TINGGALKAN YANG BURUK DAN AMBIL YANG BAGUS

Mungkin sangat tepat ungkapan yang sangat dikenal dikalangan umat Islam, yakni “al-muhafadhah ala al-qadim al-shalih  wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” atau mempertahankan tradisi bagus yang  sudah ada  dan mengambil tradisi baru yang lebih bagus.  Memang sudah seharusnya kita tidak meninggalkan atau melupakan seluruh tradisi yang pernah ada, karena pasti di sana ada tradisi yang bagus, dan itulah seharusnya yang tetap kita pertahankan, sambil tidak  lupa tetap menggali sesuatu yang lebih bagus.  Kita memang tidak boleh menutup diri terhadap segala tradisi, baik yang muncul dari dalam maupn dari luar negeri, tetapi harus selektif dan tetap berpendirian bahwa yang terbaik itulah yang harus  diambil.

Ungkapan tersebut sangat tepat untuk diketengahkan kembali di tengah tengah kita, sebab  saat ini ada kecenderungan sebagian masyarakat kita yang justru sebaliknya, yakni mengambil semua yang datang dari luar atau lebih tetaptnya dari Barat dan sama sekali tidak mau mengambil lagi semua yang dari Timur.  Alasan mereka sangat tidak masuk akal, yakni  Barat ialah yang lebih maju dan Timur tertinggal.  Memang dalam beberapa hal Barat dapat dikatakan  lebih maju, tetapi dalam beberapa hal Timur lebih bagus.  Untuk itu bukan Barat atau Timurnya yang diambil, melainkan semua tradisi atau kebiasaan yang bagus dan memberikan manfaat itulah yang seharusnya kita adopsi.

Dalam al-Quran pun telah dijelaskan bahwa bukannya kebaikan itu dengan menghadapkan wajah ke Timur atau Barat, tetapi kebaikan itu ialah kalau seseorang mau beriman kepada Tuhan, haqri akhir, mau membantu saudaranya yang lemah dan kekurangan dan lainnya.  Artinya  kebaikan itu bukanlah persoalan Timur atau Barat tetapi kebaikan itu ialah  sebuah  kondisi dimana semua orang dapat mendapatkan manfaat dan  mendapatkan keadilan serta  dapat menunaikan kewajiban serta hal haknya terpenuhi.  Nah, karena itu kebaikan itu memang harus terus digali sesuai dengan kondisi masyarakat.

Ada kalanya tradisi yang selama ini sudah berjalan dan dianggap sebaggai baik, maka sudah barang pasti kalau hal ntersebut dilanjuutkan tidak menjadi masalah dan bahkan sangat mungkin  harus dipertahankan, karena menyangkut persoalan prinsip.  Tetapi kalau tradisi tersebut sudah tidak tepat lagi diterapkan, disebabkan kondisinya sudah tidak memungkinkan, sehubungan dengan perubahan zaman dan kondisi masyarakat, maka  tentu harus ditinggalkan dan digantikan oleh tradisi baru yang lebih bagus dan  dapat  dirasakan manfaatnya leh banyak masyarakat secara umum.

Tradisi tersebut dapat  berada di dalam lingkungan masyarakat yang luas dan juga dapat berada di lingkungan terbatas.  Artinya ada skala jangkauan yang dapat mengukur bahwa  sesuatu tradisi tersebut dianggap baik, seperti  masyarakat, dan ada  kalanya dalam skala yang lebih sempit, seperti dalam lingkup  kantor atau tempat bekerja dan sejenisnya.  Untuk itu semua hal harus diukur dengan kelayakan sesuai dengan lingkup masing masing, dan tidak mesti seluruhnya sama.

Sebagai misal kalau pada zaman yang lalu setiap siswa yang masuk dalam sebuah sekolah, akan disambut dengan semacam acara yang membuat mereka harus melakukan hal hal aneh  dan tidak biasa dilakukan.  Atau dalam bahasa vulgarnya ialah  mereka digojlok sebelum  menduduki kursi sekolah tersebut, karena itu memang tradisi yang sudah bisa dilakukan dan masyarakat mengangapnya sebagai hal yang wajar, tetapi hal seperti itu kemudian dinilai sebagai sesuatu yang keluar dari aspek pendidikan, sehingga dipandang sebagai  sesuatu yang tidak tepat dan bahkan kemudian diangap sebagai pembodohan.  Karena itulah tradisi seperti itu kemudian  dijauhi dan dilarang untuk dipraktekkan, meskipun masih ada yang tetap menginginkannya.

Tidak hanya di sekolah, dikampus pun selalu diadakan hal serupa  sehingga banyak calon mahasiswa yang terkadang harus menderita atau bahkan pingsan karena tidak tahan dengan golokan yang dilakukan oleh para senornya.  Semua itu saat ini sudah tidak populer lagi, karena  pendidikan seharusnya lebih menitik beratkan kepada aspek akademik dan bukan yang lain.  Bahkan saat ini  dirasa lebih mendesak untuk memberikan pendidikan karakter kepada setiap calon mahasiswa baru ataupun siswa baru, agar mereka tetap menjadi anak dan generasi muda Indonesia yang tangguh dan tetap berakhlak mulia.

Persoalannya ialah saat ini masih saja ada pihak yang menginginkan tradisi seperti itu tetap dilanjutkan, meskipun sudah banyak ditentang oleh masyarakat serta  dunia pendidikan itu sendiri.  Orientasi pendidikan harus diarahkan  untuk membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, serta tetap menjadi Indonesia.  Penggojlokan, dengan dalih apapun sebenarnya sudah tidak zamannya.  Persoalan kedisiplinan misalnya, tidak perlu dilakukan dengan kekerasan dan memaksa, melainkan harus dilatih dalam sebuah kebiasaan yang terus menerus.  Demikian juga dengan daya kritis yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda untuk tetap memberikan jaminan bahwa masyarakat akan mendapatkan keadilan, juga tidak perlu dilakukan dengan cara yang justru bertentangan dengan substansinya itu sendiri.

Karena itu semua pihak memang harus menggunakan rasio untuk  memperbaiki kondisi dalam upaya  mencerdaskan anak anak bangsa, danbukan lagi  mempertahankan cara kono yang sama sekali sudah usang dan tidak mendidik.  Beberapa perguruan tinggi yang masih menrapkan sistem penggojlokan sudah mendapatkan  kritik tajam dari masyarakat, dan bahkan  sudah terjadi korban yang sangat memalukan dunia pendidikan.  Untuk itulah saatnya ita menyadari dengan kebesaran hati agar kita tetap bertindak dalam koridor mendidik dan menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat yang sudah berubah.

Kita tentu sangat mengapresiasi keinginan beberapa pihak yang  terus  berusaha mencari bentuk yang terbaik dalam upaya memberikan pendidikan kepada anak anak bangsa melalui  berbagai aktifitas yang  patas, meskipun bentuknya yang final belum ditemukan.  Hanya saja usaha tersebut memang harus diantu dengan memberikan support dan pemikiran, sehingga pada saatnya nanti akan dapat ditemukan bentuk yang ideal untuk pembinaan generasi muda tersebut.

Sebagaimana kita tahu bahwa saat ini masih banyak  tokoh dan pemimpin di negeri ini yang integritasnya diragukan, sehingga mereka sangat mudah tergoda oleh rayuan harta yang dapat menyeret mereka  dalam ranah hukum, dan tidak sedikit pula diantara mereka yang kemudian harus menghni hotel prodeo, dan masih banyak yang sudah antri untuk mendapatkan giliran.  Tentu kita tidak ingin menyaksikan lagi generasi muda  meniru atau meneladani mereka, tetapi justru  para generasi muda menyatakan perang terhadap segala penyelewengan dan ketidak taatan terhadap aturan main yang ada.

Kita harus bertekat dan berusha  dengan  sungguh sungguh  untuk mewujudkan generasi yang terbaik dan dapat menyelamatkan bangsa ini dari kemungkinan terburuk dan kehancuran, khususnya kehancuran moral.  Hal tersebut  hanya dapat dilakukan melalui pendidikan yang baik dengan seluruh sistemnya.  Kita memang harus berjihad untuk meraih  mondisi tersebut, yakni terus menerus berusaha dengan berbagai cara yang memungkinkan dan tidak keluar dari koridor ketentuan yang ada. Kita yakin bahwa  dengan ketulusan dan  kebesaran jiwa, semua itu akan dapat diwujudkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.