MEMBERSIHKAN INSTITUSI

Keinginan beberapa institusi untuk sungguh sungguh dalam membersihkan diri dari persoalan yang selama ini  menggerogoti dan membuat masyarakat muak, perlu diapresiasi dan didukung oleh semua pihak.  Mungkin pada awalnya  hal tersebut hanya dianggap sebagai upaya mencari sensasi atau sekedar pencitraan semata,  sehingga harus ada korban, namun setelah itu kembali sebagaiamana semula.  Sambutan masyarapat secara umum pun menjadi sangat biasa dan sama sekali tidak terkejut dengan upaya sesasional tersebut.

Namun seiring dengan terus menerusnya usaha yang dilakukan oleh institusi tersebut dan  sudah memakan korban, maka kita  mulai  memperhatikan keseriusannya.  Beberapa  kejadian, baik yang dilansir oleh media maupun yang tidak, cukup memberikan  harapan bagi masyarakat bahwa usaha yang dilakukan oleh institusi tersebut bukan lagi main main dan mencari sensai serta sekedar pencitraan, melainkan  sudah merupakan sebuah kesadaran yang kemudian ditindak lanjuti dengan usaha nyata.

Persoalannya ialah apakah  seluruh anggota dan jajaran ke bawahnya sudah menyadari persoalan tersebut dan kemudian mendukung kebijakan bai tersebut?.  Jawabannya tentu masih memerlukan waktu dan pembuktian di lapangan.  Untuk saat ini mungkin dapat dikatakan sebagai sangat  bagus dan  semua pihak berusaha untuk melakukan sebagaimana kebijakan yang sudah ditempuh, meskipun masih ada satu dua yang tetap saja berani melakukan perbuatan yang sudah dipraktekkan selama ini.  Gebrakan yang dilakukan dianggap sebagaimana  yang terjadi di masa yang lalu, sehingga dianggap sebagai main main saja.

Kita tentu dapat melihat  kebijakan yang diambil oleh gubernur Jateng yang  misalnya dalam peneriomaan calon PNS beberapa waktu yang lalu, sangat tegas dan melakukan pengawasan secara langsung.  Saat menemui hal hal yang cukup janggal, dia langusng “marah” dan  mengancam akan memberikan sanksi berat bagi siapapun yang  tidak emmatuhi aturan main dan tidak transparan dalam melayani masyarakat.

Setelah itu mungkin banyak masyarakat yang tidak mengetahui sepakl terjang gubernur dalam melakukan upaya perbaikan, karena  tidak selalu diikuti oleh pemberitaan di media.  Namun yang jelas beberapa gebrakan yang dilakukan gubernur yang satu ini cukup bagus, seperti dalam promosi jabatan sudah dilakukan secara bagus dan tidak asal promosi sebagaimana  tradisi selama ini, yakni urut kepangkatan, melainkan juga  dituntut untuk bukti kinerja dan melalui seleksi yang cukup baik, termasuk dalam hal ini ialah perubahan dalam system pemilihan komisaris bank jateng.

Nah,  dalam kurun waktu tersebut  kemudian baru kemudian  langkah gubernur tersebut diekspos olerh media saat beliau marah marah di jembatan timbang saat menyaksikan praktek pungli di sana.  Tentu berita tersebut menjadi heboh dan menyadarkan kepada masyarakat bahwa  gebrakan untuk perbaikan yang dilakukan oleh gubernur tersebut memang sangat serius.

Masih dalam kaitannya dengan persoalan ini, bersama dengan polda Jawa Tengah, kemudian juga telah menangkap beberapa oknum polisi yang melakukan praktek pungli dan suap dengan memanfaatkan jembatan Comal yang rusak.  Itu semua sungguh sangat memberikan harapan bagi masyarakat bahwa  penyakit masyarakat yang sudah sangat akit tersebut pada saatnya akan dapat dihilangkan.  Belum lagi institusi kepolisia yang juga sudah mulai  menggeliat dalam masalah bersih bersih ini.

Kapolri sendiri sudah sangat berkeinginan bahwa seluruh anggotanya  dapat menjalankan tuas dan fungsinya dengan benar dan  tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan semua pihak.  Mungkin sangat sulit  untuk institusi ini melakukan nya, tetapi komitmen yang tinggi dan diikuti oleh semua jajaran sampai yang paling bawah, tentu akan  membuat kondisi semakin baik.  Contoh kongkritnya ialah bagaimana poltabes semarang telah melakukan tindakan penangkapan beberapa oknum polisi yang  melakukan  pungli di beberapa pos polisi, seperti ebberapa waktu lalu di pos kali banteng, dan sekarang di pos polisi pasar Kambing.

Demikian juga kapolri sendiri  baru baru ini telah melakukan MoU dengan KPK  dalam menjalankan tugasnya.  Bahkan ketua KPK Abraham shamad telah memberikan  semacam pencerhan kepada jajaran polri mengenai definisi  gratifikasi yang masih marak di kalangan masyarakat, terutama para pejabat dan polri.  Namun seiring dengan terus menerusnya usaha yang dilakukan, menurut kapolri, sudah banyak diantara para perwira polisi yang dalam  realisasinya sudah  dapat mengerti tentang gratifikasi tersebut, terbukti pada saat menyelenggarakan  pesta perkawinan anaknya, telah mencantumkan tulisan “tidak menerima sumbangan” dalam surat undangannya.

Tentu bersih bersih tersebut tidak hanya dilakukan di beberapa instansi yang saya sebutkan tadi, melainkan juga  sudah banyak lain instansi  lainnya yang sudah melakukan penyadaran bersama dan kemudian berkomitmen untuk memperbaiki diri serta melakukan gerakan untuk  memberikan sanksi yang berat dan maksimal terhadap semua pelanggaran yang terjadi.

Sungguhpun demikian, bukan berarti persoalan korup[si dan suap serta  hal hal sejenis sudah  hilang, bahkan mungkin untuk sekedar berkurang saja   masih sulit didapatkan.  Itu semua disebabkan penyakit tersebut sudah mendarah daging di budaya masyarakat kita.  Persoalan suap menyuap, baik yang dalam tingkatan kakap, maupun dalam kelas teri, masih saja terus terjadi di hamper seluruh kementerian dan lembaga, meskipun usaha untuk memberantasnya sudah  cukup serius dilakukan.

Kita juga sudah seringkali memberikan solusi  mengenai cara mengatasi hal tersebut agar efektif, yakni melalui pemberian hukuman maksimal dan juga  penyitaan seluruh hartanya, baik yang dihasilkan dari korupsi maupun yang belum diketahui, sebagai  hukuman denda atas perbuatan yang telah dilakukan.  Namun  masukan tersebut selalu saja mental di beberapa level dengan berbagai alasan yang dicari cari.  Termasuk juga saat  diajukan usulan perubahan  aturan atau undang undang yang  memungkinkan hukuman mati tanpa persyaratan yang terlalu  sulit, sebagaimana  saat ini.

Bahkan tragisnya ternyata  pihak yang seharusnya membuat peraturan perundangan tersebut duiubah menjadi lebih baik, malah melakukan praktek korupsi sendiri, meskipun bukan  institusinya, tetapi banyak anggota yang menjadi oknum tersangka  dan calon tersangka, bahkan sudah banyak ditelah menjalani persidangan dan hukuman.

Dalam hal ini mungkin diperlukan  kebersamaan  pada semua  institusi untuk secara  bersama melakukan usaha  monumental untuk membuat sebuah gerakan yang  tidak saja akan memberikan  penyadaran kepada semua  jajaran, melainkan juga akan memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk ikut mendukungnya.  Sebagai contoh kalau persoalan suap menyuap kepada oknum polisi atas pelanggaran  lalu lintas misalnya, maka saat masyarakat menyadari dan kemudian tidak lagi mau menyuap,  dan pihak polisi juga selalu konsisten dengan pembersihan tersebut, tentu akan semakin cepat dicapainya kebersihan tersebut.

Kita sangat percaya  bahwa  masih ada  kebaikan dan orang orang baik yang peduli terhadap Negara dan institusi yang ada, sehingga mereka sudah gerah melihat praktek  buruk yang selama ini telah berjalan, dan kemudian berusaha membersihkannya.  Untuk itu  hal tersebut harus kita dukung  penuh agar tidak mandeg di tengah jalan dan harapan masyarakat lagi lagi pupus.  Keterlibatan semua pihak, termasuk dalam hal pengawasan akan sangat menentukan keberhasilan keinginan untuk membersihkan diri tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.