MENJEMPUT LAILATUL QADAR

Pada sepertiga  terakhir setiap bulan suci Ramadlan, Tuhan senantiasa akan menurunkan malam yang dinamakan dengan lailatul Qadar, yang oleh kebanyakan umat di Indonesia disebut sebagai malam seribu bulan.  Malam keagungan tersebut oleh para ulama kemudian ditebak atau diperkirakan jatuhnya.  Sebagian diantara mereka mengatakan bahwa malam kemuliaan tersebut akan jatuh pada hitungan ganjil di sepertiga terakhir bulan Ramadlan, tetapi ada yang memastikannya pada tanggal 27, tetapi kebanyakan ulama justru tidak memberikan kepastian seperti itu dan hanya mengatakan bahwa  salah satu diantara malam malam di sepertiga akhir di bulan Ramadlan, pasti ada  yang bernama lailatul Qadar.

Malam kemuliaan tersebut sungguh luar biasa, karena menurut Tuhan, malam tersebut lebih baik ketimbang seribu bulan atau lebih dari delapan puluh tiga tahun.  Karena itu para ulama dan mereka yang mengerti, tentu akan mencarinya, karena  di malam tersebut semua amalan baik akan digandakan menjadi lebih dari  seribu bulan, bahkan umur kita saja terkadang tidak akan mencapainya.  Itulah salah satu keistimewaan umat nabi Muhammad saw.  Meskipun usia umat tersebut pendek pendek, tetapi akan dapat memetik pahala yang sangat banyak, bahkan melebihi mereka yang berusia ratusan atau ribuan tahun.

Memang kemudian ada  orang yang  hanya memaknai lailatul Qadar tersebut sebagai motivasi semata dan tidak benar benar seperti yang digambarkan banyak orang, tetapi itu juga hanya sebuah pendapat dan secara lahir informasi tentang lailatul Qadar tersebut memberikan pengertian bahwa memang kelebihan yang mencapai lebih dari seribu bulan tersebut dengan jelas dinyatakan sendiri oleh Tuhan dalam kitab suci al-Quran.  Karena itu boleh saja orang tidak berpendapat dan menafsirkan apapun, tetapi meyakini  secara apa adanya juga tidak salah, bahkan  sangat mungkin benar.

Namun sebagian ulama juga ada yang berpendapat lain lagi, yakni bahwa lailatul Qadar yang dilukiskan sebagai lebih baik dari seribu bulan tersebut hanya terjadi sekali saja, yakni pada saat al-Quran diturunkan dan setelah itu tidak akan ada lagi yang namanya lailatul Qadar.  Hal tersebut didasarkan kepada pernyataan Tuhan sendiri, bahwa  Tuha n menurunkan al-Quran tersebut pada malam lailatul Qadar, dan kaena saat ini  sudah tidak ada al-Quran yang turun, maka  lailaut Qadar tersebut uga secara otomatis tidak ada lagi.

Apapun pendapat yang dimunculkan oleh orang itu menjadi  khazanah pembicaraan yang memperkaya wawasan kita.  Hanya saja  untuk memahami sebuah teks sesungguhnya tidak cukup hanya berbekal pada  kemampuan menerjemahkan sebuah bahasa saja, melainkan  dibutuhkan perangkat ilmu lainnya, sehingga kelengkapan pemahaman akan didapatkan.  Salah satu ilmu penting untuk memahami al-Quran ialah hadis Nabi, karena fungsi hadis  salah satunya ialah untuk  menjelaskan  keteranga yang ada di alam al-Quran.

Nah, dalam hadis  banyak diceritakan  mengenai lailatul Qadar tersebut, termasuk cerita  diri Nabi dan para sahabat saat itu yang setiap tahunnya, yakni  saat sepertiga  terakhir pada bulan Ramadlan selalu menjalankan  aktifitas  i’tikap di masjid untuk mendapatkan lailatul Qadar, bahkan ingga saat ini   banyak manusia  yang mewarisi aktifitas tersebut, khsususnya di masjid Nabawi dan bahkan di dunia.  Disamping itu banyak riwayat yang menyatakan bahwa Nabi juga menyatakan kepada para sahabatnya untuk senantiasa mencari lailatul Qadar tersebut pada sepertiga  akhir di bulan Ramadlan.

Itu artinya bahwa lailatul Qadar menurut Nabi akan muncul setiap tahun dan Nabi tida menjelaskan kapan secara persis tepatnya, tetapi hanya dikatakan sebagai di speulu terakhir di bulan Ramadlan,  sehingga kitala yang harus menjemputnya dengan menjadikan sepuluh hari terakhir Ramdlalan sebagai wahana untuk memperbanyak amalan dan ibadah, agar  saat lailatul Qadar  diturunkan, kita tidak akan kehilangan kesempatan untuk memanfaatkannya.  Kalau kita menginginkannya, sebaiknya tidak  mencarinya dengan mencarinya di hari ganjil atau pada tanggal tertentu saja, karena itu hanyalah  perkiraan semata.

Bahkan kalau diterapkan saat ini, khususnya di negera kita, justru kita akan  kesulitan, karena sebagaimana kita tahu ada dua kepercayaan  besar yang diyakini oleh sebagian  masyarakat kita, yakni mengenai penanggalan  bulan suci atau bulan Qamariyyah.  Ada sebagiannya yang nanti malam itu baru malam ke dua puluh satu atau malam ganjil dan ada yang mengangapnya sebagai malam ke dua puluh dua, karena awal puasa dimulai hari Sabtu dan bukan Minggu.  Itulah kenapa Nabi Muhammad saw dahulu tidak menentukan kapan tepatnya lailatul Qadar tersebut akan diturunkan oleh Tuhan, melainkan hanya  sekedar  memberikan informasi bahwa diantara sepuluh hari terakhir atau sepertiga terakhir  dalam bulan Ramadlan  itu, pasti ada salah satunya yang merupakan lailatul Qadar.

Perbincangan mengenai lailatul Qadar memang tidak akan pernah kehabisan bahan dan sejak zaman dulu hingga saat ini terus bermunculan mengenai tafsir dari lailatul Qadar tersebut, tetapi tafsir yang paling sahih terhadap al-Quran ialah hadis Nabi, sehingga umat muslim seyogyanya  berpegang kepada riwayat yang  ada dalam hadis shahih, sehingga  kita akan dapat mencari lailatul Qadar tersebut setiap bulan Ramadlan, termasuk Ramadlan tahun ini.  Kita berharap kepada Tuhan, akan mampu menemukannya dan sekaligus memanfaatkannya untuk berbuat kebajikan dan menjah dari tindakan mungkar.

Untuk itu kita berharap seluruh umat muslim mulai malam nanti berkonsentrasi untuk mendapatkan lailatul Qadar dengan melakukan berbagai aktifitas ibadah, baik yang mahdlah atau murni maupun yang ghairu mahdlah, seperti menjalankan sahlat wajib, dan juga sunnah sunnahnya, termasuk  shalat tarawih, tahajjud dan witir, membaca al-Quran atau tadarrus, bersedekah, infak dan sejenisnya,  membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, i’tikaf dan amalan lainnya.  Jaga diri kita agar  sejak nanti malam hingga  idul Fitri nanti tidak banyak tidur malam, melainkan  sediakan sebagian malam untuk  beribadah dan bersedekah.

Memang  amat berat bagi orang yang tidak mengerti dan tidak termotivasi oleh lailatul Qadar, tetapi bagi yang meyakininya, tentu akan sangat menyesal kalau tidak memanfaatkannya, karena hanya sekali dalam satu tahun dan belum pasti tahun depan kita  dapat kesempatan lagi.  Songsong dan jemput lailatul Qadar dengan penuh semangat dan kegembiraan, dan jangan sampai kita membiarkannya berlalu begitu saja.  Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesehatan  kepada kita agat kita mampu menagkapnya dan  memberikan makna bagi kehidupan kita.

Barangkali masih banyak diantara umat muslim yang perlu diingatkan dan dicerahkan mengenai malam seribu bulan tersebut, siapa tahu mereka memang  benar benar belum tahu  atau lupa, karena tertutup oleh kesibukan mengurus dunia, dan  alasan lainnya.  Yang jelas sebagai sesama muslim kita wajib mengingatkan dan menyampaikan berita baik tersebut kepada seluruh  umat muslim, sehingga  mereka akan mampu melakukan kebaikan pada malam  penuh kemuliaan tersebut.

Lalaitul Qadar bukan sekedar cerita hampa yang tidak bermakna, melainkan sebuah kenyataan yang ada di hadapan kita semua.  Persoalannya kita mau atau tidak menyongsongnya dan sekaligus memanfaatkannya untuk memetik keberuntungan dan kebajikan di dalamnya.  Kalau ada pihaklain yang tidak mempercayai adanya lailatul Qadar lagi pada saat ini, biarlah dengan keyakinan mereka sendiri, tetapi kita tetaplah yakin dengan pernyataan Nabi Muhammad saw bahwa setiap tahun Tuhan pasti akan menurunkan malam seribu bulan tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.