MIMPI ITU BELUM MENJADI KENYATAAN

Harus diakui bahwa  dukungan rakyat kepada  calon presiden Joko Widodo yang kemudian dipasangkan dengan Muhammad Jusuf Kalla sangat besar, terutama rakyat  bawah yang melihat sosok Jokowi sebagai pemimpin yang merakyat, suka blusukan dan tidak elitis.  Hanya saja  meskipun pencoblosan sudah selesai, dan hitung cepat sudah dilakukan, serta sudah pula meyakini kemenangannya pada sore setelah pencoblosan, tetapi karena pihak capres Prabowo Subiyanto dan  Hatta Rajasa juga mengatakan kemenangannya lewat hitung cepat, maka kondisinya menjadi serba tidak menentu.

Artinya klaim kemenangan yang sebelumnya sudah diyakini dan bahkan telah dirayakan, ternyata masih mendapatkan perlawanan dari calon lainnya, sehingga memang harus menunggu hasil penghitungan oleh KPU pada tanggal 22 Juli nanti.  Nah, dalam rentang waktu menunggu tersebut tentu harus dilakukan pengawasan yang super ketat dari masing masing caln presiden da wakilnya, karena indikasi untuk kecurangan  sudah nampak.  Para penyelenggara pemilu dan termasuk panwaslu seharusnya juga bekerja ekstra untuk mengamankan dan menyelemahtkan suara rakyat yang telah diberikan.

Dengan begitu kita berharap setelah tanggal 22 Juli nanti tidak ada lagi saling klaim dan bahkan semuanya akan menerima apa adanya, karena itulah keputusan rakyat.  Mungkin tetap akan ada dan muncul persoalan sehubungan proses penyelenggaraan pilpres kemarin, hanya saja karena persoalannya tidak akan mengubah hasil pilpres, maka sebaiknya dilakukan sebagai langkah evaluasi saja sehingga penyelenggara pemilu ke depannya akan  lebih  siap dan  menghindarkan segala kemungkinan kecurangan yang bakal muncul dari mana pun.

Ekspektasi masyarakat bawah untuk mendapatkan seoranag pemimpin yang merakyat yang ditandai dengan munculnya sosok Jokowi memang belum  terealisasi, meskipun banyak pihak yang sudah sangat yakin dengan hitung cepat beberapa lembaga survey yang dianggap krdedibel yang memanangkan Jokowi JK, namun  sebaiknya semua pihak memang  bersabar dan menunggu hingga  KPU mengummkannya nanti.  Hitung cepat memang  bukan hasil akhir dan hanya sebagai sebuah pengetahuan dan juga dapat dijadikan sebagai alat kontrol terhadap penghitungan riil, karena itu selayaknya memang belum layak untuk mengklaim kemenangan, walaupun disertai dengan versi hitung cepat sekalipun.

Barangkali  persoalannya akan lain, jikalau seluruh lembaga survey yang melakukan hitung cepat  menghasilkan  hasil yang sama, tetapi ini kondisinya sangat lain, walaupun tentu ada  sebagiannya yang tidak tepat.  Sekaligus dalam rangka menjadi kesatuan dan persatuan seluruh masyarakat serta menjaga jangan sampai terjadi perpecahan di masyarakat, sebaiknya memang semua sepakat untuk menunggu pengumuman KPU nanti sambil terus memantau penghitungan secara berjenjang yang sedang berjalan.  Semoga  bangsa ini memang dihindarkan dari perpecahan, hanya karena pilpres, karena  masyarakat sudah sangat dewasa dan dapat memilih jalan yang lebih baik dan bermartabat.

Disamping itu kalau masyarakat  bawah banyak bermimpi agar mempunyai pemimpin yang merakyat, jangan lupa bahwa sebagian masyarakat kita juga mempunyai  mimpi yang lain, yakni mendapatkan pemimpin yang tegas yang diwujudkan pada sosok Prabowo Subiyanto.  Nah, mimpi yang demikian besar tersebut tentunya  akan sangat mempengaruhi  masyarakat yang bermimpi tersebut, khususnya jikalau impiannya tidak menjadi kenyataan.  Hanya saja sekali lagi diingatkan  bahwa pilpres ini hanyalah persoalan memilih pemimpin yang ditentukan oleh seluruh masyarakat Indonesia, sehingga kita tidak boleh memaksakan kehendak.

Kita memang dapat menganalisa tentang dua sosok calon presiden yang ada, dimana masing masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.  Kita yakin bahwa tidak ada sosok manusia yang sempurna, tetapi sudah pasti masing masing orang mempunyai kelebihan dan sekaligus juga kekurangan.  Persoalannya ialah apakah kekurangan yang ada pada diri seseorang disadarinya dan kemudian berusaha untuk  menambalnya, baik melalui usaha sendiri ataupun dengan bantuan pihak lain, ataukah justru kekurangan dan kelemahan tersebut sama sekali tidak disadari sehingga merasa paling hebat dalam semua segi.

Dalam kaitan dengan persoalan tersebut  saya ingat kepada sebuah  kata bijak yang menyakan  manusia itu ada emp[at macam kalau dihubungkan dengan pengetahuan dan sekaligus kebijaksanaannya, yakni  pertama orang yang mengetahui bahwa dirinya tahu  sehingga dia akan tetap menjaga  diri dari pengetahuannya tersebut, kedua orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga dia menyadari kondisinya dan berusaha untuk mencari tahu, ketiga orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu, sehingga dia tidak dapat berberan dengan pengetahuannya tersebut, dan keempat ialah yang paling parah yakni manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, sehingga ia akan melakukan sesuatu yang menggelikan.

Nah, kita yakin bahwa kedua calon  yang ada  mengetahui bahwa dirinya  ada kelemaan sehingga  berusaha untuk menambalnya, dan bukan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, karena itu akan sangat berbahaya bagi kelanjutan bangsa dan negara ini.  Hanya saja kita sangat berharap bahwa para pendukung dan tim sukses masing masing tidak terlalu memaksakan diri dan berusaha untuk merusak suasana yang sudah kondusif ini dengan mengeluarkan pernyataan pernyatan yang dapat memancing emosi pihak pesaing.

Sebagai rakyat yang tidak berpihak kepada calon tertentu, meskipun pada saat coblosan tetap nyoblos, kita tentu akan menerima siapapun yang nantu mendapatkan mandat dari rakyat dan menjadi presiden untuk lima tahun mendatang.  Bahkan penerimaan tersebut juga sekaligus disertai dengan iringan doa semoga dapat megemban amanah rakyat, yakni memajukan dan mensejahterakan rakyat serta membawa negara kita  disegani oleh bangsa bangsa lain di dunia.

Kita tidak akan mempermasalahkan siapa nanti yang akan memimpin negara ini, namun  ada pengharapan bahwa mereka yang menjabat sebagai menteri hendaklah dari kalangan profesional yang konsentrasi penuh dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga mereka tidak boleh merangkap sebagai pengurus inti partai.  Profesional tersebut dapat muncul dari mana saja, apakah dari parpol, dari akademisi, pengusaha dan lainnya.  Keprofesionalan tersebut ditandai dengan kemampuan seseorang dalam bidang yang diamanahkan kepadanya, sehingga dia akan mampu bekerja dengan sangat bagus dan mencapai target.

Pengalaman selama ini kalau para menteri atau penyelenggara negara merangkap jabatan di luar, seperti di partai politik, tentu tidak akan fokus dan kerjanya sangat lamban dna bahkan cenderung amburadul.  Apalagi kalau sudah mendekati pemilu, dimana semua menteri kemudian tersibukan dengan urusan politik praktis partainya, urusan kementerian menjadi terabaikan.  Memang benar di kementerian pasti ada dirjen dan lainnya, namun  kalau menterinya tidak fokus dan tidak aktif, maka kinerja dirjennya pun juga akan berkurang dan itu sudah dirasakan oleh rakyat dalam kabinet yang selama ini sudah berjalan.

Kalau memang tekad dari pemerintah baru mendatang ialah memperbaiki kondisi Indonesia  agar menjadi lebih bagus, maka tidak ada jalan lain, terkecuali semua menteri dan penyelenggara negara lainnya harus dibebaskan dari urusan politik praktis.  Atau dengan  kata lain semua yang telah diangkat sebagai pejabat negara harus  mau meninggalkan jabatan politik di partai dan jabatan apapun yang dapat mengganggu  jalannya pemerintahan yang dijabatnya.  Semoga mimpi rakyat yang demikian dapat berjalan mulus. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.