SILATURRAHMI LEBARAN

Setelah kemarin kita merayakan idul fithri dengan diawali membaca takbir semalaman dan dilanjutkan dengan shalat idul fithri, seolah memang sudah selesai perayaan idul fithri, namun bagi  kebanyakan bangsa Indonesia, ternyata masih banyak yang dilakukan  untuk mengisi idul fithri tersebut, yakni dengan berkumpul dengan seluruh keluarga dan saling mengunjungi kawan, handai tolan, dan tetangga.  Tujuanpokonya ialah bersilaturrahmi sambil meminta maaf atas segala kesalahan di khilaf selama satu tahun, serta tidak lupa ingin merasakan masakan atau sekedar jajanan yang disuguhkan.

Sebagaimana kita tahu bahwa tradisi masyarakat kita pada saat merayakan idul fithri ialah  siap dengan aneka masakan dan jajanan yang disuguhkan kepada siapapun yang berkunjung ke rumah.  Walaupun tentu  tradisi tersebut ada plus minusnya, yakni bagi mereka yang mampu, tidak menjadi masalah, tetapi bagi mereka yang kurang mampu akhirnya harus mengada adakan, karena kalau sampai tidak menyediakan  aneka makanan tersebut dapat dianggap  nyleneh dan tidakmerayakan idul fithri.  Itulah mengapa masyarakat kemudian berusaha dengan daya upaya yang ada untuk dapat menyediakan aneka makanan tersebut, meskipun harus mengorbankan yang lainnya.

Namun sesungguhnya tradsi tersebut dapat dianggap bagus dan tidak menyalahi aturan  dan ketentuan agama,  hanya saja tidak perlu berlebihan dan disediakan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.  Karena itu mereka yang kebetulan berada jangan sampai meremehkannya atau bahkan sampai menghina.  Justru masyarakat harus saling mendorong dan memberikan apresiasi atas usaha dan apapun yang telah dihasilkan.  Karena yang terpenting dalam masalah tersebut ialah niat untuk menjamu dan menghormati tanu yang datang.

Bahkan lebih jauh yang menjadi inti dari  silaturrahmi lebaran tersebut ialah bagaimana kita  dapat mengubah sikap kita  yang kurang baik, menjadi lebih baik, sesuai dengan predikat ketaqwaan yang telah kita peroleh selama menjalankan kewajiban puasa sebulan penuh.  Sementara itu tradisi bersilaturrahmi diantara kawan dan tetanga tersebut hanya  tambahan yang juga dianggap baik, karena mempunyai akar yang jelas dari ajaran agama.

Tradisi ujung ujung yang selalau mengiringi silaturrahmi tersebut juga masih sangat relevan dilaksanakan pada zaman  ini, karena inti dari ujung ujung tersebut ialah mengungkapkan isi hati dengan menyadari atas segala kesalahan dan kekhilafan yang selama ini dilakukannya dan kemudian meminta maaf dengan tulus serta didoakan akan mendapatkan kemudahan dan kesuksesan di masa yang akan datang.  Namun demikian tradisi tersebut semakin menghilang seiring dengan era kepraktisan yang melanda masyarakat kita.

Artinya tradisi ujung ujung tersebut menjadi sangat langka, dan yang masih ada ialah  masyarakat secara langsung dan  dengan kata kata yang to the point meminta maaf atas segala kesalahan.  Namun  kita  cukup menyadari dan dapat mengerti, asalkan tradisi silaturahmi tersebut masih tetap dipertahankan, sehingga tidak menguap.  Rasanya memang amat sayang kalau tradisi baik yang dibangun oleh orang tua kita tersebut harus  musnah ditelan  gegap gempitanya dunia yang  lebih mementingkan aspek meterealistik.

Hari ini merupakan hari kedua idul fithri yang oleh sebagian masyarakat Indonesia dan pemerinah masih diangap sebagai bagian dari idul fithr itu sendiri, terbukati dengan penanggalan yang selalu merah.  Hanya saja  kemudian masyarakat biasanya menganggap sampai  hari ketujuh atau sampai bodo kecil, sehingga  dalam rangka bersilaturrahmi lebaran tersebut, masyarakat masih menyediakan aneka makanan yang memang disiapkan.  Dan setelah itu makanan tersebut akan dibawa ke belakang dan kalaupun masih ada tamu, maka  akan disuguh dengan  makanan yang lain.

Kebiasaan  seperti itu pada akhirnya direspon juga oleh pemerintah, dengan bukti memberikan cuti berdsama dalam memperingati idul fithri bahkan hingga tiga hari, yang terkadang juga dibagi  sebelum dan setelahnya.  Namun untuk tahun ini semua cuti tersebut diletakkan di belakang libur idul fithri, sehingga masyarakat akan mampu melakukan  silaturrahmi dengan leluasa.  Namun demikian dengan diberikannya cuti yang lebih banyak tersebut jangan sampai justru keenakan libur dan lupa dengan pekerjaan dan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya.

Barangkali saat saat seeprti inilah waktu yang tepat untuk saling mengunjungi saudara dan kawan, yakni seharui setelah merayakan idul fithri, sehingga  banyak kesempatan untuk lebih banyak  bersilaturrahmi kepada  siapapun yang kita  kehendaki.  Bagi mereka yang kebetulan mudik dan sudah sampai di tujuan, akan mempunyai waktu longgar setelah  capek menempuh perjalanan yang cukup panjang dan macet.  Sedangkan bagi yang kebetulan tidak mudik dan hanya  bersilaturahmi di sekitar tempat tinggal, tentu akan lebih mempunyai banyak kesempatan, karena memang tidak melakukan perjalanan panjang.

Namun karena semua rang keluar rumah untuk saling mengunjungi dan bersilaturrahmi, maka diharapkan kewaspadaan dan kehati hatian, karena tentu di jalan akan sangat padat dengan berbagai kendaraan.  Jangan sampai kebahagiaan merayakan idul fithri tersebut kemudian harus  berurusan dengan rumah sakit atau bahkan harus  mengalami kematian yang tragis.  Cukuplah pengalaman banyak  kejadian yang dapat kita saksikan, dan jangan sampai kita menambahnya lagi, hanya disebabkan  kekurang waspadaan kita saja atau karena kesembronoan kita.

Bukankah  buah puasa yang kita jalankan  sebulan lamanya  telah memberikan dampak yang positif bagi kita, termasuk dalam hal bersabar dalam enghadapi segala hal.  Karena itu hati hati dan bersabar dalam menggunakan jalan raya, terutama saat  padat kendaraan, sangatlah diharapkan.  Sesungguhnya kalau masyarakat menyadari kondisi tersebut dan semua bersabar dalam menggunakan jalan raya, tentu kecelakaan akan dapat dihindari dan keselamatanlah yang akan terus meyertai kita.

Bersilaturrahmi secara  bersama sama dan ramai ramai juga  bagus asalkan tidak melanggaraturan yang berlaku.  Kebiasaan  bagi sebagian masyarakat kita yang menganggap bahwa pelanggaran dalam muatan kendaraan  hanya diangap biasa saja , akan dapat membahayakan.  Coba kita lihat betapa masyarakat terkadang nekat dengan  bersama sama mengendarai kendaraan bak terbuka dan diisi  dengan penumpang yang melebihi kapasitas, sehingga sering kali pula mereka mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kesengsaraan dan kesedihan, tidak saja bagi mereka, tetapi juga bagi keluarganya.

Untuk itu sangat ditekankan agar silaturahmi yang dilaksanakan dalam rangka lebaran kali ini dapat dijalankan dengan tetap menjunjung tinggi semua aturan main, termasuk aturan berkendara di jalan raya.  Bukankah sebagai muslim yang memperoleh derajat taqwa sudah semestinya selalu taat aturan?.  Kita tidak ingin bahwa puasa yang sudah kita jalankan satu bulan kemarin itu justru akan ternodai oleh sikap dan perbuatan kita sendeiri yang tidak mencerminkanketaqwaan.  Tentu amat disayangkan kalau tindakan kita masih saja seperti sebelum menjalankan puasa, karena itu merpakan salah satu tanda ketidak berhasilan kita dalam menunaikan ibadah puasa.

Pada akhirnya mari kitab tetap melakukan silaturrahmi kepada seua pihak, tetapi jangan lupa  harus tetap dilaksanakan dalam  aturan main yang benar.  Kita sangat mengapresiasi  semua pihak yang senantiasa mengingatkan kepada kita untuk berhati hati sehingga  akan menuai keselamatan, yakni para petugas keolisian yang selalu setia menjaga di jalan raya, bahkan harus mengorbankan keinginan pribadi untuk  bersantai bersama keluarga.  Semoga mereka diberikan ketenangan dan ketabahan serta kebahagiaan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.