ALHAMDU LILLAH SUDAH SAMPAI DI SUDAN

Sebagaimana negara lainnya di daratan Afrika, Sudan juga bersuhu panas saat ini, tetapi masih wajar, bahkan  panasnya sama dengan di Indonesia, khususnya Semarang, yakni sekitar 33 derajat.  Konon cerianya di Sudan dan di kota Khartoum ini suhunya terkadang hampir mencapai 50 derajat bahkan bisa lebih, sehingga bagi yang tidak terbiasa, seakan terbakar.  Ketika menginjakkan kaki di Sudan, saya memang tidak terlalu kepanasan karena  menurut saya  sama dengan di negara kita, Cuma yang membedakan ialah kondisi tanahnya yang sering menaburkan debu yang sangat banyak, sehingga kalau kebetulan pas ada di luar bangunan, kita harus  pandai menjaga kesehatan, terutama dari taburan debu tersebut.

Namun demikian sesungguhnya negara Sudan, khususnya di khartoum ada banyak modal yang dapat dikembangkan menjadi sebuah keuntungan besar.  Artinya meskipun  Sudan adalah sebuah negara di daratan Afrika, namun ada  sungai Nil yang tidaka pernah kering yang membentang sepanjang negara tersebut.  Bahkan di Khartoum sendiri bertemu dua sungai besar yang kemudian terus mengalirkan  airnya hinga ke negara Mesir.  Karena  ada pertemuan dua sungai besar tersebut, di sini juga dikenal sebagai daerah Nilain atau dua nil, dan kebetulan ada pula  sebuah universitas yang dinamakan juga dengan nilain.

Nah, keberradaan sungai nil tersebut sampai saat ini belum dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat memakmurkan rakyat, yakni dengan dibuat rekayasa, seperti  pemanfaatan lahan di sepanjang sungai untuk perikanan tawar yang  hal tersebut sesungguhnya tidak terlalu memerlukan teknologi tinggi.  Air yang selalu melimpah tersebut saat ini hanya dibiarkan saja mengalir dan  sama sekali kurang memberikan manfaat bagi rakyat Sudan.

Disamping itu air tersebut juga belum termanfaatkan secara maksimal untuk pertanian, dan kepentingan lainnya.  Memang ada  pertanian di Sudan tetapi belum memanfaatkan secara maksimal air sungai nil tersebut sehingga Sudan belum dapat berbuat banyak dalam bidang pertanian tersebut.  Kondisi tersebut, yakni  belum adanya pemanfaatan sungai untuk produksi ikan segar, maka  kita harus mengahdpi kenyataan bahwa harga  ikan di Sudan khususnya di Khartoum menjadi sangat mahal.

Ternyata kita akhirnya juga mengetahui bahwa  kebanyakan masyarakat Sudan tidak menyuaki konsumsi ikan, dan mereka lebi menyukai konsumsi daging yang memang cukup tersedia di Sudan tersebut.  Hanya saja juga dapat disapiakan bahwa daging di Sudan tersebut berasal dari  hewan peliharaan para nomaden yang terus berpindah dengan ribuan hewan ternak mereka.  Artinya belum ada  penggarapan khusus untuk membuat peternakan besar dalam upaya memproduksi daging dan sekaligus  dapat dijaga kesehatannya.

Demikian juga terpikir oleh  kita bahwa  suber energi matahari sungguh sangat luar biasa untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.  Bagi mereka yang ahli dalam bdagnya tentu akan dapat menggunakan sinar matahari tersebut untuk energi yang manfaatnya sangat besar, seperti untuk penerangan dan keperluan elektronik lainnya.  Rupanya memang secara umum modal modal yang tersedia  di Sudan ini belum dimanfaatkan secara maksimal,  sehingga belum dapat memakmurkan rakyatnya dengan lebih baik.

Pada hari pertama  saya berada di Khartoum, secara informal saya sudah bertemu dengan beberapa tokoh di Sudan, yakni  pimpinan perguruan tinggi dan sore harinya  kami bersama dengan beberapa rektor lainnya diundang oleh duta besar Indonesia di Khartoum Sudan untuk  sekedar  berdiskusi ringan dan dijamu makan malam.  Ternyata apa yang pertama kalisaya pikirkan tersebut juga menjadi perhatian dubes, yakni bagaimana  kita dapat bekerjasama dengan pemerintah Sudan secara umum untuk memberikan sesuatu yang nantinya dapat  membuat masyarakat Sudan  lebih baik.

Selama ini  beberapa perguruan tinggi  keagamaan di negara kita memang sudah menjalin kerjasama  dengan  beberapa perguruan tinggi di Khartoum, bahkan penandatangan antara kementerian pendidikan dan riset di Khartoum dengan  kementerian agama  Indonesia sudah  terjalin dan  tindaklanjutnya juga sudah  dilakukan, yakni dengan membentuk perguruan tinggi yang memakai dua nama negara yakni Indonesia dan Sudan.  Hanya saja  karena  aturan yang tidak memperbolehkan perguruan tingi negeri menggunaan dua nama  negara, maka kemudian  dua universitas yang sudah diresmikan oleh wakil presiden tersebut harus ditiadakan.

Atas dasar hal tersebut kemudian  kedua belah pihak tetap menginginkan agar kerjasama tersebut tetap dilanjutkan dengan membentuk semacam markaz pembelajaran bahasa Arab yang sampai saat ini masih ada, yakni di kampus UIN Maliki Malang.  Peemerintah Sudan terus memberikan  bantuan  dosen bahasa Arab ke markaz tersebut yang dilalukan oleh beberapa universitas di Khartoum.  Nah,  nantinya kita juga dapat  mengembangkan kerjasama tersebut untuk saling memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, seperti beberapa universitas di Indonesia mengirimkan tenaga yang ahli dan dbutuhkan untuk mengembangkan teknologi di Sudan, dan lainnya.

Ke depan kita juga dapat terus mengembangkan kerjasama tersebut khususnya dalam bidang pendidikan, dengan saling mengirimkan  tenaga dosen maupn mahasswa.  Saat ini sudah  banyak anak anak Sudan yang studi di beberapa universitas di Indonesia dengan biaya dari pemerintah Indonesia.  Demikian juga sudah cukup banyak anak anak Indonesia yang studi di Sudan dengan biaya siswa dari pemerintah Sudan.  Kondisi seperti itu memang harus terus disupport dan diperluas lagi dengan saling mengirimkan tenaga ahli, terutama yang sangat mendesak dan dibutuhkan.

Hari ini nanti rencananya kami akan bertemu dengan  Menteri pendidikan dan riset ilmiah Sudan untuk membicarakan berbagai masalah pendidikan dan riset yang dapat dilakukan oleh kedua belah pihak.  Artinya kalau selama ini kerjasama  telah dilakukan dan dalam kerjasama tersebut ada kalusul bahwa setiap dua tahun sekali akan dievaluasi, tetapi dalam kenyataannnya sudah berahun tahun belum terwjud evaluasi tersebut, maka saat inilah kesempatan untuk elakukan evaluasi dan kemudian merencanakan untuk menindak lanjuti kerja sama tersebut  dengan lebih bagus, dan menyangkut banyak hal.

Tentu diharapkan bahwa dalam pembicaraan tersebut, dimana kami  di samping  beberapa rektor, juga ada perwakilan kementerian agama, tentunya akan sangat  mekungkinkan untuk melauka  berbagai keputusan dan kebijakan yang menyangkut masa depan kerja sama tersebut.  Pertanyaannya ialah apakah kerjasama  yang selama ini sudah berjalan, akan diakhiri, ataukah justru akan terus dilanjutkan dan bahkan ditingkatkan.  Semua kemungkinan  tersebut  masih mungkin dilaukan.  Hanya saja tentu ada keinginan esar dari kita dan tentunya juga pihak pemerintah Sudan untuk terus melanjutkan dan megembangkan lagi kerja sama yang sudah ada.

Beberapa gambaran sebagaimana yang telah saya sapaikan di atas tentunya mendasari kia untuk  menruskan dan mengembangkan lebihluas kerja sama tersebut.  Mungkin pembentukan markaz sebagaimana yang telah ada di UIN Maliki Malang juga  dapat dibentuk di beberapa perguruan tinggi lainnya.  Kita juga mengundang para calon mahasiswa Sudan untuk studi di universitas di Indonesia dengan pembiayaan pemerintah Indonesia.  Semuanya itu sangat memungkinkan untuk dilakukan.  Tentu disamping  pertukaran tenaga ahli atau  pengiriman tenaga dosen dari masing masing universitas sesuai dengan keahlian masing dan dibutuhkan oleh  universitars mitra.

Kita sangat berharap mudah mudahan keinginan bagus tersebut dapat terwujud  dengan pertemuan dan pembicaraan yang hari ni insyaallah akan dilaksanakan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.