BERLOMBA MEMAAFKAN DAN MENDAPATKAN KEMULIAAN

Bulan Syawal dapat dianggap sebagai bulan yang identik dengan memaafkan, karena hampir seluruh manusia, khususnya yang berada di negeri kita tercinta ini menyempatkan diri untuk bersilaturrahmi dan sekaligus memohon maaf.  Paling tidak  mereka menyelenggarakan  acara halal bi halal secara bersama sama, sehingga  semuanya  secara efektif dapat bertemu, berjabat tangan dan saling memohon dan memberikan maaf.  Memang tradisi ini merupakan tradisi yang sangat bagus dan perlu terus dilestarikan, meskipun  sudah ada usaha untuk merusaknya dengan berbagai dalih dan alasan.

Tetapi kita juga harus bangga bahwa negera ini juga turut melestarikan tradisi bagus ini, terbukti dengan tetap diselenggarakannya  silaturrahmi dan halal bi halal yang  diselenggarakan oleh hampir semua  pejabat dan penyelenggara negara, bahkan termasuk mereka yang bukan muslim.  Ini sunguh  sumbangan yang luar biasa  terhadap tradisi ini sehingga kita tetap percaya bahwa  tradisi halal bi halal yang memang khas Indonesia tersebut akan terus terpelihara dan hidup subur di tanah air.

Tradisi halal bi halal memang hanya ada di bulan Syawal setelah umat muslim menyelesaikan kewajiban berpuasa selama satu bulan dan kemudian merayakan idul fitri.  Nah, kata Syawal itu sendiri sesunguhnya mempunyai makna peningkatan.  Artinya  peningkatan dalam semua hal, utamanya yang baik dan positif serta memberikan manfaat.   Untuk itu seharusnya di bulan Syawal ini, kita  terus berupaya untuk tetap mempertahankan  kebiasaan yang sudah kita lakukan di bulan suci Ramadlan, sebagai wujud untuk meningkatkan kualitas kita sebagai orang beriman.

Kita santat yakin bahwa pada bulan Ramadlan kemarin banyak umat muslim yang melakukan kebaikan, tidak saja yang terkait kebaikan sebagai individu, melainkan juga yang terkait dengan sosial.  Kita dapat menyaksikan betapa antusiasnya umat untuk melaksanakan  shalat tarawih, tadarrus, dan juga sedekah.  Nah,  harapannya di bulan peningkatan ini, amalan seperti itu, tentu kecuali shalat tarawih,  terus dilestarikan dan bahkan ditambah, sehingga keberhasilan kita dalam berpuasa memang terlihat jelas dan memberikan efek yang dapat dirasakan secara langsung.

Namun demikian memang sebagaimana  selalu saya sampaikan bahwa usaha untuk meningkatkan  diri kita tidak perlu secara sekaligus, karena hal tersebut sungguh akan terasa sangat berat.  Untuk itupeningkatan tersebut yang terpenting adalah konsistensinya atau kelanggengannya.  Kalapn pada Syawal kali ini kita hanya dapat menambah kebaikan satu hal saja, maka itu sudah bagus asalkan  konsisten dan kebaikan yang telah lalu tetap diteruskan, sehinga dengan demikian pada saatnya nanti seluruh kebajikan akan dapat dilaksanakan dengan ringan, karena sudah menjadi kebiasaan.

Penting untuk diingatkan kepada kita semua bahwa hidup yang bermakna dan dianggap beruntung, terutama bilamana dilihat dari sisi kebajikan untuk  ukhrawi, ialah hidup yang semakin hari semakin membaik dalam segala hal.  Artinya dinamika dan perubahan ke arah yang lebih baik haruslah menjadi sebuah target keseharian kita, jangan sampai kita stagnan atau bahkan  mundur dalam hal amaliah dan pengabdian kita.  Sebab  kalau kita  stagnan apalagi mundur, maka  hanya kerugian yang  akan  bersama dengan kita.

Sebuah riwayat juga telah mengajarkan kepada kita semua bahwa  orang yang beruntung ialah mereka yang kondisi saat ini lebih bagus ketimbang  kemarin, dan esok hari juga akan lebih baik ketimbang saat ini.  Jikalau kondisi antara saat ini dan kemarin masih sama saja, maka  rugilah dia, dan manakala kondisi saat ini justru lebih uruk ketimbang kemarain, maka itulah  kecelakaan yang sangat tragis.  Jadi dengan mendasarkan diri kepada riwayat tersebut, sudah seharusnya kita selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kita dalam segala hal.

Pada  bulan Syawal ini memang sangat memungkinkan bagi kita untuk melakukan hal hal sebagaimana  disebutkan di atas, yakni berlomba untuk saling memaafkan, tentu bilamana dibandingkan dengan bulan lainnya.  Bulan ini memang akan memudahkan seseorang untuk meminta maaf dan sekaligus juga memberikan maaf, tetap kalau d bulan lainnya, terkadang hanya untuk meminta maaf saja  merasa gengsi, akibatnya bukannya menjadi semakin membaik hubungan antara sesama, melainkan semakin memburuk.

Nah, momentum Syawal ini memang harus kita  manfaatkan secara maksimal untuk melakukan koreksi dan mawas diri, dengan cara masing masing mau meminta maaf dan memaafkan saudaranya, sebesar apapun kesalahan yang pernah diperbuat.  Bukankah  ciri sebagai seorang beriman adalah mereka yang suka memaafkan.  Tentu kita akan sangat terinspirasi dengan sikap dan akhlak Nabi Muhammad saw yang  selalu memaafkan atas kesalahan yang dilakukan oleh  sahabat dan juga “musuh”nya.

Bagaimana kita mengaku sebagai umat  Muhammad saw  kalau kita tidak mau meneladani sikap dan akhlak beliau?.  Inilah moment yang sangat tepat dan memungkinkan untuk memulai jejak Rasul, setidaknya dari aspek memberikan maaf dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat.  Kalau ini sudah dilakukan dan menjadi sebuah kesadaran diri yang penuh, maka  akan sangat bagus bilamana  kita kemudian meningkatkan diri kita dengan amaliah lainnya yang menjadi kebiasaan Rasul, seperti memperbanyak sedekah atas harta yang dimiliki, dan juga meperbanyak ibadah, utamanya di malam hari.

Kalau sikap dan perilaku kita baik, tentu kita akan mendapatkan apresiasi dari semua orang.  Artinya tanpa kita meminta pun, orang akan menghargai kita, dan  pada saatnya akan menempatkan kita pada tempat yang mulia.  Adalah merupakan hokum alam bahwa siapapun yang menghargai pihak lain dan memperlakukannya  secara baik, maka  dia akan  diperlakukan dengan baik pula oleh orang lain.  Sebaliknya kalau ada orang yang perilakunya buruk dan  selalu menyu;itkan banyak orang, sudah barang tentu orang lain juga akan menempatkannya pada tempat yang kurang baik dan  tidak akan mendapatkan kemudahan sebagaimana yang diharapkan.

Dalam persoalan ini ada sebuah riwayat hadis yang sangat dikenal oleh umat muslim, yakni bahwa Allah itu akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya.  Jadi tempat mulia itu bukan saja harus berupa sebuah jabatan tertentu, melainkan  sebuah penghargaan dan pengakuan atas perilaku dan akhlak seseorang, sehingga  orang tersebut akan selalu diperlakukan dengan terhormat.  Bisa jadi kemudian dia dijadikan panutan dan didengarkan  fatwanya atau dijadikan rujukan pada saat ada persoalan yang muncul dan lainnya.

Hal penting yang perlu kita  ketahui bahwa untuk mendapatkan tempat yang mulia menurut Allah swt, sesungguhnya  mudah didapatkan, yakni  ketika kita mau berbuat baik dan ringan tangan untuk membantu pihak lain dengan tulus.  Disamping itu ada  hal lainnya yang ketika kita lakukan secara  langgeng akan membuat kita dimuliakan oleh Tuhan, yakni menjalankan shalat malam.  Sudah barang tentu mereka yang melakukan shalat malam secara konsisten,  perilaku dan akhlaknya akan menjadi bagus, karena akan selalu terbimbing oleh keyakinannya yang kuat kepada Allah swt.

Pada akhirnya Syawwal ini meri kita jadikan sebagai tonggak untuk  menorehakn  lukisan hidup kita yang lebih baik dan  nyeni, sehingga kelak kita akan  dapat memetik buahnya dengan baik dan sekaligus mengantarkan kita kepada  kebahagiaan yang sejati, di dunia dan di akhirat nanti.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.