MEMBEBASKAN DIRI DARI NAFSU

Lazimnya perkataan nafsu memang berkonotasi buruk, karena biasanya  nafsu tersebut dihubungkan sengan sebuah keinginan besar untuk mendapatkan sesuatu  sehingga harus menabrak aturan yang ada.  Namun sesungguhnya di sana ada nafsu yang bagus yang dalam istilah keaqgamaan disebut dengan nafsu al-muthmainnah atau nafsu ataupun jiwa yang tenang.  Memang kita tidak dapat keluar dari istilah yang sduah terbiasa dipahami oleh masyarakat banyak bahwa nafsu itu identik dengan  sesuatu yang negatif, seperti nafsu ingin mengusai sesuatu, nafsu ingin menjadi sesuatu, nafsu ingin mendapatkan sesuatu dan lainnya yang semua itu seolah dipaksakan, termasuk kalau harus melanggar peraturan yang ada.

Kita memang menyaksikan betapa banyaknya keinginan seseorang untuk meraih sesuatu dengan berbagai cara, dan terkadang harus menghalalkan segala cara demi  meraihnya.  Nah,  itulah nafsu yang dimaksudkan,  sehingga kalau ada orang yang misalnya  mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, tetapi keinginannya tersebut sangat kuat,  sehingga dia harus melakukan berbagai hal yang tidak wajar demi mendapatkan kursi wakil rakyat tersebut.  Salah satu hal yang dlakukan ialah dengan cara curang, atau dengan mempraktekan poltik uang atau lainnya.  Demikian itulah yang disebut dengan nafsu.

Demikian juga ketika ada orang berkinginan untuk menduduki sebuah jabatan tertentu, dan melihat bahwa peluangnya cukup berat, lalu ia tetap memaksakan diri dengan melakukan berbagai usaha yang tidak wajar, seeprti harus menyuap dan melakukan kecurangan lainnya dengan bekerja sama  dengan pihak pihak lain.  Dengan bahasa lainnya dia sangat ngoyo untuk mendapatkan jabatan tersebut, dan itulah nafsu yangkemudian  diketahui oleh masyarakat sebagai sesuatu yang negatif.

Termasuk dalam kategori nafsu ialah kalau ada seseorang  sudah kalah dalam berkompetisi, lalu tetap mengupayakan cara tidak normal, demi memenangkan diri dalam kompetisi tersebut.  Keinginan yang sangat besar untuk mendapatkan sesuatu tersebut kemudian dibarengi dengan langkah yang tidak sesuai dengan aturan main yang ada, atau melalui  prosesdur yang ada, tetapi tampak dipaksakan, karena secara kasat mata  sesungguhnya  dia sudah tidak mungkin lagi mendapatkan sesuatu tersebut.  Nah,  berdasarkan pertyimbangan tersebut, maka nafsu memang berkonotasi buruk dan karena itu sebaiknya dihindari leh mereka yang bijak.

Namun sesungguhnya secara  hakiki nafsu itu bersifat netral, karena dimiliki oleh semua makhluk yang bernama manusia, termasuk makhluk lainnya.  Hanya  saja  pengendalian terhadap nafsu tersebut kemudian menjadi persoalan tersendiri.  Artinya kalau seseorang dapat mengendalikan diri sampai batas bats yang diperbolehkan, maka nafsu tersebut akan dapat dkendalikan dan kemudian  bahkan menjadi bermanfaat untuk kebaikan, tetapi sebaliknya, kalau  nafsu tersebut tidak dapat dikontrol, maka akan membawa kepada kerusakan dan keonaran.

Sebagai contoh bahwa semuaorang pasti mempunyai nafsu untuk mendapatkan sesuatu atau mempunyai nafsu biologis untuk senang dan  sayang kepada lawan jenis.  Tetapi kalau  nafsu tersebut dapat dikendalikan, dan kemudian berusaha mendapatkan sesuatu yang diinginkannya dengan cara yang wajar dan tidak ngoyoworo serta ngoyo, tentu hal tersebut menjadi baik.  Apalagi kalau niat untuk mendapatkan sesuatu tersebt didasari oleh keinginannya untuk engabdikan diri dan berbakti untuk kesejahteraan umat manusia secara umum, tentu akan menjadi sebuah kebaikan.

Dalam hal ini misalnya ada orang berkeinginan untuk menjadi dan meraih sebuah kedudukan sebagai kepala daerah, dan niatnya tersebut didasari oleh keinginnya untuk berbakti mengembangkan daerah dan mensejahterakan masyarakat yang selama ini  dianggapnya kurang sejahtera, lalu dia berusaha  dengan jalan yang benar dan tidak melanggar aturan main, maka keinginan dan nafsu tersebut  adalah bagus dan justru  terpuji.

Demikian juga kalau ada seseorang yang berkeinginan untuk menyalurkan nafsu biologisnya dan kemudian  dia melakukannya dengan benar, semisal menikah dan kemudian disertai niat untuk mendapatkan keturunan agar dapat ikut menyiarkan Islam serta mengembangkannya, tentu hal tersebut  adalah bagus dan terpuji. Namun manakala  keingian keinginan tersebut ditempuh melalui jalan pintas dan tidak sesuai dengan aturan main yang benar, tentu justru akan menjadi nafs yang buruk.

Sebagai contohnya ialah kalau seseorang berkeinginan untuk  mendapatkan jabatan sebagai kepala daerah,  apalagi diserta niat untuk menguasai dan  mendapatkan keuntungan  seara pribadi, kemudian melakukan usaha usaha tidak normal demi mendapatkan jabatan tersebut, tentu nafsu tersebut menjadi buruk.  Dan juga ketika seseorang ingin menyalurkan nfsu biologisnya  dan tidak sabar lalu melakukannya dengan menabrak aturan yang ada tentu nafsu tersebut menjadi sangat buruk dan bahkan  dapaat merugikan pihka lain.

Intinya secara  normal nafsu itu tidak mesti berkonotasi buruk, sebab ada nafsu yang  bagus, yakni  nafsu yang menuju kebaikan, seperti ingin membangun rumah ibadah, tempat belajar dan lainnya, tetapi memang harus kita  pahami bahwa  sebagian besar perkataan nafsu memang dipernukkan pada hal hal yang jelek, seeprti nafsu ingin menguasai, nafsu ingin mendapatkan keuntungan secara tidak benar, nafsu ingin menyalurkan biologisnya secara tidak benar dan lainnya.  Karena itu ita juga tidak heran manakala  kata nafsu tersebut pada akhirnya  hampir identik dengan  sesuatu yang negatif.

Persoalannya  ialah bagaimana  kita dapat menghindarkan diri atau membebaskan diri dari jeratan nafs yang negatif tersebut.  Tentu persoalan yang cukup berat, karena kecenderungan manusia biasanya  ingin  menyimpang dan mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas.  Sudah barang tentu di sana ada cara bagaimana kita membebaskan diri dari jeratan nafsu yang jelek tersebut, yang diantaranya ialah:

  1. Membekali diri dengan keimanan yang tebal, sehingga tidak mudah  tergoda atau terjerumus pada hal hal yang  bertolak belakang dengan identitas iman tersebut.  Mungkin ada yang emandang bahwa  cara ini terlalu klasik, tetapi kita harus percaya bahwa iman memang menjadi benteng yang sangat kokoh dalam membendung   apapun yang akan merasuk dan menerjang kita. Tentu pengertian iman bukan hanya sekedar pengakuan dalam bibir semata, melainkan justru pemahaman iman yang benar dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
  2. Dzikir atau selalu ingat  kepada Allah swt.  Barangkali juga ada sebagian orang yang berpendapat lain, namun kita juga harus yakin bahwa dengan dzikir yang benar dan dihayati secara seksama, tentu akan dapat  membimbing kita kepada jalan yang benar dan tidal mudah terjerumus  atau tergoda oleh berbagai rayuan yang  sangat menggiurkan.  Dzikir juga dapat menjadi perisai yang sangat kokoh bagi kita untuk melupakan dan meninggalkan Tuhan, karena itu siapapun yang berdawamkan dzikir, oarng tersebut akan mampu mengendalikan diri dari segala hal buruk yang biasanya menimpa umat manusia.
  3. Beramal baik. Perilaku positf, baik yang  dengan jelas ada tuntunannya di ajaran syariat, maupun yang didapatkan dari perenungan secara mendalam, insyaallah akan dapat  menjadi benteng yang cukup kuat untuk  tidak terperangkap pada  kemaksiatan.

Memang tentu masih banyak hal yang dapat  menghindarkan diri kita dari jerratan nafsu yang cenderung jelek tersebut, akan tetapi dengan tiga hal tersebut,  kita  sudah dapat menyelamatkan diri kita dari berbagai hal yang  membahayakan kita, yakni penguasaan nafsu dalam diri kita.  Kita berdoa  semoga kita mampu menghindarkan diri dari jeratan nafsu buruk tersebut dan  diberikan kemampan untuk mengendalikan diri sehingga kita akan selamat, di dunia dan juga di akhirat.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.