SILATURRAHMI DAN HALAL BI HALAL

Semua orang tahu bahwa silaturrahmi dalam bentuknya yang beraneka ragam tetaplah menjadi sebuah anjuran agama, karena  di dalamnya  mengandung nilai yang sangat bagus, bukan saja untuk menambah hubungan dengan pihak lain yang akan memunculkan kegembiraan sehingga usia menjadi lebih panjang atau akan mendapatkan banyak kesempatan meraih karunia Tuhan, melainkan juga nilai kebersamaan dan solidaritas diantara sesama umat manusia.  Apalagi kalau silaturrahmi tersebut dibungkus dengan halal bi halal yang didesain sedemikian rupa dan diberikan pencerahan, tentu akan semakin menambah nilai plus, seperti menambah pengetahuan dan lainnya.

Memang harus diakui bahwa bentuk halal bi halal saat ini menjadi beragam, meskipun tetap saja ada aspek kebersamaan dan saling memaafkan.  Nah, salah satu bentuknya ialah dengan digelar acara  siraman rohani dan dilanjutkan dengan saling bersalaman untuk memberikan maaf  kepada sesama.  Hanya saja ada hal yang perlu diperhatikan dalam halal bi halal  tersebut, yakni usaha mengembalikan lambang lambang yang digunakan kepada  makna aslinya, karena  saat ini kita lihat sudah banyak lambang yang digunakan  hanya sekedar memenuhi kebiasaan saja sehingga  tidak mampu menyentuh aspek yang sesungguhnya.

Sebagaimana kita tahu bahwa maksud dan tujuan  diadakannya  halal bi halal ialah sebagai sarana untuk saling memaafkan  diantara sesama, tetapi kalau kemudian  desainnya  hanya datang, kemudian makan dan terkadang sama sekali tidak ada sentuhan rohani yang mengingatkan pentingnya  saling memaafkan diantara mereka, tentu tujuan tersebut menjadi kurang mengena.  Bagaimana caranya aar  halal bi halal tersebut mengena dan sesuai dengan tujuan aslinya? Entu harus diusahakan ada sesi bersalaman diantara sesama dengan ungkapan saling memaafkan.

Hanya saja terkadang juga masih belum mengena, karena terlallu banyaknya orang yang harus melakukan salaman atau mushafahah, maka  nilai mushafahah itu sendiri juga tidak mengena.  Kita tahu bahwa  nabi Muhammad saw sendiri pernah menyatakan bahwa  siapapun orang muslim yang bertemu dengan saudaranya  lalu mau bersalaman, maka  Allah swt akan mengampuni dosa keduanya sebelum jabat tangan tersebut  selesai.  Tetapi kalau jabat tangan yang dilakukan tidak serius, seperti tidak ada greget untuk berjabat tangan disebabkan terlalu banyaknya antrian jabat tangan atau unsu lainnya, tentu tidak akan masuk dalam kategori yang dimaksudkan oleh Nabi tersebut.

Artinya jabat tangan yang  akan diampuni dosanya oleh Tuhan ialah jabat tangan yang mengandung arti sangat dalam dalam diri masing masing orang, sehingga harus ada hubungan dan saling mengerti diantara keduanya.  Dengan kata lain bahwa jabat tangan tersebut harus sama sama  senang dan ada niat untuk saling memaafkan, bukan sekedar jabat tangan, apalagi kalau tidak saling mengerti atau memandang atau hanya sekedar menempelkan  telapak tangannya saja  dan sama sekali tidak ada keinginan untuk merekatkan  dalam jabat tangan tersebut.

Dengan demikian cara berjabat tangan pun seharusnya dipahami oleh kita sehingga akan  dapat menghasilkan makna yang sesuai dengan tujuan berjabat tangan itu sendiri.  Demikian juga dengan sikap pada saat berjabat tangan, seharusnya seluruh konsentrasi diarahkan kepada pihak yang diajak berjabat tangan, karena hal tersebut akan mempengaruhi sikap pihak lain.  Artinya pada saat berjabat tangan kedua belah pihak harus sama sama  berhadapan dan saling berkomunikasi, baik dengan lisan maupun hanya sekedar memberikan isyarat melalui senyum atau lainnya.

Itulah paling tidak yang tetap harus dipertahankan dalam setiap pertemuan silaturrahmi.  Jangan sampai  desain acaranya halal bi halal, tetapi hanya diisi dengan acara makan sambil mendengarkan  musik yang sengaja diperuntukkan  dalam acara tersebut.  Sesungguhnya bentuk halal bi halal dengan menggelar pesta dan menghadirkan group musik juga tidak menjadi masalah, asalkan ada  sesi berjabat tangan sebagaimana yang saya sebutkan di atas, karena  nilai silaturrahmi dan halal bi halalnya terletak pada  berjabat tangan tersebut.

Halal bi halal memang sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat kita, bahkan saat ini halal bi halal bukan saja menjadi monopoli umat muslim, melainkan juga umat lainnya.  Tentu kita harus merasa bangga dan bukan malah menggugat acara tersebut yang kebetulan diselengarakan oleh umat lain.  Artinya  tradisi baik yang dapat dirunut akarnya dari ajaran agama kita dan kemudian  diakui  dan menjadi  tradisi yang umum bagi masyarakat adalah merupakan sumangsih yang sanat  bagus bagi kita untuk tetap melestarikan ajaran tersebut dalam kehidupan nyata kita.

Tentu akan sangat bagus manakala kita mampu menjadikan sebuah ajaran yang kita yakini sebagai ajaran agama kita, kemudian  diangap sebagai sebuah tradisi bagi sebuah masyarakat luas.  Nah, salah satu ajaran yang kemudian dapat diterima oleh masyarakat secara luas ialah  acara silaturrahmi dan halal bi halal tersebut.  Acara halal bi halal tentu dilaksanakan setelah umat muslim selesai menjalankan ibadah puasa  satu bulan penuh.  Maksudanya ialah bahwa  berpuasa Ramadlan diharapkan akan mampu menghapuskan dosa yang  berhubungan dengan  Tuhan, sementara  halal bi halal dimaksudkan untuk  mengahpuskan dosa dianara sesama umat manusia.

Nah,  acara berkumpul dan saling memaafkan tersebut ternyata menjadi  sebuah tradisi yang tidak saja  dilaksanakan oleh umat muslim, melainkan juga digunakan oleh umat lain untuk saling memberikan  maaf, sehingga diharapkan akan tercipta kondisi yang sangat memungkinkan  untuk rekonsiliasi secara  umum.  Bahkan untuk saat ini nilai halal bi halal tersebut akan sangat terasa bilamana kita hubungkan dengan kondisi bangsa kita yang sedang konsenrasi untuk melihat proses gugatan pemilu di Mahkamah Konstitusi.

Hanya saja memang secara riil halal bi halal yang dilaksanakan saat ini belum  menyeluruh, melankan hanya dilaksanakan  per kelompok, sehingga antara kelompok satu dengan lainnya belum juga bertemu untuk saling memaafkan.  Tetapi kita sangat yakin pada saatnya nanti semua kelmpok yang ada menyadari bahwa  kita semua adalah bangsa Indnesia yang  harus bersatu padu membangun bangsa ini untuk kesejahteraan yang lebih bagus di masa  yang aan datang.

Namun demikian  kita tetaplah patut bersyukur  karena  secara umum kondisi  di masyarakat kita  sudah tercipta ketenangan dan kedamaian, terutama  setelah  dilaksanakannya pemilihan prresiden dan wakil presiden.  Sementara itu persoalan  yang masih tersisa saat ini biarlah menjadi urusan para elit yang memang belum mampu memberikan keteladanan kepada masyarakat kita secara luas.  Kita berharap bahwa  proses gugatan pemilu yang sedang berjalan di MK tersebut akan berjalan dengan mulus tanpa  harus melibatkan masyarakat luas, sehingga masyarakat akan tetap menjalani aktifitas mereka sebagaimana biasa.

Kembali kepada persoalan silaturrahmi dan halal bi halal yang saat ini sudah menjadi bagian dari tradisi bangsa kita, kita tentunya harus tetap mempertahankannya dengan segala isi dan tujuan.  Artinya bukan saja sekedar  sebagai sebuah tradisi yang kering dan tidak mempunyai arti bagi kita, melainkan  tradisi tersebut harus  dapat membuat masyarakat semakin membaik dalam arti yang luas.  Untuk itu kiranya kita harus terus memberikan pemahaman mengenai pentingnya  saling memaafkan dan saling toleran terhadap sesama.  Kebersamaan dalam menyongsong  masa depan tentu mutlak diperlukan, dan melalui sarana silaturrahmi dan halal bihalal  tersebut, kita berharap banyak dapat mewujudkaan keingian luhur kita tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.