JANGAN LAKUKAN SESUATAU YANG MENGUNDANG MASALAH

Sebagaimana kita tahu semua bahwa saat ini merupakan masa tenang sebelum besuk memilih calon pemimpin nasional.  Seharusnya semua pihak menghormati masa tenang tersebut, apalagi saat ini juga sekaligus  masa puasa Ramadlan, karena itu jangan sampai ada pihak pihak yang melakukan hal yang dapat menyebabkan kecurigaan pihak lain, termasuk kegiatan  yang mungkin niatnya bagus, tetapi waktunya tidak tepat.  Namun memang perlu diseslkan bahwa dalam masa tenang ini masih banyak pihak yang justru membuat tidak tenang, yakni dengan melakukan sejumlah kegiatan yang memancing pihak lain untuk bereaksi.

Banyaknya hujatan dan tudingan miring kepada salah satu calon presiden dan wakilnya yang disampaikan lewat  dunia maya, ternyata cukup meresahkan masyarakat.  Anehnya pihak yang melontarkan hujatan dan sindiran miring tersebut menganggap bahwa  masa tenang tidak masuk di dalamnya  dunia maya yang diklaim sebagai urusan pribadi.  Kalau memang belum ada peraturan yang mengatur tentang hal tgersebut menurut saya sangat mendesak untuk diatur, karena bagaimanapun dunia maya tetaplah akan dapat mempengaruhi pihak lain dan justru saat ini malah semakin digandrungi masyarakat.

Seharusnya masa tenang itu berlaku bagi semua warga Negara untuk tidak menyampaikan apapun, termasuk kampanye, menghujat, mengkritik dan sejenisnya.  Dan kalau hal tersebut tetap dilakukan meskipun dalam  dunia maya, tetap harus ada ketentuan hokum yang mengaturnya, sehingga masa tenang akan benar benar tenang untuk merenung dan menentukan pilihan.  Demikian juga berbagai aktifitas yang mengndang tafasir lain, seyogyanya tidak dilakukan pada saat masa tenang, seperti istighatsah dengan tausiah yang mengarahkan jamaah untuk mendukung seseorang dan lainnya.

Artinya  kegiatan apapun yang orang lain dapat menafsirkan sebagai bentuk ajakan dan kampanye terselubung, haruslah dihindari,  karena hal tersebut justru akan memancing persoalan  dan menjadikan pihak lain  terpancing.  Kegiatan penyelenggaraan bazar murah dengan menjual sembako yang dilakukan oleh orang yang kebetulan menjadi tim suses salah satu calon, juga akan menjadi persoalan, meskipun mungkin tujuannya memang untuk membantu masyarakat.  Tetapi sekali lagi akan lebih bagus dan  membuat suasana tenang kalau kegiatan bazar tersebut dilakukan setelah pilpres selesai atau setelah tanggal 9 Juli 2014.

Demikian juga kegiatan  yang dianggap rutin, yakni mengeluarkan zakat dengan membagi bagi beras atau pun uang kepada masyarakat banyak yang kebetulan dilakukan oleh pihak pihak tertentu yang diketahui sebagai pendukung atau bahkan tim sukses salah satu pasangan calon, sebaiknya juga tidak dilaksanakan pada masa tenang ini, melainkan justru dibagikan pada saat setelah selesai pilpres, dan  mugnkin akan lebih bagus lagi jika disalurkan lewat lembaga zakat yang ada  sehingga manfaatnya akan lebih terasa dan bukan sekali pakai habis dan sama sekali tidak ada dampaknya.

Kegiatan kegitan seperti istighasah, mengadakan  pasar murah dengan menjual sembako murah kepada masyarakat, pembagian zakat dan lainnya, memang sebuah kegiatan yang baik, namun sekali lagi kegiatan baik yang dilakukan  pada waktu yang tidak tepat, justru akan menuai keburukan.  Apalagi yang juga diniatkan untuk  menarik perhatian msayarakat dalam mendukung calon tertentu, sudah pasti tidak bagus.  Apalagi kalau waktu yang tersedia untuk melaksanakan hal tersebut masih terbuka lebar dan tidak ada halangan sama sekali.  Hal tersebut disebabkan kegiatan kegiatan tersebut tidak memerlukan waktu khusus, melainkan dapat dilaksanakan dalam waktu waktu yang lain.

Memang semua perbuatan itu tergantung kepada niatnya, akan tetapi kalau secara lahir dapat diliohat kecenderungan kegiatan tersebut  untuk apa, tentu akan membuat orang lain berkesimpulan sebagaimana tampak lahirnya.  Juatru kalau memang ada niat tulus dalam melaksanakan perbuatan tersebut,  seharusnya  jangan dilakukan pada saat  tertentu yang  memungkinkan pihak lain menyimpulkan lain, karena hal tersebut justru tidak akan mendapatkan ketenangan dalam  perbuatan tersebut, malahan mengundang persoalan.  Kalau demikian niat yang tulus akan terkontaminasi dengan  kecenderungan yang kurang baik tersebut.

Orang bersedekah itu baik, bahkan sangat dianjurkan oleh  ajaran agama Islam, hanya saja kalau  pelaksanaannya pada saat masa tenang seperti saat ini, justru tidak kebaikan yang akan kita peroleh, melainkan justru prasangka dan  keburukanlah yang akan kita terima. Karena  itu niat saja sesungguhnya tidak cukup tetapi harus disertai dengan pelaksanaan yang tepat dan metode yang tepat pula.  Bahkan dalam sebuah kaidah ushul fiqh juga disebutkan bahwa  al-Thariqatu ahammu min al-Maddah, atau metode itu  lebih penting ketimbang materi.

Dalam kaitan dengan persoalan ini banyak contoh yang dapat dikemukakan, diantaranya ialah seseorang yang bermaksud memberi  makanan kepada pihak lain, kalau pemberian tersebut dilakukan dengan sopan dan senyum merekah, tentu  akan diterima dengan senang hati dan bahkan  sang penerima akan mendoakan kepada pemberi, tetapi kalau pemberian tersebut diberikan dengan cara yang sangat menyakitkan dan merendahkan, tentu penerima akan tidak nyaman atau bahkan akan menolaknya.

Kaidah tersebut juga akan sangat tepat untuk menerapkan pelaksanaan zakat yangsesungguhnya sangat baik, bahkan wajib dilakukan oleh setiap orang yang mampu dan mempunyai kelebihan sesuati dengan ketentuan syariat, hanya saja kalau diterimakan  pada saat masa tenang pilpres dan dilakukan secara massal dengan mengundang banyak orang, tentu bukan kebaikan yang akan diperoleh, melainkan citra buruklah yang akan diterimanya.  Itulah mengapa semua pihak seharusnya menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan apapun yang melibatkan banyak orang, apalagi ditambah dengan pemberian ataupun penjuialan murah dan lainnya.

Semua kegiatan baik tersebut dapat dilakukan pada masa setelah pilpres dan menjelang  idul Fitri.  Dengan begitu justru akan lebih memberikan manfaat yang lebih besar bagi para penerimanya, serta tidak akan ada pihak manapun yang menafsirkan lain selain berzakat. Kita tentunya  dapat merencanakan  semua kegiatan baik dengan baik pula, termasuk  waktu pelaksanaannya.  Bahkan secara agama pelaksanaan zakat akan lebih bagus manakala tidak diekspose sedemikian rupa, karena  hal tersebut akan dapat mengurangi nilai ketulusan.

Bukankah   perbuatan baik  akan lebih bagus manakala dilakukan dengan sembunyi sembunyi,  dan tidak justru diekspose besar besaran.  Dalam Bahasa agamanya hendaklah seseorang dalam melaksanakan kebaikan seperti sedekah, dilakukan oleh tangna kakan dan tangan kiri kita tidak mengetahuinya.  Barangkali hal tersebut memang tidak selamanya, karena memang ada kalanya pemberian dan perbuatan baik tersebut perlu diekspose dengan tujuan agar ditiru oleh orang lain, dan bukan untuk riyak atau pamer dan sejenisnya.

Intinya pada masa tenang ini  semua pihak memang harus menahan diri untuk tidak melakukan apapun yang dapat mengundang kecurigaan pihak lain dalam bentuk apapun, seperti pengajian terbuka, karena hal tersebut rawan untuk disalah gunakan oleh pihak pihak tertentu untuk memancing persoalan.  Toh masa tenang tersebut hanya tiga hari saja, dan selebihnya dapat melaksanakan kegiatan apapun untuk kebaikan tersebut.  Jangan sampai dengan alasan kebaikan, kemudian  semaunya melaksanakan kegiatan yang dapat ditafsirkan sebagai kampanye terselubung dan hal tersebut tentu akan  tidak emnciptakan kenyamanan dan kedamaian.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.