MENINGKATKAN MUTU LULUSAN PTAIS

Persoalan  mutu merupakan  persoalan klasik yang terus  mendapatkan perhatian banyak pihak, lebih lebih pada saat  munculnya banyak  aliran keras dalam beragama.  Hal tersebut disebabkan munculnya aliran keras  atau radikal dalam agama biasanya lebih banyak disebabkan oleh pemahaman teks teks suci, seperti al-Quran dan hadis yang tidak komprehensif dan cenderung hanya tekstual semata.  Padahal kita tahu bahwa teks teks yang ada selalu terkait dengan konteks yang tentu berbeda beda.  Karena itu kalau pemahamannya saat ini tidak disesuaikan dengan konteksnya, tentu akan mengalami perbedaan, yang terkadang sangat tajam.

Untuk itu semua perguruan tinggi, khususnya PTAIS perlu membenahi diri dalam  proses pendidikannya, yakni dengan memperkuat metodologi yang diperlukan untuk sebuah kajian tertentu.  Kalau misalnya untuk memahami teks agama, tentu dibutuhkan seperangkat ilmu pendukung yang memungkinkan seseorang akan mampu memahami teks tersebut dengan benar sesuai jalan yang selama ini telah ditempuh oleh para ulama.  Penguatan metodologi tersebut sangat penting, mengingat  saat ini  sudah banyak muncul pihak yang hanya mengandalkan terjemahana semata, sehingga kering dari konteks yang seharusnya  dipertimbangkan.

Akibat  dari kenyataan tersebut, kemudian banyak muncul kesalahan fatal yang menimpa umat.  Sebagai contoh kongkritnya ialah  banyak orang memahami teks al-Quran misalnya, tetapi tidak mengaitkannya dengan sebab turunnya dan  ilmu bantu lainnya, sehigga berakibat melenceng, meskipun secara teks tidak salah.  Ketika seseorang memahami teks perintah untuk ber amar makruf dan nahi mungkar, maka pemahaman yang saat ini marak d masyarakat ialah bagaimana  al-Quran memerintahkan kita semua untuk memerintahkan mengerjakan yang baik, dan mencegah semua yang mungkar.

Senmentara pada teks lainnya di dalam al-Quran juga ada yang  menginginkan kita agar mengajak  orang lain untuk menuju jalan Tuhan dengan cara yang bijak dan  nasehat yang bagus dan paling banter ya diskusi dengan mereka yang kita ajak agar mereka dapat memahami dan kemudian mengikuti  jalan Tuhan tersebut.  Nah,  tentu dua perintah yang nuansanya berbeda tersebut seharusnya dipahami dengan pendekatan konteksnya, danbukan asal menerjemahkannya, karena kalau hanya menerjemahkan saja, tentu akan berbenturan dengan banyak  hal.

Bagaimana mungkin kita sebagai masyarakat biasa harus melakukan  amar makruf dan nahi mungkar yang membutuhkan sebuah kekuatan “pemaksa”, sedangkan  kondisi setiap orang sangat berbeda beda.    Sehingga dengan begitu sangat tidak mungkin untuk melaksanakannya, terkecuali akan berbenturan dengan keentuan lainnya yang juga sama sama kita hormati dan laksanakan.  Nah, seharusnya  kalau hal tersebut dipahami secara kontekstual, tentu tidak akan ada benturan sebagaimana yang selama ini terjadi.

Artinya untuk ayat yang bterkait dengan perintah yang makruf dan nahi mungkar tersebut diterapkan bagi penguasa yang mempunyai kewenangan yang dipikulkan kepadanya untuk menertibkan, sehingga dia juga mempunyai kekuatan untuk mengikat dan memaksa sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.  Sedangkan ayat untuk mengajak dengan bijak, mauidhah hasanah dan berdialog, dapat dilakukan oleh siapapun, tidak memandang kedudukan dan status serta  peran  dan fungsi tertentu.

Kalau  seperti itu cara penerapan teks teks tersebut tentu akan selalu harmonis dan tidak ada benturan kepentingan serta masalah yang muncul sehgubungan dengan kalim kebenaran yang ternyata tidak sesuai dengan harapan banyak umat.  Hal seperti itu  juga berlaku dalam pemeaaman hadis Nabi yang terkadang saat ini juga tidak memperhatikan tata cara dan metode yang sudah di rumuskan oleh para ulama terdahulu, sehingga pemahamannya tampak bertentangan dengan akal sehat.

Sebagai contoh yang sangat mudah dipahami oleh siapapun ialah ketika  ada sebuah hadis yang secara harfiah menunjukkan bahwa Nabi seolah memerintahkan  kepada umatnya untuk mengerjakan  sesuatu secara prioritas, tetapi sesungguhnya prioritas tersebut terkait dengan konteks dan tidak berdiri sendiri untuksemua keadaan.  Nabi pernah ditanya oleh seorang sahabat beliau mengenai  perbuatan terbaik yang  sebaiknya dikerjakan, dan  saat itu nabi menjawab bahwa  perbuatan terbaik yang sebaiknya dikerjakan ialah melaksanakan shalat pada waktunya.

Namun manakala  pemahaman terhadap hadis tersebut  diterapkan untuk semua konteks, kan terasa janggal, karena  jawaban Nabi tersebut sangat terkait dengan konteks tertentu.  Artinya kalau dalam kondisi sangat gawat, seperti adanya informasi dari para ahli  mengenai akan terjadinya gempa bumi besar, atau gunung akan meletus dalam beberapa saat, atau akan terjadinya tsunami dalam waktu singkat, dan lainnya, tentu kalau kemudian diteriakkan dengan lantang bahwa dalam siatuasi seperti itu, mereka semua harus shalat, tentu akibatnya akan  fatal.

Pada kasus tersebut sesunguhnya ada konteks yang  sangat tepat untuk  dianalogkan dengan situasi gawat tersebut, yakni  jawaban Nabi atas pertanyaan yang relatif sama tetapi dalam konteks lain, dmana Nabi menjawab bahwa perbuatan terbaik pada saat itu ialah menghadapi musuh yang sudah mengancam di hadapan, atau  jabwaban Nabi pada saat yang lain, bahwa  perbuatan terbaik ialah menolong dan membantu serta memberikan makanan kepada  orang orang yang menderita dan kelaparan.

Jadi persoalan pemahaman teks  tersebut sangat urgen bagi  siapapun yang menginginkan sebuah kebenaran.  Nah, saat ini sebagaimana diketahui bahwa kualitas perguruan tinggi secara umum sudah membaik, tetapi  berbabagi kritikan tetap saja masih disuarakan, terutama untuk perguruan tinggi swasta.  Nah, dalam kesempatan  menghadiri wisuda  sarjana di Sekolah Tingi Agaa Islam Khazinatul ulum Blora kali ini saya memang  harus menyampakan krtikan tersebut, mesipun  secara umum, karena saya juga sangat percaya bahwa  pengelolaan dan pemberian metodologi pemahaman terhadap teks yang disampaikan  di STAI Khazinatul ulum tersebut sudah bagus.

Keprihatinan yang terus   menghinggapi saya, sebagai koordinator perguruan tinggi agama Islam  swasta di Jawa Tengah, karena  pada kenyataannya PTAIS belum memberikan sebuah  hasil yang  sesuai dengan harapan.  Hal tersebut dibuktikan dengan  hasil akreditasi program studi yang didapatkan, bahkan hingga saat ini masih ada yang belum bergerak dari kondisi semula.  Pembenahan paa sektor  sumber daya manusia memang menjadi concern  yang saat ini saya lakukan, karena pada kenyataannya masih banyak kekurangan SDM tersebut.

Rupanya memang harus ada sebuah gerakan yang masif untuk “memaksa”  para pengelola PTAI untuk  merekrut tenaga dosen tersebut sesuai dengan standar  yang ditentukan.  Alhamdu lillah saat ini sudah banyak PTAIS, bahkan  mayoritasnya sudah memenuhi standar minimal yang ditetantukan, meskipun dengan  sedikit terpaksa.  Pengankatan dan perekrutan tenaga dosen muda yang memenuhi kualifikasi sudah dilakukan, dan  beberapa ketentuan yang selama ini belum dipenuhi juga  dengan semangat baru untuk memperbaiki pengelolaan, juga sudah diupayakan pemenuhannya.

Namun  banyak hal yang masih diperlukan untuk meningkaka kualitas pembelajaran dan  alumni, karena itu harus ada  greget yang kuat dari para pengelola PTAIS  utnuk tetap serius  dan memberikan  dorongan yang kuat bagi seluruh  SDM nya untuk meningkatkan kualias diri mereka dan sekaligus juga  pengabdiannya.  Dengan begitu secara tidak langsung ita sudah mempersiapkan diri  bagi mahasiswa  dalam menghadapi berbagai tantangan yang bakal muncul di masyarakat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.