MEMULAI LEMBARAN BARU

Bulan Syawwal ini dapat diibaratkan bulan  awal kita memulai sebuah perjalanan panjang selama satu tahun, meskipun bulan  tersebut bukan awal bulan Qamariyah.  Hal tersebut disebabkan umat muslim sangat meyakini bahwa  setelah menjalani puasa sebulaqn penuh dengan didasari keimanan yang kokoh dan hanya ingin mendapatkan  ridla dari Allah swt, maka dosa dan kesalahan yang terkait dengan Tuhan akan diampuni oleh Allah swt.  Demikian pula kegiatan setelah puasa yang selalu dilakukan yakni saling memohon dan memberikan maaf, juga diyakini akan dapat merontokkan dosa dan salah yang terkait dengan sesama manusia, karena itu yang masih tertinggal ialah kondisi suci dan bersih atau idul fithri.

Itulah  yang mendasari bahwa bulan Syawwal ini  disebut sebagai bulan peningkatan, yakni usaha manusia untuk memperbaiki diri setelah menyadari dan membersihkan diri dari kesalahan dan dosa.  Artinya  lembaran yang sama sekali baru ibarat kertas yang masih putih akan diubah dan diisi dengan  aktifitas  positif dan sejauh mungkin dihindarkan dari  perbuatan buruk yang hanya akan mencoreng lembaran tersebut.  Komitmen seeprti itulah yang menjadi salah satu petunjuk bahwa  kesadaran untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik sudah meresap dalam diri seseorang.

Kita memang harus  membiasakan diri untuk menganggap bahwa  sesuatu moment itu sangat baik untuk mengevaluasi diri dan kemudian melakukan perbaikan dan memulai sesuatu yang lebih baik.  Karena itu momentum memluai hal yang baik tidak harus menunggu pada setiap tahun baru, melainkan  momentum apa saja  dapat dijadikan sebagai awal untuk memulai sesuatu yang lebih baik, seperti  bulan Syawwal atau setelah memperingati maulid nabi Muhammad saw yang dipenuhi dengan bacaan shalawat yang syahdu, atau saat memperingati isra’ dan mi’raj  Nabi yang mendapatkan perintah shalat lima waktu, dan momen lainnya.

Saat ini kita memang berada di awal  bulan Syawwal dan pemahaman kita tentang bulan Syawwal tersebut memang seperti sedang memasuki babak dan dunia baru, yakni harus mengisi lebaran hidup ini dengan sesuatu yang lebih dibandingkan dengan  sebelumnya.  Itu buah dari melaksanakan puasa katanya, yakni sifat taqwa yang benar benar meresap dalam sanubari dan jiwa.  Dengan memerankan diri kita sebgai manusia muttaqin yang penuh dengan sifat baik, tentu kita akan berusaha menampilkan diri sebagai yang terbaik, bukan saja dalam urusan ibadah mahdlah, melainkan juga ibadah ghairu mahdlah atau urusan keduniaan.

Hal terpenting yang sebaiknya kita lakukan pada saat saat seperti ini ialah bagaimana kita mampu menunjukkan perbuatan terbaik yang dapat kita lakukan, utamanya yang terkait dengan  kehidupan soaial kita.  Namun bukan berarti untuk persoalan ibadah, kita tidak perlumenampilkan yang terbaik, sama sekali bukan begitu.  Penampilan dalam kehidupan sosial terbaik tersebut dimaksudkan bahwa masyarakat akan  dapat memperoleh manfaat dari apa yang kita lakukan secara langsung, seperti membantu masyarakat dalam hal yang sangat dibutuhkan mereka.

Atau setidaknya kita santuni mereka yang  yatim atau bahkan semua anak kecil untuk sekedar menyenangkan kepada mereka dan sekaligus memberikan keteladanan untuk anak anak kita, bahwa  harta yang kita peroleh melalui usaha kita, haruslah dibagi dengan sesama  umat, sehinga semua orang akan merasakan apa yang kita rasakan dan harapannya mereka semua akan mau mendoakan baik kepada kita.  Sebab kita sangat sadar bahwa hidup dunia ini tidaklah sendirian, karena itu tidak boleh kikir untuk berbagi dengan masyarakat lainnya.

Bagi kita yang kebetulan berada dalam lingkungan pendidikan, hal baik yang  harus kita lakukan untuk memulai bulan Syawwal ini ialah dengan  membulatkan tekad dan niat kita untuk mendukung semua program peningkatan dan pengembangan institusi, serta berpartisipasi aktif dalam aktifitas merealisasikan visi dan misi institusi.  Dengan begitu lembaran baru kita akan terisi dengan sesuatu yang bagus dan akan menjadi amal kabajikan kita yang akan mendapatkan balasan pahala dari Tuhan.

Tentu bagi yang berada di lingkungan lainnya juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya tersebut, yang terpenting ialah bagaimana  kita mampu  melakukan sesuatu sesuai dengan program yang dicanangkan oleh instansi dimana kita mengabdi.  Dengan begitu kita  ikut berusaha untuk  mewujudkan keinginan  dan cita cita instansi kita, karena bagaimanapun  masa depan kita  telah kita tancapkan di sana, dan instansi sudah barang tentu  sangat mengharapkan peran aktif kita  dalam upaya memajukan dan mengembangkannya.

Nah, karena itulah setiap ada momentum untuk melakukan kebaikan, kita wajib berusaha untuk melakukannya, termasuk momentum Syawwal kali ini  dimana kita mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri setelah selesai melakukan diklat Ramadlan sebulan penuh.  Bukan sekedar ingin mendapatkan pahala, melainkan juga sekaligus ingin mendapatkan manfaat yang lebih besar, yakni perubahan dalam diri kita untuk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.  Mungkin hal semacam ini dianggap sebagai sebuah teori yang susah untuk dilaksanakan, tetapi bagi kita yang beriman tentu bukan hal yang mustahil, bahkan  merupakan sebuah keharusan yang disorong oleh kekuatan iman yang muncul dari dalam.

Bukankah ada sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa  orang yang beruntung ialah mereka yang dapat menjadikan masa depannya lebih baik ketimbang masalalu dan masa dimana mereka  saat ini ada?.  Riwayata tersebut meniscayakan bagi setiap orang untuk senantiasa berusaha agar hidupnya menjadi lebih bagus  dalam setiaap saatnya.  Bahkan dalam riwayat tersebut disampaikan bahwa  adalalh sebuah kerugian kalau seseorang hanya dapat mempertahankan kondisi seprti yang sudah ada, dan bahkan dianggap sebagai sebuah  kehancuran, manakala justru masa depannya tidak lebih baik, tetapi malah lebih buruk.

Tentu riwayat tersebut mengandung sebuah  filosofi yang sangat dalam dan luar biasa memberikan motivasi dan dorongan kepada semua orang, terutama orang orang beriman bahwa masa depan kita memang harus lebih baik dengan terus berusaha memperbaiki diri dan  sedikit demi sedikit tetapi pasti.  Taruhlah kalau saat ini kita hanya dapat mengubah diri kita dengan lebih banyak melakukan  ibadah seperti shalat rawatib, maka  kalau kemudian hal tersebut kita lakukan dengan  konsisten, tentu itulah yang dinamakan perubahan yang dulunya  tidak menjadi rutin melakukannya.

Barangkalikalau momentumnya adalah Syawwal, maka  kita akan melaukan perubahan tersebut pada  Syawwal tahun depan dengan  memberikan tambahan kebaikan yang monumental lagi, seeprti  selalu bersedekah, dan kemudian tahun berikutnya dengan mengkaji kitab suci secara cermat, berikutnya  dengan menambah shalat sunnah lainnya, seperti shalat malam, dan lainnya.  Pendeknya kita harus mewarnai hidup kita dengan peningkatan dalam kebaikan dan berusaha dengan kekuatan  maksimal untuk  menghindar dari segala keburukan, baik yang didasarkan atas perintah agama maupun yang didasarkan atas pertimbangan rasio.

Kita berharap bahwa  komitmen kita untuk memulai lembaran baru  tersebut bukan hanya  dalam durasi tahunan, melainkan lebih pendek lagi, yakni setiap ada momentum yang  sangat berkesan atau setidaknya dalam setiap kali kita memperingati  hari hari besar Islam.  Namun demikian kalau misalnya kita  baru bisa melalui  durasi tahunan seperti momentum setelah Ramadlan, itu sudah cukup dalam batasan minimal.  Semoga  Tuhan akan terus memberikan pencerahan bagi kita sehingga kita akan mamu melakukan perubahan dengan mengisi lembaran baru demi lembaran baru dengan kebajikan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.