MENYIKAPI KELOMPOK RADIKAL

Sudah seringkali dibicarakan, baik dalam diskusi terbats maupun dalam  skala yang lebih luas, dalam seminar dan  berbagai pertemuan ilmiah untuk membahas tentang  radikalisme yang  akhir akhir ini sangat marak di masyarakat.  Namun sampai hari ini ternyata belum ada tanda tanda bahwa  kelompok radikal etrsebut akan mengakhiri kiprahnya dalam mengupayakan tujuan mereka.  Barangkali memang diperlukan langkah nyata dalam upaya  menyadarkan mereka dan sekaligus menghentikan  kegiatan mereka yang sangat provokatif dan membayakan kesatuan umat.

Memang tidak mudah untuk memberikan penyadaran kepada mereka, karena fondasi yang diyakini mereka begitu kuat dan  bahkan mereka sama sekali tidak mau melirik kepada pandangan yang berbeda  dengan mereka.  Mereka meyakini bahwa hanya pendapat mereka sajalah yang paling benar, sementara pandangan lainnya justru salah dan harus diluruskan dengan cara mereka.  Barangkali hanya kalau tokoh sentral mereka  mau mengubah pandangannya sajalah  mereka akan mau mengikutinya.  Atau kalau kita menghayal, jika  nabi hidup kembali dan memberika pencerahana kepada mereka, mungkin saja mereka baru akan mau mengikutinya.

Dengan kondisi yang sperti itu maka  semua usaha yang dilakukan oleh masyarakat dan tokoh dengan himbauan, tentu saja tidak akan mempan, apalagi kalau kemudian diikuti dengan  cercaan dan pemberian label bahwa mereka itu keliru dalam memahami teks  suci, sudah pasti  mereka akan semakin menjauh dan sama sekali tidak mau mendengarkan apapun yang dating  dari selain mereka.

Jadi memang harus diupayakan  pencarian cara yang jitu agar mereka mau kembali kepada cara moderat yang kita harapkan.  Hanya saja hingga saat ini cara yang demikian belum kita dapatkan.  Namun bukan berarti kita menyerah tanpa sayarat, melainkan  kita harus terus menerus mencarinya hingga kondisi aman, damai dan kondusif yang kita cita citakan dapat terwujud, meskipun kapan terwujudanya.

Peratama tentu kita harus mengetahui persoalan yang sesungguhnya atau lebih tepatnya kita harus mampu mengetahui akar persoalannya, baru kemudian kita akan mencarikan solusi tepat untuk menanggulanginya.  Kalau kita hanya menebak nebak tentang mereka, lalu kita membuat keputusan  untuk menyelesaikannya,  dapat dipastikan tidak  akan berhasil dengan baik, karena akar persoalannya tidak kita ketahui.

Artinya kenapa mereka menjadi radikal dalam persoalan agama, kenapa mereka tidak mau  mempraktekkan islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana yang sealalu didengungkan oleh para tokoh muslim yang moderat?  Apakah memang mereka tidak mengetahui perrilaku Nabi Muhammad saw yang sanat santun, sangat bijka dan sama sekali tidak menyukai kekerasan, konflik dan juga semua tindakan yang mengarah kepada  instabilitas.

Mungkin kebanyakan diantara kita hanya menebak bahwa  akan persoalan mereka ialah  disebabkan kurangnya keilmuan prasyarat untuk memahami kitab suci sebagaimana yang dirumuskan oleh para ulama, dan hanya berpatokan kepada  aspek bahasa semata.  Disamping itu mungkin sekali mereka  diperkenalkan  dengan cara yang relative sama dengan  mereka, yakni  hanya memahami teks semata mata berdasarkan bahasa saja, sehingga aspek lainnya tidak terpikirkan.

Akibatnya   ayat ayat yang  berbicara mengenai jihad, penegakan syariat dan sejenisnya dimaknai sebagai sebuah  ayat yang berdiri sendiri dan harus diwujudkan dalam dunia nyata.  Nah, kalau pemahamannya demikian, sangat wajar jika mereka kemudian tidak mau mengambil resiko dan tidak  bersikap toleran  manakala mendapati perbedaan dengan pemahaman mereka. Mereka sudah tidak percaya lagi dengan siapapun yang mencoba untuk  memberikan penjelasan yang terkait dengan  perbedaan  pemahaman mereka.

Nah, kalau sudah demikian, seharusnya dicarai jalan yang memungkinkan merka  dapat sadar bahwa  pemahaman terhadap teks tersebut bukan  seperti itu melainkan  sebaliknya, sebagaimana dijalankan oleh Nabi sendiri dan juga para sahabat beliau.  Seharusnya kita langsung menukik kepada memberikan  referensi asal, yakni pribadi Nabi yang menurut alQuran juga harus dicontoh.  Lalu kita juga harus siap dengan sejarah Nabi dalam perjalanannya menghadapi ebrbagai kelompok manusia yang berbeda.

Apakah Nabi pernah marah kepada mereka, lalu membinasakan mereka, ataukah sebaliknya Nabi tetap santun dan  menghormati perbedaan yang terjadi diantara mereka.  Nah, kalau sejarah perjuangan seperti itu kita sampaikan dengan data yang akurat, kemudian juga kita pertimbangkan dalam memahami teks yang ada, tentu  kita berharap mereka akan dapat mengubah cara pemahaman dan kemudian  dapat bersikap toleran dan  dapat menerima perbedaan yang ada.

Tentu tidfak mudah untuk memberikan penyadaran kepada mereka, karena kepercayaan mereka yang sudah sedemikian mengakar, tetapi kita harus terus mengupayakannya.  P[aling tidak kita sudah emmberikan wacana kepada mereka  dan  mereka yang  belum mengakar tentang pemahaman yang eksklusif tersebut, sehingga tetap ada harapan untuk  menjadikan mereka lebih santun, lebih toleran dan menghargai perbedaan yang apsti akan muncul di kalabngan umat manusia.

Namun yang lebih penting dari itu semua ialah bagaimana kita berusaha menciptakan sebuah generasi yang   bersikap moderat dalam menyikapi kondisi dunia  dengan cara kita memantapkan  pendidikan, mereviu kurikulum dan  mempraktekkan  kesantuan dalam perilaklu keseharian sebagai wujud dari ajaran islam yang rahmatan lil alamin.  Kita harus  bersungguh sungguh dalam mendidik  seluruh peserta didik kita, khususnya yang di perguruan tinggi agar mereka dapat memahami teks suci dengan mempertimbangkan berbagai aspek sehingga akan menghasilkan pemahaman yang komprehensif pula.

Sudah barang tentu kita tidak boleh berkonfrontasi dengan kelompok radikal yang ada, karena itu akan semakin menambah keradikalan mereka dan  keinginan kita untuk dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi jumlah mereka akan sulit diwujudkan.  Keinginan kita dalam menyikapi kelompok radikal tersebut ialah menyadarkan mereka agar kembali kepada jalan moderasi yang  diinginkan oleh  mayoritas  umat dan ulama, sebagiaman juga telah dipraktekkan oleh para sahabat  dan juga para wali di Indonesia.

Karena itu bukan dengan membinasakan mereka, memerangi dan menyyudutkan mereka.  Itu disebabkan  bahwa misi kita ialah bagaimana kita tidak mencari musuh, melainkan bagaimana kita mendapatkan kawan dan mitra yang akan memperkuat pembangunan yang sudang kita lancarkan, baik  fisik maupun non fisik.  Karena itu tidak ada jalan lain terkecuali kita harus merangkul mereka dengan menyadarkan mereka serta berupaya untuk memberikan harapan yang baik bagi mereka.

Karena kita juga yakin bahwa  pemahaman yang  tekstual  tersebut itu bukanlah satu satunya akar persoalan, karena masih snagat banyak hal yang dapat menyebabkan  munculnya sikap radikal tersebut, seperti maraknya kejahatan yang jelas jelas melanggar syariat Islam, maraknya ketidak adilan yang sangat mencolok mata masyarakat, adanya kesenjangan yang sangat dalam dalam kehdidupan social dan ekonomi, serta banyaknya persoalan bangsa yang  tidak segera tuntas, bahkan seolah dibiarkan oleh  pengambi keputusan.

Karena itu akar persoalan tersebut juga  sekaligus diupayakan untuk diminimalisasi sehingga  ada gerakan untuk memperbaiki kondisi kesenjangan yang sangat nampak. Bagaimana  kemiskinan dikurangi,  ketidak adilan juga dihilangkan, kejahatan yang jelas bertentangan dengan ajaran agama juga segera diberantas dan juga smeua  kondisi negative dapat dikuirangi secara bertahap.  Kita yakin  biolamana smeua hal tersebut secara gradual dilakukan perbaikan,  untuk mengembalikan sikap radikal mereka, akan lebih mudah.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.