan jodoh itu menjadi kewenangan Tuhan, meskipun manusia tentu akan berusaha untuk mencarinya dan melakukan upaya upaya untuk mendapakannya.  Kepercayaan tersebut harus dipupuk terus karena sudah banyak kasus diamana ada orang yang seolah sudah  jadi akan menikah, ternyata  kemudian bubrah.

Mungkin saja ada  orang yang  sangat yakin bahwa jodohnya ialah si A dan dia sama sekali tidak meragukannya, tetapi  dalam kenyatannya  semuanya menjadi berbeda setelah ada  kejadian kecil yang  menyertainya.  Itulah jodoh yang memang seperti kematian yang kita tidak dapat menentukannya sendiri.  Namun kerap kali juga ada yang  merencanakan lalu jadi dengan sesungguhnya. Nah itu juga  harus dimaknai bahwa memang itulah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Karena oitu orang tidak boleh seumbar tentang jodohnya tersebut, karena boleh jadi Tuhan akan menentukan lain.  Karena itu yang terbaik ialah berusaha sambil memohon kepada Tuhan agar apa yang direncanakan  dapat diputuskan oleh Tuhan sebagimana yang diniatkannya.  Namun sekali lagi sebagai umat nabi Muhammad saw, kiranya kita tetap harus mengingat pesan Nabi sebagaimana tersebut di atas, yakni memilih jodoh yang eragama Islam dan berakhlak mulia.  Selebihnya terserah kepada apa yang dimauinya.

Dalam hal urusan memilih jodoh memang harus direncanakan dengan seksama dan harus mengetahui atau mengenal calonnya dengan cukup baik, sebab pernikahan itu bukan untuk mainan dan untuk sementara saja, melainkan untuk selamanya, dan  untuk meneruskan keturunan yang akan meneruskan perjuangan suci yang kita lakukan.  Oleh karena itu  sebaiknya memang tidak perlu tergesa gesa dalam menentukan.  Bolehlah taaruf terlebih dahulu, kemudian juga  mencari tahu  tentang calonnya tersebut dari oarng yang dekat dengannya, sehingga akan  dapat gambaran yang sesungguhnya dari sifat dan wataknya yang asli.

Setelah  informasi  dianggap cukup dan  sudah dapat memutuskan dengan kemungkinan kemungkinan  di kemudian hari, maka segeralah putuskan dan tidak perlu ditunda tunda lebih lama  lagi, karena kemungknan nantinya akan  banyak godaan.  Artinya  jika semuanya sudah mantap maka segera  lamar dan minta segera untuk meneruskan ke jenjang pernikahan agar tidak  menimbulkan banyak dosa  dan  justru akan banyak mendapatkan pahala. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.