MARI BERSEDEKAH

Pada bulan suci Ramadlan biasanya banyak manusia yang tergugah untuk berbuat baik, meskipun kesehariannya di luar Ramadlan terkadang justru sebaliknya.  Hal itu memang sudah menjadi sebuah  keniscayaan, karena bulan  suci tersebut memang mempunyai aura yang kuat untuk membuat seseorang menjadi sadar dan kemudian mau berbuat baik.  Hanya saja sangat disayangkan bahwa kebaikannya tersebut hanya terbatas di bulan suci saja, dan selesbihnya kembali lagi kepada kebiasaan lama.  Namun tentunya hal tersebut masih  lumayan ketimbang sama sekali tidak ada tarikan untuk berbuat baik, termasuk di bulan Ramadlan.

Kebaikan sebagaimana tersebut tidak saja yang berupa kebaikan  personal yang hanya  menyangkut diri dengan Tuhan, seperti  shalat, tadarrus, dzikir dan sejenisnya, tetapi juga kebaikan yang berimplikasi pada pihak lain, seperti bersedekah, zakat dan sejenisnya.  Sebagai muslim, kita  merasa seanang kalau umat mau  memberikan sedekah kepada para fakir miskin dan anak anak jalanan yang memang secara kasat mata meeka sangat membutuhkan uluran tangan para aghniya’.  Hanya saja patut kiranya ada  himbauan kepada mereka yang  pada bulan suci ini banyak bersedekah agar pemberian tersebut tepat sasran dan  mengandung aspek edukasi.

Maksudnya ialah bahwa sedekah tersebut memang diberikan kepada mereka yang benar benar membutuhkan dan bukan kepada mereka yang sesungguhnya sudah tidak membutuhkan.  Demikian juga pemberian tersebut harus diarahkan untuk  mendidik masyarakat penerima sedekah tersebut.  Jangan samapi pemberian kita justru dijadikan alasan untuk terus bergantung kepada pihak pemberi atau pihak lain.

Para pengemis dadakan atau bahkan yang permanen di beberapa perempatan jalan yang memngganggu pemandangan, tentu harus  dipikirkan bagaimana agar mereka tidak melakukannya lagi.  Kalaupun mereka memang tidak  punya dan harus mengemis pada pihak lain, sebaiknya bukan di tempat tempat umum seperti itu.  Untuk mendidik mereka agar tidak terus meminta di perempatan atau dilampu mereah,  dihimbau kepada semua muslim agar tidak memberikan sedekahnya di jalanan seperti itu.  Kalau  mereka tidak mendapatkan sedekah di sana, sudah barang tentu mereka akan tidak beroperasi lagi.

Sedekah dapat kita  salurkan lewat lembaga kredibel yang mengelolanya dan kemudian mendistribusikannya   dengan adil dan  produktif.  Masyarakat harus percaya kepada lembaga tersebut, karena program yang dicanangkan  ditujukan untuk memberdayakan masyarakat kurang mampu, dan tidak sekedar memberikan santunan yang tidak akan mampu mengentaskan mereka.  Memang menjadi pertanyaan kita semua, kenapa  para fakir miskin semakin bertambah, padahal zakat dan sedekah yang dikeluarkan oleh umat muslim semakin banyak.

Jawabannya ialah karena umat muslim yang kaya dan mampu belum menyadari sepenuhnya bagaimana memberdayakan masyarakat kuerang mampu tersebut.  Mereka bahkan  suka  menunjukkan  dirinya ssebagai orang dermawan dengan memberikan zakat atau sdekahnya secara langsung kepada penerima.  Mereka sudah puas dengan pemberian tersebut, meskipun sangat jelas  pemberian tersebut sama sekali tidak akan mampu mengubah status miskin menjadi lebih baik.  Pemberian uang yang hanya sekitar serratus ribu rupiah atau beras tiga kilo gram, tentu hanya cukup untuk  dikonsumsi beberapa hari saja, dan tidak akan mungkin dapat menolong mereka terentas dari jeratan kemiskinan.

Hal yang sangat mungkin dilakukan untuk menolong merka ialah memberikan  pelatihan dan ketrampilan kepada mereka sesuai dengan minat dan bakat mereka, dan kemudian diberikan modal secukupnya serta  pendampingan.  Artinya mereka diberdayakan melalui  ketrampilan yang diberikan kepada mereka, lalu diberi modal untuk usaha  dan didampingi agar  mereka tetap semangat dan  serius dalam berusaha.  Dengan begitu ada kemungkinan bahwa mereka kemudian akan mampu berdiri sendir dan pada saatnya  akan pula dapat membantu  yang masih miskin.

Itulah filosofi yang selama ini sudah dicanangkan dalam zakat, yakni menjadikan pn=enerima zakat agar pada saatnya justru menjadi pemberi zakat.  Umat Islam memang  dianjurkan dengan sangat agar mau mengeluarkan sedekha atas kelebihan harta mereka.  Sementara itu manakala hartanya tersebut sudah mencukupi dalam ukuran tertentu, maka  wajib baginya untuk berzakat.  Jadi ajaran Islam tersebut sungguh sangat ideal dalam upaya  menyeimbangkan antara  mereka yang kaya dan miskin.  Artinya mereka yang kaya berkewajiban untuk  mengeluarkan zakat agar yang miskin dapat terbantu dan memberdayakan diri mereka  untuk  meninggalkan kemiskinan yang menjerat merka.

Bahkan anjuran untuk berzakat dan juga bersedekah tersbut tidak hanya berhenti di situ, tetapi diteruskan dan dibarengi dengan motivasi lainnya yang seharusnya dapat membuat manusia  bersemangat untuk melakukannya, yakni  janji pahal yang berlipat di akhirat nanti.  Demikian juga janji balasan tersebut ternyata bukan hanya di akhirat, melainkan juga saat masih berada di dunia, yakni dengan dilancarkannya  jalan rizki, serta dimudahkan segala urusannya.

Hanya sayangnya masih banyak yang belum dapat merasakan janji tersebut, karena memang tidak pandai bersyukur kepada Tuhan atau  disebabkan memang belum dapat merasakan betapa nikmatnya bersedekah dan juga zakat.  Untuk  itu ada  nasehat bagi mereka yang sampai saat ini belum dapat merasakan  betapa sedekah tersebut mampu memberikan manfaat baginya secara langsung di dunia, yakni dengan  mempraktekkan secara  tuluis  bersedekah tersebut  dan kemudian  mencoba  melakukan instrospeksi diri, dalam hal pendapatannya.  Apakah semakin suliot dalam menjalani hidup setelah rutin bersedekah atau sebaliknya justru semakin lancar.

Kita menjadi yakin bahwa siapapun yang  dapat merasakan manfaat sedekah tersebut, pasti akan terus menambah sedekahnya, karena  hal tersebut bukan saja akan menambah kemudahan yang didapatkannya, tetapi juga akan  menjadikannya sebagai orang yang  mendapatkan ketenteraman jiwa.  Seolah tidak pernah mendapatkan persoalan hidup yang susah dipecahkan.  Kita juga dapat menyaksikan betapa mereka yang suka bersedekah, hidupnya akan tenang dan jauh dari persoalan, termasuk pesoalan keluarga.

Kekuatan sedekah sungguh sangat dahsyat dan mengagumkan dan  bahkan melintasi akal  manusia itu sendiri. Banyak  hal yang kemudian seolah menjadi tidak masuk akal, karena  kejaiban yang memang sengaja diberikan oleh Allah swt secara  langsung.  Cuma persoalannya belum banyak orang yang dapat merasakan kelezatan sedekah tersebut, sehingga pikirannya tentang harta masih  lebih berat ketimbang berpikir perniagaan ala Islam.  Seharusnya kalau seseorang yakin bahwa dengan sedekah, jalan rizkinya akan semakin terbuka, tentu orang tersebut akan melakukannya, sebagimana para  usahawan melihat  peluang yang kemudian berani memasukinya.

Itulah gambaran serba sedkit mengenai sedekah, dimana masih banyak diantara umat muslim yang belum tertarik menerjuninya.  Barangkali diperlukan sebuah gerakan  penyadaran secara masal serta  keteladanan dari para tokoh yang selama ini belum mempraktekkannya.  Artinya sedekah yang pada masa awal Islam  dianjurkan untuk dilaksanakan secara sembunyi sembunyi agar tidak ada pihak yang melihatnya, karena tajut riya’ atau kurang ikhlas, sat ini harus  mulai dicarikan haluan lain, tetapi masih tetap mempertahankan aspek ketulusan.

Sepertinya  perlu ada  gerakan sedekah yang diumumkan  kepada khalayak sebagai bagian dari keteladanan, dengan catatan bahwa pemberi sedekah tersebut tetaplah rendah hati dan tidak sombong serta tulus dalam  pemberiannya.  Memangb harus diakui bahwa  kondisi krisis keteladanan  sat ini memang menjadi salah satu factor penentu sulitnya pelksanaan sebuah program kebaikan.  Dengan  cara seperti itu diharapkan  akan mampu menggerakkan mereka yang mampu untuk  melakukan sedekah.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.