KMPM

Mungkin banyak orang bertanya Tanya tentang gerangan apakah itu KMPM, karena gaungnya belum terlalu kuat untuk dikenal oleh masyarakat,  terutama masyarakat kampus. KMPM adalah kepanjangan dari kelompok Mahasiswa Pencinta Masjid.  Ternyata ada  sekelompok mahasiswa yang mencintai masjid, tidak hanya dari sisi menjaganya  agar tetap bersih dan suci, melainkan juga memakmurkan masjid dengan mengisi masjid dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti tadarrus dan menghafat al-Quran, dan juga kegiatan penalaran dan pencerahan.  Tentu  hal tersebut harus didukung oleh semua penghuni kampus dan mensupportnya.

Ada beberapa alaan mendasar yang disampaikan oleh para penggiat dan pencinta masjid tersebut, yang diantaranya ialah keprihatinan mereka terhadap kondisi masjid yang  sepi tanpa kegiatan.  Banyak cerita  mengenai bagaimana masjid dikunci  setelah shalat Isya’ sehingga ketika  ada orang ingin melaksanakan shalat di situ sudah tidak mungkin lagi.  Lebih parah lagi masjid hanya digunakan untuk shalat maktubah saja, tanpa ada kegiatan lainnya yang dapat memberikan pencerahan dan mendidik kepada masyarakat.  Mereka sangat prihatin dengan kondisi masjid yang dibangun dengan uang masyarakat, tetapi tidak termanfaatkan dengan baik.

Padahal masjid pada zaman Rasul sangat panuh dengan aktifitas umat, baik yang terkait dengan  pengkajian ajaran agama maupun yang terkait dengan persoalan social dan kemasyarakatan lainnya, bahkan persoalan politik pun juga dibahas di masjid.  Namun jangan kelirui dan disamakan dengan politik praktis sebagaimana saat ini.  Maksud persoalan politik tersebut ialah  bagaimana menyusun strategi menyiarkan Islam kepada masyarakat, bagaimana meningkatkan kesejahteraan umat,  bagaimana strategi menjadikan umat Islam sebagai umat yang mampu memberikan kontribusi pembangunan di Negara dan lainnya.

Diantara  alasan mereka  membentuk kelompok tersebut juga  dilator belakngi oleh kenyataan bahwa  kampus IAIN sebagai kampun Islam, dan setiap kampusnya ada masjid, tetapi sepi dari kegiatan, sehingga tidak akan mampu melahirkan gagasan brilian dan tokoh yang dilahirkan dari masjid.  Mereka rupanya menjadi “iri” dengan masjid salman al-Farisi di ITB  atau masjid di kampus Gajah Mada Yogyakarta, yang  dapat melahirkan banyak tokoh  cerdas dan menjadi  penutan umat.

Demikian juga  hal yang paling menyentuh hati  terkait dengan alasan mereka ialah masih adanya sebagian mahaiswa yang belum dapat membaca al-Quran dengan baik.  Untuk alasan terakhir tersebut, kami sesungguhnya sudah mendapatkan informasi dan sudah  membahasnya serta  mengupayakan  jalan keluar yang memungkinkan mereka  dapat diberikan treatment khusus sehingga dapat menyesuaikan dengan kawannya yang lain.  Namun kalau kemudian merka mau bergabung dengan KMPM tersebut tentu akan sangat bagus.

Mendasarkan kepada sebagian alasan yang disampaikan oleh kelompok pencinta masjid tersebut, saya sungguh menjadi sangat bangga dan mendukung penuh kegiatan kelompok tersebut.  Bahkan  kegiatan yang mereka utamakan saat ini ialah  mengkaji dan menghafal al-Quran, sehingga  semua harus mendukung.  Kita sangat ingin bahwa generasi muda, utamanya para mahasiswa  IAIN Walisongo dapat menjadi ahli dalam bidang  apapun,  dan sekaligus menguasai kitab suci.  Untuk itu kajian kajian keislaman dengan penalaran yang benar sangat perlu terus diupayakan.

Ghirah yang sangat besar tersebut tidak boleh terhenti  hanya disebabkan oleh persoalan teknis semata, untuk itu diperlukan support yang maksimal dari lembaga walaupun  tidak dalam  hal materi.  Saya sendiri setelah menyaksikan dan sekaligus meremikan KMPM tersebut menjadi sangat optimis bahwa  mereka  yang aktif dalam KMPM tersebut akan menjadi manusia yang sukses, baik dalam studi mereka maupun dalam mengarungi kehidupan duniawi yang sarat problem ini.  Keyakinan saya tersebut didasarkan atas komitmen mereka untuk tetap dan terus  menjadikan al-Quran sebagai nafas dan hidup mereka serta masjid sebagai naungan mereka.

Secara riil saya sudah  mendapatkan gambaran bahwa  al-Quran itu memang merupakan jmukjizat yang tiada tara.  Mungkin masih banyak orang yang belum dapat merasakannya, dan hanya mendapat informasi saja bahwa  kitab suci bagi umat muslim tersebut memang sebagai mukjizat bagi nabi, tetapi mereka belum dapat merasakannya.  Kalau orang mau melanggengkan membaca al-Quran dalam kehidupan sehari harinya, apalagi kemudian mau mendalmi kandungannya, sudah barang tentu dia akan mendapatkan ketentraman hai dan jiwa serta kejernihan pikiran.  Seolah hidup tidak pernah mendapatkan masalah dan  kesejahteraan senantiasa  menyertainya.

Bahkan  sangat mungkin bahwa kelompok pencinta masjid tersebut pada akhirnya nanti akan menjadi panutan bagi seluruh mahasiswa dan masyarakat secara umum.  Itu merupakan sebuah hal yang sangat mungkin, karena di tengah kehidupan yang hiruk pikuk serta persoalan yang sangat kompleks seperti saat ini, manusia biasanya membutuhkan sesuatu yang dapat menenangkan hati dan pikirannya.  Dan KMPM itulah jawabannya.

Memang secara riil  KMPM belum  ada dampak dan juga belum   berkiprah banyak dalam  memunculkan tokoh, tetapi meliohat dari ghirah besar dan komitmen para anggotanya, saya menjadi yakin bahwa kelompok ini nantinya akan besar dan melekat dihati masyarakat kampus.  Memang kegiatan yang sudah dirintis saat ini hanylah tadarrus al-Quran dan  seaman al-Quran serta menghafalnya, sambil sesekali melakukan kegiatan mendatangkan tokoh untuk memberikan  ceramah, dan belum focus kepada kajian kajian yang serius dengan persiapan yang matang.  Tetapi pada saatnya nanti kajian kajian serius  akan dilaksanakan dan harapan besarpun ditancapkan.

Sedikitpun saya tidak ragu karena kelompok ini  bukan muncul atas inisiatif pihak lain ataupun p[impinan  kampus, melainkan justru muncul dari  keprihatinan para mahaisswa yang mempunyai kepdulian terhadap masjid.  Nah, setelah kemudian diberikan berbagai motivasi, mereka semakin tergerak untuk meningkatkan peran kegiatan mereka  menjadi lebih intensif dan tidak hanya  menghafal al-Quran dan  meramaikan masjid semata, melainkan juga  kemudian muncul sebuah cita cita untuk memunculkan tokoh cerdas dari  masjid tersebut.

Ini juga sekaligus menjadi tantangan  bagi para pengurus KMPM untuk  membuktikan bahwa KMPM  memang dapat diandalkan dalam menelorkan  tokoh yang ahli dalam bidang tertentu dan sekaligus menguasai al-Quran.  Tokoh seperti itu sudah barang pasti sangat ideal, karena  disamping ahli juga berakhlak mulia dan tajan dalam pemikiran serta tetap menjadi orang Indonesia.  KMPM dengan demikian sekaligus juga akan mampu menjawab berbagai persoalan yang sangat ini  sangat dibutuhkan, yakni stok tokoh yang cerdas dan berakhlak serta mengerti denyut nadi dan jangtung umat.

Tentu kita harus menyadari bahwa KMPM tersebut hanyalah penunjang dalam studi di IAIN Walisongo, karena itu yang lebih penting ialah bagaimana kita tetap mengusahakan bahwa pendidikan di institusi kita  menjadi lebih baik, lebih berkualitas dan dapat mengantarkan mereka sukses dalam  mengarungi keghidupan.  Dengan begitu maka keberadaan KMPM tersebut sekaligus dapat mendorong  lebih cepat dalam upaya kesuksesan tersebut.  Kita sangat paham bahwa  kesuksesan pendidikan bukan ditentukan dalam perkualiahan saja, melainkan justru terletak pada sejauh apa seseorang mau berusaha mencari sisi lain yang dapat menunjang studinya tersebut.

Pada akhirnya kita  hanya dapat berharap bahwa KMPM ini akan terus meningkat, baik dalam hal kuantitas anggotanya maupun kualitas kegiatannya.  Harapan juga ditanca[kan kepada  para mahaiswa yang belum iku t dalam kelompok tersebut untuk segera menyusul dan  bertekad untuk menjadi  manusia ideal sesuai yang ingin dimunculkan dan ditelorkan oleh KMPM.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.