PUASA ITU PERISAI

Rasul Muhammad saw memang pernah mengatakan bahwa puasa itu menjadi perisai atau tameng, bahkan dalam sebuah hadis Qudsi juga pernah diungkapkan bahwa puasa itu hanya untuk Tuhan dan Allah sendirilah yang akan membalas orang yang berpuasa, dan demikian juga puasa tersebut juga  dapat menjadi junnah atau perisai bagi yang menjalankannya.  Dalam pemahaman selama ini bahwa perisai tersebut dimaknai sebagai tameng dari hawa nafsu dan juga  dari perbuatan maksiat, sehingga pemahaman tersebut melahirkan pemahaman berikutnya bahwa selama menjalankan puasa tersebut seseorang harus mampu juga mengendalikan nafsunya dan segala hal yang mendatangkan dosa atau maksiat.

Rupanya pemahaman yang demikian  mendapatkan persetujuan semua kalangan dan tidak ada kontra pemahaman lainnya.  Dengan demikian pemahaman tersebut  masih tetap eksis hingga saat ini, meskipun dalam implementasinya menjadi lain.  Artinya selayaknya pemahaman tersebut akan menjadikan orang yang berpuasa tidak hanya  menahan diri dari makan, minum, dan berkumpul  snatar suami isteri dari fajar hingga terbenam matahari, melankan juga harus mampu menahan diri dari hasrat nafsu lainnya dan juga dari melakukan hal hal yang menariknya melakukan kemaksiatan, seperti berbohong, memfinah dan sejenisnya.

Justru yang lebih mengemuka dalam pemahaman di masyarakat ialah berpuasa itu identik dengan menahan diri dari makan, minum dan berkumpul suami isteri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dan itu juga yang kemudian muncul dalam definisi puasa dalam berbagai referensi fiqh yang ditulis oleh para ulama dan dikonsumsi oleh masyarakat umum.  Jadilah distorsi pemahaman dari tafsiran awal dengan praktek masyarakat disebabkan oleh kurang telitinya  pembuat informasi  melalui buku atau kitab yang diperuntukkan bagi masyarakat luas.

Pada saatnya sekarang ini pengertian itulah yang menjadi pegangan umat, karea itu tidak heran kalau dalam prakteknya, maqsih banyak umat yang menjalankan puasa, tetapi masih melakukan  hal hal yang tidak terpuji tersebut dan dianggapnya tidak masalah, seperti berbohong, ngerumpi, bahkan juga adu domba, membuka aib  saudaranya, dengki, dendam dan bahkan uga fitnah.  Melihat kondisi yang seperti itu kiranya sudah saatnya kita harus memberikan pencerahan kepada umat agar embali kepada pemahaman awal tentang perisai tersebut, bahkan lebih meningkat lagi.

Artinya berpuasa tersebut tidak sekedar pada saat menjalankan puasa saja, yakni  menghindarkan diri dari semua yang membatalkan dan semua yang menyebabkan hilangnya nilai pahala puasa, melainkan juga harus diupayakan agar nilai nilai penghindaran terhadap nafsu dan segala maksiat tersebut berimbas  pada saat setelah menjalankan ibadah puasa.  Barangkali maksud menjadi perisai tersebut bukan saja saat menjalankan ibadah puasa saja, tetapi justru akan menjadi perisainya  setelah selesai melakukannya.

Artinya manusia yang sesudah menjalankan ibadah puasa, akan mampu menjadi sosok manusia yang berbeda dari sebelumnya, yakni mampu mengendalikan dirinya dari jeratan nafsu dan hal hal lain yang dapat dikategorikan sebagai kemaksiatan.  Pesan yang dibawa oleh puasa itu sendiri sesungguhnya mengarah kepada pengertian yang lebih luas tersebut, sehingga perintah puasa sebagaimana  yang Allah sampaikan dalam al-Baqarah 183 pada ujungnya tersebut  benar benar aplikatif, yakni menjadi manusia yang taqwa.

Nah, makna taqwa itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai kondisi dimana seseorang dengan kesadaran tinggi dan tulus, mau melaksanakan seluruh perintah Allah swt dan sekaligus juga meninggalkan atau menghindar dari seluruh hal yang dilaran-Nya. Dengan pengertian tersebut kiranya cukup jelas bahwa perintah puasa tersebut sesungguhnya diinginkan agar yang menjalankannya akan menjadi sosok yang taqwa tersebut, yakni manusia yang taat dan patuh secara tulus dan bukan karena takut atau terpaksa.

Dengan begitu makna perisai sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan untuk diperbarui dengan tambahan yang memungkinkan tujuan sebagaimana dimaksudkan oleh Tuhan tersebut  dapat diraih.  Artinya bukan saja  puasa itu  dapat menghindarkan diri dari nafsu dan perbuatan maksiat, melainkan juga sekaligus menimbulkan gairah dan semangat untuk melakukan hal hal positif yang bermanfaat.  Orang yang diberikan titel taqwa bukanlah mereka yang pasif dalam melaksanakan aktifitas baik dan sekedar tidak melaksanakan  sesuatu yang diharamkan saja, tetapi justru taqwa itu akan mendorong  orang yang memilikinya untuk aktif dalam melakukan erbagai hal yang memberikan manfaat, baik bagi dirinya maupun  pihak lan dan juga lingkungannya.

Jikalau kita menyimak tentang hikmah berpuasa sebegaimana yang sudah digali leh banyak ulama, tentu kita akan sepaham bahwa rangkaian mengenai definisi, dan juga hkmah tersebut harus disatukan dalam sebuah pemahaman yang utuh, sehinga akan dapat memungkinkan siapapun yang menjalankan puasa akan menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.  Banyak hikah yang dapat digali dari puasa tersebut, dan  diantaranya ialah melahirkan sifat disiplin, sifat peduli terhadap sesama dan lingkungan, sifat sabar dan tidak mudah emosi, serta  pemaaf.  Tentu masih banyak lagi, hanya saja beberapa  hikmah tersebut iranya sudah cukup mewakili.

Sebagaimana kita tahu bahwa disiplin bagi masyarakat kita masih menjadi barang mahal, dalam sisi kehidupan dan bidang apapun;  dalam beribadah, dalam kehidupan bermasyarakat, seperti berkendara, bertransasksi, dan lainnya.  Demikian juga dalam hal  bertangung jawab atas pekerjaan yang menjadi kewajbannya.  Untuk itu disiplin harus terus diupayakan melalui berbagai  tahapan yang memungkinkan.  Nah, salah satu momentum yang sangat krusial adalah Ramadlan, dimana umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa.  Kita tidak ingin  ibadah puasa yang diperintahkan langsung oleh Tuhan tersebut menjadi sia sia atau bahkan hanya menjadi beban saja, dan tidak memberikan kontribusi positif bagi  diri orang yang menjalankannya.

Kita tentu menginginkan bahwa puasa tersebut dapat membentuk pribadi muslim yang tanguh, dengan disiplin tinggi dan produktif, karena itulah makna puasa yang seharusnya  didapatkan.  Kalau selama ini banyak umat menjalankan puasa hanya sekedar memnuhi kewajiban dan hanya berkaitan dengan persoalan akhirat, maka itu sebuah kerugia besar bagi kita, karena seharusnya kita  bisa mendapatkan kedua duanya, yakni hal yang terkait dengan  akhirat dan juga dengan kehidupan di dunia.

Demikian juga dengan sifat peduli kepada sesama yang menderita dan  kekurangan secara ekonomi.  Puasa seharusnya dapat menggugah nurani kita untuk memikir bawa ternyata  kita ini lapar di siang hari cma sebentar dan maqsih mempunyai harapan untuk makan di sore hari, tetapi bagaimana  kalau saudara kita yang memang lapar karena tidak mempunyai harapan untuk mengisi perutnya.  Untuk itu kemudian gairah untuk berbagi dengan sesama menjadi muncul dan sekaligus hal tersebut akan terus  permanen dalam dirinya  sehingga  dia akan menjadi seorang yang peduli dengan sesama.

Puasa sehsrusnya juga dapat membuat pelakunya  menjadi sabar dalam arti positif yang tidak mudah mengeluh dan berputus harapan, justru malah tangguh daam menghadapi setiap persoalan dan hambatan.  Sifat tersebut kemudian juga akan menumbukan sifat lainnya, yakni mudah memberikan maaf atas kesalahan pihak lain.  Rangkalain capaian atas sifat sifat tersebut sesungguhnya merupakan pemahaman dan sekaligus bukti bahwa puasa tersebut memang harus menjadi junnah atau perisai bagi kita.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.