ABASA

Surat ini merupakan surat ke 80 dan termasuk surat Makkiyyah, jumlah ayatnya hanya 42 ayat pendek pendek, meskipun isinya sangat tajam dan luas.  Surat ini dinamakan dengan Abasa yang diambil dari ayat pertamanya yang berrarti muka yang masam kebalikan dengan  berseri seri atau senang.  Surat ini sesungguhnya merupakan tuguran Tuhan kepada nabi Muhammad saw atas kurang perhatiannya kepada seorang butan yang datang kepadanya, yakni Abdullah bin Ummmi Maktum.  Padahal manusia itu tidak diukur dari penampilan luarnya, justru akhlak dan amalannyalah yang  seharusnya menjadi ukuran.

Sementara ketia para tokoh Quraisy datang kepadannya, Nabi sangat memperhatikannya, padahal mereka justru tidak pernah percaya kepada kenabiannya serta menentang seluruh ajarannya, dan bahkan pada akhirnya  memusuhinya.  Sementara  orang buta yang datang tersebut justru ingin mensuxikan dirinya dan ingin mendapatkan pelajaran dari syariat yang dibawa olehnya.  Jadi sesungguhnya ini hanyalah berupa pelajaran bagi umatnya agar nantinya tidak mempraktekkan perilaku seperti itu.

Teguran tersebut pada hakekatnya bukan hanya tertuju kepada nabi Muhammad saw semata, melainkan justru kepada seluruh umat agar  tidak meremehkan siapapun yang penampakan luarnya sedrhana atau bahkan malah miskin dan bersahaja.  Bukannya  sifat Nabi seperti itu, karena Nabi sangat santunkepada siapapun termasuk kepada mereka yang miskin dan lemah.  Karena itu kita harus memaknai bahwa  gambaran dalam surat ini hanyalah sekedar pelajaran bagi semua umat agar memperhatikan persoalan ini.

Kita juga sangat paham bahwa dalam kaidah memahami al-Quran berbeda dengan memahami selainnya.  Ada kaidah yang sangat terkenal dalam memahami Quran, yakni “al-Ibratu fi umumi al-lafdhi la bi khususi al-sabab” atau yang  harus diperhatikan adalah keumuman pernyataan dan bukannya sebab yang khusus.  Karena itu dalam memahami surat ini kita harus  memetik keumumannya, yakni dilarang mengabaikan dan bermuka masam kepada rang buta yang datang kepada kita.  Semua orang harus diperlakukan dengan sama tidak memandang status sosial, kedudukan dan penampilan luarnya.

Tuhan sendiri dalam  firman-Nya di tempat yang lain, menyatakan bahwa  orang yang paling mulia dalam pandangan Tuhan ialah mereka yang paling bertaqwa, dan bukan mereka yang berpenampilan necis  atau secara lahir nampak perlente.  Justu terkadang orang yang dari luarnya bagus, amaliyahnya  malah sangat jelek, dan sebaliknya orang yang penampilannya jelek, lusuh dan be3rsahaja, tetapi hatinya sangat mulia.  Sekali lagi ini adalah sebuah peringatan dan sekaligus perintah kepada selruh umat manusia agar bersikap sopan dan  simpatik kepada setiap orang yang datang kepadanya.

Ketentuan tersebut sesungguhnya telah termaktub dalam al-kitab dan sangat tidak patut manusia mengabaikannya.  Celakalah manusia yang kufur dan menentang aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, padahal dia itu diciptakan oleh Tuhan dari settes air mani yang hina, lalu ditentukanlah semua hal yang terkait dengannya, seperti umurnya, rizkinya, kematiannya dan lainnya.  Demikian juga kemudian setelah itu dia telah dimudahkan oleh Tuhan dalam urusannya, seperti ketika lahir,  kemudian dalam perawatannya, dan  dalam urusan rizki serta urusan lainnya.

Tuhanlah yang telah menciptakan seluruh dunia beserta isinya untuk kemakmuran umat manusia.  Dialah yang telah menurunkan air hujan  dan kemudian membahasahi bumi sehingga menjadi subur dan kemudian menumbuhkan  tumbuh tumbuhan sehingga manusia dapat memetik manfaat darinya berupa  beraneka macam  sayuran, buah buahan dan mata air yang jernih serta menyegarkan.  Seluruh benda langit yang diciptakan Tuhan  hakekatnya juga sebagai pelengkap kesejahteraan manusia di dunia.

Kenapa manusia tidak mengingat semua itu dan kemudian mau bersyukur kepada Tuhan dan mengabdikan dirinya untuk Tuhan secara penuh dan tulus.  Sungguh sangat tidak layak dan patut  bagi manusia yang tidak mengindahkan titah Tuhan dan justru malah mencari jalan sendiri yang jauh dari tuntunan-Nya.  Artinya kalau manusia mencari jalan selain jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan, berarti manusia tersebut telah mengikuti jalan thaghut atau  setan yang menyesatkan dan  tentu akan merugikan dirinya di akhirat nanti.

Barangkali manusia jenis tersebut hanya akan sadar ketika diberikan  musibah yang dahsyat dan menyengsarakan.   Namun  ternyata masih banyak manusia yang telah diberikan peringatan berupa musibah di dunia ini, tetapi masih saja belum mau menyadarinya dan bahkan malah semakin jauh dan membenci kepada smeua kebaikan.  Mungkin sudah menjadi wataknya, yang tidak mau menggunakan akal pikiran dan hatinya untuk melihat sesuatu, sehingga tidak mampu membedakan sesuatu yang baik dan akan memberikan manfaat baginya dan sesuatu yang uruk yang akan mencelakannya.

Satu satunya jalan  bagi mereka ialah  kenyataan di akhirat nanti yang akan dialaminya, dan sekali kali mereka tidak akan mampu lari darinya.  Pada saat itu, yakni saat diitupkan pada tiupan yang kedua, semua manusia pada lari dengan urusan masing masing.  Bahkan saking sibuknya dan paniknya, mereka sampai meninggalkan anaknya, meninggalkan istri dan seluruh keluarganya, demia untuk mengejar urusannya sendiri sendiri.  Tetapi tentu hal tersebut akan terus menjadi bebean bagi mereka yang tidak beriman.  Sedangkan bai mereka yang beriman tentu kepanikan tersebut tidak akan berlangsung lama, karena mereka segera akan mendapatkan kebahagiaam.

Karena itu Tuhan menggambarkan dalam surat ini bahwa pada saat itu ada wajah yang berseri seri dan  sangat bahagia serta tertawa ria, karena nikmat yang akan dialaminya atau bahkan telah dinikmatinya.  Namun pada saat itu pula ada wajah yang sangat  tertutup oleh debu hitam, muram dan sangat tidak ceria, mereka itulah  orang orang nkafir dan durhaka serta melampaui batas.

Dengan begitu kita dapat menggambarkan bahwa sat itu tentu seluruh manusia akan menuai apa yang dikerjakan saat di dunia.  Bagi mereka yang menentang kebenaran yang dibawa oleh para Rasul, tentu akan mendapatkan wajahnya muram dan hitam, karena takut yang luar biasa serta  menatap siksaan yang sangat dahsyat, dan bagi mereka yang beriman dan melakukan amalan baik saat di dunia, tentu wajah mereka bersewri seri dan bahagia, karena mendapatkan kenikmatan yang tiada tara.

Pelajaran yang dapat diambil dari surat ini ialah bahwa kita  tidak boleh bersuudzdan kepada siapapun, termasuk kepada Nabi yang dalam hal ini ditegur langsung oleh Tuhan.  Artinya bukan berarti sifat seperti itu yang dmiliki oleh Nabi Muhammad saw, merlainkan hanya sebagai sebuah contoh saja, karena kita tahu bahwa Nabi itu  adalah orang yang paling sangtun kepada siapapun, khususnya kepada para orang yang lemah, miskin, dan anak anak serta pada janda yang tidak mampu berbuat apa apa.

Secara umum kita juga diperintahkan untuk mau dan mampu memperlakukan siapapun dengan sangat baik, karena kita tidak mengetahui  yang sesungguhnya.  Tentu kalau hanya waspada  ata segala kemungkinan kitu tidak mengapa. Lebih lebih kalau kita berada dalam kondisi seperti  saat ini dimana banyak sekali manusia yang akan berbuat jahat.  Karena itu sikap waspada memang harus  diterapkan, meskipun tidak bersuudzdzan kepada seseorang, apalagi yang kemudian diketahui ternyata berniat baik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.