KERJASAMA DENGAN SUDAN

Kerjasama Indonesia Sudan dalam bidang pendidikan dan agama sesungguhnya telah dijalin sejak tahun 2001 dan sudah ditandatangani MoU antar kementerian.  Bahkan saat itu ada keinginan untuk membuat universitas yang diberi nama  dengan dua negara, yakni Indonesia dan Sudan, namun karena  menurut aturan tidak memungkinkan, sehingga kemudian hanya  dibuat pusat Sudan untuk pembelajaran bahasa Arab dan  Agama Islam di Malang. Dengan begitu seolah yang melakukan kerjasama dan  dalam actionnya memang hanya  antara  universitas di Sudan dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Dalam perjanjian kerjasama tersebut sesunguhnya telah ditulis bahwa  perjanjian kerja sama tersebut akan selalu dievaluasi setiap dua tahun sekali, dan sekaligus  secara bergantian menjadi tuan rumah.  Namun rupanya  apa yang diinginkan untuk mengevaluasi tersebut tidak pernah dilakukan, sehingga baru saat ini kemudian dilakukan evaluasi dan pembicaraan mengenai keberlangsungan kerjasama tersebut.  Memang  pada tahun 205 telah pernah dilakukan pembahasan oleh para penasehat kerjasama dan telah menghasilkan  point point penting untuk  ditinda lanjuti, namun sebagaimana sebelumnya, sejak saat itu kemudian tidak pernah lagi dibahas.

Wujud kerjasama tersebut memang masih terus berlanjut, yakni dengan pengiriman dosen bahasa Arab yang ditempatkan di UIN  Malang.  Sementara  beberapa pergurua tinggi  Islam lainnya yangtergabung dalam kerjasama tersebut sama sekali tidak merasakan kerjasama tersebut.  Itu merupakan salah satu kekurangan kita dalam al dokumentasi, sehingga  keberadaan dalam kerjasama  Indonesia Sudan tersebut sama sekali tidak  diketahui.

Saat ini semua pergurua tinggi memang dituntut untuk melakukan berbagai terobosan dalam upaya mengokohkan institusi tersebut sebagai lembaga yang  handal dalam  rposes pendidikan.  Salah satu indikasinya ialah  banyak menjalin kerjasama dengan berbagai  universitas, baik di dalam maupun di luar negeri.  Jalinan kerjasama tersebut sudah barang tentu akan membuat universitas  dapat melakukan berbagai hal yang memungkinkan  bangkitnya  ghirah atau semangat keilmuan  bagi  warga kampus.

Kegiatan riset dan seminar serta penulisan ilmiah merupakan salah satu ciri kemajuan pergurua tinggi dan hal tersebut akan   dapat diraih manakala seluruh warga kampus dapat mengakses  berbagai  hal, khususnya terkait dengan  berbabagi fasilitas yang mungkin diakses oleh  kita sebagai mitra dan sebaliknya.  Semakin banyak   mitra dalam kerjasama, tentu akan semakin memungkinkan banyak fasilitas yang dapat diakses.  Dengan begitu  perguruan tinggi akan semakin  dapat menghasilkan  karya lebih banyak dan berkualitas.

Nah, itulah pentingnya sebuah kerjasama yang selama ini dibangun oleh perguruan tinggi.  Atas dasar kesadaran tersebut, saat ini kerjasama yang sudah cukup lama tersebut kemudian ditinjau ulang mengenai  berbagai hal seputar keberlanjutannya, serta cakupan dalam kerjasama tersebut.  Tentu banyak hal yang dapat dilakukan oleh masing masing pihak.  Akan tetapi  hal yang sangat mungkin dilakukan dalam waktu dekan dan diharapka akan terus berlanjut ialah  pertukaran dosen, baik untuk melanjutkan studi maupun untuk memberikan kuliah, sebagaimana yang  hingga saat ini masih berjalan.

Lain daripada itu beberapa hal juga sangat mungkin dilakukan,yakni mengadakan  seminar  bersama, penerbitan jurnal bersama, dan lainnya.  Barangkali memang tidak lantas banyak hal yang  dilakukan, melankan beberapa kegiaan yang  sangat mungkin dan  dapat dilaksanakan dalam waktu dekat serta berlanjut atau tidak mandek.  Secara riil pergurua tinggi Islam di Indonesia sangat membutuhkan dosen bahasa Arab yang berasal dari negeri yang  secara resmi menggunakan bahasa Arab, sebagaimana  pentingnya  PTAI membutuhkan dosen bahasa Inggris dari negara yang berbasis bahasa Inggris.

Nah,  dalam kerjasama dengan  universitas di Sudan tersebut, tentu dapat dilanjutkan  dengan pengiriman dosen dari universitas Sudan ke PTAIN di Indonesia untuk memberikan dorongan yang lebih bagi para mahasiswa dan juga dosen dalam meningkatkan bahasa Arab.  Namun demikian kiranya juga belum cukup hanya dengan  mendatangkan dosen bahasa Arab semata, tanpa mendirikan sebuah pusat ataupun lingkungan yang akrab dengan berbahasa Arab.  Jadi intinya kalau memang  berkinginan untuk menciptakan  ghirah berbahasa Arab cepat teralisasi, tentu dibutuhkan sebuah lingkungan dan mendukung.

Kita tidak memungkiri bahwa  kerjasama dengan  universitas di Sudan tidak  sebesar dan sebanyak kerjasama dengan negara negara di Eropa atau Asia, Australia dan lainnya.  Asumsi awal bahwa negara Sudan dan perguruan tingginya masih  belum semaju negara negara lain tetap ada dan menjadi salah satu penyebab kurangnya  minat  perguruan tinggi untuk menjalin kerjasama dengan universitas di udan.  Mungkin asumsi tersebut  dalam beberapa aspek smapai saat ini  memang benar adanya, tetapi dalam kaitannya dengan bahasa Arab, harus diakui ahwa  bahasa Arab  di Sudan  dinilai lebi bagus  ketimbang bahasa Arab di Mesir misalnya.

Karena itu untuk kepentingan pengembangan bahasa Arab, melakukan kerjasama dengan  beberapa universitas di Sudan memang tepat dan menguntungkan bagi kedua belah pihak.  Artinya bagi perguruan tinggi di Indonesia, akan dapat memanfaatkan dosen bahasa Arab tersebut secara maksimal, dan sekaligus pengetahuan lannya yang terkait dengan keislaman, dan bagi  perguruan tinggi di Sudan juga dapat mendapatkan keuntungan dapat memberikan pengalaman yang lain kepada dosennya  khususnya pada saat mereka  mengikuti berbagai kegiatan keilmuan tingkat inernasional yang diselenggarakan di Indonesia.

Lain daripada itu juga  para ahli berbagai disiplin keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi di Indonesia, juga dapat mengirimkan dosennya ke beberapa universitas di Sudan untuk memberikan  kemampuannya tersebut, khususnya  dalam bidang yang dibutuhkan oleh  masyarakat Sudan saat ini.  Sebagaimana kita tahu bahwa  di Sudan banyak modal sangat besar dan potensial untuk dikembangkan dan hingga saat ini belum disentuh dan dikembangkan.  Untuk itu dibutuhkan  dedikasi dari dosen  kita untuk  emnyumbagkan tenaga dan pikirannya untuk  kemajuan bersama.

Memang untuk  IAIN Walisongo Semarang sebagai perguruan tinggi yang belum membka program program studi saintek, tentu belum  banyak mempnyai tenaga ahli dalam bidang tersebut, meskipun tetap saja  ada dosen yang mumpni dalam bidang tersebut.  Cuma persoalannya ialah  sangat terbatas dan  amsih dibutuhkan  sendiri oleh IAIN, sehingga  kemungkinan  pengiriman dosen ke Sudan ialah dalam upaya untuk studi lanjut dan sekaligus memperdalam bahasa Arab.

Hal penting saat ini yang  dapat dilakukan oleh IAIN Walisongo ialah  bagaimana  tetap mempertahankan jalinan kerjasama tersebut dengan melaksanakan kegiatan yang memungkinkan, yakni  seperti penyelenggaraan seminar internasional bersama, dan  saling mengundang perwakilan dosen untuk memberikan kuliah umum pada masing masing perguruan tinggi.  Mungkin juga dilakukan penerbitan dan  publikasi jurnal secara bersama.  Selebihnya beberapa point sebagaimana telah disepakati, akan dilakukan sesuai dengan kondisi.

Kita memang tidak ingin bahwa kerjasama kali ini akan  menuai nasib sebagaima yang sudah sudah, tetapi kerjasma kali ini memang benar benar serius dan akan ditindak lanjuti secara riil.  Sangat mungkin kita akan  mengundang  dosen bahasa Arab dari salah satu universitas mitra untuk memperkuat pembelajaran bahasa Arab di kampus. Dan  melibatkan serta mengundang  ahli dari universitas mitra tersebut untuk  menjadi speker dalam seminar internasional yang kita selenggarakan.  Semoga  kita mampu melestarikan kerjasama etrsebut dengan bentuk kegiatan yang nyata dapat dilakukan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.