RENUNGAN JUMAT

Puasa yang kita laksanakan sebulan penuh di bulan Ramadlan kali ini adalah sebuah perintah wajib dari Allah swt, dan tidak ada tawar menawar.  Kalaupun ada tawar menawar itu hanya sebatas penundaan saja disebabkan ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, seperti sakit dan  bepergian jauh.  Artinya seseorang yang sedang mengalami sakit sehingga menjadi berat untuk menjalankan puasa, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan, namun tetaplah wajib mengganti pada hari lain di luar Ramadlan.  Demikian juga bagi orang yang sedang  mengadakan perjalanan jauh dan  berat menjalankan puasa, harus mengantinya di lain hari.

Namun demikian Islam juga sangat paham adanya pihak pihak yang tidak memungkinkan melakukan puasa disebabkan usia yang sudah senja yang sangat berat berpuasa, maka diperbolehkan hanya menggangtinya  dengan fidyah, yakni memberi makanan kepada orang miskin setiap harinya.  Ini sungguh ajaran yang sangat bijak, karena kalau disamakan dengan yang lain, sangat tidak mungkin, sebab orang yang usia senja tidak mungkin diharakan akan kembali muda lagi.  Jadi sangat luar biasa ajaran Islam itu yang mengerti kondisi manusia dengan utuh.

Perintah puasa tersebut juga bukan  dimaksudkan untuk menyengsarakan atau membebani kepada umat manusia pemeluk Islam, apalagi dengan tujuan agar produktifitas  muslim menjadi berkurang, sama sekali tidak demikian.  Justru sebaliknya, dengan puasa tersebut diharapkan umat yang menjalaninya akan semakin menjadi baik, semakin taqwa dan  semakin produktif.  Barangkali ada sebagian pihak yang menyangsikan persoalan ini, yakni dengan nalar bagaimana mungkin dengan kondisi puasa, orang diharapkan menjadi semakin produktif?.  Barangkali secara nalar seperti itu orang hanya melihat lahirnya saja tanpa mendalami  makna yang terkandung di dalamnya.

Artinya kalau orang hanya melihat berpuasa itu menahan diri tidak makan dan minum seharian penuh, sehingga badan menjadi sedikit lemah, tentu produktifitas  akan ikut menurut seiring dengan melemahnya tubuh.  Tetapi kalau kemudian puasa tersebut dilihat dari sisi lain, yakni sisi kandungan hikmahnya, jusru akan menjadi sebaliknya, yakni semakin  bergairah dalam menjalankan  pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, baik  pada saat menjalankan puasa maupun  setelah usai menjalni puasa.

Bagi orang yang  dapat menggali hikmah puasa dan kemudian  mau menerapkannya dalam kehidupan kesehariannya, tentu tidak ada rasa berat sedikitpun, termasuk lapar dan dahaga.  Ibaratnya kalau seseorang sudah menyadari sebuah harapan di hadapannya, maka jangankan hanya sekedar lapar dan dahaga seharian saja, untuk berlari seribu kilo meter pun tidak menjadi masalah, karena ada sebuah harapan yang sangat jelas  dan sama sekali tidak ada keraguan di dalamnya.  Sama halnya dengan puasa yang  dijalankan dengan penuh keimanan dan perhitungan, tentu akan melahirkan sebuah semangat yang sangat luar biasa yang tidak mampu dibendung oleh apapun.

Motivasi seseorang itu merpakan sesuatu yang  sangat menentukan, karena dengan  mptivasi tersebut seseorang akan sanggup menerjang badai, menyeberangi lautan dan membongkar tembok kokoh.  Dalam kaitannya dengan puasa  ini, kalau seseorang sudah menyadari betapa  dengan puasa tersebut dia akan memperoleh sesuatu yang sangat diinginkannya, tentu  dia akan sanggp melaksanakan puasa dengan tanpa keluhan apapun, bahkan akan dijalaninya dengan penuh semangat dan kebahagiaan.

Salah satu motivasi puasa yang dijanjikan oleh Tuhan melalui nabi Muhammad saw ialah  ampnan atas segala dosa yang telah dilakukannya selama ini.  Manusia yang baik dan bijak tentu  akan menyadari bahwa  tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan  kemaksiatan, meskipn tanpa disengaja.  Dan hanya orang orang yang tidak mengerti sajalah yang menganggap bahwa dirinya  sangat bersih dan tidak pernah berbuat dosa.  Nah, kalau  orang tersebut mengert hal tersebut, sudah barang pasti dia melakukan puasanya dengan penuh perhitungan akan diampni dosanya, anakala dilakukannya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

Motivasi lain yang dapat disampaikan di sini ialah janji akan bertemu dengan Tuhan di akhirat nanti.  Bagi orang yang sangat menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang makhluk yang lemah dan segala sesuatunya tergantung kepada keputusan Tuhan,  tentu juga sangat ingi bertemu dengan Tuhannya tersebut.  Bahkan  menurut ceritanya bahwa bertemu dengan Tuhan tersebut merupakan nikmat yang paling besar dibanding dengan kenikmatan lainnya.  Disamping itu juga ada  seuah riwayat yang menyatakan bahwa bagi orang yang berpuasa itu ada dua kenikmatan yang akan didapatkan, yakni nikmat pada saat berbuka puasa, dan nikmat akan bertemu dengan Tuhan nanti di akhirat.

Ada  sisi motivasi lainnya yang patut juga disampaikan, yakni  mengenai kesehatan.  Siapapun orangnya tentu sangat menginginkan hidup sehat atau terjauhkan dari penyakit.  Nah, berpuasa tersebut akan mampu menjadikan seseorang sehat.  Tentu tidak  harus dipahamisecara parsial, seperti misalnya orang yang sedang sakit mag, sudah barang tentu akan tidak bagus kalau berpuasa, karena dia sangat membutuhkan asupan makanan dalam  waktu yang dekat. Lain lagi dengan mereka yang  mempnyai penyakit gula, tentu akan sangat bagus berpuasa.

Akan tetapi bukan  dilihat secara parsial seperti itu, melainkan harus dilihat secara total bahwa dengan  pengaturan makan yang demikian  bagus sebagaimana puasa sudah tentu akan dapat  meminimalkan munculnya  penyakit dalam tubuh seseorang.  Tentu masih banyak lagi kalau dilihat dari sisi kesehatan, namun bukan bidang saya kalau harus menjelaskan secara tuntas persoalan ini.  Secara gamblang  dapat kita saksikan betapa orang yang melanggengkan puasa, meskipun tidak setiap hari, semisal puasa setia hari Senin dan Kamis, ternyata  orang tersebut sangat bugar dan terjauhkan dari penyakit.  Sekali lagi semua itu harus dilihat secara total dan bukan parsial.

Masih banyak lagi hikmah yang terkadung dalam puasa yang dapat menjadi motivasi tersendiri bagi umat  untuk menjalankan puasa dengan keikhlasan yang panuh.  Namun bagi kita sesungguhnya  disamping motivasi seperti yang disebutkan di atas, yang terpenting ialah bagaimana kita dapat menjalankan puasa tersebut dan sekaligus dapat menumbuhkan  sikap dan langkah untuk selalu berbuat kebaikan kepada pihak lain, atau dengan kata lain bagaimana kita menjalankan puasa dengan harapan dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.  Karena dengan keinginan seperti itu, hakekatnya kita sudah berusaha untuk menjadi manusia yang taqwa sebagaimana  yang dimaksudkan oleh Tuhan dalam memerintahkan puasa tersebut.

Minimal kita lakukan puasa ini dengan ketulusan dan jauh dari keterpaksaan dan keluhan, serta  menjaga lisan kita untuk  selalu mengatakan yang hak, melalui baca kitab suci, membaca buku yang bermanfaat dan sejenisnya, dan sekaligus tidak mengatakan sesuatu yang dapat menyinggung  dan menyakitkan pihak lain.  Ingat bahwa  keselamatan seseorang itu sesunggunya terletak pada  kemampuan seseorang tersebut dalam menjaga dan mengendalikan lisannya.  Ita sangat merindukan kondisi yang nyaman, damai dan sejuk, tidak saja pada saat bulan Ramadlan, melainkan juga sebelas bulan setelahnya.  Kerinduan tersebut akan dapat terealisasi, kalau seluruh umat muslim mampu melaksanakan puasa dengan tulus dan termotivasi dengan baik.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.