TETAP KONSENTRASI IBADAH

Pada hari hari menjelang berakhirnya bulan suci Ramadlan biasanya memang banyak godaan yang dapat mempengaruhi kualitas ibadah kita, padahal pada sepertiga akhir bulan suci ini Tuhan menjanjikan banyak pahala yang tidak akan didapatkan di selainnya, seperti mengenai lailatul qadar dan kemerdekaan dari api neraka.  Godaan godaan tersebut pada prinsipnya bukan semata mata  persoalan yang terkait dengan kemaksiatan saja, melainkan juga hal hal yang sebenarnya  biasa saja, namun  akan dapat mengganggu konsenrasi kita dalam beribadah.

Banyak hal yang dapat mempengaruhi kualitas ibadah kita, semisal terbelahnya konsentrasi antara menjalankan ibadah dengan  keperluan mempersiapkan idul fithri atau konssntrasi mudik dengan segala  ubo rampenya, memkpersiapkan kebutuhan anak dan keluarga  pada saat idl fithri dan lainnya. Semua itu jikalau tidak kita sikapi dengan bijak, akan dapat mengganggu kualitas ibadah kita dan bahkan bisa jadi bahkan mengalahkan  ibadah kita.  Kita terkadang menyaksikan betapa banyak orang yang dengan alasan mudik dan capek, kemudian bukan saja tidak melakukan shalat tarawih, tetapi juga tidak berpuasa dengan alasan musafir dan sejenisnya.

Memang  tidak salah orang tidak berpuasa saat dia  sedang dalam perjalanan jauh, tetapi segera  setelah masuk bulan Syawal harus diganti dengan puasa lagi.  Justru akan lebih bagus bilamana  dia kuat berpuasa untuk tetap berpuasa, karena pahala  melaksanakan puasa di bulan Ramadlan tentu akan lebih  mulia dan pahalanya pun juga lebih banyak.  Demikian juga melaksanakan shalat tarawih memang hanya sebagai anjuran atau sunnah, tetapi akan sangat rugilah mereka yang meninggalkannya, lebih lebih tarawih yang pada sepertiga terakhir bulan Ramadlan tersebut.

Bahkan akan sangat rugi, jikalau ada  orang yang  hanya untuk mempersiapkan idul fithri, kemudian  meninggalkan tarawih dan  puasa atau ibadah lainnya.  Kesibuakn untuk  mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan mudik dan idul fithri, seperti  urusan makanan, pakaian, dan kendaraan, kemudian harus mengorbankan ibadah yang justru menjadi kewajibannya.  Untuk itu sangat dianjurkan kepada  semua umat agar  mau merenungkan semua hal yang akan dilakukannya, yakni untuk menimbang  kebaikan dan keburukannya, juga  manfaat dan madlaratnya.

Mempersiapkan  idul fithri memang tidak dilarang, bahkan mungkin dianjurkan, tetapi persiapan tersebut jangan samapi justru melalaikan yang lebih penting.  Mungkin ada yang berpendapat bahwa persiapan idul fithri tersebut sangat penting, tetapi kepentingan tersebut harus didasarkan atas pertimbangan rasional dan agama, bukan atas pertimbangan diri sendiri.  Artinya, antara berpuasa  yang menjadi kewajiban dengan  sekedar mempersiapkan idul fithri, tentu haqrus dipandang sebagai penting puasa.  Demikian juga ibadah shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Kepentingan  setiap manusia memang berbeda beda, khususnya yang terkait dengan idul fithri.  Diantara mereka ada yang harus mudik ke ntempat yang cukup jauh, dan harus dipersiapkan sedemikian rupa, sehingga memang memerlukan konsentrasi tersendiri.  Namun sebagian diantara mereka ada yang cukup  mudik dengan jarak tempuh yang relatif pendek atau dekat, dan bahkan  banyak pula yang tidak harus mudik dengan berbabagi pertimbangan.  Hanya saja  kalau menejemen atau pengelolaan waktu dan kesempatan dapat dilakukan dengan baik, tentu semuanya akan dapat berjalan dengan normal dan tidak mengganggu ibadah kita.

Cukup banyak umat yang mampu mengatur  waktu sedemikian rupa,  sehingga  semua kebutuhan untuk mudik dan kebutuhan  beribadah  akan tetap berjalan seiring tanpa harus mengalahkan atau mengorbankan salah satunya.  Artinya  meskipun harus mudik beberapa hari sebelum idul fithri, akan tetapi masih tetap menjalankan ibadah puasa di siang hari dan tetap pula melaksanakan tarawih di malam hari.  Semua itu tergantung pada  keinginan dan niat  orang.  Kalau memang bersungguh sungguh untuk dapat melaksanakan  ibadah tersebut tentu tidak ada kesulitan sama sekali, tetapi kalau niatnya memang tidak kuat, maka akan  mudah ada gangguan yang  dapat menggagalkannya.

Kalaupun  Kita harus melakukan sesuatu yang berat, tetapi komitmen untuk melakukan ibadah kepada Allah swt  ada, pasti di sana akan banyak jalan yang dapat ditempuh.  Ibarat pepatah “banyak jalan menuju Roma”.  Kita memang dapat mengerti kalau ada orang yang dengan alaan tertentu, kemudian membatalkan puasa, seperti melakukan perjalanan mudik yang jauh, atau tidak melaksanakan shalat tarawih, karena hanya dianggap bukan kewajiban, dan sejenisnya.  Hanya saja  akan sangat bagus  manakala semua itu tidak dilakukan, mengingat keutamaan dan pahala yang disediakan oleh Tuhan di akhir Ramadlan itu sangat besar.

Itu hanyalah sebuah himbauan, dan bukan merupakan  keharusan.  Himbauan memang dimaksudkan untuk  kebaikan, dan kalau dengan alasan tertentu tidak dialakukan juga tidak  menjadi masalah.  Sifat dari himbauan ini ialah ajakan dan  saling mengingatkan kepada kebaikan semata.  Tetapi kalau misalnya yang diringgalkan  tersebut adalah sebuah kewajiban yang pada hakekatnya tidak boleh ditinggalkan, maka himbauan ini  menjadi sebuah peringatan yang tingkatananya lebih tinggi.

Artinya kalau di akhir Ramadlan seperti ini, dengan alaan mudik dan capek, kemudian tidak melaksanakan shalat wajib, tentu hal tersebut menjadi perbuatan dosa, karena shalat wajib tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun.  Memang kalau hanya membatalkan puasa  dengan alasan perjalanan jauh dapat dimengerti karena memang ada dispensasinya, meskipun harus segera dibayar setelah selesai Ramadlan, tetapi kalau shalat wajib, tentunya tidak ada dispensasi sama sekali.

Biasanya bagi masyarakat diperdesaan, pada umumnya  menjadi kendor pada saat saat akhir Ramadlan, terutama dalam hal  menjalankan shalat tarawih, karena  hanya dianggap sebagai shalat Sunnah saja.  Sementara itu kebutuhan mereka untuk persiapan idul fithri sangat banyak, semisal harus membuat  makanan untuk menyuguh tamu, persiapan membuat ketupat untuk dijual atau persiapan untuk berdagang “mremo” lebaran dan lainnya.  Untuk itulah  anjuran ini sangat perlu disampaikan agar  meskipun sibuk mengurus persiapan lebaran, tetapi konsentrasi  beribadah tetap tidak boleh kendor, apalagi sama sekali ditinggalkan.

Kita tentu dapat menyaksikan betapa tempat tempat shalat tarawih yang pada saat awal Ramadlan sangat ramai, bahkan hingga tempat yang tersedia hamper tidak muat, tetapi mulai spertiga terakhir Ramadlan, mereka berguguran satu demi satu.  Bahkan  saat ini dimana  tinggal hanya beberapa malam saja, tempat tempat tarawih sudah tampak sepi.  Barangkali itulah  sebabnya  allah swt memberikan motivasi tersendiri bagi umat agar  mereka tidak kendor dalam melaksanakan ibadah di akhir Ramadlan, yakni dengan memberikan  sebuah malam kemuliaan yang biasa disebut dengan lailatul qadar.

Motivasi tersebut bukan hanya sekedar iming iming yang tidak  ada faedahnya, melainkan justru hal tersebut  sekaligus sebagai ujian keimanan, apakah umat manusia percaya kepada janji Allah sebagaimana yang dituangkan di dalam kitab suci, ataukah sebaliknya mereka hanay menganggap bahwa motivasi tersebut hanya sekedar informasi yang  saat ini sudah tidak ada lagi, sebagimana  ada sebagian umat yang  menyatakan demikian.

Saya hanya berharap bahwa dengan himbauan dan juga peringatan ini, banyak diantara umat manusia yang kemudian menjadi sadar diri dan kemudian terus bersuha mencapai keluhuran diri dalam beribadah kepada Allah swt.  Sayang sekali kalau Ramadlan yang dating dihadapan kita dengan keberkahan yang begitu banyak, kita biarkan begitu saja dan sama sekali kita tidak mampu memanfaatkannya.  Kita berharap sisa Ramadlan yang ada ini  akan mampu kita manfaatkan secara maksimal untuk mendapatkan  ridla-Nya. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.