NUZULUL QURAN

Barangkali persoalan turunnya kitab suci bagi umat muslim, yakni al-Quran al-Karim sudah menjadi pengetahuan umum, yakni bahwa Tuhan menurunkan al-Quran tersebut  pada bulan Ramadlan, dan diturunkannya pada malam lailatul Qadar.  Karena hal tersebut sudah dijelaskan dalam  al-Quran sendiri, tetapi mengenai tanggalnya, kebanyakan ulama kemudian menafasirkan jatuh pada tanggal 17 Ramadlan, karena  bertepatan dengan terjadinya perang besar bagi umat muslim, yakni perang Badr.  Pengertian tersebut selama ini hampir menjadi sebuah kebenaran yang tidak perlu diutak atik lagi.

Namun sebagaimana  pernah saya sampaikan beberapa kali bahwa menurut riwayat hadis, justru turunnya al-Quran tersebut bukan pada tanggal 17, melainkan pada malam ke 24 bulan Ramadlan.  Riwayat tersebut juga dikuatkan dengan  penjelasan bahwa turunnya al-Quran tersebut tepat pada malam al-Qadar atau sering disebut oleh masyarakat sebagai malam seribu bulan.  Kita tahu bahwa menurut riwayat yang shahih bahwa terjadinya lailatul qadar tersebut  adalah pada sepertioga terakhir bulan Ramadlan.  Nah,  dengan begitu kalau turunnya al-Quran tersebut dianggap pada tanggal 17, maka logikanya tidak akan terjadi lailatur qadar.

Terlepas dari  pengetahuan mengenai kapan turunnya al-Quran tersebut, sesungguhnya ada hal lebih urgen ketimbang  masalah kapan turunnya, melainkan  setelah turun, lalu untuk diapakan kitab suci tersebut.  Apakah hanya sebagai sebuah kitab yang dipajang di almari saja, ataukan hanya untuk dibaca dan diperlombakan, ataukah  untuk dikaji dan kemudian diamalkan, dan lainnya.  Secara umum tentu semua orang sepakat bahwa  al-Quran itu diturunkan untuk  menjadi pedoman hidup bagi umat, dengan harapan  manakala berpegang kepadanya, umat akan menjadi selamat, dunia dan akhirat.

Secara pengertian saja al-Quran memag didefinisikan sebagai sebuah kita yang diturunkan oleh Tuhan kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, bahkan ada yang menambahkan dan dibacanya saja sudah merupakan sebuah ibadah.  Justru tujuan utamanya yakni untuk pedoman bagi umat, sering tidak dicantumkan dalam definisi, sehingga menyebabkan umat kurang ghirah atau  kurang greget  dalam membaca dan mengkajinya.

Atas dasar kenyataan tersebut, sudah selayaknya dalam Ramadlan kali ini, utamanya ketika kita sedang memperingati turunnya al-Quran, kita  mengingatkan kepada seluruh umat agar mengingat tujuan diturunkannya al-Quran.  Kitab suci tersebut bukan hanya sekedar sebagai gagah gagahan atau hanya sebagai tanda kelengkapan sebuah agama, melainkan justru untuk pegangan dalam menjalni hidup di dunia, agar terarah dan tidak melenceng dari jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan.  Harapannya  masyarakat akan mampu menjalani kehidupannya dengan  nyaman dan sejahtera, bahkan hingga di akhirat nanti.

Kita memang yakin bahwa membaca al-Quran itu  ibadah dan akan mendapatkan pahala, tetapi kalau hanya sekdar membaca tanpa menghayati kandungannya, tentu tidak akan mampu menyerap dan  mengetahui secara persis apa sesungguhnya ajaran yang disampaikan.  Padahal kita juga tahu bahwa tujuannya adalah sebagaipedoman hidup.  Nah, bagaimana mungkin kita akan mampu mempedomani al-Quran, kalau kita tidak mencermatinya dan memahami  isi kandungannya.  Sekedar membaca tentu tidak akan dapat menarik kesimpulan yang ada di dalamnya, meskipun membacanya itu  sudah cukup baik.

Kita menginginkan  bahwa umat muslim mau membaca dan sekaligus mencermati kandungannya, karena dengan mencermati dan memahaminya,  akan  dapat mengantarkannya kepada sebuah kondisi yang memungkina  orang tersebut menyadari keberadaannya dan kemudian timbul sebuah keinginan dan bahkan komitmen untuk selalu berbuat baik dan mendekat kepada Tuhan.  Kenapa demikian?. Ya karena isi kandungan al-Quran itu menyentuh kalbu pembacanya yang mau mengerti dan memahami.

Ketika  dibaca ayat ayat yang berkaitan dengan persoalan akhirat dan menceritakan mengenai betapa keras dan hebatnya siksaan Tuhan kepada mereka yang menentang dan durhaka, kita dapat mebayangkan betapa sengsaranya orang tersebut, sehinga dengan mencermati ayat tersebut kita akan dibuat keder dan  miris. Nah, dengan kondisi tersebut pada saatnya orang tersebut akan mampu menyadari bahwa  dia harus mentaati semua aturan Tuhan dan tidak sekali kali berani melanggarnya.

Demikian juga pada saat ayat ayat Tuhan yang berkaitan dengan janji surga bagi siapapn yang beriman dan beramal kebajikan, dan pengambaran mengenai betapa nikmatnya berada di dalamnya dengan segala kenikmatan yang dapat dicicipinya, tentu akan melahirkan sikap keinginan dan kerinduan yang sangat, yang akan menyebabkan dirinya  makpu melakukan apapun yang diperintahkan oleh Tuhan, karena kehidupan akhirat tersebut merupakan kehidupan abadi yang dinginkan oleh semua makhluk Tuhan.

Memang disamping  memahami dan mencermati kandungan  kitab suci kita tersebut, kita juga diperbolehkan menjadikan al-Quran sebagai  bacaan dengan lagu lagu merdu yang  menenangkan pikiran dan menentramkan hati.  Kita juga yakin bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan al-Quran saja  seseorang akan mampu menangka manfaatnya.  Salah satu manfaat tersebut ialah rasa ketenangan yang luar biasa dalam sanubari, karena  bacaan al-Quran tersebut termasuk dzikir yang memang akan mampu membuat hati dan jiwa menjadi tenang.

Bagi orang yang memang sudah beriman dengan baik, tentu akan sangat mudah untuk bertambah nilai dan kualitas keimananannya saat mambaca atau sekedar mendengan bacaan al-Quran.  Bahkan bagi orang seperti itu, hanya sekedar disebut nama Allah saja hatinya akan  menjadi keder.  Artinya setiap  nama Tuhan disebut, dia akan terguncang  hatinya, karena seluruh  perhatian dan konsentrasi hatinya hanya tertuju kepada Tuhan serta  penghayatannya kepada Tuhan sangat dalam, sehingga mudah tergugah dan trenyuh oleh apapun yang didalamnya disebut nama Tuhan.

Orang seperti itu akan semakin menjadi  kuat dan tebal imannya jikalau kemudian mendengarkan ayat ayat Tuhan, karena  akan mampu mencerna dan kemudian meresapi kandungannya.  Kita berharap akan banyak orang orang yang  dapat melakukan hal serupa, sehingga kondisi umat akan semakin membaik dan kesejahteraan serta kedamaian akan senantiasa menyelimuti umat.

Memperingati turunnya al-Quran sesunguhnya bukan sekedar memperingati saja, melainkan juga sekaligus berusaha untuk  mendalami dan mengamalkan isi  kandungannya.  Setidaknya  dalam peringatan tersebut  akan didapatkan sebuah motivasi untuk mengkajinya, atau setidaknya  termotivasi untuk membacanya, meskipun belum mampu mengamalkannya secara langsung.  Memang diperlukan sebuah  pengkondisian atau pembiasaan untuk melakukan  kajian dan bacaan al-Quran tersebut.

Apalagi di bulan suci ini, kita akan  terkondisikan untuk selalu menjaga diri dari hal hal buruk dan sebaliknya  termotivasi untuk melaksanakan hal hal positif dan memberikan manfaat.  Untuk itulah kiranya sangat tepat blamana dalam kesempatan memperingati nuzulul Quran yang diselenggarakan pada hari ini, khususnya di institusi kita,  harapan untuk  menjadikan al-Quran sebagai bacaan wajib bagi kita akan sedikit mendapatkan dukungan.  Komitmen kita sebagai umat muslim saat  menjalni puasa Ramadlan seeprti ini ialah bagaimana kita dapat mendapatkan pahala sebanyak banyaknya dan menghindarkan diri dari dosa.

Pada akhirnya  kita memang harus  terus memohon kepada Tuhan agar diberikan kesehatan dan kekuatan untuk dapat menyempatkan diri mengkaji al-Quran dan memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari hari.  Kalau misalnya belum mampu secara keseluruhan, maka  upaya mengamalkannya sedikit demi sedikit juga  tetap akan menjadi sebuah amalan yang cukup bagus.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.