MENJELANG IDUL FITHRI

Hari ini adalah hari terakhir bulan suci Ramadlan tahun ini, meskipun bagi  sebagian besar umat muslim  baru menjalankan puasa  29 hari, tetapi memang  bulan Qamariyah itu terkadang hanya  berumur 29 hari dan terkadang 30 hari, bahkan konon pada zaman nabi Muhammad saw, perbandingan antara bulan Ramadlan yang berumur 29 hari dengan yang berumur 30 hari, banyak yang dijumpai umurnya 29 hari.  Untuk itu kita perlu bersyukur kepada Allah swt, karena kita diberikan keringanan satu hari.  Namun bagi orang orang khas yang lebih menginginkan berlama lama di bulan suci tentu akan lebih suka jikalau bulan Ramadalan  berumur 30 hari.

Dalam sebuah hadis, Rasul Muhammad saw pernah mengandaikan, jikalau umat mengetahui apa yang ada di dalam bulan suci Ramadlan, niscaya mereka akan berharap bahwa seluruh bulan selama setahun itu dijadikan Ramadlan seluruhnya.  Itu artinya bahwa bagi mereka yang dapat melihat keagungan dan kehebatan Ramadlan, akan lebih suka berada di dalamnya.  Namun itu adalah ketentuan Allah swt dan kita hanya dapat  mengikuti kehendak-Nya.  Meswkipun  bulan ini hanya berumur 29 hari tetapi kita tetap akan mendapatkan pahala yang banyak, jikalau kita memang benar benar memanfaatkan bulan suci ini dengan maksimal.

Pada hari terakhir bulan Ramadalan seperti ini, banyak umat muslim yang  disibukkan dengan berbagai macam urusan yang terkait dengan persiapan idul fithri, terutama persiapan untuk menyediakan makanan, baik untuk disantap  sendiri bersama keluarga, maupun yang disediakan untuk para tamu yang akan datang.  Sebagaimana diketahui bahwa tradisi di idul fithri bagi sebagiana besar umat muslim ialah saling berkunjung untuk bersilaturrahmi diantara kawan dan tetangga, dan sekaligus “ujung  ujung” atau  menyampaikan perminataan maaf serta  doa  restu untuk kesuksesan dan kesejahteraan bersama.

Memang amat disayangkan bahwa tradisi yang sangat bagus tersebut saat ini sudah mulai banyak diringalkan, terutama di perkotaan ataupun di perdesaan yang dekat dengan kota,  sehingga  mereka, terutama para pemuda nya akan lebih suka pergi ke mall atau ke tempat tempat rekreasi, ketimbang berkunjung ke rumah kawan atau saudara atau tetangga.  Padahal makna yang dikandung tradisi silaturahmi tersebut sangat banyak dan  bagus.  Disamping silaturami ersebut akan semakin mengakrabkan diantara mereka, juga sekaligus dapat  mendapatkan keuntungan lainnya.

Nabi kita Muhammad saw pernah mangatakan bahwa  siapapun yang membiasakan bersilaturahmi, maka ia  akan dilapangkan rizkinya dan juga akan diperpanjang umurnya.  Mungkin diantara kita masih ada yang belum dapat mencerna makna  yang dikandung dalam pernyataan Nabi tersebut, tetapi survey membuktikan bahwa  orang yang suka bersilaturahmi tentu akan banyak kawan dan kenalan.  Nah dari perkawanan tersebut tentu ada sesuatu yang dapat diambil, semisal informasi penting seputar berbagai kesempatan yang dapat dimanfaatkan.  Dari situlah kemudian rizki akan terbuka dan lainnya.

Demikian juga dengan banyaknya kawan dan pertemuan diantara mereka, akan banyak pula membawa kesenangan dan kebahagiaan.  Kondisi senang tersebut merupakan kondisi yang sangat memungkinkan seseorang akan terhindar dari berbagai macam penyakit, sehingga pantaslah kalau kemudian orang seperti itu dapat berumur panjang.  Meskipun demikian  tentu kita tetap harus pasrah dan yakin bahwa   persoalan usia tersebut merupakan otoritas Tuhan, dan kalau sudah ditentukan ajalnya, maka  tidak ada kekuatan apapun yang dapat mengubahnya.

Salah satu hal yang biasanya dipersiapkan oleh umat muslim dalam menghadapi lebaran atau idul fithri ialah ketupat atau biasanya dalam bahasa Jawa disebut kupat.  Sesungguhnya kupat tersebut juga mempunyai makna dan filosofinya tersendiri, yakni tradisi yang sudah mengakar di masyarakat bahwa pada saat lebaran tersebut umat saling meminta maaf dan menyatakan dirnya salah dan banyak kekurangan.  Kupat itu dapat diartikan kepanjangan dari aku lepat yang berarti aku salah dan karena itu mohon dimaafkan.

Disamping itu persiapan untuk melakukan  takbir swemalaman juga  dilakukan, bahkan ada yang merayakannya dengan berbagai atraksi, baik di masjid, mushalla,lapangan maupun rencana takbir mursal dengan mengelilingi desa.  Semua itu dimaksudkan untuk menyemarakkan  atau syiar Islam.  Nanti malam takbir, tahmid dan tahlil sudah barang pasti akan menggema sepanjang malam, hingga menjelang shalat Idul fithri besuk.  Tentu semua umat muslim  amat sangat bahagia dan  seluruh keluarga berkumpul dalam sebuah kegembiraan yang luar biasa.

Saya sendiri terkadang tidak tahan membendung air mata yang melelh, disebabkan keharuan yang demikian hebat, mengingat seluruh keluarga berkumpul daalam suasana yang sangat  bahagia.  Kegembiraan tersebut disebabkan oleh banyak hal, yang salah satunya ialah bahagia karena telah mampu melaksanakan perintah Tuhan berpuasa sebulan lamanya.  Bukan diri saya, melainkan anak anak yang masih kecil pun ternyata mampu menjalankan kewajiban puasa tersebut, serta  tarawih di malam harinya, meskipun terkadang saya kasihan juga menyaksikan  mereka di siang hari seperti kelaparan.

Pada hari ini, sehari menjelang idul fithri, semua orang sibuk  dengan aktifitas mereka masing masing, dan hampir tidak ada orang yang  berdfiam diri, apalagi tidur, karena semua ingin bahwa  kondisi rumah dan lingkungan menjadi bersih dan menyenangkan.  Untuk itu apapun akan dilakukan demi mendapatkan keadaan yang menyenangkan, baik oleh mereka sendiri ataupun saat kedatangan tamu yang bersilauturramhi.  Dengan begitu  seharian penuh tidak ada kesempatan untuk berleha leha, melainkan  kesempatan yang ada digunakan secara maksimal untuk persiapan idul fihri.

Kesibukan seperti itu ternyata bukan saja  dilakukan di rumah dan lingkungan, melankan juga dapat dilihat di tempat umum, seperti pasar yang penuh sesak dengan manusia yang ingin mencari kebutuhan dalam mempersiapkan idul fithri tersebut.  Bahkan tempat pemotongan hewan, utamanya  ayam sungguh penuh sesak dengan masyarakat yang menggunakan jasa mereka.  Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat biasanya lebih suka mengkomsumsi ayam, dibandingkan dengan daging yang tinggal memasak saja.

Mungkin  dengan ayam tersebut kebiasaan dan tradisi merayakan idulfthri dengan ketupat opor masih terus dipertahankan, dan semacam menjadi menu wajib.  Meskipun hal tersebut bukan termasuk rangkaian  idul fithri, namun kebiasaan masyarakat dalam menyambutnya memang tidak dapat dilewatkan begitu saja.  Kita tentunya dapat mengerti betapa masyarakat sangat antusias dalam persoalan tersebut karena mereka sangat ingin bahwa di hari Idul fithri besuk, semua nya  akan menjadi gembira, bukan saja  atas  rampunya pelaksnaan puasa, melainkan lebih dari itu mereka  dapat bersama sama dengan seluruh keluarga.

Nah, yang paling penting dalam  mempersiapkan idul fithri tersebut ialah bagaimana kita tetap fokus dalam menjalani puasa terakhir ini, sebab jangan sampai dengan  bersemangatnya  mempersiapkan idul fithri tersebut, justru malah puasa dikalahkan atau dalam ari lain, puasanya batal disebabkan  tidak kuat menjalaninya, karena terlalu banyak pekerjaan yang harus dipersiapkan.  Puasa haruslah dipertahankan, dan kalau diperkirakan dengan aktifitas tinggi tersebut tidak akan mampu bertahan dalam puasa, maka  kegiatannya harus dikurangi, sehingga kita tidak akan kehilangan sesuatu yang lebih penting dengan hanya mengejar sesuatu yang sifatnya penunjnag.  Ibarat pepatah “mburu uceng, kelangan delek”.  Semoga semuanya akan berjalan normal dan kita akan mendapatkan  apa yang kita inginkan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.