SEDEKAH DI BULAN SUCI

Salah satu imbas atau hikmah dari puasa adalah munculnya sifat dermawan pada diri orang yang menjalankannya, meskipun hikmah tersebut belum mampu dihasilkan oleh banyak orang, tetapi setidaknya secara teori  sudah ada dan bahkan dalam praktenya pun juga sudah ditemukan, Cuma prosentasenya masih sangat sedikit.  Untuk itulah upaya untuk terus memperkanalkan persoalan tersebut kepada umat secara umum harus terus dilakukan  dan tidak bosan.  Mungkin  melaksanakan sedekah pada bulan Ramadlan sudah banyak dilakukan oleh umat, baik dengan memberikan sumbangan ke panti asuha, anak yatim, dan juga melalui peberian takjil berbuka puasa di masjid masjid dan lainnya.

Hanya saja  hal tersebut tidak mampu  menjadikan kebiasaan memberi berlanjut pada saat di luar Ramadlan.  Memang sangat mudah dan didorong oleh sebuah  aura yang ada di Ramadlan sehingga membuat banyak orang mampu melakukan kabaikan, naum yang justru lebih penting dari itu ialah agaimana melestarikan amalan baik tersebut tetap berlanjut pada bulan bulan lainnya.  Inilah persoalan yang harus dicarkan solusinya dengan harapan umat akan semakin menjadi peduli dengan sesama  dan jurang anara yang kaya dan miskin akan semakin terpangkas bersamaan dengan kepdulian aghniyak kepada fuqarak dan masakin.

Kalau bulan Ramadlan ini  memberikan nuansa  yang sangat mendukung berbuat baik, itu disebabkan memang Tuhan telah memutuskannya seperti itu.  Nabi mUhmmad  saw sendiri telah memberitahukan bahwa  ketika Ramadlan datang, maka pintu surga  dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat serta setan  dibelenggu, sehingga tidak akan dapat menggangu manusia.  Memang hadis tersebut tidak boleh dimaknai hakiki bahwa memang surga dibuka pintunya dan neraka ditutup serta setan dibelenggu.  Arti sesungguhnya hadis tersebut adalah sebagai perumpamaan atau arti kiasan semata.

Artinya kalau Ramadlan datang ada aura yang sangat mendukung dan memungkinkan manusia berbuat baik, meskipun sebelum Ramadalan tidak demikian.Dalam kenyataan kita dapat menyaksikan betapa bayak umat ada bulan Ramdlan tersebut  mampu berbuat kebaikan, seperti  menyempatkan diri untuk melaksanakan shalat secara berjamaah, meskipun dalam kesehariannya tidak pernah melakukannya atau jarang melakukannya.  Juga mereka  sangat antusias mengkaji kitab suci atau  buku yang memuat ajaran syariat Islam, yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya dan masih banyak lagi.

Bahkan kalau kita saksikan pada malam hari betapa umat sangat antusias menjalankan shalat tarawih di berbagai tempat, seperti masjid,  mushalla, kantor dan  tempat lainnya.  Bahkan  ghirah umat begitu hebat sampai sampai tempat tempat tersebut menjadi sangat sempit untuk menampung mereka. Kondisi seperti itu akan sangat konras dengan bulan selain Ramadlan, dimana masjid, mushalla sangat sepi, bahkan  hanya  sebagai tempat shalat beberapa orang saja  dan selebihnya mungkin lebih senang shalat di rumah masing masing.

Itulah barangkali  yang dimaksud dengan hadis tersebut, yakni Tuhan memang menciptakan Ramadlan sebagai bulan yang semuamanusia dimudahkan utnuk melakukan kabaikan.  Namun seharusnya kita  tidak hanya berhenti di situ, tetapi dapat menangkap makna yang lebih dalam dari itu, yakni menjadikan Ramadlan sebagai pusat laian untuk mempersiapkan sebelas bulan berikutnya, sehingga setahun penuh manusia akan  mampu berbuat baik dan menguntungkan dirinya pada saat nanti dimintai pertangung jawaban oleh Tuhan di akhirat.

Berbuat baik tersebut akan menjadi lebih baik lagi jikalau yang kita lakukan ternyata dapat berimbas kepada perbaikan pihak lain, dan bukan hanya perbaikan diri sendiri.  Artinya  kalau perbuatan baik yang kita lakukan hanya  berupa  perbaikan ibadah personal, maka itu tidak akan mempu mengubah dan mempengaruhi kebaikan pihak lain, tetapi kalau perbuatan baik yang kita lakukan tersebut ialah memberikan bantuan kepada pihak lain, baik berupa maeri ataupun non materi, tentu akan dapat  berimbas kepada pihak lain tersebut.

Sebagai contoh kalau kita  memberikan sedekah kepada pihak lain yang sangat membutuhkan sedekah tersebut, tentu kebaikan tersebut akan bermakna ganda, yakni kebaikan yang melekat pada diri  pemberi, yakni menjadi dermawan yang tentu akan mendapatkan balasan dari Tuhan, dan sekaligus kebaikan bagi penerima sedekah tersebut, karena ia akan  terpenuhi kekurangannya, paling tidak untuk sementara waktu.  Apalagi kalau pemerian ersebut besar dan dapat dijadika modal untuk berbuat lebih banyak, tentu akan  lebih baik lagi.

Nah kaitannya dengan persoalan tersebut, kiranya sudah saatnyalah kita memikirkan  pengelolaan dana infak atau sedekah tersebut.  Artinya masyarakat diharapkan mau secara sadar memberikan  sedekahnya melalui badan atau lembaga yang menguurus persoalan tersebu dan mempunyai program nyata dalam mengentaskan kemiskinan serta kredibel  dan amanah dalam megelola dana umat.  Memang tidak ada larangan memberikan sedekah langsng kepada yang bersangkutan, sebagaimana  juga boleh memberikan zakat langsung kepada penerima.  Namun manfaatnya menjadi berkurang, karena tidak akan mampu mengubah kndisi penerima.

Lembaga pengelola zakat dan sedekah tersebut saat ini sudah marak disekitar kita dan diantaranya sudah terbukti mengelola dana umat dengan sangat baik dan amanah.  Bukti keamanahan mereka ialah laporan yang rutin diberikan dengan data data akurat yang menunjukkan bahwa  ada masyarakat yang  menjadi sasaran dan  diberdayakan, bukan hanya sekedar dibantu sekedarnya saa.  Masyarakat yang diberdayakan tersebut kemudian diharapkan akan mampu mengembangkan dirinya dan pada saatnya aan mampu menjadi donatur dalam hal sedekah ataupun zakat.

Saatnya masyarakat menyadari betapa pentingnya memberdayakan masyarakat yang masih belum mampu, agar mereka dapat  sejajr atau mendekati kesejajaran sehingga dapat bersama sama membangun lingkungan dengan bagus sebagaimana yang diidam idamkan bersma.  Tentu tidak ada orang yang ingin  sejahtera sendirian atau ingin aman, damai dan nyaman sendirian, melainkan keinginan untuk hidup sejahera tersebut bersama sama dengan seluruh masyarakat.  Mungkin memang ada pihak yang  berkeinginan untuk  paling hebat atau paling kaya, tetapi keinginan tersebut tentu tidak didasarkan atas kebersamaan dan hati nurani yang paling dalam.

Kembali kepada persoalan sedekah di bulan Ramadlan seperti saat ini, di samping selayaknya  dilakukan dengan mendistribuskannya melalui lembaga lembaga pegelola yang ada  sebagaimana disebutkan d atas, juga seharusnya dilakukan dengan keikhlasan, karena hanya ikhlas itulah yang akan mampu memberikan dampak secara batin atau akan menetukan apakah sedekah tersebut berpahala ataupun tidak.  Memang sudah banyak anjuran agama yang memberikan iming iming pahala besar jikalau mau bersedekah di bulan suci ini, akan tetapi landasan ikhlas juga masih tetap menjadi syarat mutlak.

Motivasi pahala yang lipat gandakan pada saat bulan suci  ini juga bukan jaminan bahwa setia amalan baik pasti akan mendapakan balasan sebagaimana dijanjikan, karena  masih ada syarat yang harus dipenuhi pada saat melaksanakan kabaikan tersebut.  Persyaratan tersebut entu yang utama ialah diniatkan karena Allah semata, dan bukan karena yang lain, kamudian  juga syarat tulus dan tidak merasa terpaksa atau  karena ingin pamer atau bahkan sombong.  Nah, kalau keliru dalam niat tersebut, amalan baik tersebut justru tidak akan mendapatkan pahala, tetapi malahan  akan menjadi penghalang bagi  kita untuk mendapatkan rahmat secara umum dari Tuhan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.