MEMBIASAKAN MENGATAKAN ALHAMDU LILLAH

Kalaupun kata alhamdu lillah dianggap tidak identik dengan  syukur, tetapi setidaknya orang yang melafalkan alhamdu lillah tentunya ada rasa  senang atau  gembira dan syukur atas apa yang dialaminya, baik itu yang secara  kasat mata menyenangkan maupun yang  tampak menyedihkan.  Ungkapan alhamdu lillah memang  sangat lues untuk dmunclkan, terbukti dengan  kondisi yang berbeda sekalipun kita  maqsih dapat  menemukan ungkapan tersebut dari mulut orang.  Tetapi untuk secara spontan memunculkan kata kata tersebut tidak mudah, karena harus dibiasakan, yakni dengan  menyadari atas kemurahan Tuhan  kepada kita.

Akan terasa sulit jikalau tidak terbiasa melafalkannya, kemudian tiba tiba mengucapkannya, apalagi kalau hal tersebut muncul secara spontan, seeprti saat mendapatkan  kebahagiaan atau bahkan mendapatkan kecelakaan dan sebagainya.  Kata kata yang muncul secara spontan dari banyak orang ialah apa yang menjadi kebiasaan mereka.  Artinya kalau  kata kata yang  biasa diucapkan adalah kata kata baik, maka   orang tersebut akan selalu mengatakannya dalam  berbagauai kejadian, dan sebaliknya kalau kata kata yang biasa yang keluarkannya adalah kata kata kotor, maka itulah yang  akan muncul saat  mengalami kejadian luar biasa.

Untuk itu kita akan  sangat  tidak heran jikalau ada  orang yang sama sama mengalami  kejadian yang sama, tetapi kata kata yang muncul dari mulutnya berbeda beda.  Ada sebagian diantara mereka yang spontan mengucapkan astaghfirullah dan diiringi dengan alhamdu lillah dan sejenisnya, tetapi kita uga  mendengarkan kata kata umpatan  dan hujatan seperti  kata kata kampret, kakeane, dan sejenisnya.  Secara lahir dengan  mendengarkan dua  penyataan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa  orang itu akan selalu terbawa oleh kebiasaan yang dilakukan, termasuk  saat kematian sudah mendekatinya.

Karena alasan seperti itulah Islam kemudian  menganjurkan agar  umat beriman senantiaqsa membiasakan  melafalkan kata kata yang bagus yang intinya  kata kata yang dikaitkan dengan Allah swt, seperti la ilaha illallah, astaghfirullah, subhanallah, la haula wala quwwata illa billah dan lainnya. Mungkin bagi sebagian orang  hal seperti itu kurang penting, namun harap diketahui bahwa  jikalau orang dalam kata akhirnya melafalkan kata kata yang bagus, maka akan dapat mempengaruhi  nasibnya di akhirat.  Sebuah riwayat dari nabi Muhammad saw  menjadi bukti tentang hal ini, yakni hadis yang artinya “ Barang siapa yang kata akhirnya la ilaha illallah maka ia akan masuk  surga”.

Bisa saja bahwa orang  mengatakan kata kata alhamdu lillah itu bukan dalam arti mensyukuri nikmat, namun  seacara langsung sesungguhnya itulah ungkapan syukur yang paling sederhana.  Kebiasaan mengucapkan alhamdu lillah tentu sangat bagus untuk  sebuah pengakuan atas karunia Tuhan, termasuk saat mengalami musibah misalnya, karena musibah tersebut ternyata masih  sangat menguntungkannya, sehingga hanya  luka sedikit saja, dan tidak sampai merenggut nyawanya.  Kalaupun kemudian kendaraan yang dikendarainya hancur, maka ia pun masih mengucapkan alhamdu lillah, karena masih diberikan keseamatan tidak sampai hancur seperti kendaraannya.

Ungkapan sederhana kesyukuran kita kepada Allah swt memang harus terus ita biasakan setiap saatnya, karena kta sangat yakin bahwa setiap detak jantung yang kita rasakan dalam diri kita sesungguhnya merupakan karunia Tuhan.  Untuk itu saat kita  selesai makan haruslah dibiasakan mengucapkan alhamdu lillah,   demikian juga setiap setelah minum, setelah seselaia bekerja, setelah sampai di rumah, setelah tidur,  dan setelah melakukan apapun.  Kalaupun pada awalnya kita hanya mampu mengucapkan alhamdu lillah tanpa menyadari maknanya, tetapi yakinlah bahwa dengan ucapan tersebut kita akan dapat melihat sebuah kenikmatan lainnya yang langsung akan kita rasakan.

Memang masih banyak orang yang  lupa dengan karunia Tuhan, seolah apa yang saat ini ada dalam gengamannya merupakan usahanya sendiri tanpa melibatkan Tuhan sama sekali.  Kesombongan yang demikian terkadang  malahan  dapat membuat diri orang tersebut mengingkari Tuhan dalam arti luas, yakni tidak mengangap bahwa Tuhanlah yang memutuskan  segala sesuatu,  sehingga kalau  kemudian Tuhan mengujinya dengan mengambil sedikit dari nikmat yang diberikan-Nya, seseorang tersebut bukannya  menyadari kekeliruannya dan kemudian kembali  kepada Tuhan, melainkan justru malah tambah menjauh dati Tuhan.

Bersyukurlah kita yang selalu ingat bahwa Tuhanlah yang dapat membuat keputusan atas diri kita, meskipun kita tetap harus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.  Artinya apapun yang kita harapkan dan kita usahakan, tetaplah harus dipasrahkan kepada Allah swt, sehingga kalau misalnya  ada kegagalan dalam usaha kita dalam mengusahakannya, kita tetap tabah dan dapat menerimanya sebagai bagian dari keimanan kita.  Tentu akan lain  bilamana kita tidak mendasarinya dengan  keputusan Tuhan tersebut, maka saat ada kegagalan menimpa kita, kita akan cepat putus asa dan hilang semangat, bahkan  bisa saja  melakukan hal hal yang konyol.

Bersikap mengakui peran serta pihaklain, terutama Alah swt memang terkadang sulit bagi sebagian orang, apa lagi untuk mengakui peran serta pihak lain selain Tuhan, tentu akan lebih sulit.  Gengsi  sombong  adalah kata yang tepat untuk melukiskan  kondisi tersebut.  Padahal kita  tidak akan mungkin  hidup secara sendirian, meskipun ada orang yang bekerja sendiri dan membeli apapun dengan uang  yang dihasilkan sendiri, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa  untuk mendapatkan  uang tersebut, dia tidak bisa sendiri, karena dia harus bekerja yang melibatkan pihak lain.  Itulah yang tidak pernah terlintas dalam pemikirannya, sehingga seolah dirinya sendiri lah yang telah berjasa atas prestasinya tersebut.

Setidaknya kalau kita mau mengingat posisi kita masing masing saat masih  bayi dan lemah,kemudian dirawat ole orang tua dengan kasih sayang yang tulus dan  juga dididik dengan kesabaran mereka, tentu akan  dapat muncul sikap pengakuan atas peran pihak lain, yakni orang tua.  Sayangnya   sebagian  diantara umat manusia tidak mau mengingat hal tersebut, dan seolah diri ada dengan begitu saja, sehingga tidak mau tahu urusan pihak lain.  Kondisi tersebut biasanya  diakibatkan oleh  kekurang perhatian awal terutama pada saat  paling menentukan, yakni arah pilihan  saat masih anak anak.

Artinya pengaruh lingkungan saat anak anak, akan sangat membekas dalam diri seseorang.  Kalau lingkungan dimana anak anak itu hidup sangat mendukung, maka  akan terbentuklah sebuah kondisi yang memungkinkan  anak tersebut terus mengembangkan dirinya dalam  kerangka yang baik, dan sebaliknya jikalau lingkungannya sangat buruk dan sama sekali tidak mendukung, maka akan sangat mudah bagi anak anak untuk terpengaruh oleh hal hal buruk tersebut.  Bahkan tidak mungkin anak anak tersebut akan terseret melakukan  kriminal sebagaimana  yang  kita  saksikan  di banyak tempat.

Tentu kita tidak mau menyaksikan anak anak kita  menjadi  seperti itu, karena itu kita harus menjadikan  lingkungan kita, terutama rumah yang kita huni sebagai taman surga yang menyenangkan. Caranya ialah dengan menjadikan diri kita masing masing sebagai teladan bagi anak anak dan mau mengorbankan sedikit keinginan  atau nafsu kita untuk hal hal yang tidak prinsip.  Kebiasaan kita dalam mengucapkan kata kaa baik saat berhubungan dengan anak anak, tentu akan  mampu membuat anak terbiasa dengan kata kata bagus tersebut.  Itulah yang biasanya  dikatakan sebagai salah satu bentuk penddikan karakter, yakni membiasakan seseorang dengan hal hal yang  bagus.  Semoga kita dan keluarga kita  terbiasa mengucapkan  kalimah thayyibah sebagaimana yang kita inginkan tersebut.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.