MENGHILANGKAN KERAGUAN

Kita sering menemukan orang yang mempunai sifat peragu dan tidak tegas dalam mengambil tindakan atau keputusan.  Akibatnya  banyak hal yang terbengkelai dan tidak terselesaikan, bahkan kalau orang yang mempunyai sifat peragu tersebut adalah seorang pemimpin tinggi, maka akan banyak hal yang seharusnya menguntungkan banyak orang menjadi terabaikan.  Tentu ragu itu tidak sama dengan teliti dan cermat, karena kalau teliti dan cermat itu sebuah sifat bijak dan tidak grusa grusu atau tidak  serampangan dalam mengambil keputusan.

Boleh jadi ragu itu memang sifat bawaan seseorang, tetapi sesungguhnya  ragu tersebut dapat dihilangkan dengan  cara  latihan dan perasaan percaya diri yang penuh.  Nah, persoalannya ialah kenapa seseorang sulit untuk percaya diri sehingga akan  kokoh dalam keputusan dan cepat serta tepat dalam mengambil langkah stategis.  Banyak hal yang mempengaruhinya, diantaranya ialah  disebabkan kurangnya pengetahuan pada diri seseorang tersebut, atau takut salah dalam mengambil keputusan, dan lainnya.

Ragu dalam perspektif  fiqh biasanya dikatakan sebagai was was, dan biasanya pula dikaitkan dengan  kekurang mantapan seseorang yang melaksanakan sebuah  kegiatan ritual, seperti shalat, berwudlu,  atau lainnya.  Memang kita  sering menjumpai ada orang yang tidak mantap dalam mengambil wudlu misalnya, sehingga dia harus  membasuh mukanya berkali kali, meskipun  Islam hanya mensunnahkan sebanyak tiga kali saja.  Dalam kondisi was was seperti itu terkadang seseorang dapat membasuk wajahnya sampai lebih dari tiga puluh kali.

Demikian pula kita juga sering menjumpai ada orang yang menjalankan shalat lebih dari 4 rakaat, padahal maksmal rakaat shalat adalah 4 saja.  Itu  bukannya disengaja, melainkan semata mata hanya disebabkan keraguan saja yang menghinggapi diri seseorang sehingga dia harus menambah rakaat lagi.  Secara tradisional ada obat yang paling mujarab untuk menghentikan was was tersebut ialah dengan cara langsung menghentikannya melalui tindakan, seeprti kalau orang yang was was tersebut sedang berwudlu,  maka  saat membasuh wajahnya, langsung dihentikan dengan di tepuk atau sejenisnya.

Demikian juga saat kita melihat seseorang sudah  melaksanakan shalat 4 rakaat dan saat akan berdiri lagi, maka saat itu pula dicegah dan diingatkan sehingga hal tersebut tidak jadi dilakukan.  Konon cara seperti itu akan sangat ampuh untuk menghentikan was was yang  ada pada seseorang.  Namun dari dalam diri seseorang sesungguhnya juga adapat diupayakan untuk menghentikan was was dan keraguan tersebut, yakni dengan berkonsentrasi secara penuh dalam menjalankan shalat misalnya, dan juga  harus diyakinkan dalam diri seseorang bahwa membasuh wajah cukuplah  dengan  beberapa basuhan saja.

Namun demikian kalau sifat ragu tersebut terus mengganggu dan  tidak pernah mantap dalam setiap langkah yang ditempuhnya, maka  harus ada cara lain yang diusahakan, yakni membekali diri dengan ketrampilan tertentu, sehingga pada akhirnya dia dapat percaya diri dengan kemampuannya dan dapat menunjukkan kepada pihak lain bahwa dirinya  mampu.  Dengan  kemampuan diri tersebut sedikit demi sedkit seseorang akan dapat menghlangkan keraguan yang melanda dirinya.

Secara  umum kita memang akan sangat terganggu bilamana  sifat ragu tersebut terus menggelayuti dan menguasai diri kita, sebab  banyak hal yang harus dikerjakan dan diputuskan dengan segera dan mantap.  Sifat ragu tersebut tentu akan mengganggu keinginan kita untuk maju dan meraih keinginan besar yang kita cita citakan.  Ragu juga akan menghancurkan cita cita kita  serta dapat merusak masa depan kita.  Untuk itu ragu tersebut harus dipangkas sehingga tidak akan muncul kembali dalam kehidupan kita.

Kita dapat membayangkan bagaimana kalau sifat ragu tersebut menghinggapi kita,  sudah barang tentu apapun yang sudah kita rencakan akan menjadi berantakan, sebagai contoh mudahnya ialah bagaimana kita saat akan menjalankan  ibadah umrah misalnya, tetapi kemudian kita ragu jangan jangan nanti pesawatnya  jatuh, atau jangan jangan virus Mers akan menjangkiti kitaq dan lainnya, tentu hal tersebut akan menyusahkan kita, dan pada akhirnya  sangat mungkin bahwa ibadah kita tidak akan jadi kita lakanakan.

Kalau misalnya akan membuka usaha  untuk menopang ekonomi keluarga, tetapi kemudian muncul keraguan, kalau kalau usahanya tersebut gagal dan modal yang digunakan akan hilang, atau  ragu jangan jangan produk yang dihasilkan tidak akan diminati oleh orang dan lainnya, tentu hal tersebut akan sangat menggangu usaha yang sedang dirintis, dan bahkan sangat mungkin benar benar gagal, karena ketidak percayaan diri yang muncul dalam diri seseorang tersebut.

Dalam kaitannya  dengan persoalan ragu ini, Islam juga  dengan tegas menyampaikan bahwa keraguan itu harus ditinggalkan menuju kemantapan.  Dalam ungkapan bahasa Arab sangat dikenal dengan  “ Da’ ma yaribuk ila ma la yaribuk”, yang tentu maksudanya ialah tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu dan ambillah dan beralihlah kepada sesuatu yang tidak meragukan.  Tentu pernyataan tersebut sangat  tegas dan singkat, tetapi mempunyai makna yang sangat dalam dan luas.

Artinya kalau seseorang ingin maju dan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupannya, maka sayarat utamanya ialah dia mampu menghilangkan atau meninggalkan keraguannya.  Segala sesuatu memerlukan keputusan yang cepat dan tepat, dan itu membutuhkan  ketrampilan  dan prediksi yang tajam.  Dan sifat ragu hanya akan menggangu dan menggagalkan semua keinginan besar yang dirancang.

Orang orang yang mendapatkan kesuksesan bukanlah orang peragu tetapi cermat dalam memprediksi dan membaca tanda zaman.  Kalau ada orang sukses dan dianggap sebagai peragu, maka penilaian tersebut tentu yang perlu dipertanyakan, sebab peragu tidak mungkin akan berhasil dalam merencanakan apapun.

Para nabi dan rasul yang sukses dalam misi mereka tentu dibantu oleh sifat yang tegas dan bijak dalam memutuskan dan membuat rencana.  Tidak ada satupun diantara mereka yang ragu ragu.  Mereka  bahkan mempunyai sifat tegas, tetapi santun dan  amanah, cerdas, serta jujur.  Sifat sifat tersebut  sudah pasti bertolak belakang dengan sifat ragu yang biasanya dimiliki oleh para pecundang yang selalu gagal dalam usaha yang dibangunnya.

Kita memang bukanlah Nabi dan rasu;, tetapi kalau kita mampu memiliki sifat sifat yang melekat pada diri mereka, kita juga apat sukses dalam menjalankan misi yang kita bawa dan mewujudkan visi yang kita canangkan.  Bahkan dengan ketegasan dan kecerdasan serta kebijakan, kita akan mampu mengenggam dunia atau setidaknya dapat menguasai dunia ini.  Ketegasan dan kecerdasan yang dipadu dengan kebijakan, sudah barang pasti akan menghasilkan kesuksesan luar biasa. Kalaupun  kita mengalami kegagalan dalam sebuah usaha, kita akan dengan cepat  bangkit dan mendapatkan sesuatu yang kita impikan.

Jadi  kalau kita ingin sukses dan mendapatkan apa yang kita inginkan, syarat utamanya ialah tidak harus mampu menghilangkan sifat ragu yang ada pada diri kita.  Selanjutnya kita harus terus  berusaha menambah pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk usaha yang kita rintis tersebut,  dan yang tidak boleh dilupakan iala  kejujuran harus terus dijunjung tinggi.  Itulah sayarat mutlak seseorang  mendapatkan kesuksesan.  Semoga kita semua dapat mendapatkannya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.